
Setelah proses sectio caesarea selesai, Kailla di pindahkan ke ruangan pemulihan ( recovery room ) atau PACU. Post Anasthesia Care Unit ( PACU ) adalah ruangan di mana pasien yang baru selesai menjalani operasi dipantau dan diawasi ketat, sampai kondisi pasien stabil dan siap dipindahkan ke kamar perawatannya kembali.
Hampir dua jam menunggu, duduk di sisi brankar Pram masih setia menggenggam tangan Kailla. Pria dengan sejuta kebahagiaan menari-nari di hati dan pikirannya saat itu, terlihat jauh lebih tampan setelah menerima tambahan status baru.
Ya, Reynaldi Pratama berhasil menggapai pencapaian tertinggi di dalam hidupnya beberapa jam yang lalu. Seorang putra dari Citra Wijaya, suami dari Kailla Riadi Dirgantara dan Daddy dari dua bayi sekaligus Bentley Tristan dan Kentley Sean, keturunan Riadi Dirgantara membawa nama besar Pratama. Mungkin itulah yang dipikirkan Pram saat menyematkan dua nama keluarga sekaligus di belakang nama putra kembarnya.
Pram masih menatap wajah pucat istrinya yang tertidur pulas saat ini. Istri kecil kekanakan yang mengantarnya menjadi seorang Daddy. Pria tampan itu hampir tertidur, merebahkan kepalanya di sisi brankar dengan tangan menggenggam jemari lemah Kailla.
“Sayang ....” lirih Kailla pelan, nyaris tak terdengar. Mengerjap beberapa kali, Kailla belum sepenuhnya sadar. Pengaruh anastesi saat menjalani operasi membuat sebagian ingatan Kailla berkelana. Bahkan ia tidak ingat sudah melahirkan dan kapan dipindahkan ke ruangan ini.
“Sayang ....” lirih Kailla lagi, lebih kencang. Dengan kepala menoleh ke kanan, mulai mencari tahu apa yang terjadi. Ada beberapa wanita berpakaian putih, duduk tidak jauh dari tempatnya berbaring.
“Sayang ....” panggil Kailla.
“Em ... kamu sudah bangun, Sayang.” Pram terjaga dan langsung sigap setelah panggilan Kailla yang kesekian kalinya. Buru-buru berdiri, memerhatikan Kailla lebih dekat, menyibak anak rambut yang menutupi sebagian wajah seputih kapas.
“Apa yang kamu rasakan, Kai?” tanya Pram, iba menyelimuti saat melihat istri nakalnya berbaring tak berdaya.
“Kepalaku pusing. Aku di mana?” tanya Kailla pelan.
“Kamu di ruang pemulihan. Jagoan kita sudah lahir,” cerita Pram, mengingatkan Kailla yang terlihat kebingungan.
Wajah pucat itu tersenyum, menyimpan penasaran. Di dalam kamar operasi ua terlelap saat bayi mereka lahir, bahkan ia tidak mengingat apa pun di detik-detik keduanya lahir ke dunia.
“Apakah mereka tampan? Kamu sempat mengambil fotonya? Aku ingin melihatnya,” tanya Kailla penasaran.
Pram tersenyum, mengeluarkan ponselnya. Menunjukan foto yang diambil perawat beberapa menit setelah kedua anaknya lahir ke dunia.
“Ini, Sayang.”
Kailla melihat sekilas, kepalanya masih pusing. Tidak bisa dipaksa fokus terlalu lama.
“Bagaimana? Kamu puas dengan hasil karyaku? Ini yang siang malam aku siram, pupuk dan pastikan tidak kekurangan apa pun,” ucap Pram, mulai menjahili Kailla.
Kailla menggeleng. Kailla belum sepenuhnya mengingat semua hal. Kepalanya masih berdenyut dengan pandangan berbayang.
“Masih kurang puas? Aku tidak keberatan kalau diminta membuat ulang. Aku janji akan memperbaiki dan tidak mengulang kesalahan yang sama.” Pram berkata lagi.
“Aku lapar ... haus, Sayang,” ucap Kailla dengan suara lemah.
Menatap cairan infus yang tergantung di tiang dan sebotol cairan bening yang tergeletak di samping kepalanya. Semuanya tersambung dengan jarum yang menancap di punggung telapak tangannya.
“Sebentar, aku tanyakan perawat dulu ... apakah kamu sudah boleh makan dan minum,” jelas Pram.
Tak lama perawat datang setelah melihat Kailla siuman. “Bagaimana, Bu?” tanya perawat.
“Apa sudah boleh makan dan minum, Sus?” tanya Pram.
“Minum boleh, sedikit-sedikit. Makan nanti ya. Awal-awal harus makan yang lembek dulu,” jelas sang perawat.
“Jangan mengangkat kepala dulu, Bu. Kalau lelah, bisa menyamping kiri kanan, bertahap. Harus bergerak juga nanti-nantinya, supaya tidak kaku,” lanjut perawat, sambil mengontrol ke layar monitor yang berdiri di belakang brankar.
“Baik, Sus.” Pram mengambil segelar air dan membantu Kailla menyeruput air putih dari sedotan.
“Sebentar lagi kita pindah ke kamar perawatan.” Perawat itu tersenyum.
***
Di sinilah Kailla, terjaga sepanjang malam. Tidak bisa tidur lagi setelah sempat terlelap beberapa jam di ruang recovery, ditemani Pram yang duduk di sisi hospital bed. Suaminya bersandar di kursi dengan tangan terlipat di dada, kedua mata Pram terpejam rapat. Pria itu kelelahan dan tertidur, meskipun sesekali terjaga dan memastikan Kailla baik-baik saja.
“Sayang, tidur saja di sofa,” pinta Kailla, iba melihat kondisi suaminya.
“Hmmm, kamu tidak apa-apa?” tanya Pram, memaksa matanya membuka. Menggeleng kasar kepalanya, mengusir kantuk yang menyerang tiba-tiba.
“Tidak apa-apa. Aku sudah jauh lebih baik sekarang.” Kailla berkata.
“Hanya dari pinggang ke kaki saja belum terasa apa-apa. Tidak ada rasa sakit sama sekali,” jelas Kailla.
“Ya, sudah. Aku mengantuk sekali, Sayang. Aku tidur di sofa sebentar. Kamu bisa memanggilku setiap membutuhkanku. Bisa memanggil perawat juga,” ucap Pram menunjukan tombol bel, jika sewaktu-waktu Kailla membutuhkan sesuatu.
“Ya ... em ... itu suara berisik dari mana?” tanya Kailla heran.
“Itu suara mesin pemanas yang menyemburkan hangat di balik selimutmu. Kenapa? Kamu keberatan?” tanya Pram.
“Kalau sudah tidak membutuhkan, aku bisa meminta perawat menghentikannya. Aku takut kamu kedinginan. Tadi perawat sempat menanyakan, masih tetap mau difungsikan atau sudah tidak perlu lagi,” jelas Pram lagi.
“Biarkan saja, dulu.” Kailla menjawab pelan.
***
Semburat cahaya mentari mencuri masuk melalui jendela kamar perawatan Kailla yang tergolong mewah. Kamar berukuran luas itu dilengkapi dengan kamar mandi, satu set sofa, kulkas dan lemari penyimpanan. Sebuah kettle listrik tersedia di atas kulkas untuk menyeduh air hangat. Beberapa botol mineral dengan merek terkenal tersusun rapi, yang memang sengaja disediakan pihak rumah sakit.
Pagi-pagi sekali, sudah ada petugas mengantar sarapan, bersama koran pagi untuk menghilangkan kejenuhan. Perawat yang datang berkala tanpa perlu dipanggil untuk memeriksa kondisi Kailla menunjukan seberapa sempurna pelayanan rumah sakit yang bak hotel bintang lima.
Bahkan Pram juga disediakan bantal tidur dan selimut hangat, tanpa harus bersusah payah membawanya dari rumah.
Pukul delapan pagi, Kailla yang sudah dilap tubuhnya dan berganti pakaian tampak jauh lebih segar. Seorang petugas wanita terlihat masuk, membawa map untuk mendata menu Kailla.
“Ya ...” sahut Kailla yang terlihat sehat. Bagian atas brankar sudah dinaikan sedikit, jadi pinggang Kailla tidak terlalu lelah berbaring terlalu lama.
“Mau mencatat menu untuk besok, Bu.” Petugas itu tersenyum dengan pena di tangannya.
“Kita punya bubur ayam, nasi goreng dan sandiwch?” tanya petugas.
Pram yang baru saja keluar dari kamar mandi, masih dengan handuk putih menggantung di pundak terlihat tersenyum. Bagaimana tidak, istrinya jauh lebih baik. Begitu bahagia saat ditawari makanan yang rata-rata adalah kesukaan Kailla.
“Em ... bubur ayam, Bu.
“Telur rebus atau digoreng?” tanya sang petugas.
“Direbus!” Kailla menjawab singkat.
“Minumannya susu atau teh hangat?”
“Teh hangat!” Pram menjawab sambil berjalan mendekati Kailla. Dicatat saja, Bu. Istriku tidak minum susu. Jadi tidak perlu memasukan menu susu untuk pasien kamar ini,” jelas Pram.
“Baik Pak.”
“Makan siang ... kita punya nasi dengan sayur bening dan ayam goreng mentega atau nasi dengan sup ayam sayuran dengan tahu dan tempe bacem.”
“Nasi dengan sop!” Kailla tersenyum sumringah. Ada banyak menu, macam-macam pilihan di sini. Dia benar-benar menikmati masa-masa perawatannya di rumah sakit.
“Buahnya pisang, jeruk atau buah naga?”
“Mau dijus atau utuh?” tanya petugas lagi.
“Jus saja ... buah naga.”
Semua didata petugas, sampai cemilan sore dan makan malamnya. Kailla benar-benar diperlakukan seperti di rumah. Sangat nyaman, tidak seperti sedang di rumah sakit.
“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Pram, melihat wajah bahagia Kailla. Baru saja sang perugas sensus menu keluar dari kamar.
“Aku betah di sini, aku tidak mau pulang,” sahut Kailla, sumringah,
“Ini pengalaman pertamamu melahirkan. Aku ingin menciptakan kenangan yang indah untukmu. Aku tidak mungkin memilih sembarangan rumah sakit dengan pelayanan standar untukmu. Aku pasti memilih yang terbaik untukmu dan anak-anak. Supaya nanti kamu tidak keberatan kalau harus hamil dan melahirkan lagi,” jelas Pram tersenyum licik.
“Huh! Bukannya kamu sudah setuju hanya sekali saja. Kenapa sekarang setelah aku melahirkan, kamu melanggar janjimu sendiri,” protes Kailla.
Pram terbahak. “Aku bercanda, Sayang.”
“Kamu sudah berjuang melahirkan anak-anak kita, tentu saja aku harus memberimu pelayanan terbaik,” sahut Pram.
Obrolan keduanya terhenti saat perawat mendorong baby box masuk ke kamar, diikuti dua orang pengasuh si kembar, Bin dan Kin.
Untuk pertama kali, Kailla melihat langsung kedua bayinya. Dengan dibantu Pram berbaring menyamping, bagian tubuh dari pinggang ke bawah belum bisa digerakan dan belum berasa. Masih kaku dan baka. Kailla bisa leluasa memandang wajah kedua malaikat mungilnya yang terbungkus bedong putih, tidur berdampingan.
“Kenapa mereka tidak mirip denganku?” protes Kailla sembari menahan luka di perut bawahnya, memandang wajah kedua bayi itu dengan teliti.
“Memang kamu pikir mereka mirip denganku?” Pram balik bertanya.
Keduanya saling bertatapan, menyimpan tanya yang lebih dalam.
“Aku sampai berpikir ... ini benar anakku atau bukan. Aku baru mau bertanya padamu Kai, apa benar mereka anakku?” Pram terbahak saat mengucapkannya. Tentu saja ia hanya bercanda. Pram sangat mengenal istrinya, meskipun terkadang suka labil. Namun si kembar benar-benar putranya, darah dagingnya.
“Aku serius, Sayang,” ujar Kailla, menatap suaminya dengan wajah datar. Tidak ada canda di dalamnya.
“Apa kamu sudah memastikan ini benar-benar anak kita. Kamu yakin tidak tertukar, kan?” tanya Kailla lagi.
Perawat dan dua pengasuh si kembar mengulum senyuman mendengar perdebatan ayah dan ibu si bayi kembar yang terlelap.
“Maksudmu bagaimana, Kai?” tanya Pram mengerutkan dahinya.
“Bayi ini benar-benar bayi kita, kan? Kamu tidak salah ambil bayi. Tidak salah mengenali bayi kita. Aku sedang di operasi, harusnya kamu yang lebih jelas,” cerocos Kailla.
Pram terbahak.
“Sayang aku serius. Kenapa bayiku jadi blesteran begini,” celetuk Kailla.
“Mereka mirip dengan papanya Pram.” Tiba-tiba terdengar suara Ibu Citra dari arah pintu masuk.
“Jangan berdebat, cucuku sangat mirip dengan suamiku, Pratama Indraguna,” jelas Ibu Citra, yang sejak kemarin malam sudah tidak sabar ingin melihat kedua cucunya. Apalagi saat melihat foto yang dikirimi Pram, wanita lansia itu tidak bisa tidur semalaman.
***
THE END
Akan ada kabar terbaru dari Pram dan Kailla yang akan aku bagi di sini. Tetap favorit ya, supaya tidak ketinggalan berita. Akan ada season ketiga, dengan tokoh utama tetap Pram dan Kailla, lebih fokus ke Pram dan Kailla, bukan kisah anak-anak mereka. Keseruan Kailla mengurus bayi kembarnya, dan posesifnya Pram setelah kelahiran anak-anaknya.
Terimakasih.