
Sesuai dengan perjanjian, Pram memberi waktu seminggu untuk Kailla bermain-main di perusahaan. Laki-laki itu memberi kesempatan kepada istrinya menikmati carut-marut perusahaan, lelahnya mengurus proyek, mengurus ribuan karyawan termasuk pekerja lapangan, menghabiskan waktu dari satu rapat ke rapat yang lainnya, berkutat dengan deretan angka miliaran tanpa terlihat uangnya.
Dan yang paling penting, Pram bisa mengajarkan Kailla bagaimana cara mempertimbangkan sesuatu, menghitung untung rugi dan belajar mengambil keputusan, meskipun bisa saja keputusan yang diambil Kailla itu salah dan menghancurkan semuanya.
Pagi ini, Pram yang sudah beberapa hari memulai terapinya, tampak duduk di kursi roda ditemani Bayu. Berjemur di taman rumah sakit, memulai harinya seperti biasa saat ditinggal Kailla berangkat kerja.
“Bos, belum bisa sama sekali berjalan dengan kruk?” tanya Bayu, terlihat berdiri di samping Pram, meremas sandaran kursi roda demi memastikan semuanya aman.
“Bisa, hanya saja kalau terlalu dipaksa jalan, sedikit sakit, “ sahut Pram. Menikmati matahari pagi yang menyorot padanya. Pram mulai menikmati hari-harinya sebagai pasien rumah sakit, yang geraknya terbatas dan tidak bebas.
“Besok, jadi pulang ke rumah, Bos?” tanya Bayu lagi.
Pram mengangguk. “Aku harus secepatnya sehat. Kasihan Kailla, kalau aku terus di rumah sakit. Dia tidak akan nyaman. Kamu tahu sendiri bagaimana keras kepalanya Kailla, dia tidak akan mau tidur di rumah, kalau aku masih di rawat di sini.”
“Minta Ibu Ida bereskan kamar utama yang di lantai satu. Kailla sudah hamil besar seperti itu, tidak mungkin tiap hari turun naik tangga,” titah Pram.
“Baik Bos.”
“Besok siang, aku sudah bisa pulang ke rumah. Kailla juga mulai besok sudah tidak ke kantor.” Pram memulai pembicaraan.
“Sakit ini ... membuatku sadar satu hal, Bay. Bahwa selama ini aku sering mengabaikan istriku. Hari-hariku habis dengan pekerjaan, dari membuka mata sampai terpejam lagi. Bahkan tak jarang, saat aku pulang Kailla sudah terlelap,” sambung Pram, merasa bersalah.
Pandangannya menerawang, menatap segerombolan penjual ikan hias di depan rumah sakit. Kembali diingatkan pada Kailla dan kesenangannya. Rona laki-laki itu cerah seketika, secerah pagi menyambut hari. Seindah kuncup mawar yang merekah.
“Kailla ... lebih banyak menghabiskan waktu dengan kalian, dibandingkan denganku selama ini,” ucap Pram. Ada sesal tersirat di dalam kata-katanya.
“Dan akhirnya dia memilih menghabiskan waktu dengan ikan-ikannya.” Pram terkekeh.
Bayu tersenyum. “Ikan-ikannya sebagian sudah diberikan kepada orang, sebagian dilepas. Aa Gading dilepas Sam kembali ke rawa-rawa bersama Aa Aldebaran dan Teh Andin.”
Pram menoleh. Dua nama terakhir terasa asing di telinga Pram. Namanya Indonesia sekali, yang Pram tahu jelas bukan selera Kailla.
Wajah tampan itu mengandung tanya. Pram menaikan kedua alisnya, menunggu jawaban.
“Memang Bos tidak tahu? Kalau Non Kailla sering pulang telat, mata bengkak, sering mengomel tanpa jelas, ini semua tak lain dan tak bukan, gara-gara kena sindrom ikatan cinta."
“Cerita Sam, sebelum pulang kantor atau di perjalanan, Non Kailla terjerat pesona sang tuan muda.” Bayu bercerita sambil tertawa, mengingat pasukan wanita di rumah mewah Pram terkena virus yang sama. Tak terkecuali istrinya, Kinar dan sang mama mertua, Ibu Citra.
Bayu terbahak, apalagi mengingat kejadian kemarin sore saat pulang ke rumah, Ibu Sari hampir ditalak suaminya karena menonton sinetron sampai tidak ingat waktu. Siang terbawa perasaan, malam terbawa mimpi. Tidak enak kerja, tidak enak makan, tidak semangat hidup karena alur sinetron yang merusak mood wanita tua itu seharian.
Pram tergelak. Namun dia cukup terkejut Kailla membuang semua ikan-ikannya. Rasa bersalah itu pasti ada, walau Kailla tidak pernah membahasnya. Kalau tidak, mana mungkin Kailla membiarkan deretan artis itu diadopsi orang lain.
“Bagaimana dengan kecelakaanku, Bay?” tanya Pram.
“Dennis ... kemungkinan satu nama itu. Aku sedang mengumpulkan bukti. Sementara ini kasusnya sudah dilimpahkan ke pengadilan. Sopir itu ... mengambil semua tanggung jawab. Dia tidak mau mengaku siapa yang membayarnya.” Bayu bercerita.
“Jaga Kailla ... kasus ini mungkin sama seperti mamanya. Target mereka adalah anak-anakku."
"Kamu sudah mendapatkan calon bodyguard untuk anak-anakku. Sam akan menjaga salah anakku, aku butuh seorang lagi," lanjut Pram.
“Sudah Bos.”
“Minta dia menemuiku nanti,” titah Pram.
“Baik.”
Obrolan keduanya terhenti saat ponsel Pram berdering. Laki-laki yang sudah merindukan istrinya lagi, mengulum senyuman. Buru-buru merogoh kantong, tentunya untuk memastikan siapa yang menghubunginya sepagi ini. Baru ditinggal beberapa menit, rindu akan istrinya sudah datang lagi. Tidak terbayang, andai dua bulan di ICU dia benar-benar terjaga. Bagaimana melewatkan saat-saat harus terpisah dari Kailla.
Tentu saja Kailla, pikir Pram. Pasti separuh hidupnya itu ingin mengabari kalau sudah tiba di kantor. Kedua sudut bibir yang tadinya tertarik ke atas, perlahan mendatar. Pram mengerutkan dahi saat melihat nomor asing yang menghubunginya. Sepagi ini, aneh rasanya.
“Bay, tolong terima.” Pram menyerahkan ponselnya pada sang asisten.
Terdengar nada datar Bayu saat ponsel itu tersambung dengan si penelepon di ujung panggilan.
“Anita ....” Kalimat Bayu mengambang.
Menghela napas berat, Pram mengulurkan tangan siap menerima. Baru seminggu yang lalu, Anita menghubunginya, mengadu pertemuannya di Bandung dengan Kailla. Menawarkan bantuan untuk perusahaan yang katanya sudah di ambang kehancuran.
Pastinya ini versi Kailla, istri kecil yang baru belajar manajemen bisnis. Baru belajar memimpin perusahaan, baru belajar membuat keputusan dan tentunya baru menikmati duduk di kursi presiden direktur.
“Ya, An ... ada apa?” Pram bertanya, suaranya terdengar tenang tanpa riak dan gelombang.
“Rey ...”
“Pram, panggil aku Pram, An,” potong laki-laki yang mengernyit disengat panas pagi di atas kursi roda.
“Ada berita apa? Kenapa Kaillaku menghubungimu.” Kalimat Pram terdengar biasa, tetapi kata Kaillaku serasa mencubit hati Anita. Dan itu yang diinginkan Pram, setiap menyebut kata Kaillaku.
Anita mencelos. Mereka pernah bersama melewati puluhan purnama. Pernah berada di posisi Kailla, diakui ke semua orang sebagai miliknya Pram. Namun saat ini, Pram mengakui wanita lain di depannya.
“Istrimu menyetujui proyek yang aku tawarkan.”
“Email padaku. Aku ingin melihat sendiri proyek apa yang kamu tawarkan pada Kaillaku.” Pram memberi perintah.
“Kamu akan menganulir keputusan istrimu?” Anita bertanya dari kejauhan.
Pram menghela napas. “Tentu tidak. Apapun keputusan Kaillaku, aku akan menyetujuinya. Hanya saja aku merasa perlu tahu, proyek seperti apa yang kamu tawarkan padanya.”
“Tidak masalah. Aku hanya memberitahumu. Tidak sedikit pun bermaksud mengerjaimu lagi. Aku tulus untuk membantu. Aku hanya merasa bersalah untuk masa lalu kita.” Anita mengucapkannya dengan nada berat dan menyeret, seakan ada beban yang ditanggungnya.
"Masa lalumu, bukan kita." Pram menolak.
"Maafkan aku Rey ...."
“Aku sudah melupakannya.” Pram memotong. Tidak ingin Anita melanjutkan kisah yang mungkin akan membuat rasa bersalahnya mencuat.
"Masalah perusahaanku, jangan khawatir. Itu hanya ketakutan Kailla. Tidak mungkin akan hancur dalam dua bulan. Aku bisa membereskannya." Pram masih sempat terkekeh pelan. Mengingat kembali bagaimana istrinya kebingungan, mengira perusahaan akan gulung tikar.
"Terimakasih, beberapa tahun belakangan sudah membayar biaya rumah sakit ...."
"Tidak masalah, An. Anggap saja penebusan dosaku untuk anakku yang pernah kutitipkan di rahimmu. Aku melakukan semua itu untuknya." Pram menegaskan. Dua bulir air matanya jatuh saat mengingat anaknya yang pernah hadir meski tak pernah tersentuh olehnya.
Diam sejenak, keduanya memilih tidak bersuara. Pram sedang menata hatinya yang terguncang hebat.
"Maafkan aku, Rey ...."
"Aku sudah melupakannya An ...."
Helaan napas kasar terdengar jelas, Pram ragu berbicara tetapi akhirnya kata itu terucap juga.
"Dulu ... apakah pernah mencintaiku?" Tiba-tiba Pram berkata memecahkan keheningan. Sejak membaca surat Riadi, Pram menyimpan tanyanya untuk Anita.
"Sangat ... Aku mencintaimu, sangat Rey." Anita menahan tangisnya di seberang. Menggigit bibir menahan sesak.
"Aku sudah tahu semuanya, alasan kenapa Riadi menolakmu." Pram menjelaskan.
"Aku hanya butuh jawaban itu untuk bisa memaafkanmu," lanjut Pram.
Terdengar isak tangis Anita, Pram tahu wanita yang pernah mengisi hatinya sebelum Kailla itu sedang terguncang.
"Rey ... setelah mengetahui kebenarannya ... apa kamu menyesal?" Ragu-ragu Anita bertanya.
"Dulu aku benar-benar mencintaimu, sampai sekarang tidak pernah menyesal, pernah mencintaimu, An. Meskipun entah bagaimana kisah kita berawal ...."
"Aku sudah memiliki kehidupan sendiri. Kita ... hanya milik masa lalu. Setelah ini, jangan pernah muncul lagi di kehidupanku dan Kailla, An."
"Andai Tuhan menggariskan kita harus bertemu tanpa sengaja, berpura-puralah tidak mengenalku, karena aku juga akan melakukan hal yang sama." Pram mematikan sambungan telepon. Dia mendengar jelas, Anita tengah menangis mendengar kata-katanya.
Beberapa foto dikirim Anita bersama dengan sebuah pesan.
Aku kirimkan padamu, Rey. Setelah ini, kisah kita benar-benar usai. Aku mencintaimu, Rey.
"Bay, blokir semua. Aku tidak ingin melihat wanita ini mendekati keluargaku lagi. Hapus semua fotonya!” perintah Pram tanpa melihat lagi, menyerahkan ponselnya pada Bayu
***
TBC