Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 56 : Memutus Hubungan Sementara


“Pram.."


Hanya sepatah kata itu saja, selanjutnya Ibu Citra menangis. Menatap Kinar dengan berurai air mata.


“Kinar, tolong masuk ke dalam, aku harus bicara dengan Pram,” ucapnya pelan. Akhirnya memilih menurut dan melunak demi berdamai dengan putranya.


Ibu Citra memilih duduk, meraih bangku teras tidak jauh dari tempatnya berdiri. Pram tetap bediri di tempatnya.


“Mungkin.. bagimu Kinar tidak memiliki arti apa-apa. Tapi perlu kamu ketahui, mamamu masih ada sampai saat ini karena Kinar.”


Kalimat demi kalimat itu meluncur keluar dari bibir yang bergetar menahan rasa yang berusaha disembunyikannya selama hampir 40an tahun ini. Kinarlah yang selama ini menjaga dan merawatnya seperti seorang putri kandung.


“Sudah Ma. Aku tidak pernah mempermasalahkan Kinar. Aku datang kesini hanya ingin mendengar penjelasan Mama, kenapa sampai memukul istriku!” ucap Pram terdengar kesal. Mengingat wajah bengkak Kailla rasanya sakit.


Ibu Citra menyerigai, menampakan senyum sinisnya.


“Sudah kuduga. Benar kata Kinar, anak itu licik. Dia pasti mengadu pada suaminya,” ucap Ibu Citra pelan. Tapi pendengaran Pram masih bisa menangkap ucapan sinis mamanya.


“Istriku tidak seperti itu, Ma!” potong Pram, ada kemarahan yang berusaha di tahannya. Kalau bukan mamanya, sudah pasti dia akan menampar balik orang yang berani menyentuh istrinya.


“Aku yang mengasuhnya sejak lahir, aku yang merawatnya sejak kecil. Memang dia terkadang kekanak-kanakan. Tapi dia sangat menghargai hubungan seorang ibu dan anaknya. Dia bahkan menolak bercerita padaku!” jelas Pram.


Pram menghela nafas, memandang mamanya yang sekarang menunduk. Entah merasa bersalah atau merasa tidak akan menang berdebat dengan putranya.


Sejak kapan mama mengetahui kalau istriku adalah putri Riadi Dirgantara?” tanya Pram, membuang pandangannya. Dia tidak mau goyah untuk kesekian kalinya. Air mata Kailla dan air mata mamanya sama berarti untuknya.


“Sejak pertama kali kamu menolak menikahi Kinar. Beberapa hari setelah itu, mama mengetahui semuanya. Tapi mama menolak mencari tahu banyak hal lagi tentang istrimu, bahkan tidak mau mengenali rupanya. Mama takut akan semakin sakit hati melihat senyumnya di atas penderitaam keluarga kita,” sahut Ibu Citra pelan.


Pram tersenyum sinis. “Bahkan mama memata-mataiku!”


“Bukankah kamu juga melakukan hal yang sama pada mama!” ucap Ibu Citra tidak mau kalah. Tangannya menunjuk ke kamera cctv yang terpasang hampir di semua sudut rumah.


“Aku melakukannya untuk menjaga mama. Aku harus memastikan mama baik-baik saja. Bukan untuk memata-matai mama,” jelas Pram.


Tampak Pram memijat pelipisnya, kepalanya pusing. Belum selesai masalah perusahaan, ditambah masalah mamanya yang begitu keras hati dan tidak mau mengalah.


“Lalu.. kenapa masih memaksaku menikahi Kinar. Padahal mama tahu, kalau aku adalah laki-laki yang berstatus seorang suami,” lanjut Pram menunggu jawaban.


“Sampai kapan pun, mama tidak ikhlas ada keturunan Riadi menjadi anggota keluarga Pratama Indraguna,” sahut Ibu Citra pelan. Terlihat Ibu Citra memejamkan matanya, berusaha menahan air mata yang mengumpul dan siap turun.


“Tapi kenyataannya begitu. Istriku adalah Kailla Riadi Dirgantara.”


Pram mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan.


“Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan restumu?” tanya Pram sedikit melemah. Tidak sekeras sebelumnya.


Hening. Ibu Citra memilih diam. Meremas pegangan kursi, menahan rasa yang bergejolak di hatinya.


“Aku tidak masalah, mama membenci Riadi, aku memaklumi. Tapi aku tidak bisa melihat istriku menangis,” jelas Pram.


“Pram, tidak bisakah kamu bersikap adil pada mama. Ini tidak adil untukku, juga untuk papamu,” Ibu Citra.


“Aku sudah berusaha adil pada kalian berdua. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Mama sendiri yang memilih berbeda jalan denganku.”


“Mama tahu, masalah ini bukan padaku atau istriku, tapi ada di hati mama,” lanjut Pram lagi.


Ibu Citra diam, tatapannya menerawang. Entahlah, rasanya berat untuk bisa menerima.


“Kamu putraku satu-satunya...,” bisik Ibu Citra, pelan nyaris tidak terdengar.


“PT. Wijaya Indraguna.. aku akan membangun perusahaan itu kembali untuk mama. Cukupkah?” tanya Pram.


“Apalagi yang mama mau? Katakan padaku, aku akan mengabulkannya asal tidak memintaku menikah lagi atau menceraikan istriku,” lanjut Pram lagi.


Ibu Citra menggeleng.


“Besok pengacaraku akan datang mengurusnya. Aku tidak bisa memberi Riadi Dirgantara Group pada mama. Itu bukan milik keluarga Pratama Indraguna. Mungkin di awal iya. Tapi sampai sebesar sekarang, itu hasil kerja keras mertuaku,” jelas Pram.


“Mama tidak mau semua itu, Pram,” tolak Ibu Citra.


“Lalu apa yang mama inginkan?” tanya Pram.


“Membalas dendam?” todong Pram.


“Silahkan mama membalas dendam pada Riadi Dirgantara, tapi jangan berani-beraninya menyentuh istriku lagi!” ancam Pram tiba-tiba. Suaranya terdengar tegas dan tidak main-main.


“Pram, kamu mengancam mama?!” Ibu Citra mulai terpancing.


“Kelewatan kamu, Pram!” Ibu Citra menumpahkan kekesalan sekaligus kemarahannya.


“Maaf kalau aku kelewatan. Terserah mama mau menyebutku durhaka. Tapi aku benar-benar sudah tidak tahu lagi bagaimana menyadarkan mama. Istriku tidak ada sangkut pautnya dengan masalalu orang tuanya,” jelas Pram.


“Kamu memilih perempuan itu dibandingkan mamamu sendiri, Pram?” tanya Ibu Citra tidak percaya. Menggelengka kepalanya, tidak menyangka putranya akan berubah dan menentangnya seperti ini.


“Aku tidak memilih, mama yang memaksaku pergi dari hidup mama,” jelas Pram.


“Aku lelah harus berdebat dengan mama untuk hal yang sama setiap hari. Aku sudah tidak peduli lagi. Kalau mama mau hidup seperti ini, terserah! Aku permisi,” pamit Pram, menghampiri mamanya.


“Aku mencintaimu. Tapi aku tidak mau hidupku diatur-atur!” ucap Pram, memeluk Ibu Citra sekilas, sebelum pergi.


Ibu Citra hampir tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Pram, putranya yang begitu menyayanginya, memilih meninggalkannya hanya karena seorang wanita.


“Pram, kamu itu putraku. Kamu lupa bagaimana papamu meninggal karena ulah Riadi. Bagaimana bisa kamu...” Ibu Citra mulai menangis, menumpahkan isi hatinya.


“Aku hanya menamparnya dua kali, kamu memutuskan hubungan dengan mamamu sendiri. Tapi laki-laki itu sudah membunuh papamu, kamu tetap bisa memaafkannya. Kamu sudah gila, Pram!”ucap Ibu Citra, masih terisak. Berkali-kali dia mengelus dadanya, menahan sesak akan kelakuan putranya.


“Riadi yang bertanggung jawab, bukan istriku. Silahkan kalau mau membunuh Riadi, tapi jangan pernah menyentuh Kaillaku,” ucap Pram dengan santainya.


“Dan lagi, jangan memintaku membalas dendam pada Riadi,” lanjut Pram lagi.


“Pram...!” teriak Ibu Citra, mendatangi putranya yang sedang berdiri mematung. Memukul kencang tubuh Pram berulang kali.


“Aku tidak pernah memilik anak sepertimu! Memang seharusnya kamu meninggal dulu! Kenapa kamu muncul kembali dan membawa luka padaku,” ucap Ibu Citra, terus memukul sambil menangis.


Pram diam, menerima pukulan ibunya. Dia tidak bisa berbuat apapun saat ini. Kalau mamanya tetap bersikeras, yang ada mereka akan tetap saling melukai.


“Aku tadinya sudah mencoba berdamai dengan masa laluku,” isak Ibu Citra. Berlutut di lantai sambil meremas dadanya.


“Tapi kenapa kamu malah membawa anak musuhku dan menjadikannya istrimu!”


“Ada banyak perempuan di dunia ini, silahkan! Siapapun itu, mama pasti menerimanya dengan senang hati. Tapi kenapa harus memperistri putri Riadi.” Tangis Ibu Citra semakin kencang dan menyayat hati.


“Kamu tidak melihat bagaimana luka papamu, kamu tidak melihat bagaimana deritanya yang dibawa sampai mati.”


“Ma, sudah. Bangun.”


Pram tidak bisa melihat mamanya seperti ini. Dengan kedua tangannya, dia merengkuh tubuh renta mamanya. Sebenarnya ada rasa tidak tega di dalam hatinya. Mau bagaimanapun, seburuk apapun, mama tetaplah mama. Tidak akan ada yang terputus walau mau menolak sekeras apapun.


“Aku tidak meninggalkanmu. Aku hanya memberi mama waktu merenung dan berpikir. Sampai kapan pun mama tetap mamaku. Tapi ini hidupku. Tidak ada seorang pun yang berhak mengatur hidupku, termasuk mama.” lanjut Pram.


Dengan memeluk erat Ibu Citra, Pram berbisik.


“Ma, dengarkan aku,” ucap Pram masih mendekap erat mamanya.


“Aku mencintaimu, Ma. Tapi aku juga mencintai istriku. Selamanya aku tetap putramu, tapi hidupku sekarang milik istriku. Jangan pernah memukul istriku lagi, kalau tidak mama akan kehilangan putramu,” bisik Pram.


“Kalau begitu membenci istriku, mama boleh memukulku. Kailla tidak bersalah sedikit pun. Baik untuk semua masa lalu daddynya atau pun pernikahan kami.”


“Dia berkorban banyak untuk pernikahan ini. Dia bahkan tidak mencintaiku, tapi dia tetap bertahan disisiku selama empat tahun ini.”


Ibu Citra diam. Melepas pelukan dan menatap putranya. Mata Pram berkaca-kaca, menahan tangis.


“Mama akan menemui istrimu untuk meminta maaf,” ucap Ibu Citra pelan. Upaya terakhirnya untuk bisa mempertahankan putranya.


“Tidak! Aku tidak mengizinkan mama menemui istriku lagi,” ucap Pram.


“Pram, kamu serius?” tanya Ibu Citra, tidak percaya.


“Iya, untuk saat ini aku tidak mengizinkan mama menemuinya. Bahkan, aku juga perlu izin darinya untuk menemui mama,” jelas Pram, membuat mata Ibu Citra kian terbelalak.


“Mama bisa menghubungi Bayu untuk menanyakan kabarku. Aku pamit sekarang. Jaga diri mama baik-baik. Aku sangat mencintaimu, Ma,” ucap Pram, berpamitan.


“Pram, kamu tidak salah memutus hubungan seperti ini hanya karena mama memukul istrimu?” tanya Ibu Citra memastikan lagi. Raut wajahnya tampak sedih.



“Iya, tapi tolong jangan menggunakan kata hanya memukul, Ma. Terdengar seperti istriku itu tidak ada harganya," sahut Pram dengan santai.


"Kalau Mama tahu arti seorang Kailla dalam hidupku, aku yakin mama akan berpikir ulang sebelum menyakitinya."


Bergegas menuju ke mobilnya, tempat dimana Bayu menunggunya sejak tadi.


“Bay, ayo jalan!” perintah Pram dengan santai. Bahkan laki-laki matanh itu tidak terlalu banyak berpikir.


“Bos, tidak salah mamanya ditinggal seperti itu?” tanya Bayu heran. Tidak tega melihat Ibu Citra yang menangis berurai air mata. Meratapi kepergian putranya.


“Biarkan saja. Mama harus diberi efek jera. Tidak bisa hanya dengan ucapan. Dengan begitu, dia baru menyadari kesalahannya,” ucap Pram dengan santai.


“Nanti kalau mama kenapa-kenapa?” tanya Bayu khawatir.


“Ya sudah, kamu saja yang menjadi putranya. Lidahmu sepertinya sudah luwes memanggil mama,” lanjut Pram.


Bayu menggelengkan kepala. Rasanya tidak tega meninggalkan wanita tua itu menangis seperti itu. Begitu menyedihkan.


“Kepalaku sakit, Bay,” ucap Pram, memejamkan matanya. Menghela nafas berat, menandakan seberapa banyak beban yang harus dipikul di pundaknya.


“Bos mau pulang ke rumah? Bermanja-manja dengan Non Kailla,” tawar Bayu, tersenyum.


Hampir empat tahun menghabiskan waktu bersama. Hubungannya dengan Pram bukan hanya sekedar bos dengan bawahan. Bahkan Bayu tempat Pram berkeluh kesah selama ini. Kalau Kailla memiliki Sam, Pram memiliki Bayu.


“Bisakah Bay. Kalau bisa aku akan menghabiskan sisa umurku bersama Kailla di dalam kamar saja,” ucap Pram, terkekeh.


“Jadi ini mau kemana? tanya Bayu.


“Ke proyek. Setelah itu ke kantor,” perintah Pram.


***


to be continued


Terima kasih


Love you all