
"SAM, SINI KAMU!!" teriakan Pram menggelegar.
Tukang kebun yang sedang menyiram tanaman, langsung kocar kacir mencari aman. Donny dan Bayu yang sedang mengobrol, langsung membubarkan diri. Tidak mau terlibat, memilih menyingkir dari amarah dan murkanya Pram.
"Sini kamu!" perintah Pram.
Kailla menatap suaminya sekilas, kembali melanjutkan lamunanya. Berbeda dengan Sam, yang menciut persis seperti putri malu yang tersenggol langsung mengkerut.
"A-ada A-apa Pak?" sahut Sam tergagap. Menunduk, menolak bersitatap dengan majikannya.
"Cuci semua mobil di halaman dan garasi!" perintah Pram, tegas.
"Semuanya Pak?" tanya Sam.
"Semuanya!" potong Pram, tidak memberi kesempatan Sam berbicara.
Sam melemas, membayangkan puluhan mobil yang harus dicucinya. Belum lagi mobil mewah koleksi majikannya, yang harus mendapatkan perlakuan berbeda.
"Termasuk mobil mewah Bapak yang di dalam garasi?"
"Iya, kenapa? Masih kurang?" tanya Pram, menatap tajam.
Terlihat Pram mengeluarkan ponselnya, menggeser-geser layar sambil mengomel.
"Sebentar! Aku menghubungi Dave dulu. Memintanya memborong mobil di showroom supaya kamu bisa mencucinya. Masih kurang kan?" tanya Pram, bertolak pinggang.
"Ti-tidak Pak, itu sudah cukup. Berlebih malah," sahut Sam melemas.
"Ada lagi?"
"Tidak Pak!" sahut Sam dengan posisi siap.
"Tapi aku masih belum!" lanjut Pram.
"Cuci semua kendaraan, termasuk motor security dan mobil operasional Ibu Sari dan Ibu Ida!" perintah Pram, mengarahkan telunjuknya pada Sam.
Mulut Sam ternganga, membayangkan betapa kotornya dua kendaraan yang terakhir diucapkan Pram. Bahkan motor security itu sejak keluar dari showroom empat tahun yang lalu, belum pernah dicuci sama sekali, warna yang tadi hitam mengkilap sekarang berganti abu karena debu.
"Sepeda itu Pak?" tanya Sam lagi, menunjuk pada sepeda butut Pak tukang kebun yang menyandar di samping kolam ikan.
Tukang kebun, suaminya Ibu Sari sekaligus bapaknya Sekar itu memang tidak bisa mengendarai sepeda motor, sehingga minta dibelikan sepeda untuk keperluan operasional.
"Termasuk!" lanjut Pram, menampilkan wajah serius dan tegasnya.
"Baik Pak!"
Sam beranjak pergi meninggalkan Pram, tapi baru dua langkah, majikannya sudah memanggilnya kembali.
"Pastikan semua bersih, sampai ke kolong-kolong mobil!"
"Aku tidak mau terlihat ada lecet sedikitpun!" lanjut Pram lagi.
"Hah? Tidak salah Pak. Mobil sejuta umat yang biasa membawa Ibu Sari ke pasar itu lecetnya sudah tidak terhitung. Bagaimana saya bisa mengembalikannya menjadi mulus," sahut Sam beralasan.
Pram kembali melotot, bola matanya hampir keluar menahan amarah.
"Aku bisa meminta bantuan asisten yang lain tidak Pak. Mereka kan menganggur?" tanya Sam mencoba menawar.
"Boleh!" sahut Pram cepat.
Sam tersenyum. Tapi senyuman itu tidak bertahan lama. Kalimat Pram selanjutnya menjatuhkan semangatnya seketika.
"Mereka hanya diperbolehkan membantumu dengan doa. Silahkan kalau ada yang mau menontonmu mencuci mobil di pinggir lapangan!" lanjut Pram.
Sam beranjak pergi, segera meraih peralatan untuk mencuci mobil. Hatinya bimbang dan ragu. Untuk mobil biasa yang dipakai Kailla dan Pram, dia masih bisa membersihkannya. Tapi mobil koleksi Pram yang di dalam garasi, bagaimana membersihkannya. Selama ini Bayu membawanya ke tempat pencucian mobil khusus.
"Ingat Sam! Jangan sampai ada yang lecet!"
"Iya Pak!" sahut Sam, menenteng ember dan kanebo.
"Mobil Bu Ida lecet, gajimu kupotong 50%!"
"Tapi kalau mobil kesayanganku lecet, aku pastikan menenggelamkanmu di seberang sana! Dalam hitungan detik, Sam tinggal nama!" gertak Pram, membalikan kata-kata Sam yang tadi ditujukan padanya.
Sam benar-benar menciut, menatap ke arah Kailla yang bahkan tidak peduli padanya. Dia sudah dimarahi habis-habisan oleh Pram, Kailla menengok pun tidak.
***
Pram menghela nafas, sembari memijat pelipis. Menatap punggung istrinya, betah sekali membelakanginya.
"Sayang..," sapa Pram, memeluk dari belakang. Hal yang paling sering dilakukannya.
Cup!
Kecupan pun dilabuhkan di pipi istrinya. Kailla bergeming, seolah tidak mendengar.
"Marah padaku?" tanya Pram, menjatuhkan dagunya di pundak Kailla. Menikmati aroma tubuh Kailla yang mulai berkeringat karena cuaca panas.
"Kenapa menyembunyikan teman-temanku?" tanya Kailla tiba-tiba. Pandangannya menatap lurus ke depan, menikmati yacht yang terombang ambing di atas diterpa angin.
"Maksudmu?" tanya Pram heran.
Pram tidak menyangka istrinya mengambek. Padahal sejak tadi di ruang kerja, setengah mati dia berusaha meredam amarahnya. Dia tidak mau menyakitu Kailla di saat emosi.
Setelah berhasil menguasai diri, dia mendapati hal yang sebaliknya. Istrinya bukannya merasa bersalah padanya karena sudah berani menatap laki-laki lain. Bahkan tidak bisa menjaga perasaannya di depan orang lain. Malahan Kailla marah padanya tanpa alasan yang diketahuinya jelas.
"Apa maksudmu Sayang? Aku tidak mengerti," tanya Pram, heran.
"Aku tidak tahu, Dave yang mengurus semuanya," bisik Pram.
Kailla menghela nafas.
"Jangan-jangan aku tidak bisa menghubungi mereka karena ulahmu juga," todong Kailla.
"Iya.." Pram mengaku.
"Atas perintahku. Tapi itu untuk kebaikanmu." Pram beralasan.
"Apa maksudmu?"
"Ini ada hubungannya dengan kasus penculikanmu empat tahun lalu."
Kailla terperangah, tidak mengerti hubungan dengan teman-temannya.
"Aku tidak mau, orang-orang yang mengincarmu itu mengancamku melalui teman-temanmu. Untuk itu, aku harus mengamankan mereka. Untuk itu, aku meminta mereka memutuskan hubungannya denganmu."
"Tapi sekarang sudah tidak ada yang mengancammu, untuk apa tetap menyembunyikan mereka dariku."
"Aku benar-benar tidak tahu. Tanyakan pada Dave saja. Sudah, jangan marah lagi ya. Aku yang seharusnya marah padamu," omel Pram.
"Apa salahku?" tanya Kailla, menengok ke arah suaminya.
Pram beralih ke depan. Membungkuk, mensejajarkan wajahnya setara dengan wajah Kailla, menatap raut wajah dan netra mata istrinya itu dengan seksama.
"Sungguh tidak tahu apa kesalahanmu?" tanya Pram, menggeleng kepala.
"Tidak!"
Kedua pipi menggemaskan Kailla, dicubit Pram dengan keras.
"Ahhh.. Aduh sakit Sayang!" jerit Kailla, cemberut. Mengusap kedua pipinya yang memerah.
"Apa rasanya?" tanya Pram, tersenyum.
"Sakit!" keluh Kailla.
"Dan kamu baru melakukannya padaku," ucap Pram, mengacak pucuk kepala istrinya sehingga rambut panjangnya berantakan.
"Aku tidak merasa," bisik Kailla menggeleng.
"Hadeuh! Hancur hatiku, Kai," ucap Pram mengusap dadanya sendiri dengan wajah super memelas.
"Hah?"
"Aku cemburu pada laki-laki tampan yang tadi pagi bertamu di rumah kita;" ucap Pram terus terang.
"Suamimu sungguh tidak tahu diri. Bisa-bisanya membandingkan dirinya dengan lelaki yang tidak pantas menjadi saingannya," ucap Pram setengah bercanda. Tapi ada keseriusan dan terus terang di dalamnya.
"Maksudmu Dion?" tanya Kailla, memastikan.
"He-em.. Dari segi manapun, aku pasti kalah darinya, hanya bisa menang kerutan dan umur saja," keluh Pram dengan manjanya.
"Tapi kamu suamiku" ucap Kailla pelan.
"Kamu yang mendapatkanku, kenapa harus merasa seperti itu," lanjut Kailla.
Pram meletakkan punggung tangannya di kening Kailla, memperhatikan bola mata istrinya.
"Tatapannya tidak kosong ada bayanganku di matamu," ucap Pram, tersenyum.
“Kata-katamu barusan menjungkir-balikan hati dan perasaanku, Kai,” lanjut Pram.
Cup!
Kecupan ringan dilabuhkan Pram di bibir Kailla yang sedang duduk di hadapannya.
"Hati dan hidupku ini milikmu Kai, tolong jangan ditelantarkan," ucap Pram pelan.
Kedua tangannya masih membingkai wajah cantik istrinya. Tersenyum, sebelum melabuhkan kecupan kedua yang lebih dalam dan menuntut.
Tangan Kailla sudah bergelayut manja di leher Pram, membuka sedikit bibirnya. Membiarkan Pram bertamu di dalam sana. Keduanya hanyut, seperti biasa lupa dengan tempat dan orang lain di sekitarnya.
Memejamkan mata, saling menikmati ditemani semilir angin laut. Pram baru saja menekan tengkuk istrinya.
Brakkkkkk!!!!
Keduanya membuka mata seketika. Dengan nafas yang masih memburu dan jantung berdetak kencang. Suara nyaring tadi mengembalikan keduanya ke alam nyata.
Tukang kebun menatap ketakutan ke arah majikannya. Dia baru saja hendak mengambil sepeda bututnya yang bakal mendapat giliran dicuci Sam. Tapi saat sedang menuntut sepeda itu, tubuh renta si tukang kebun terkejut sampai gemetaran melihat pemandangan tidak senonoh yang tidak biasanya.
Diluar kendalinya, sepeda butut itu terlepas dari tangannya. Menimbulkan suara kencang, dan mengganggu kesenangan tuannya.
"Ma-maaf Pak, saya tidak melihat apa-apa," ucap si tukang kebun terbata, langsung lari terbirit-birit.
***
To be continue
Love you all
Terimakasih.
Mohon like dan komennya dong. Biar semangat up nya