Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 193 : Maaf


Sam masih mondar-mandir menunggu di luar klinik bersama Donny, saat Pram tiba di kantor dengan dua kruk sikut sekaligus. Dibantu Bayu, Presdir RD Grup itu bergegas menuju tempat di mana istrinya terbaring tidak sadarkan diri. Lantai tiga gedung perkantoran yang hampir dua bulan lebih tidak dijejaki itu adalah tujuannya.


Panik, khawatir, takut semua rasa itu melebur. Pram menggila begitu mendapat kabar dari Sam. Menyelipkan doanya di setiap langkah, semoga Kailla dan bayi mereka baik-baik saja. Lupa dengan semua rasa sakit, mengabaikan kondisi fisiknya, lupa sudah dengan semua masalah perusahaan. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Kailla dan kandungannya. Istri dan anak-anaknya.


Mengamuk di rumah sakit, ketika izin tak kunjung keluar. Laki-laki yang sebentar lagi akan berusia 45 tahun itu tidak bisa menahan sabar, jika diminta menunggu izin dokter yang merawatnya.


“Persetan dengan semua prosedur ini! Saya akan tetap keluar dengan atau tanpa izin! Saya siap menanggung resikonya!” Pram menggebrak meja perawat, sambil berteriak kencang. Beberapa orang wanita berpakaian putih, menciut. Menyembunyikan ketakutan mereka dengan menunduk.


“Maaf, Pak.”


Pasien yang baru saja bangun dari koma, bahkan berjalan saja belum sempurna, tetapi sanggup meluapkan kemarahan begitu mengerikan. Mata memerah dengan garis rahang mengeras, urat-urat membiru di pelipis kiri dan kanan, gadis berseragam putih itu tidak sanggup mencegah. Membiarkan Pram pergi, tanpa berani menghadang.


Bayu, asisten itu tentu saja tidak bisa berbuat apa-apa. Mau sakit atau pun sehat, saat murka seorang Reynaldi Pratama tetap mengerikan. Seperti saat ini, dia bagai kerbau dicocok hidungnya. Tidak sanggup menghentikan langkah kaki Pram yang tertatih-tatih. Menyusuri koridor dengan tampang menyeramkan, menahan kesakitannya.


Bayu tahu, Pram sedang menahan sakit di kaki kanannya. Itu tampak jelas, seringkali Pram mengernyit setiap kakinya menapaki lantai. Bulir keringat di pelipis Pram tidak bisa berdusta andai bibir laki-laki matang itu ingin berkelit.


“SAM!!” teriakan menggelegar dari kejauhan.


Sam dan Donny segera berbalik badan, demi menatap pasrah pada si pemilik suara yang sedang melepas amarah. Meletup tanpa bisa dicegah. Sam memang salah, tidak bisa menjaga Kailla dengan baik. Untuk itu, dia siap menerima semua konsekuensinya.


“Ma ... af Pak.” Sam terbata. Saat jarak tertinggal beberapa meter. Asisten itu kian tertunduk. Tidak berani sedikit pun mengangkat kepala. Masalah Kailla pasti akan dilimpahkan padanya, bukan Donny. Karena Pram hanya mempercayakan Kailla padanya.


“Apa yang terjadi?” Pram berdiri tegak dengan kruk menahan di kedua sikunya.


“Macan ini bahkan bisa berdiri tegak. Nasibmu tinggal segaris Sam. Tamat riwayatmu, Sam!”


“SAM!!” teriak Pram, membuat asisten itu berdiri gemetaran.


“Maaf Pak, aku lalai.”


“Non Kailla seharian sibuk meeting sampai ... tidak ada waktu untuk is .. tirahat,” sahutnya terbata. Mengintip dengan raut ketakutan.


“Apa kerjamu seharian? Harusnya kamu bisa membujuk Kailla. Kamu tahu aku mempekerjakanmu untuk apa?”


“Ma ... af, Pak.”


“Aku mempekerjakanmu untuk menemani Kailla, mengingatkannya akan hal-hal kecil yang sering dilupakannya. Kamu itu bukan hanya sekedar asisten untuk Kailla. Kamu itu sahabat Kailla, sudah dianggap keluarga. Harusnya kamu tahu posisimu berbeda dibanding yang lain!”


“Maaf, Pak.”


“Terjadi sesuatu pada Kailla dan kandungannya. Aku akan membuat perhitungan denganmu!” Pram menatap tajam. Bola mata itu mengiris, siap mencabik-cabik tubuh Sam.


Bergegas menuju pintu, Bayu segera membantu. Begitu daun pintu putih itu terbuka, Pram bisa melihat wanita pemilik separuh hidupnya sedang berbaring di atas brankar, ditemani dua orang perawat yang memang dipekerjakan perusahaan khusus untuk berjaga di klinik.


“Apa yang terjadi?” tanya Pram, melangkah masuk. Netra itu tertuju pada wanita hamil yang berbaring nyaman di atas brankar.


“Hanya kecapekan saja, Pak,” sahut perawat, mengusap pelan telapak tangan pasien yang masih belum sadarkan diri.


“Bay, tolong kursi. Kakiku sakit.” Pram memberi perintah. Sedikit melembut setelah melihat sendiri wanitanya. Saat ini, dia baru bisa merasakan denyut dan nyeri itu menyatu, mengumpul di kaki kanannya.


Terlalu lama digunakan berjalan, Pram menyerah. Memilih duduk dan beristirahat, setelah memastikan Kailla baik-baik saja.


“Kandungannya?” tanya Pram lagi, beralih menatap salah satu perawat.


“Sepertinya tidak ada masalah. Hanya kecapekan, tensinya rendah,” tutur sang perawat.


Aura mengerikan itu perlahan menguap dan hilang. Ketenangan mulai menyelimuti seiring denyut jantung kembali normal. Pram bisa tenang setelah memastikan dengan matanya sendiri kalau Kailla baik-baik saja. Tangan itu perlahan mengusap lembut perut membuncit, tempat bayi-bayinya tidur dengan tenang dan nyaman.


“Kamu tahu, Kai. Kamu hampir membuat jantungku berhenti berdetak,” bisik Pram, meraih tangan Kailla dan menggenggamnya erat.


***


Setengah jam berlalu, Pram masih duduk nyaman bersandar di kursi plastik, tepat di samping brankar. Matanya menatap lekat, sembari jari-jarinya bermain, menggelitik wajah cantik Kailla.


Terusik, tentu saja lelap Kailla terusik. Mata indah itu membuka perlahan, merespon aroma minyak kayu putih menyengat memenuhi rongga indra penciumannya. Kailla yang belum sepenuh menyadari keadaannya, terlihat mengerjap beberapa kali. Menatap langit-langit putih terang benderang.


“Haus ....” lirihnya pelan. Kepalanya berdenyut, rasanya dunia masih berputar. Tadinya menggelap, secercah sinar membuat kepalanya semakin pening.


“Sayang ... kamu sudah bangun?” Pram menarik kursinya mendekat, agar leluasa menatap wajah pucat istrinya. Hampir tiga puluh menit duduk diam, menatap Kaila yang terlelap, akhirnya ibu dari anak-anaknya itu terjaga juga.


“Sayang, aku di mana?” tanya Kailla dengan suara serak, sesaat menyadari kehadiran lelakinya.


“Kamu pingsan di ruang rapat. Sekarang masih di klinik RD Grup.”


Tangan memijat kedua pelipisnya, Kailla masih berusaha mengumpulkan kembali ingatannya sebelum tumbang. Bayangan rapat yang dilaluinya sejak pagi berputar kembali, sampai pada rapat terakhir sebelum tubuhnya berkhianat.


“Sayang ....” Sayup terdengar suara tenang Pram. Begitu dekat, begitu lembut, begitu hangat. Menyodorkan sebotol air mineral sisa tegukan, setengah isinya sudah menghuni lambung laki-laki matang itu.


Deg —


Wanita hamil itu mendadak bangkit duduk. Memaksa tubuh lemahnya tegak. Semuanya kembali jelas, carut-marut perusahaan sekaligus keputusannya menerima tawaran Anita. Semuanya mengumpul sudah.


Panik, membuatnya tanpa sengaja menyenggol sebotol mineral yang isinya tertumpah mengenai pakaiannya sendiri. Disitu Kailla menyadari suaminya sudah duduk di sebelahnya. Ya, Pram datang ke kantor dan duduk di sampingnya.


Takut, gugup dan banyak rasa mengumpul jadi satu, Kailla tertunduk. “Maaf,” lirihnya nyaris tidak terdengar.


“Sudah tidak apa-apa.” Pram terlalu serius mengusap bagian perut Kailla yang basah dengan sapu tangan. Terlalu fokus dengan gaun basah tertumpah air mineral sampai tidak menyadari perubahan wajah Kailla yang sekarang menyimpan ketakutan.


“Sayang ....” Pram mengangkat pandangan, Kailla menatapnya dengan gugup.


“Ada apa? Kalian baik-baik saja?” tanya Pram lagi.


Kailla mengangguk, masih menatap. Rona panik dan takut itu terlihat di jelas.


“Ada apa, Kai? Ada yang sakit?” tanya Pram lagi, mengusap perut Kailla lembut.


“Ti-tidak ... aku ... aku tidak apa-apa.” Kailla khawatir Pram mengetahui apa yang selama ini susah payah disembunyikannya.


“Kai ... kamu baik-baik saja?” Kembali bertanya, Pram merapikan surai yang tergerai menutup wajah Kailla, menyelipkan helai-helai rambut hitam itu di belakang daun telinga Kailla.


“Ya ... aku baik-baik saja.”


“Tidak, kamu tidak baik-baik saja. Katakan terus terang, apa yang kamu rasakan. Ada yang sakit? Bayi kita baik-baik saja?” todong Pram, mendesak Kailla.


“Ya, kami baik-baik saja.” Kailla menghela napas dalam, menghembuskannya.


“Yakin?” Pram bertanya. Yakin ada sesuatu yang dirasakan Kailla, dan tidak ingin diketahui olehnya.


“Katakan di mana sakitnya? Aku janji tidak akan memarahimu. Katakan apa yang terjadi denganmu, di mana sakitnya? Di mana tidak enaknya?” Pram mengusap perut Kailla dengan penuh kelembutan.


“Maaf ....” Kailla turun dari brankar dengan tubuh limbung. Menghambur memeluk Pram dalam posisi duduknya.


“Maaf ... aku menghancurkan semuanya,” lirihnya. Kelopak matanya memanas, cairan mengkristal siap meluncur turun.


“Ada apa, Kai? Ada masalah apa? Kenapa meminta maaf?” Pram bingung.


“Aku ... aku ... menghancurkan kerja kerasmu, Sayang. Aku membuat perusahaanmu bangkrut.” Kailla berkata jujur akhirnya, setelah lama menutupi.


Bukannya marah, Pram tergelak. Menghancurkan ketakukan yang tersimpan di benak Kailla selama ini.


“Sayang ....” Kailla melepas pelukan, menatap rona bahagia Pram. Tidak seperti perkiraannya, dia menduga Pram akan marah besar padanya.


“Kenapa? Apa yang sudah kamu hancurkan?” Pram tersenyum, menarik Kailla duduk di pangkuannya.


“Duduk di sebelah kiri, Sayang.” Pram menepuk paha kirinya.


“Bisnis memang seperti ini. Kalau tidak untung, berarti rugi. Kenapa harus takut dengan kerugian. Masih ada harapan di proyek lain. Takut membuatmu tidak bisa melangkah maju,” jelas Pram, mencubit ujung hidung mancung istrinya.


Kailla terbelalak.


“Kenapa?” Pram terkekeh, melihat ekspresi istrinya.


“Kamu tidak marah?” Kailla memastikan.


Pram menggeleng. “Tidak. Aku yang bertahun-tahun di bidang ini, masih bisa salah perhitungan.”


“Uangnya bukan sedikit, perusahaan sedang mengalami kesulitan keuangan.” Kailla berterus terang.


“Hahaha ... brankas suamimu masih penuh, tabungan suamimu masih banyak angkanya, aset suamimu masih bisa dijual. Apa yang kamu takutkan?”


Kailla merengkuh leher Pram dengan senyum penuh kelegaan.


“Sampai kita tidak memiliki apa-apa, kita masih punya aset di dalam lemari kamarmu. Kalau satu lemari itu dijual semua, bisa membangun satu perusahaan. Apa yang kamu takutkan, Kai.” Pram melanjutkan.


Mata Kailla nyaris melompat keluar. “Aku tidak mau tas-tas itu dijual!” cicit Kailla.


“Jadi, kamu lebih memilih menjualku pada Anita. Begitu, Kai?” todong Pram, tersenyum licik.


***


TBC