
Pagi hari di kediaman Reynaldi Pratama.
Setelah sekian lama menghuni rumah sakit, akhirnya pagi ini Pram bisa bangun di ranjang empuk kamar tidurnya. Melakukan perdebatan panjang dengan pihak rumah sakit, di mana harusnya pria itu baru diizinkan pulang ke rumah keesokan hari, tetapi Pram mendesak pulang malam itu juga.
Dan pagi ini, di sinilah Pram. Berpelukan mesra dengan istrinya. Membuka mata disambut dengan deburan ombak pantai dan semilir bayu menyejukan.
“Mom, kamu sudah bangun?” tanya Pram, lelaki itu masih tidak mau melepas dekapan pada tubuh bengkak istrinya. Mata terpejam kembali, menikmati aroma feminim di dalam pelukannya.
“Dad, aku masih mengantuk.” Suara serak Kailla, terdengar pelan. Kesepakatan tidak tertulis sepasang suami istri, yang sejak kemarin mulai membiasakan lidah dengan panggilan baru. Panggilan manis untuk menyambut jagoan kembar mereka. Bayi kembar yang akan hadir ke dunia empat bulan lagi.
“Nanti ikut ke kantor, kan?” tanya Pram, menarik tubuh Kailla supaya semakin menempel padanya. Membenamkan wajah di rambut tergerai berantakan yang mengeluarkan aroma mint menyegarkan.
“Hmmm.”
“Ayo bersiap, Sayang. Ini sudah siang. Aku merindukan telur ceplok buatanmu.” Pram memesan sarapan paginya langsung dari atas tempat tidur.
“Hmmm.” Terus berguman, Kailla hampir lelap kembali. Rindu itu bukan hanya milik Pram, Kailla pun memiliki kerinduan yang sama akan kenyamanan kamar tidur mereka. Semalaman dia benar-benar bisa tidur lelap setelah berhari-hari harus tidur di atas brankar sempit dan keras.
“Ayo Sayang, ibu hamil tidak boleh bermalas-malasan. Nanti suamimu dipatok wanita lain.” Pram kembali mengguncang kecil tubuh Kailla agar segera terjaga.
Deg—
Kalimat Pram sanggup membuat kantuk dan malas Kailla beterbangan. Seketika ibu hamil itu membuka mata sembari bersungut-sungut. Bangkit dari posisi tidurnya, wanita dengan tampilan acak-acakan itu menggerutu kesal.
“Aku belum membuat perhitungan denganmu, Dad!” ucap Kailla kesal, sambil mengaruk-garuk kepala dengan rambut panjang dan gaun tidur berantakan. Sejak perutnya membesar, lingerie dan gaun tidur seksi menghuni lemari terdalam. Kailla sudah tidak bisa mengenakannya.
“Yes, Mom. Apa yang mau dihitung, Daddy siap membantu.” Pram tergelak saat mendapati Kailla yang benar-benar menggemaskan dengan tampilan bangun tidurnya. Melewati dua purnama dengan tidur panjang, Pram yakin sudah melewatkan banyak hal manis. Sesal itu tiba-tiba datang menyergap, saat menyadari hari-hari yang dilewati Kailla tanpa kehadirannnya.
“Aku serius, Dad!” sergah Kailla, mengarahkan telunjuknya di depan wajah Pram.
“Sejak kemarin aku mau bertanya tetapi selalu lupa. Tante menghubungimu, Dad?” lanjut Kailla, meneliti raut wajah Pram yang juga sudah mengambil posisi duduk berhadapan.
“Kamu cemburu, Mom?” bisik Pram, mendekatkan bibirnya ke telinga Kailla. Bukannya menjawab, Pram malah menggoda.
“Aku serius, Sayang.” Kailla memukul kencang dada bidang Pram yang mulai berisi. Dua bulan koma, Pram kehilangan berat badan, tetapi beberapa hari ini berat itu sudah kembali normal.
“Aduh! Ini sakit, Kai,” keluh Pram, mengusap pelan dadanya sendiri.
“Jujur padaku, Dad. Tante Anita menghubungimu?” todong Kailla, raut siap menerkam itu terlihat jelas.
“Hahahahaha ....” Bukan menjawab, Pram tergelak melihat reaksi berlebih Kailla.
“Kamu sedang hamil anakku saja masih seperti ini mengerikannya.” Pram merapikan helaian rambut Kailla yang berantakan, selanjutnya membingkai wajah gembul ibu hamil yang semakin hari semakin menggemaskan.
“Ya, dia menghubungiku. Dua kali,” sahut Pram, setelah menghela napas panjang.
“Aaaaah! Kamu main mata lagi dengan Tante Anita,” tuduh Kailla, cemberut.
“Tidak, Mom. Anita hanya menghubungiku untuk memberitahu kalau dia ingin membantu perusahaan kita. Bukan mengajakku bernostalgia,” jelas Pram, menyapu bibir mengerucut Kailla.
“Senyum sekarang, kalau tidak aku akan menggigit bibirmu!” goda Pram.
Kailla menggeleng.
“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Kailla, masih belum puas dan mencari tahu.
“Tidak ada. Hanya masalah perusahaan.”
“Ada lagi yang mau ditanyakan?” tawar Pram.
“Tante Anita sekarang cantik sekali. Langsing dan ....”
“Tetap saja Kailla Riadi Dirgantara yang paling cantik di mataku,” potong Pram.
Mata redup itu berbinar saat mendengar pujian laki-laki matang di hadapannya. Ada banyak kupu-kupu beterbangan di dalam hatinya.
“Apa kalian membicarakan masa lalu? Membicarakan masa-masa pacaran dulu?” tanya Kailla, rasa ingin tahunya melebih apapun saat ini, membuat dia lupa akan gengsinya. Terus mencerca Pram dengan banyak pertanyaan.
“Ya, dia mengungkapkan cintanya kembali. Dia mengirim foto-foto saat kami pacaran dulu. Dia mengatakan kalau dia saaaaaa ... ngat mencintaiku,” goda Pram, dengan sengaja memancing kecemburuan Kailla.
“Serius?” Kailla kembali terpancing.
Pram mengangguk.
“Anita mengatakan kalau Kailla tidak mau mengurusku, dia siap mengurusku dengan ikhlas dan tanpa paksaan,” lanjut Pram, tawanya hampir meledak saat melihat kilatan cemburu bercampur amarah di mata Kailla.
“Kamu sepertinya bahagia sekali menceritakan Tante itu,” gerutu Kailla, semakin kesal melihat Pram tergelak.
“Aku akan meninggalkanmu kalau berani macam-macam di belakangku,” ancam Kailla.
“Hahahaha!” Tawa itu terdengar semakin kencang, Pram tergelak hebat mendapati cemburu Kailla yang semakin menjadi.
“Berani pergi dariku, aku akan melaporkanmu ke polisi! Kamu sudah menculik anakku,” ujar Pram, terlihat serius.
Kailla terbelalak. “Mereka juga anakku, Dad. Tidak bisa begitu.”
“Aku tidak peduli, yang jelas kamu membawa pergi anakku. Itu termasuk penculikan, Mom.”
“Bukan hanya satu, kamu bahkan berani menculik dua anakku sekaligus. Aku yakin pasti kenal pasal berlapis,” goda Pram, mengeluarkan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan, tepat di depan wajah Kailla.
“Malas berdebat denganmu, selalu saja aku yang harus mengalah.” Kailla segera bangkit, meraih ponsel hitam suaminya di atas nakas. Memastikan kebenaran tentang Anita yang menghubungi suaminya.
“Sudah tidak ada, Sayang. Aku sudah meminta Bayu memblokir nomornya. Sudah meminta Bayu menghapus foto-foto yang dikirimnya.” Pram menyusul dengan satu kaki yang belum berfungsi sempurna. Bertumpu pada salah satu kruk sikut, berdiri tepat di belakang Kailla dan mendekap mesra istrinya itu dari belakang. Penuh perjuangan untuk bisa berdiri sendiri dengan tenaga yang tersisa. Dia tidak muda lagi, lima tahun ke depan memasuki usia setengah abad.
“Apa lagi yang kalian bicarakan?” Kailla masih sibuk dengan ponsel suaminya. Mengecek pesan masuk dan keluar sekaligus riwayat panggilan. Terakhir, barulah ibu hamil itu membuka galeri ponsel dan memastikan foto-foto Anita tidak ada di dalam sana.
“Tidak ada. Dia benar-benar ingin membantu. Kami sudah tidak ada hubungan apa-apa jauh sebelum kita menikah. Satu-satu yang tertinggal di antara aku dan Anita hanya kenangan.” Pram menjelaskan. Dekapan tangan laki-laki itu semakin erat, sesekali mengecup pundak Kailla dengan lembut.
Tangan Kailla masih sibuk menggeser koleksi foto di galeri ponsel Pram, yang sebagian besar didominasi fotonya sendiri. Dari foto masih kecil sampai hamil. Senyum Kailla mengembang saat mendapati foto wefie mereka kemarin, saat berada di dalam mobil sedang berpelukan mesra.
Jemari lentik Kailla berhenti tiba-tiba, senyum di wajahnya lenyap saat melihat foto lain, menyelip di antara foto-fotonya.
“Dave menikah?” Kailla terkejut, berbalik menatap Pram. Hampir tidak percaya menatap sang pengantin wanita. Di samping David, terlihat Pieter duduk di kursi roda ditemani wanita cantik yang Kailla ingat pernah datang ke kantor, sebelum dipekerjakan untuk merawat Pieter di Austria.
“Ya, Dave menikah ... minggu kemarin. Kemungkinan dia tidak akan kembali ke Indonesia. Pieter sedang dalam masa pemulihan, mulai belajar berjalan. Aku berencana menarik Pieter kembali ke Indonesia setelah sembuh, menggantikan Dave dan mengisi kursi wakil direktur yang hampir lima tahun kosong.” Pram menjelaskan.
“Bagaimana dengan Sam, Dad?” Kailla berbisik lirih. Teringat bagaimana asistennya sibuk mengumpulkan uang untuk membeli skincare.
***
TBC