Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 117 : Perceraian adalah jawabannya


Kailla terbangun dari tidurnya saat matahari sudah menyengat masuk dari jendela kamar. Drama rumah tangganya semalam, tidak hanya menguras air mata, tetapi juga seluruh jiwa dan raga. Lelah, mungkin itu yang dirasakannya saat terbangun. Semua seperti mimpi buruk.


Dengan menepuk sisi tempat tidur yang mendingin, Kailla tahu Pram sudah berangkat ke kantor seperti biasa. Masih belum menyadari kenyataan, Kailla sedang mengumpulkan setengah nyawa yang belum kembali ke tempatnya.


Mata pun masih enggan membuka, semua cerita masih hangat di pikirannya, namun hanya sebatas mimpi gelap. Sedetik, dua detik, lima detik hingga semenit berlalu sudah. Kailla membuka kelopak mata itu perlahan dan mulai mengumpulkan kepingan cerita bak dongeng sebelum tidur.


Deg—


Pandangan mengarah ke pintu, potongan demi potongan kisah itu mengulang. Kailla meloncat turun dan berlari keluar. Airmata kembali menganak sungai, tidak tertahan saat sadar saat ini Pram telah pergi.


“Bu..! Bu.!” teriak Kailla dari lantai dua rumahnya.


Ibu Sari yang sedang memegang kemoceng bulu lengkap dengan kain lap kotak merah, bergegas menghampiri.


“Ada apa Non?” tanya Ibu Sari, heran melihat wajah sembab dan sedikit pucat majikannya. Belum lagi air mata yang sekarang memenuhi wajah cantik sederhana tanpa make-up.


“Suamiku mana?” tanya Kailla, menghapus kasar jejak air matanya. Membuang jauh-jauh pikiran buruknya. Menganggap Pram hanya menggertaknya seperti biasa. Kemarahan biasa, seperti yang sudah-sudah setiap dia nakal atau berulah.


“Pak Pram pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kantor. Eh.. apa ada tugas keluar kota ya, Non?” Ibu Sari balik bertanya.


“Bawa koper juga,” lanjutnya, menjelaskan lebih rinci.


Tubuh Kailla merosot ke lantai tiba-tiba, Ibu Sari terkejut. Belum menyadari kejadian yang sebenarnya terjadi di antara kedua majikannya.


“Suamiku pergi, Bu,” lirih Kailla menahan air matanya, menatap wanita tua yang sudah dianggap ibunya sendiri. Dia tidak mau menangis, sebisa mungkin terlihat tegar, tetapi air matanya sulit dibendung. Sejak semalam sudah tidak terhitung air matanya luruh.



“Hah?! Bagaimana bisa? Kalian bertengkar lagi?” tanya Ibu Sari, langsung mendekat. Melepas kemoceng dan kain lapnya segera. Meletakan di meja kecil, tidak jauh dari tempat mereka.


Kailla menggeleng.


“Jangan menangis, cuma salah paham biasa. Rumah tangga kan memang seperti itu. Bertengkar, nanti baikan lagi. Ibu saja sering bertengkar dengan suami, tetapi pada akhirnya tetap saja kembali bersama,” hibur Ibu Sari, mengusap lembut rambut Kailla.



Melihat Kailla seperti ini, hatinya ikut tersayat-sayat. Meskipun Kailla adalah majikannya, tetapi sejak masih bayi merah, dia yang merawat dan menjaga. Memandikan, mengganti popok, menyuapi makan, bahkan dari bayi, Kailla tidur dengannya.


Pertama kali bisa menyebut mama, Kailla menghadiahkan panggilan itu untuknya dan Ibu Ida. Keadaan seperti itu terus terjadi sampai akhirnya Kailla mengerti kalau mama yang sebenarnya sudah meninggal dunia.


“Tidak, suamiku benar-benar pergi, Bu,” lirih Kailla, dengan mata dan hidung memerah mengadu dan berkeluh kesah. Sekarang tidak ada tempat lagi, Pram sudah pergi.


Senyuman hangat Ibu Sari, berusaha menenangkan Kailla, layaknya seorang ibu pada anaknya.


“Ibu akan memarahinya kalau sampai dia berani meninggalkanmu,” hibur Ibu Sari, menangkup wajah Kailla, berusaha menenangkan jiwa majikannya terguncang.



Melihat raut sedih dan terpukul di depan mata, Ibu Sari tahu masalah rumah tangga majikannnya bukan masalah sepele. Terlihat dari keadaan Kailla saat ini. Ibu Sari sangat paham, bagaimana sepak terjang Kailla. Kalau hanya masalah biasa, Kailla lebih banyak mengambek atau membuat kekacauan.


“Sudah, jangan menangis,” ucap Ibu Sari, membiarkan Kailla memelukanya. Menumpahkan semua perasaannya. Selain Pram, Kailla sudah tidak punya siapa-siapa lagi, kecuali asisten yang tinggal di rumah.



Terdengar derap langkah di anak tangga. Kailla dan Ibu Sari menoleh ke arah yang sama, menatap Ibu Ida yang sedang berbicara di ponsel dengan seseorang.


“Disini ada Non Kailla, Pak Pram mau bicara?” tawar Ibu Ida, bergegas menghampiri Kailla dan menyerahkan ponselnya. Kailla mengangguk, kedua tangan mengusap bola matanya mengkristal karena cairan bening.


“Iya, Sayang,” sapa Kailla dengan suara bergetar menahan tangisnya. Mereka baru berpisah beberapa jam, tetapi rindunya sudah menumpuk lagi.


“Kamu sudah bangun? Kamu sudah makan?” tanya Pram denga lembut, dari seberang.


Tidak terdengar jawaban, Kailla hanya diam menikmati suara dan perhatian Pram yang masih tetap sama seperti dulu.


“Maaf, aku tidak membangunkanmu. Kamu terlalu lelap, aku tidak tega,” ucap Pram lagi, memecahkan keheningan.


“Sayang, dimana?” tanya Kailla, mengigit bibir bawahnya, supaya isak tangisnya tidak keluar dan sampai terdengar.


“Aku di kantor sekarang. Sebentar lagi ada rapat,” sahut Pram singkat.


“Aku sudah meminta Bayu membelikan steak kesukaanmu. Makan yang benar. Aku tidak mau kamu sakit,” ujar Pram.


Ketegaran Kailla runtuh sudah. Tangisannya tidak bisa dibendung lagi. Semakin Pram pedulu, semakin dia kehilangan.


“Aku tidak mau steak. Aku mau bakso yang biasa aku makan,” ucapnya, dengan nada manja.


“Oh... aku akan meminta Sam mem...” Pram bungkam, Kailla sudah memotong kalimatnya.


“Aku mau kamu yang membelikannya untukku,” potong Kailla.


Pram terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab dengan tenang.


“Aku masih ada rapat sekarang, Sayang. Setelah rapat, aku akan membelikannya untukmu,” sahut Pran.


“Jangan menangis, makan steak saja dulu. Kalau pekerjaanku selesai, aku akan menemuimu,” lanjut Pram.


“Kamu akan datang kan?” tanya Kailla lagi, memastikan


“Iya Sayang. Aku pasti datang. Aku tutup dulu, aku harus kerja sekarang,” ucap Pram, sebelum mematikan panggilan teleponnya.


***


Pram baru saja melempar ponselnya ke atas meja. Perasaanya jauh lebih membaik setelah mendengar suara Kailla. Dia tidak tenang bekerja, sebelum memastikan keadaan Kailla baik-baik saja.


Suara ketukan yang berbarengan dengan pintu terbuka membuyarkan lamunan Pram. Tidak lama, muncul David dari balik pintu dengan senyum sumringahnya. Seperti biasa, lelaki itu duduk tanpa permisi, siap menunggu instruksi.


Sebuah map berisi berkas-berkas dilempar Pram ke atas meja. David, sang asisten cukup mengerti apa yang menjadi keinginan presdirnya. Tanpa bertanya, sudah membuka dan membaca isi map dengan teliti.


David terbelalak, menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dibacanya di atas kertas putih pada lembaran pertama.


“Serius? Kalian akan bercerai?” tanya David.


“Kirimkan ke pengacaraku, tapi jangan proses sekarang. Minta pengacaraku memprosesnya dua minggu lagi. Mungkin untuk bisa masuk ke sidang, butuh waktu sekitar satu bulan dari sekarang,” jelas Pram


David bingung.


“Aku masih berharap ada keajaiban dan kami tidak perlu bercerai seperti ini. Aku berharap, ada satu saja alasan untuk Kailla tetap bertahan disisiku, yaitu kehamilannya. Tanpa alasan yang kuat, Kailla tetap akan mengulang kembali kesalahannya.”


“Maksudnya?” David semakin bingung.


Asisten Pram itu sudah mengikuti hubungan keduanya sejak lama, bahkan dia tahu jelas semua kisah cinta Pram dan Kailla. Seberapa nakalnya putri pemilik perusahaan, seberapa cintanya Pram kepada Kailla.


“Dia masih belum mencintaiku. Dia masih belum bisa mencintai suaminya sendiri,” ucap Pram pelan.


“Aku kasihan kalau terus mengikatnya, dia akan tertekan. Dia akan tetap seperti sekarang. Hari ini Ditya, besok aku tidak tahu lelaki mana lagi dan akan ada lelaki lain lagi. Terus saja seperti itu. Dan hanya akan menambah deretan dosanya sebagai seorang istri,” jelas Pram.


“Kailla itu tidak bisa memahami perasaannya sendiri. Dia tidak tahu arti cinta yang diucapkannya setiap saat padaku. Selama ini, dia terlihat tenang, karena dia hidup di dalam ruang yang aku batasi. Dia bisa menatap lelaki lain hanya sebatas kekaguman.”


“Namun, saat pintu itu terbuka dan ada seseorang yang berani menerobos masuk ke dalam. Saat itulah hatinya mulai memberontak dan merasakan sesuatu berbeda, yang mungkin selama ini tidak pernah dirasakannya saat bersamaku.”


“Empat tahun ini, aku memberinya kesempatan untuk belajar menerimaku sebagai suaminya. Aku juga tidak bisa menyalahkannya, kalau pada akhirnya dia tidak bisa mencintaiku.”


“Menyerah?” tanya David tersenyum.


“Aku sudah berjuang selama ini. Kalau belum berhasil dan aku masih belum mau menyerah, itu bukan perjuangan lagi, tetapi pemaksaan,” sahut Pram, menahan tawa di tengah kegundahannya.


“Dia wanita, ada masanya. Kailla baru 24 tahun, masih bisa memilih lelaki manapun yang dia sukai. Terlalu egois kalau aku menahannya terlalu lama, dan melepasnya disaat kesempatan untuknya audah tidak ada,” lanjut Pram.


“Berbeda dengan kita pria, umur tidak menjadi persoalan. Asal mapan, rupawan, tidak akan ada yang mempersoalkan status kita. Kita bisa menunjuk wanita manapun. Bahkan bisa memilih gadis perawan sekalipun,” ucap Pram.


David hanya bisa mengangguk, meski dalam hati kecilnya menyayangkan. Dia tahu seberapa besar pengorbanan Pram. Dan David yakin, tidak akan ada lelaki yang sanggup menjaga Kailla seperti Pram. Pram bukan hanya menjaga, tetapi dia mengorbankan hidupnya untuk Kailla dan Riadi. Kalau bukan karena Kailla, Pram pasti sudah menikah dan memiliki keluarga kecil sendiri di usianya yang menuju senja.


“Mungkin ini waktu untuknya belajar berpikir dewasa. Selama ini aku selalu menjaganya sampai dia tidak memiliki kesempatan terluka. Dan sebenarnya luka itulah yang akan membuatnya selangkah menjadi lebih dewasa.”


“Baiklah, aku harus rapat dulu. Pekerjaanku menumpuk,” sahut Pram, bergegas menuju ruang rapat.



***


Ruang rapat sudah mulai dipenuhi beberapa staff yang mengambil posisinya masing-masing. Pram juga sudah duduk di tempatnya dengan berkas di atas meja. Lelaki dengan setelan jas hitam itu, terlihat lesu dengan wajah suram karena beban pikiran yang berusaha disembunyikannya. Belum lagi semalaman dia tidak bisa tidur dengan nyaman.


Namun, sebagai pimpinan dia harus mengesampingkan semua masalah rumah tangganya dan tetap mengurus perusahaan. Hidupnya bukan hanya untuk Kailla, tetapi ada ribuan karyawan yang mengantungkan nasib dan masa depan di pundaknya.


Sepanjang rapat berjalan, Pram tidak bisa fokus. Wajah Kailla yang menangis sepanjang malam, terus membayang. Berulang kali mengenyahkannya, tetap saja suara tangis itu terngiang jelas di telinganya.




Saat ini, yang duduk di posisi sentral meja rapat hanyalah raga yang tidak bertuan, bukan pimpinan yang penuh wibawa dan kharisma. Hati dan pikiran Pram sedang mengembara, tidak pada tempatnya.



Satu jam berlangsung, akhirnya Pram menghentikan rapat tiba-tiba.


“Maaf, rapat ditunda dua jam lagi. Aku masih ada urusan,” ucap Pram tiba-tiba sudah berdiri dengan memegang map hitam di tangan.



Tanpa bicara banyak, dia meninggalkan ruang rapat dengan kegaduhan para staff yang kebingungan. Tidak bisa menunggu terlalu lama, lelaki itu memacu mobilnya mencari pesanan Kailla. Dia harus memastikan dengan matanya sendiri, kalau Kailla baik-baik saja, baru bisa meneruskan pekerjaannya.


***


Mobil sport hitam yang dikendarai Pram masuk ke halaman rumahnya saat menjelang makan siang. Dengan senyum berhias di wajah tampannya, turun dari mobil sembari menenteng bakso pesanan Kailla.


Masuk tanpa permisi, mencari keberadaan Kailla yang entah bersembunyi dimana. Tidak ada jejak-jejak keusilan atau suara berisik seperti biasa.


“Bu, Kailla mana?” tanya Pram pada Ibu Ida, saat memasuki area dapur dan menyerahkan bungkusan berisi bakso.


“Tolong pindahkan ke mangkok,” perintah Pram lagi, mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


“Non Kailla belum mau turun dari kamarnya sejak pagi,” sahut Ibu Ida.


“Sekarang ditemani Ibu Sari,” lanjutnya lagi.


Dengan berlari menapaki anak tangga tergesa-gesa. Tidak mengetuk ataupun memanggil, Pram langsung membuka pintu kamar tidur itu dengan buru-buru, mengejukan dua orang di dalam sana.


Pram tertegun, pemandangan memilukan yang pertama tertangkap oleh matanya. Istri yang sebentar lagi akan diceraikannya sedang menangis tersedu, berurai air mata di pelukan Ibu Sari.


Berbeda dengan Kailla, begitu melihat Pram, dia langsung berlari memeluk pinggang lelaki tampan yang berdiri kaku di depan pintu. Bahagianya membuncah, saat bisa merasakan kehadiran Pram dan itu nyata.


“Sayang, kamu datang?” tanya Kailla dengan kemanjaan yang sama seperti biasanya. Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, membenamkan wajah basahnya mengotori kemeja hitam berbintik.


“Aku membawakan pesananmu. Kamu sudah makan?” tanya Pram, mengecup pucuk kepala Kailla.


“Temani aku makan,” pinta Kailla, mencium pipi Pram sembari tersenyum dengan wajah sembabnya. Tanpa menunggu jawaban, dia memeluk erat lengan Pram dan menyeret lelaki itu turun ke lantai satu.


Begitu menginjakan kaki di ruang makan, aroma bakso kesukaan Kailla sudah memenuhi ruangan. Semangkok bakso yang masih mengepul, sudah diracik Ibu Ida sesuai dengan selera Kailla. Asam, manis dan pedas seperti nano-nano.


“Kamu membelinya di tempat biasa?” tanya Kailla.


Anggukan dan senyuman tipis di wajah Pram, cukup untuk memberi jawaban. Dengan setengah berlari, Kailla menarik kursi makan dan menjatuhkan tubuhnya. Meraih mangkok bakso itu mendekat padanya, tanpa menunggu lagi, menyuapkan sesendok bakso lengkap dengan mie kuning ke dalam mulut.


Beberapa detik kemudian, saat isi di dalam mulut itu masuk ke dalam kerongkongan dan berakhir di lambung, Kailla berlari menghambur ke kamar mandi sembari menutup mulutnya. Menumpahkan isi perutnya, sesuap bakso yang berakhir dengan cair bening.


Pram yang bahkan belum sempat duduk, terkejut. Segera mengekor dan masuk ke dalam kamar mandi, mencari tahu apa yang terjadi. Khawatir, sudah tentu. Bahkan sejak semalam dia mengkhawatirkan Kailla.


“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Pram, mengusap lembut punggung membungkuk yang sedang membersihkan mulut di wastafel.


“Bakso apa yang kamu belikan untukku? Kenapa rasanya aneh begini. Aku tidak suka!” keluh Kailla, setelah membersihkan mulutnya dari bekas muntahan.


“Sama seperti biasa,” sahut Pram heran, mengerutkan dahi. Masih belum menerima protes Kailla. Dia merasa tidak melakukan kesalahan sedikit pun.


“Bukan, ini rasanya aneh. Kamu tidak salah kan?” tanya Kailla kesal sendiri. Keinginannya sudah diubun-ubun, tetapi begitu masuk mulut semuanya sirna dengan rasa aneh dan tidak biasa.


“Tidak, aku yakin. Aku memang sudah tua, tetapi aku belum pikun. Bapak yang jualan saja masih mengenaliku,” ujar Pram membela diri. Tangannya masih mengusap punggung Kailla, tetapi Kailla kembali mengomel.


“Yang sakit itu bukan punggungku, tetapi perutku. Perutku menolak menerima bakso aneh darimu!” omel Kailla. Lupa sudah dengan permasalahannya dengan Pram. Saat ini dia ingin mengomel Pram, kalau bisa mengomel sehari semalam sampai puas.


Pram beralih, mengusap perut Kailla dengan lembut sembari berkata.


“Sudah jangan marah-marah lagi. Kamu sepertinya masuk angin. Aku tahu kamu belum sarapan sejak pagi,” ujar Pram. Ekor matanya sempat melihat steak yang dipesan Bayu masih utuh belum tersentuh.


Keduanya sudah kembali ke meja makan, dengan Kailla menatap semangkok bakso di hadapannya.


“Sayang, tolong habiskan,” pinta Kailla akhirnya. Dia sudah ingin menghabiskan bakso yang begitu menggugah seleranya, tetapi tidak berani. Takut perutnya akan menolak lagi.


“Hah?! Yang benar saja suruh aku menghabiskannya. Kamu tahu kan aku tidak menyukainya,” tolak Pram.


“Bu, singkirkan saja,” perintah Pram, mengibaskan tangannya meminta Ibu Ida membawa pergi dari hadapannya.


“Tidak!! Aku mau kamu yang menghabiskannya. Aku mau melihatmu memakannya seperti biasa aku menikmatinya.” Kailla bersikeras.


“Atau aku minta Sam ya? Dia kan seleranya sama sepertimu.” Pram menawar.


Sudah terbayang di benaknya rasa aneh, pedas bercampur manis, belum asam cukanya. Pram bergidik ngeri sendiri.


“Tidak! Aku mau kamu yang menghabiskannya!” tolak Kailla, menangis. Merengek dengan manjanya.


Ibu Ida yang dipaksa menonton kedua majikannya, mengulum senyuman. Apalagi saat melihat Pram dengan terpaksa mengikuti kemauan Kailla yang bersikeras dan tidak mau terima setiap penolakan dan alasan.


“Baik, aku akan menghabiskannya. Kamu habiskan steakmu ya,” tawar Pram, bernegosiasi. Baru saja dia akan memerintahkan Ibu Ida memanaskan steak, tetapi Kailla menolak kembali.


“Habiskan baksonya, setelah itu buatkan aku pasta,” perintah Kailla, seenak-enaknya.


Pram terperanjat, tampak melirik jam tangan di pergelangan tangannya, sembari berpikir. Di harus segera kembali ke kantor, tidak punya waktu untuk memasak lagi.


“Bagaimana kalau besok siang? Aku harus kembali ke kantor sebentar lagi,” ucap Pram.


“Aku tidak mau. Kenapa kamu tidak tinggal disini saja. Jadi nanti malam kamu bisa membuatkan pasta untukku,” ucap Kailla, teringat kembali dengan masalah perceraiannya.


“Kita akan berpisah, sebaiknya kita tinggal terpisah mulai sekarang,” ucap Pram, menyuapkan mie dan kuahnya ke dalam mulutnya.


“Aku tidak mau berpisah. Aku akan tinggal di apartemen bersamamu!” tegas Kailla.


Pram melirik ke arah Ibu Ida. “Bu, bisa tinggalkan kami,” pinta Pram kepada asisten rumah tangganya.


Ibu Ida menurut. Tanpa banyak bertanya, wanita tua itu bergegas keluar. Cukup sadar diri, sebagai asisten, bukan wilayahnya menguping pembicaraan majikannya.


“Kai, dengar. Aku juga tidak mau berpisah denganmu. Aku saja masih belum rela melepas cincin di jari manisku. Rasanya berat setelah perjuangan kita selama empat tahun ini,” ucap Pram, menunjukan cincin nikah yang masih melingkar kokoh di jarinya.


“Lalu kenapa kamu memaksa bercerai, kalau tidak rela berpisah denganku!” keluh Kailla, dengan cemberut.


“Untukmu. Untuk kebahagiaanmu. Kalau berpisah denganku, kamu bisa mengejar cinta yang kamu bilang cinta sejati. Aku tidak tahu siapa, bisa saja Ditya, bisa saja Dion, atau bisa saja lelaki yang ketampanannya melebihi opa-opa korea.”


“Aku tidak mau berpisah denganmu. Perasaanku pada Ditya itu berbeda,” ucap Kailla.


“Kalau berbeda, harusnya ditunjukan kalau itu berbeda. Di mata orang lain tidak ada bedanya. Arti pelukanmu pada Ditya seperti apa, hanya kamu yang tahu. Orang lain hanya menganggapmu berselingkuh dari suamimu,” tegas Pram.


“Pembelaan dirimu akan sia-sia, karena orang lain bukan menilai dari perasaanmu, tetapi menilai dari apa yang mereka lihat,” lanjut Pram lagi.


“Maafkan aku,” bisik Kailla pelan.


“Hidup itu pilihan. Kita tidak bisa mendapatkan keduanya bersamaan. Kalau menjadi istriku, kamu tentu tidak bisa lagi menyukai atau mencintai lelaki lain secara bersamaan. Aku tidak mau, istriku mencintai lelaki lain selain diriku. Aku bahkan tidak mau istriku disentuh lelaki lain secara sadar, kecuali tidak sadar, aku bisa maklum,” jelas Pram.


“Mulai sekarang belajar membedakan mana yang sekedar mengagumi atau menyukai atau mencintai! Ketiganya itu memiliki rasa yang berbeda. Dan batasan yang berbeda juga. Mulailah belajar memahami perasaanmu sendiri. Kalau kamu tetap seperti ini, menikah dengan siapa pun, tidak akan bisa bertahan. Tidak ada suami manapun, ingin dicurangi.”


“Aku mencintaimu,” ucap Kailla dengan lancar.


Pram tertawa.


“Berikan aku satu alasan, kenapa kamu ingin mempertahankan rumah tangga ini?” tanya Pram.


“Aku mencintaimu, aku tidak bisa jauh darimu,” ucap Kailla pelan.


“Aku akan memproses perceraian kita dua minggu lagi. Kamu pikirkan lagi, cinta yang kamu ucapkan itu apakah benar-benar cinta atau hanya kenyamanan saja,” ucap Pram.


“Jangan banyak menangis. Disaat ini kita dituntut untuk banyak merenungi kesalahan kita masing-masing. Aku tidak bilang aku benar, aku juga banyak salah padamu.”


“Dan kalau pernikahan kita memang suatu kesalahan, mungkin perceraian adalah jawabanya,” lanjut Pram.


***


To be continued


Love You all


Terima kasih