
“Tidur di sini malam ini. Temani aku. Biarkan Bayu menemani istrinya,” pinta Pram dengan manjanya. Tatapan begitu memelas, memohon pada sandaran jiwanya.
“Sayang ....” Kembali alunan manja itu keluar dari bibir Pram. Laki-laki itu ingin sekali menikmati kebersamaan dengan istri dan anak-anaknya. Tidak ingin melewati malamnya sendirian. Sebut saja dia egois meminta seperti itu, tetapi dia benar-benar tidak ingin menjauh dari Kailla lagi.
Kailla bergeming. Sejak awal Pram mengalami musibah kecelakaan, Bayu tidak mengizinkannya menunggu di rumah sakit. Dengan alasan kehamilan, asisten itu sendiri yang menunggu di Pram selama koma di ICU. Selain tidak nyaman, ada banyak pertimbangan lain yang membuat keduanya mengambil langkah ini.
Ibu Citra adalah salah satu alasannya. Kalau Kailla tidak pulang ke rumah akan menimbulkan tanya besar di otak mertuanya.
“Sayang ... mama bagaimana?” tanya Kailla, dengan raut datar. Tidak tahu harus berbuat apa.
“Mengenai mama, biarkan Bayu yang mengurusnya. Temani aku di sini malam ini. Please ....” Pram memohon. Suaranya laki-laki yang biasanya tampak gagah dan berwibawa itu begitu memelas.
“Ya” Kailla mengangguk akhirnya.
“Terimakasih, Sayang.” Senyum merekah di bibir, menandakan seberapa bahagianya perasaan Pram saat ini.
“Peluk aku, sekarang,” pinta Pram, memerintah. QKondisi tubuhnya yang kaku membuat Pram hanya bisa meminta kalau menginginkan pelukan atau ciuman dari sang istri.
Melihat kedua majikannya sibuk berpelukan, Bayu memutuskan pulang bersama Donny. Tentunya setelah memastikan kondisi Pram baik-baik saja. Meninggalkan tanggung jawabnya selama dua bulan ini pada Kailla dan Sam.
“Bos, aku pulang dulu,” pamit Bayu, menepuk pundak Sam. Asisten itu terpaksa ikut menginap di rumah sakit untuk menemani Kailla.
“Kamu tidak lelah?” tanya Kailla, sepeninggalan Bayu. Tangannya dengan lancang mengusap wajah sang suami dengan penuh cinta.
Pram menggeleng. Sakitnya hilang saat melihat Kailla di depan mata. Meskipun koma selama dua bulan bagi Pram terasa singkat, tertidur sebentar dan membuka mata. Semua terasa seperti sekejap saja. Namun rindu itu tidak bisa berdusta. Apalagi saat dikabari semua orang, kalau kenyataannya waktu sudah terlewat dua bulan lamanya.
Tangan lelaki itu terus-menerus menempel di perut istrinya dengan mata tak henti menatap. Memperhatikan Kailla dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ada banyak perubahan, Kailla jauh lebih berisi, pipi pun terlihat gembul. Perut jauh lebih membesar, menandakan bayi kembar mereka pun semakin bertambah besar.
“Apakah dua bulan ini mereka merepotkanmu?” Pram bertanya setelah melihat kelelahan yang tercermin dari sorot mata Kailla. Membawa beban yang terlihat berat di perut besarnya, Pram tahu bukan hal mudah untuk Kailla, ditambah harus menggantikan tugasnya mengurus perusahaan.
“Tidak, Sayang. Mereka anak-anak yang baik, sama seperti daddynya,” sahut Kailla tersenyum. Jemari dengan kutek biru muda itu sedang mengukir indah di lekuk wajah tampan sang suami, dengan bulu-bulu halus di dagu yang mulai tumbuh tak beraturan.
“Bagaimana perusahaan? Bayu bercerita banyak, istri kecilku sudah mulai pintar sekarang,” ucap Pram, tersenyum.
Ditanya mengenai perusahaan, Kailla tersentak. Sedari tadi beban itu hampir terlupakan dengan kabar bahagia dari sang suami.
“Perusahaan baik-baik saja.” Kailla berdusta. Di saat kondisi Pram seperti ini, menceritakan masalah perusahaan akan menambah beban suaminya. Kailla tidak ingin membuat Pram berpikiran lebih yang pada akhirnya akan menghambat proses penyembuhan.
“Yakin tidak ada masalah?” tanya Pram memastikan.
“Ya ....” jawab Kailla datar. Berusaha menyembunyikan semuanya.
“Kamu sudah makan?” tanya Pram lagi. Kondisi tubuhnya seperti ini, membuat laki-laki itu ingin mengumpat kesal. Bergerak untuk menyentuh istrinya saja, dia butuh usaha dan kerja keras. Tubuhnya masih sulit sekali digerakkan. Kaku dan membeku di tempat. Hanya tangannya saja yang mulai lancar dan lincah.
Kailla menggeleng.
“Sam ...! Belikan makanan untuk Kailla!” titah Pram tiba-tiba. Calon ayah itu tidak bisa membiarkan istri dan anak-anaknya kelaparan.
“Kamu mau makan dengan apa?” tanya Pram, khawatir itu tampak jelas di sorot matanya.
“Apa saja.” Kailla menjawab singkat.
“Kenapa tidak makan tepat waktu?” tanya Pram setengah mengomel.
Kailla menggeleng. “Ada sedikit pekerjaan di kantor. Aku sedang berusaha untuk menyelesaikannya secepat mungkin,” jelas Kailla.
“Kemari, duduk di sampingku.” Pram menepuk sisi kosong di sebelahnya. Kailla menurut, tanpa banyak protes. Saat ini, terlalu lelah untuk berdebat. Jangankan fisik, pikirannya sudah terkuras dengan semua masalah yang datang bertubi-tubi.
“Maafkan aku, selama tertidur sudah membuat kalian telantar.” Sesal itu terucap juga. Pram merasa sangta bersalah untuk hari-hari yang dilewati Kailla tanpa kehadirannya.
***
Malam itu terlewati dengan tenang. Pram yang sejak semalam tidak bisa tidur nyenyak di atas brankar, sudah membuka matanya saat beduk subuh berkumandang. Laki-laki itu mengumbar senyum saat melihat Kailla yang terlelap di atas sofa bed, ditemani Sam yang tidur dengan posisi duduk di sofa single. Kaki panjangnya terjulur di atas meja.
Ibu hamil itu tidur menyamping dengan wajah damai menenangkan. Beberapa menit kemudian berbalik kembali ke arah sebaliknya, berusaha mencari kenyamanan. Perut besarnya tampak semakin membesar, tercetak jelas di daster katun motif garis hitam putih.
Melihat Kailla tidur bolak balik bergantian arah sejak tadi, Pram tahu kalau saat ini Kailla sedang tidak nyaman. Ada sesal di hatinya saat tidak bisa berbuat banyak. Bahkan di saat istrinya membutuhkan, dia hanya bisa membeku di tempat tanpa bisa berbuat apa-apa.
Lama memperhatikan, Pram terkejut saat mendapati ponsel Kailla berdering hebat. Gawai mahal yang tersimpan di dalam tas mahal istrinya itu berteriak nyaring tanpa kenal waktu.
“Sayang, ponselmu,” panggil Pram. Hampir lima menit berdering, akhirnya memilih berteriak dari tempat tidurnya.
Setengah terkejut, Kailla buru-buru bangun. Hampir hilang keseimbangan saat dipaksa berdiri dalam kondisi setengah terjaga. Wajahnya kian panik saat menyadari siapa yang menghubunginya sepagi ini.
“Ya, Ma. Ada apa?” tanya Kailla dengan suara serak khas bangun tidur.
“Kamu menginap di mana?” tanya Ibu Citra dari seberang.
“Ya, Ma.” Kailla tidak bisa menjawab. Tadinya berpikir Bayu akan mengurus sang mama mertua.
“Apa yang terjadi? Kenapa tidak pulang semalam? Bayu mengatakan kalau kamu ada urusan kantor. Mama pikir hanya pulang malam saja, ternyata saat mama bangun, kamu masih belum pulang juga,” tanya Ibu Citra, mencerca Kailla dengan banyak pertanyaan.
“Maaf, Ma.”
“Mama menunggu semalaman, sampai ketiduran. Kamu itu sedang hamil, Kai,” omel Ibu Citra.
“Ya, maaf Ma.” Lidah wanita hamil itu keluh, mengalihkan pandangan pada suaminya. Lambaian tangan Pram, meminta Kailla mendekat. Begitu jarak hanya terpisah beberapa langkah, Pram segera menarik tangan Kailla dan mengambil alih ponsel.
“Ma, Kailla bersamaku.” Pram berkata dengan suara meyakinkan.
Deg—
Hening tidak terdengar suara apa pun, sampai akhirnya terdengar teriakan mengoceh tak berkesudahan Ibu Citra.
“Pram? Itu kamu? Anak kurang ajar, kamu tahu bagaimana Kailla selama ini. Istrimu sedang hamil dan bisa-bisanya kamu meninggalkannya sendirian.”
“Ma, sudah. Maafkan aku, suaramu membuat kepalaku sakit. Berhenti mengomel, nanti minta Bayu mengantarmu ke tempatku,” titah Pram setelah lelah mendengar. Tanpa permisi, Pram mematikan sambungan telepon tanpa permisi. Membiarkan mamanya menggila di seberang sana.
“Sayang ....”
“Sssttttt ... biarkan saja. Temani aku tidur di sini,” pinta Pram meminta.
Dengan susah payah memindahkan tubuhnya yang kaku supaya bisa berbagi tempat. Pram akhirnya bisa tersenyum bahagia saat bisa merasakan berbagi ranjang kembali dengan Kailla. Meskipun tidak seempuk tempat tidur di kamar mereka, tetapi semuanya tetap indah.
“Begini enak?” tanya Pram, mengusap lembut punggung Kailla.
“Hmmm ....”
“Masih sering sakit pinggang?” tanya Pram lagi.
“Terkadang ....”
“Mulai sekarang aku akan memijatnya lagi untukmu,” ucap Pram dengan suara bergetar, menahan rasa yang berkecambuk di dadanya.
***
TBC