
“Sayang..” ucap Pram pelan.
Hatinya teriris melihat Kailla menangis. Tidak biasa istrinya bersikap seperti ini, menangis begitu pilu dengan airmata berurai. Normalnya, Kailla akan membalas dengan menjambak atau menampar, tetapi kali ini berbeda. Apakah hormon kehamilan membuat Kailla berubah banyak dan jadi begitu sensitif?
Pram tentu saja, memilih menenangkan Kailla yang lebih membutuhkan pelukannya, dibanding mengurusi Kinar saat ini. Dia tidak mau Kailla emosi dan bertengkar yang akan mempengaruhi kandungannya. Setelah Kailla tenang, dia akan membuat perhitungan pada wanita j’alang yang sudah lancang menyentuhnya dan menyakiti Kailla.
“Maaf Sayang, aku tidak tahu kalau perempuan itu yang memelukku. Aku tadinya mengira itu kamu,” bisik Pram, di sela pelukannya. Bahkan dia tidak mau menyebut nama Kinar dengan bibirnya.
Tangannya menangkup wajah berair istrinya, dengan ujung ibu jari menyapu cairan bening yang mengalir turun dari kelopak mata.
“Dia kelewatan,” ucap Kailla pelan, menunjuk ke arah Kinar. Tak lama dia mengusap kasar sisa air matanya.
Dan benar saja, kekhawatiran Pram terjadi. Kailla melepaskan diri dari pelukan Pram. Dengan wajah penuh amarah menarik dan menjambak rambut panjang Kinar sehingga wanita itu terseret.
“Aku akan membunuhmu!” teriak Kailla. Dengan kedua tangannya mencekik leher Kinar yang tidak melawan dengan sekuat tenaga. Kinar hanya berusaha melepaskan diri dengan mata melotot dan nafas tersengal.
Melihat Kailla yang seperti ini, Pram berusaha melerai. Benar-benar takut, sampai Kinar melawan dan membuat Kailla dan kandungannya terluka.
“Sayang sudah. Biarkan aku saja yang mengurusnya!” ucap Pram, berusaha melepaskan tangan Kailla pada leher Kinar yang mulai kesulitan bernafas.
“Dia bisa mati, Sayang,” ucap Pram.
“Bagus, aku tinggal melemparnya ke laut di belakang.” sahut Kailla.
Dengan sekali sentak, Pram bisa menarik mundur Kailla. “Masuk ke kamar, Kai. Aku akan membuat perhitungan dengannya,” titah Pram.
Kailla bergeming.
“Ayo kembali ke kamar, Sayang. Jangan membuat anak-anak kita menonton daddynya yang sedang marah dan memukul perempuan,” pinta Pram, masih sempat mengecup bibir Kailla, memutar tubuh istrinya dan mendorong pelan Kailla supaya naik ke kamar mereka.
“Maafkan aku, Mas,” cicit Kinar, masih bisa bersikap biasa.
Dia sengaja tidak melawan Kailla, membiarkan diri terlihat seperti korban. Menyadari kesalahannya, lepas dari kontrol. Entah setan mana yang membuatnya begitu berani memeluk Pram. Namun, sedikitpun dia tidak menyesal, setidaknya dia bisa merasakan punggung hangat lelaki yang dicintainya, mendapat perlakuan manis Pram meskipun sebenarnya bukan untuknya.
“Ikut aku!” tegas Pram, tanpa basa basi menyeret kasar Kinar keluar ke halaman belakang. Begitu pintu terbuka, Pram mendorong Kinar. Dengan sekali hempas saja, perempuan itu jatuh tersungkur ke tanah tanpa perlawanan.
“Kalau bukan perempuan, aku pastikan akan memukulmu sampai tidak berbentuk. J’alang saja masih lebih terhormat. Setidaknya mereka tidak sembarangan memeluk suami orang. Paling tidak mereka tahu, mana yang bisa dipeluk, mana yang tidak!” teriak Pram.
“Menjijikan! Perempuan kotor! Murahan!” umpat Pram. Lelaki itu langsung melepaskan kaos yang tadi sempat dikecup Kinar saat memeluknya. Melempar pakaian itu ke tong sampah.
“Maafkan aku Mas,” ucap Kinar menangis.
“Tempatmu sama seperti kaos mahalku itu. Di TEMPAT SAMPAH!!” tegas Pram, menahan emosi. Tangan terkepal dengan mata memerah lengkap dengan urat-urat menonjol di pelipis.
“Aku ingin memukulmu, tetapi setelah aku pikir-pikir memukul perempuan rendahan sepertimu hanya akan mengotori tanganku yang seharusnya aku gunakan untuk memanjakan istri dan anak-anakku.” ujar Pram lagi.
Lelaki itu bergegas membangunkan para asisten, menggedor kasar pintu kamar tidur mereka. Tidak lama, Ibu Ida dan Ibu Sari sudah berkumpul, berdiri berjajar setengah tertidur dengan wajah mengantuk. Bayu, Sam, Ricko dan Donny terlihat bingung, memandang ke arah Kinar yang menangis di tanah basah.
“Siapapun, Ibu Sari atau Ibu Ida. Tampar perempuan itu! Aku akan membuatnya mengingat malam ini seumur hidup. Aku akan mempermalukannya!” perintah Pram, dengan tatapan berapi-api.
Kedua asisten rumah tangga itu terkejut saling berpandangan. Hilang sudah kantuk yang sejak tadi masih mendera keduanya. Berganti bingung dan ketakutan. Tidak berani membantah majikannya sekaligus tidak berani mengasari Kinar.
“Tidak ada yang mau?” tanya Pram dengan suara keras.
Kinar masih saja menangis dan memohon. Sedikit pun tidak menduga Pram akan berubah semengerikan ini. Sama sekali tidak menyangka sosok Pram yang sabar berganti menjadi sosok kasar dan menakutkan.
“BAY!!! Aku yang menamparnya atau kamu yang melakukan?” Pram memberi penawaran pada asistennya. Sejak tadi dia bisa menangkap raut kasihan dan tidak rela Bayu, melihat Kinar diperlakukan kasar.
“Bos,” panggil Bayu, terlihat memohon.
“Seret dia keluar dari rumahku. Jangan biarkan dia menginjakan kaki di rumahku lagi. Jangan biarkan dia menampakan wajah polosnya di depanku atau istriku,” titah Pram.
“Maaf Mas.” Lagi-lagi Kinar memohon.
“Maaf?” ulang Pram, berjalan mendekat. Berjongkok di depan Kinar yang berurai air mata.
Pram mencengkeram kasar lengan Kinar. Dengan sorot tajam, raut wajah mengerikan.
“Kalau kamu bisa membuat Kaillaku tidak mengingat apa yang dilihatnya tadi, aku akan memaafkanmu,” ujar Pram.
“Maafkan aku Mas. Aku salah,” isak Kinar menangis.
“Tidak, kamu tidak salah. Aku yang salah. Aku memelihara ular betina yang sudah menolong mamaku. Aku pikir ular ini berbeda dengan ular-ular lainnya. Tetapi binatang tetaplah binatang. Pasti memiliki naluri memangsa, meskipun itu tuannya sendiri,” ungkap Pram.
Terlihat Pram menghela nafasnya yang bergetar, menahan bara api yang siap meledak di dadanya. Cengkeramannya pada lengan Kinar semakin kencang. Tidak peduli, dia sudah mempermalukan Kinar di depan beberapa pasang mata.
“Maaf Mas, aku mencintaimu. Aku tahu aku salah, maafkan aku. Aku juga tidak mau mencintaimu,” ucap Kinar pelan, di sela isakannya. Dia yakin hanya Pram bisa mendengarnya.
“CINTA?” teriak Pram emosi. Amarahnya terpancing saat Kinar menggunakan alasan cinta untuk membela diri atas tindakan menjijikannya tadi. Telapak tangannya sudah membuka lebar, melayang dan siap mendarat di wajah sembab Kinar saat terdengar teriakan Ibu Citra yang tiba tiba muncul dari dalam rumah.
“PRAM!!!” panggil Ibu Citra memekik nyaring. Wanita tua itu masih dengan daster tidur, rambut digelung asal. Menatap jejeran asisten yang menonton Kinar dipermalukan. Tidak ada yang berani menghentikan tindakan kasar majikannya. Semua memilih menonton di pinggir.
“Di perempuan. Jangan berbuat kasar,” lanjut Ibu Citra mengingatkan.
Kailla yang mengekor di belakang Ibu Citra, ikut keluar dan terisak. Dengan wajah sayu dan bengkak karena terlalu banyak menangis, menatap Kinar dengan kecewa bercampur amarah.
“Ayo masuk! Kita selesaikan di dalam,” perintah Ibu Citra merasa tidak enak menjadi tontonan semua asisten rumah.
“Kai, urusi suamimu!” titah Ibu Citra. Kailla menurut, menghampiri Pram. Menarik suaminya berdiri, dan memeluk tubuh kekar Pram yang bertelanjang dada.
“Sudah, jangan marah lagi. Aku sudah tidak apa-apa,”ucap Kailla. Dia melihat sendiri bagaimana Pram menghukum Kinar. Mengumpat dan merendahkan perempuan itu. Sejak tadi, dia dan mama mertuanya menyaksikan dari dalam rumah.
Tadinya dia mau kembali ke kamar, tetapi dia juga khawatir pada Pram dan merasa mama mertuanya harus tahu apa yang terjadi pada Kinar dan suaminya. Begitu membangunkan Ibu Citra dan menceritakan semuanya, mama mertuanya itu langsung berlari turun untuk memastikan Pram tidak membunuh Kinar.
Pram mengalah. Namun, baru saja Kinar akan melangkah masuk ke dalam rumah, Pram mencegahnya.
“Ma, katakan pada perempuan itu. Aku tidak mengizinkannya masuk ke dalam rumahku. Kalau mama mau menyelesaikan masalah. Mari kita selesaikan di luar saja. Setelah itu, dia bisa pergi dari rumahku,” usir Pram.
Tatapan Pram tertuju pada barisan asistennya. “Kalian boleh kembali ke kamar masing-masing, kecuali Bayu!” titahnya.
Ketika semua sudah kembali ke kamar, tertinggal mereka berlima. Ibu Citra, Pram yang masih memeluk Kailla, Kinar dan Bayu.
“Kinar bangun,” titah Ibu Citra.
Kinar menurut, tetapi baru saja berdiri sempurna sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Kinar.
“Ma, maafkan aku,” isak Kinar, memegang wajahnya yang memerah.
“Kalau menyayangi mama, tolong jangan seperti ini. Pram putraku dan kamu putriku. Aku tidak mau menyakiti salah satu dari kalian berdua,” ucap Ibu Citra terbata, dua kristal bening mengalir di pipi keriputnya.
Untuk pertama kalinya, Ibu Citra menampar Kinar, gadis yang sudah dianggap putrinya sendiri. Rasanya sakit, memukul putri sendiri. Meskipun Kinar bukan putri kandung, tetapi Kinar sangat berarti untuknya. Bahkan kalau diminta memilih antara Kinar dan Pram, Ibu Citra akan memilih Kinar, terlepas kesalahan Kinar akan perasaannya yang salah ditujukan untuk Pram.
Melihat kondisi Kinar sekarang, kembali air matanya menetes. “Maafkan mama,” isak Ibu Citra.
“Kita pulang. Mama mohon, jangan menganggu Pram lagi,” isak Ibu Citra meminta. Tatapannya sayu, memandang Kinar yang menangis. Gadis yang dulu saat bertemu dengannya hanyalah gadis kecil polos yang merantau ke Jakarta. Meninggalkan kampungnya dan mengadu nasib di ibukota. Kinar yang yatim piatu, bekerja sebagai pembantu di sebuah panti sosial. Itulah awal mula pertemuannya dengan Kinar.
Gadis itu mengurusnya yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa dan dinyatakan sembuh. Entah bagaimana, dia yang juga tidak punya siapa-siapa terdampar di panti sosial. Beberapa tahun disana, Kinar yang mengurusnya, menjaga dan merawatnya.
Bahkan sampai Kinar yang hanya lulusan SMP itu berhenti bekerja dan pindah ke Bali. Ibu Citra yang sudah menganggap Kinar seperti keluarganya, meminta ikut. Dan penderitaan hidup mereka berlanjut sampai ke pulau dewata.
Kinar harus banting tulang, kerja serabutan demi mencukupi kebutuhan hidup mereka dan biaya pengobatannya. Tidak hanya sampai disana, Kinar juga harus merawatnya yang sehari-hari lebih banyak di kursi roda. Mereka tinggal di rumah kontrakan yang kecil, makan seadanya.
Mereka berbagi kesedihan hidup berdua. Terlintas di pikiran Ibu Citra, seandainya sang putra masih hidup, dia ingin sekali putranya menikahi Kinar. Tetapi semuanya hanya andaikan, putranya menghilang sejak berumur satu tahun dan kemungkinan besar sudah meninggal dunia. Itu informasi yang didapatnya.
Sampai suatu hari, mustahil itu menjadi kenyataan. Tiba-tiba Pram datang, mengatakan kalau dia adalah putranya yang hilang. Hasil tes DNA membuat Ibu Citra begitu bahagia. Pram benar-benar putranya. Ide yang sempat melintas di otaknya kembali muncul. Namun apa daya, Pram sudah menikah dengan Kailla, putri dari musuh keluarga mereka.
Tersentak kembali dari lamunannya. “Pram, mama pulang,” pamit Ibu Citra.
Wanita tua itu menatap nanar pada Kailla yang masih di pelukan Pram. “Nanti mama kesini lagi,” bisiknya tersenyum pada Kailla, perlahan mengusap perut menantunya.
“Kinar tidak akan mengganggu kalian. Mama janji,” ucap Ibu Citra, bergegas masuk ke dalam rumah. Merapikan semua barang-barangnya.
Pram mengangguk. “Bay, tolong antarkan mamaku,” titah Pram membawa masuk istrinya. Membiarkan Bayu dan Kinar di luar.
***
“Kamu jangan menyentuhku!” gerutu Kailla, saat keduanya sudah masuk ke dalam rumah. Mendorong pelan tubuh Pram supaya menjauh.
“Disini virus dan kuman sedang bermutasi!” ucap Kailla menunjuk ke punggung telanjang Pram.
***
To be continued
Love You all
Terima kasih.