Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 122 : Kailla dirawat


Pram memacu mobil dengan kencang menuju ke rumah sakit yang disebutkan Bayu padanya. Berkali-kali harus membunyikan klakson, meminta jalan dari pengendara lain. Berita sakitnya Kailla seperti menampar dan menyadarkannya.


“Shitttt!!” Pram memukul setir mobilnya, kesal saat harus terjebak di lampu merah. Dia hampir gila sekarang.


Kegalauannya sejak sebulan terakhir ini sampai di puncaknya saat mendengar kabar Kailla, Perasaan bimbang dan ragunya selama sebulan ini, berada pada titik dimana akhirnya dia memilih menjadi lelaki egois.


Memaksa Kailla untuk tetap disisinya, meskipun istrinya itu menolak atau protes dengan segala aturan yang diterapkannya. Memaksa Kailla untuk tetap di sampingnya meskipun Kailla mencintai atau tidak mencintainya.


Toh, dia sudah melakukan pemaksaan selama empat tahun ini, melepas Kailla di tengah jalan sama saja seperti membuang empat tahun perjuangannya.



“Maaf , aku tetap menjadi lelaki egois. Mencintaiku atau tidak, aku akan berusaha membuatmu tetap disisiku. Menua bersamaku,” bisik Pram dengan yakin.


Berita Kailla masuk ke rumah sakit, seperti menamparnya. Akan keputusan salah yang sudah diambilnya. Diingatkan akan tugasnya untuk menjaga Kailla yang dibebankan Riadi padanya. Mengingatkannya kembali, akan bahaya yang bisa saja mengancam Kailla sewaktu-waktu kalau dia tidak berada di sana.


Mengeluarkan ponselnya dengan buru-buru, mencari kontak pengacaranya. Berbagi konsentarsi dengan menyetir dan jalanan dengan menghubungi pengacaranya.



Nada sambung terdengar, Pram sudah tidak sabar untuk berbicara dengan pengacara yang tadi ditinggalkannya di ruang rapat tanpa pamit.


“Pak, tolong batalkan gugatanku. Tarik kembali permohonan ceraiku!” perintah Pram, berbicara dengan ponselnya begitu suara berat pak pengacara muncul dari benda pipih persegi di tangannya.


Terdengar suara tawa kecil dari seberang.


“Sidangnya ditunda minggu depan, tetapi saya coba sampaikan secara lisan dulu dan setelah itu saya akan membuat permohonan tertulis ke pengadilan,” jelas pengacara, yang kebetulan sedang mengobrol dengan hakim yang tadi memimpin jalannya sidang perceraiannya.


“Coba kamu sampaikan langsung saja ke yang beliau, kebetulan kami sedang mengobrol,” pinta pengacara yang sedang menikmati waktu istirahatnya bersama hakim yang tidak lain sahabatnya sendiri, sebelum melanjutkan sidang selanjutnya.


“Bagaimana Pak Reynaldi?” terdengar suara berat lainnya dari seberang. Lebih santai dan tidak seformal sebelumnya.


“Saya ingin mencabut gugatan cerai saya,” jelas Pram.


“Oh, tidak masalah. Tujuan mediasi itu memang untuk mendamaikan dan menyatukan kembali pasangan yang berniat berpisah. Kalau memang sudah ada perdamaian di luar persidangan ini, saya sangat menghargai sekali,” jelasnya.


“Pengacaraku akan mengurus semuanya. Terimakasih sebelumnya Pak,” lanjut Pram sebelum memutuskan panggilan teleponnya. Dia tidak bisa terlalu lama berbasa basi. Kailla lebih membutuhkannya saat ini.


***



Mobil putih dua pintu itu melaju kencang, masuk ke dalam pelataran rumah sakit. Pram langsung menghentikan laju mobilnya tepat di depan pintu masuk gedung rumah sakit.


Pikirannya kacau balau, membayangkan Kailla yang sakit dan tidak sadarkan diri. Apalagi melihatnya langsung, tidak terbayang apa yang akan dilakukannya.


Tidak lama tampak Pram turun dari mobil, masih lengkap dengan kacamata hitamnya. Menatap nanar ke gedung tinggi lima lantai, tempat dimana istrinya dirawat.




Dengan buru-buru, berlari masuk ke dalam rumah sakit, mencari bagian informasi untuk menanyakan letak kamar perawatan yang dimaksud Bayu.



“Istriku dirawat di rumah sakit ini. Bisa tolong beritahu dimana kamarnya. Pasien atas nama Kailla Riadi Dirgantara, dirawat di kamar Cendrawasih 5,” ucap Pram melepas kacamata hitamnya, sesaat setelah berdiri di depan perugas rumah sakit yang berseragam biru.


“Di lantai lima. Keluar lift, belok kiri. Kamarnya di deretan sana, Pak,” jelas sang perempuan yang berjaga si bagian informasi.


Tanpa banyak bertanya, hanya mengucapkan terimakasih, Pram berlari menuju lift. Panik dan khawatir begitu mendominasi, tidak tahu jelas apa yang sebenarnya terjadi dan menimpa Kailla. Dia harus secepatnya bertemu Kailla.


Saat menemukan kamar yang dimaksud, Pram langsung mendorong kasar pintu ruang perawatan itu. Tidak sabar lagi ingin melihat kondisi Kailla dengan matanya sendiri, memastikan keadaaan Kailla yang sebenarnya.


Hatinya langsung teriris saat melihat pemandangan di dalam kamar. Istrinya tertidur pulas di atas brankar, ditemani Ibu Ida. Terlihat Bayu dan Sam duduk di sofa. Ketiganya terkejut melihat Pram yang masuk tiba-tiba.


“Apa yang terjadi?” tanya Pram, berjalan mendekat.


Jarum infus yang menancap di punggung tangan Kailla, membuat Pram mengeryit, membayangkan Kailla yang menangis saat jarum tajam itu menembus kulit. Pram tahu jelas, Kailla takut dengan jarum suntik dan kesulitan minum obat sejak kecil.


“Non Kailla pingsan di kamarnya tadi pagi,” sahut Ibu Ida. Lumayan terkejut melihat kondisi majikannya, Pram jauh lebih kurus dari biasanya. Lelaki itu sepertinya kehilangan berat badannya juga, tidak jauh beda dengan kondisi istrinya.


Tangan kekar itu bergetar mengusap wajah Kailla yang tertidur pulas. Menyusuri lekuk wajah pucat pasi yang terpejam dalam kedamaian.


Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Kailla. Kecupan penuh cinta yang memendam rindu selama sebulan terpisah.


“Sayang, aku datang,” bisik Pram, di telinga Kailla. Sebuah kecupan kembali dilabuhkan Pram di pipi dan mengusapnya pelan dengan punggung jemarinya.


Penyesalan menyeruak, rasa bersalah memenuhi dada dan membuatnya sesak melihat kondisi Kailla seperti ini. Tidak terbayang sedikit pun, Kailla yang begitu kuat akan jadi selemah ini. Jadi tidak berdaya seperti sekarang.


“Bagaimana bisa begini, Bu?” tanya Pram, menarik sebuah kursi kosong. Duduk di sisi Kaila sembari menggengam tangan lemah, tergolek tidak berdaya di atas kasur rumah sakit. Dengan tangannya yang lain, menyusuri lekuk wajah Kailla, merapikan anak rambut tergerai dan menyelipkannya di balik telinga.


“Sejak Pak Pram pergi, Non Kailla lebih banyak mengurung diri di kamar,” cerita Ibu Ida.


“Seharian hanya menangis. Tidak mau makan, tidak mau keluar kamar,” lanjut Ibu Ida.


Pram terbelalak. Sedikit pun tidak menyangka, Kailla yang setangguh itu bisa berubah secengeng ini.


“Setiap hari harus ditemani, diajak bicara. Tidur malam pun, harus ditemani. Non Kailla tidak bisa tidur, sebentar-sebentar terbangun dan menangis,” cerita Ibu Ida.


“Kenapa tidak ada yang menghubungiku dan mengabariku?” tanya Pram, heran. Kembali menatap Kailla yang tidak berdaya dengan tatapan sayu. Masih terus menggengam erat tangan istrinya, memainkan jari-jari lentik yang jatuh dan melemah.


“Awalnya Non Kailla masih mencari Pak Pram, tetapi saat tahu Pak Pram ke Austria, Non Kailla tidak mengizinkan kami menghubungi atau memberitahu kondisinya,” jelas Ibu Ida.


“Kaillaaaaa,” ucap Pram pelan, berbisik lirih, mengecup tangan Kailla yang masih digengamnya.


“Keadaan Non Kailla semakin parah dua minggu terakhir, sewaktu...” Ibu Ida berhenti bicara. Sedikit ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Menatap Pram, kemudian menunduk.


“Apa Kailla menerima surat panggilan pengadilan?” tanya Pram, menyelidik.


Ibu Ida mengangguk. “Sejak saat itu, kondisi Non Kailla semakin drop. Mulai mual dan muntah, sepanjang hari, mengeluh sakit kepala dan sering sakit pinggang. Tidak bisa tidur, harus diusap punggungnya.”


“Non Kailla tidak mau dibawa ke dokter, dibujuk juga tidak mau. Mulai tidak mau makan sama sekali. Katanya kalau makan nanti muntah lagi,” cerita Ibu Ida.


“Cuma mau minum jus jeruk,” lanjut Ibu Ida.


“Ya Tuhan.” Pram mengusap wajahnya sendiri dengan kedua tangannya.


Memandang sedih wajah Kailla yang sekarang tidur dengan tenangnya. Sesalnya sudah tidak terhitung. Kalau bisa memutar ulang, dia ingin bisa mengulang kembali kisahnya dan Kailla yang terlewati selama sebulan ini.


“Non Kailla sepertinya hamil, Pak,” bisik Ibu Ida, tertahan. Sejak tadi, dia sudah mau mengatakannya, berusaha mencari waktu yang tepat. Namun, sejak masuk ke ruangan ini, belum ada penjelasan dari dokter yang merawat mengenai sakitnya Kailla.


Mereka hanya ditanya dan menjawab perihal keluhan-keluhan majikannya. Meskipun dia tadi sempat membicarakan kecurigaannya pada dokter yang menangani Kailla sewaktu di IGD. Namun, sampai detik ini belum ada penjelasan lebih jauh dari dokter, sampai hasil tes darah keluar.


Pram terkejut. Mengalihkan pandangannya ke Ibu Ida, memastikan lagi kalau dia tidak salah mendengar.


“Bagaimana Ibu mengetahui...” Pram tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Seorang perawat masuk dan menanyakan tentang keberadaannya.


“Maaf, suaminya pasien yang mana ya?” tanya perawat itu, menatap satu per satu yang ada di dalam ruangan.


“Saya Sus,” sahut Pram. Langsung berdiri, mendekati perawat.


“Maaf Pak, hasilnya tes darah pasien sudah keluar. Bapak diminta menemui dokter di ruangannya. Supaya bisa dijelaskan kondisi ibunya secara detail.


***


To be continued


Love you all


Terima kasih.