Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
SEUNTAI IMPIAN SERUNI


Apa kabar semuanya? Aku menuliskan cerita baru di Noveltoon. Silakan mampir dan mohon dukungannya.


...SEUNTAI IMPIAN SERUNI...



“Dari mana saja?”


Erlang menegur seorang pria muda saat melangkah masuk ke dalam hunian mewahnya yang bak istana. Pengusaha sukses dengan puluhan pabrik semen tersebar di nusantara itu tampak menahan kesal. Bukan kali pertama, tetapi tetap saja dia tak bisa memanjangkan sabar. Pepatah bisa karena terbiasa tak berlaku untuknya meski hampir tiap subuh mendapati sang putra berjalan sempoyongan pulang ke rumah setelah habis berpesta semalam suntuk.


“Pa.”


Pria muda berstatus duda cerai itu tampak menikmati hidup dalam keadaan mabuk. Terus menebar senyuman tak jelas, bersenandung nyaris satu album. Langkah kaki saling silang, hampir terjerembap dan mencium lantai marmer dingin andai tak dicegah oleh lengan seorang wanita paruh baya yang masih cantik meski gurat-gurat keriput halus menghiasi wajah.


“Wise, kamu dari mana?” Suara tanya kali ini terdengar penuh kelembutan, berbeda dengan kepala keluarga yang tengah memasang wajah perang.


“Ma.” Suara laki-laki bernama Wisely Erkana Hutomo Putra itu terdengar parau.


Sepanjang malam berpesta dan minum di kelab, dia baru menjejaki kaki saat kokok ayam jantan menyapa hari. Fajar menguning di sudut timur, kilau keemasannya menebar sampai ke kediaman Erlang Arkasa Hutomo Putra. Pebisnis yang sukses dalam bidangnya, tetapi gagal menuntun sang putra menjadi orang.


“Biarkan saja dia jatuh! Syukur-syukur gegar otak, bisa kembali menjadi laki-laki normal.” Pria tua dengan helaian rambut putih menghiasi pucuk kepala itu menghela napas berulang. Dadanya nyeri setiap berhadapan dengan Wisely. Menyematkan nama seindah mungkin pada putra-putrinya, tetapi semua tak sesuai doa dan asanya.


“Mas, bukan itu solusinya. Nanti kita bicara lagi. Aku harus membawanya ke kamar. Kasihan.” Kana Kamaniya—sang istri dengan sifat lemah lembut selalu ada sejuta sabar untuk putra kesayangannya.


Erlang menggeleng. “Ini semua karena kamu terlalu memanjakannya, Na.”


Kana yang tengah menuntun putranya menuju ke kamar terlihat menoleh ke belakang dan mengirim tatapan tajam. Dia tak terima saat sikap buruk putranya disangkut paut dengannya.


Apa hubungannya? Sekarang saja sombong. Dia lupa dulunya sebelas dua belas dengan putranya. Apa bedanya dia di masa muda dengan Wise sekarang. Kalau bukan karena kesabaranku, mana mungkin dia bisa seperti sekarang. Huh!


Kana terpaksa melantunkan protesnya dalam hati. Erlang semakin tua, makin menjadi. Andai dia mengeluh terang-terangan, laki-laki itu akan menumpahkan kekesalan sampai puas.


...🍒🍒🍒...


Wisely tengkurap di atas ranjang empuknya, tak bereaksi.


“Wise, Mama yakin kamu mendengarnya. Kamu hanya pura-pura mabuk demi menghindari papamu, ‘kan?”


“Hmm.” Samar-samar terdengar gumaman di balik bantal.


“Wise, jangan begini. Papa Mama sudah tua, tidak bisa selamanya menjagamu. Berubahlah. Menikahlah dengan Kenanga, dia berbeda dengan Rose. Ambil alih perusahaan, jaga adikmu Grace. Kamu itu kakak, Nak.”


Wise diam, memiringkan wajahnya yang terbenam di tilam empuk agar bisa mendapatkan pasokan udara lebih banyak. Kelopak mata mengerjap, dia bisa menangkap keresahan sang mama yang tengah duduk di bibir tempat tidur.


“Aku tidak mau menikah lagi, wanita itu hanya akan mengecewakan.”


“Makanya Mama carikan yang tidak mengecewakan. Tapi, perbaiki dulu sikapmu. Bagaimana kamu bisa menuntut wanita sempurna, sedangkan kamu sendiri memperlakukan dirimu seperti sampah? Kupu-kupu yang indah itu tak menyukai sampah, Nak. Mereka hanya akan mengitari bunga.”


“Aku tidak mau kecewa lagi.”


Kana tersenyum hangat. “Namanya saja Kenanga, dia pasti cantik, wangi, dan ….”


“Rose tidak cantik?” Wisely tidak terima.


“Tapi dia berduri, Nak. Sejak awal Mama sudah tahu kalau wanita itu tidak cocok dijadikan istri.” Raut wajah Kana berubah redup. “Kamu istirahat dulu, Mama akan meminta asisten rumah menyiapkan air hangat dan sarapan.”


“Mama mau ke mana?” Wisely melontarkan tanya sesaat mendapati mamanya sudah berdiri dan siap melangkah pergi. “Jangan katakan mau melamar Kenanga untukku. Aku belum siap, Ma.”


Kana tergelak. “Tidak siap menikah, tapi gonta-ganti wanita. Siapkan diri mulai dari sekarang, menikah itu pahala. Yang kamu lakukan sekarang itu dosa.” Melangkah pergi, langkah wanita tua itu seperti genderang perang di pendengaran Wisely.


“Ma, aku belum setuju! Jangan membuat kesepakatan dengan siapa pun tanpa persetujuanku.” Wisely tercengang ketika mamanya tersenyum penuh kemenangan.


“Hari ini kamu mengeluh, besok pasti setuju. Saat ini kamu mungkin belum menaruh hati, saat bertemu … takutnya langsung ingin diperistri. Istirahat saja.”


...Bersambung...