Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 164 : Ingin dimakamkan di samping istri


Tidak ada denyut jantung lagi disana, tidak ada tarikan nafas dan hembusannya. Kulit tubuh lemah tidak berdaya itu memucat sudah. Dengan bibir membiru mengulas senyum tipis tanpa arti. Ya, Riadi pergi dengan sudut bibir terangkat ke atas. Wajah damai penuh keikhlasan dan kerelaan.


“Sayang, daddy hanya bercanda, kan? Dia sedang mengerjaiku, kan?” tanya Kailla setelah puas menangis dan memukul daddy tetapi keadaan tetap sama.


Pram hanya mengangguk pelan. Sudah tidak sanggup lagi melihat istrinya seperti ini.


“Biarkan daddy pergi, Sayang. Memang pada akhirnya harus seperti ini. Cepat lambat akan ada hari ini. Tidak selamanya nafas ini kekal menghuni raga, Sayang,” bisik Pram, memaksa memeluk Kailla yang berontak dan menangis histeris mendengar kata-katanya.


Kaki jenjang itu menghentak bumi dengan kasar, seolah tidak terima dengan kata-kata sang suami. Perawat yang sejak tadi membereskan alat-alat, sampai berhenti setelah melihat ekspresi Kailla yang menyayat perasaan siapa saja yang melihat.


“Tidak! Kamu berbohong padaku. Aku sudah katakan, jangan menandatanganinya!” todong Kailla mendorong kasar tubuh suaminya. Air mata berderai mengiringi kalimatnya.


“Tidak Sayang. Aku tidak melakukan apapun. Aku bersumpah. Jangan seperti ini, Kai. Aku tahu kamu mengerti semuanya, hanya saja ....”


Plakkkk!


Pram tidak menyelesaikan kalimatnya, Kailla menamparnya hingga dia tidak sanggup berkata-kata lagi.


“Aku membencimu! Aku membencimu! Aku membencimu!” ucap Kailla berulang dengan tatapan berapi-api, mengarahkan telunjuknya pada Pram.


“Iya, boleh membenciku, tetapi jangan seperti ini. Ayo, menangis sepuasnya, aku ada disini untuk mendengar tangisanmu, untuk menjadi pelampiasanmu.” Pram segera merengkuh tubuh Kailla dan memaksa memeluknya dari belakang.


“Jangan seperti ini, Sayang. Masih ada aku dan bayi kita,” bujuk Pram, berusaha menenangkan tubuh istrinya yang berguncang hebat.


“Aku membencimu ....” Hanya kalimat ini berulang diucapkan Kailla.


“Ya, boleh membenciku, boleh memukulku, boleh melakukan apa saja padaku, tetapi jangan seperti ini. Daddy sudah pergi, tetapi aku dan anak kita masih ada di sini bersamamu. Apa tidak kasihan dengan bayi kembar kita. Dia juga butuh perhatianmu,” bisik Pram, menenangkan. Tangan lelaki itu masih mengunci perut besar Kailla, mengusapnya pelan dan teratur.


Tangan kekar itu beralih menggengam tangan Kailla, menarik istrinya kembali mendekat. “Bicaralah apa yang ingin dibicarakan dengan daddy. Peluklah sepuasnya sekarang.”


Kailla menggeleng dengan berderai air matanya.


“Aku tidak mau berpisah dengan daddy. Aku mau daddy tetap di sini,” ucap Kailla di sela isak tangisnya.


“Sudah waktunya berpisah. Mau tidak mau, harus tetap berpisah. Kasihan daddy, hidup seperti ini juga menyakitkan. Sekarang daddy sudah bahagia. Kamu bisa melihat, akhirnya daddy tersenyum setelah sekian lama berjuang melawan sakitnya.” Pram berkata.


Kailla hanya bisa menutup mulut dengan kedua tangannya, tangisnya pecah di pinggir tempat tidur. Dan Pram hanya bisa memandang dengan hati teriris perih menahan tangis. Saat ini, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Yang hanya bisa dilakukannya adalah berdiri setegar mungkin, untuk jadi tempat bersandar Kailla.


“Sayang ... kenapa Daddy harus pergi secepat ini?” tanya Kailla, menghambur memeluk suaminya, tangisnya terdengar begitu memilukan. Sesenggukan di dalam dekapan lengan kekar Pram.


Entah sudah berapa lama, Kailla menangis, meremas kemeja Pram yang basah. Terlihat dua orang perawat berjalan mendekat, menutupi Riadi dengan kain putih.


“Maaf Pak, almarhum harus dipindahkan. Tadi sudah sempat diperiksa dokter untuk melengkapi data-datanya. Bapak bisa menemui dokter langsung,” jelas salah satu perawat.


“Jangan seperti itu, daddy akan sesak kalau sampai ditutup wajahnya!” protes Kailla, menyibak kain putih yang menutupi wajah Riadi.


“Sayang, daddy harus dipindahkan. Jangan seperti ini,” bisik Pram saat Kailla menahan brankar supaya daddynya tidak dibawah pergi.


Tangis Kailla pecah setelah Pram menahan pergerakannya. Brankar itu berjalan keluar dan menjauh.


Baru saja Kailla akan menyusul, tiba-tiba tubuhnya hilang keseimbangan. Dunia menghitam dan berputar. Kedua kaki itu pun sudah tidak bertenaga untuk menopang raganya. Ibu hamil itu akan merosot jatuh, luruh ke lantai kalau saja Pram tidak sigap menahannya. Kailla pingsan, tidak sadarkan diri di pelukan suaminya.


***


Sebuah rumah duka di Pluit menjadi pilihan Pram, untuk tempat persemayaman jenazah Riadi Dirgantara. Sejak berita meninggalnya pemilik RD Group itu tersebar, ada puluhan papan bunga yang mulai berdatangan dan memenuhi pelataran Grand Heaven.


Sebuah foto berbingkai keemasan berukuran sedang, terlihat berdiri kekar di depan peti jenazah kayu kecoklatan bertutup kaca. Terlihat tampan dan gagah dengan senyuman berkharisma, lelaki yang sekarang sedang berbaring kaku dengan kedua tangan terlipat di dada.



Rangkaian bunga putih memenuhi ruangan, terlihat beberapa pelayat mulai berdatangan menyampaikan belasungkawanya. Ada banyak meja bundar dengan kursi mengelilingi yang sengaja disiapkan untuk para tamu. Para asisten terlihat berdiri di luar ruangan, bersiap menyambut para pelayat.


Diantara semuanya, Donny paling terpukul dan kehilangan. Lelaki itu masih belum bisa menyembunyikan kesedihannya. Wajah sembab, sesekali masih meneteskan air mata. Empat tahun menghabiskan waktu untuk menemani Riadi di rumah sakit, bukan hal mudah untuknya saat ini. Apalagi, dia satu-satunya asisten terlama yang bekerja di keluarga Riadi Dirgantara. Dari mengawal Kailla hingga tujuh tahun terakhir berganti menemani keseharian almarhum.


Di dalam ruangan, Pram terlihat tampan dengan setelan jas hitam, berdiri kaku di samping Kailla. Istrinya masih belum puas menangis setelah sadar dari pingsannya. Ibu hamil itu memilih duduk, menelungkup di samping peti jenazah dengan berurai air mata, sesekali menatap wajah pucat daddy yang terlihat jelas dari penutup kaca.


“Sayang ....” Pram menyodorkan segelas air mineral, membantu istrinya menyeruput cairan bening dari sedotannya. Sudah seharian ini Kailla menangis, lelaki itu mulai mengkhawatirkannya.


Di pojok ruangan terlihat Ibu Citra yang ditemani Kinar berpakaian sama hitamnya dengan Kailla dan Pram. Ibu Ida dan Ibu Sari juga tampak bergabung di sana.


“Sayang, kamu harus makan. Kasihan anak anak,” bisik Pram, mengambil sekotak bubur ayam dan mulai menyuapi. Sejak makan siang di rumah mamanya, Kailla tidak mengisi perutnya dengan apapun.


“Aku tidak mau,” tolak Kailla, mendorong pelan sendok yang hampir mencapai bibirnya.


“Makan sedikit saja. Ini sudah sore, kamu belum makan apa pun. Kasihan anak kita,” bujuk Pram, melirik jam di pergelangan tangannya. Ibu Ida yang ikut menemani, tampak mengambil alih bubur ayam dari tangan majikannya setelah melihat ada rekan Pram yang datang.


“Pak, biarkan saya saja yang membujuk,” ucap Ibu Ida.


Dari kejauhan terlihat Bara berjalan masuk. “Pram, aku turut berduka cita!!” sapanya, memeluk.


“Maaf, aku baru mendapatkan kabar. Bella belum bisa datang, bayi kami masih belum bisa ditinggal. Nanti di pemakanan istriku akan hadir,” jelas Bara, menepuk pundak Pram. Tatapannya beralih pada Kailla yang tampak menyedihkan.


“Iya, tidak apa-apa, Bar,” sahut Pram, tersenyum datar.


Lelaki itu sudah berdiri di depan peti jenazah, mengirim doa dengan kedua tangan saling bertaut di depan dada. Mengingat jelas bagaimana dulu sepak terjang Riadi Dirgantara membesarkan RD Group. Perusahaan keduanya bergerak di bidang yang sama. Hampir di setiap kesempatan akan bertemu bahkan tidak jaran mereka bekerja sama.


“Rencananya kapan, Pram?” tanya Bara, setelah mengirim doanya.


“Aku belum tahu. Aku harus menghubungi keluarga Anna Wijaya terlebih dulu. Pesan mertuaku semasa hidup, ingin dimakamkan di samping istrinya,” jelas Pram. Ada beban yang harus dipikulnya untuk masalah ini. Detik-detik menuju kehancuran Kailla saat semua masa lalu istrinya itu terkuak. Sampai saat ini, Kailla hanya tahu kalau istri Riadi Dirgantara adalah Rania Sari, mamanya. Tidak terbayang apa yang akan terjadi kalau sampai semuanya terbongkar di pemakaman.


“Dave tidak kelihatan?” Bara mengedarkan pandangannya, mencari sosok asisten kesayangan Pram.


“David di Austria. Sekarang dalam perjalananan pulang ke Indonesia bersama perwakilan dari KRD. Direktur perusahaan di Austria mengalami kecelakaan, sementara David yang mengantikannya ,” jelas Pram singkat.


***


TBC