Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 178 : Pram koma


Dunia Kailla gelap seketika. Pertahanan diri yang sejak tadi dijaganya, hancur di detik pertama setelah laki-laki gempal dengan jas putih itu menyelesaikan kalimat singkat, tetapi sanggup menghantam dirinya sampai tak bersisa.


Tenaganya hilang, terbang entah kemana. Tidak sanggup menopang tubuh, dunia yang tadinya penuh warna perlahan menghilang dari netra indahnya. Kailla jatuh, luruh ke lantai rumah sakit tanpa ada yang sanggup menghentikan.


Sam yang berjarak tak jauh darinya, buru-buru berlari. Merengkuh tubuh ibu hamil itu agar tidak membentur lantai rumah sakit yang dingin dan keras.


“Bay, ini bagaimana?” tanya Sam dengan posisi masih memeluk erat majikannya.


“Tunggu sebentar! Aku panggilkan dokter, sekalian mengurus semua untuk Non Kailla dan Pak Pram.” Bayu sudah berlari diikuti Sam yang menggendong Kailla di dekapannya. Tertinggal Ricko dan Donny, menunggu tanpa tahu harus berbuat apa-apa.


***


Satu jam kemudian. Bayu, Sam dan Donny sudah berkumpul di ruang perawatan Kailla. Minus Ricko yang diminta menunggu di depan ruang ICU.


Ketiganya seperti anak ayam kehilangan induk. Laki-laki yang biasanya memberi perintah pada mereka sedang berbaring tidak sadarkan diri dengan selang-selang medis menempel di seluruh tubuh. Dan istrinya, Kailla masih belum terjaga sejak pingsan di depan ruang ICU.


“Sam, selama Pak Pram koma, kamu yang akan menjaga dan menemani Non Kailla.” Bayu memulai semuanya, setelah merasa perlu ada seseorang yang mengambil sikap setelah tuan mereka tak berdaya.


Sam mengangguk.


Di antara mereka bertiga, memang Bayu yang lebih berhak memberi perintah. Mengingat, Bayu adalah orang terdekat Pram, yang beberapa hari belakangan naik status menjadi adik ipar Pram.


Jeda sebentar, Bayu terlihat berpikir sembari menatap nanar pada ibu hamil yang tergolek tak berdaya di atas brankar.


“Aku akan memboyong istriku dan Ibu Citra tinggal sementara bersama Non Kailla. Setidaknya sampai Pak Pram sadar. Rahasiakan kondisi Pak Pram dari mertuaku. Aku yakin Ibu Citra tidak sanggup menerima hantaman ini, setidaknya belum sekarang. Aku akan bicarakan mengenai ini dengan Non Kailla nanti.” Laki-laki itu melanjutkan.


Kedua rekannya mengangguk.


“Aku yang akan mengurus Pak Pram di rumah sakit dan semua hal yang berhubungan dengan pihak kepolisian, sekaligus menyelidiki penyebab kecelakaan. Aku tidak bisa bertanya terlalu jauh mengenai kejadian yang sebenarnya, Non Kailla masih shock.”


“Ricko akan berjaga di rumah. Bagaimana pun, harus ada satu orang yang bertugas di rumah. Kita tidak tahu kejadian ini murni kecelakaan atau terencana.”


Sam dan Donny mengangguk.


“Perusahaan tetap butuh seseorang. Walau bukan sebagai pengambil keputusan, tetap harus ada seseorang di sana, sampai Non Kailla siap. Kita tidak tahu, kondisi Pak Pram akan seperti apa nantinya. Asisten Pak Pram, Pak David masih di Austria. Posisi wakil direktur pun masih kosong sampai sekarang. Ada wacana untuk mencari seseorang untuk mengisi posisi itu, tetapi sampai sekarang belum sempat terlaksana.” Bayu bercerita.


“Donny ... di antara kita bertiga, Donny yang paling lama dan mengetahui seluk beluk perusahaan. Dia lama mengawal almarhum Bapak Riadi selama ini. Sudah banyak mengenal karyawan. Untuk sementara, Donny yang akan menghandle semua pertanyaan dan mengurusi hal-hal kecil di luar administrasi perusahaan. Setidaknya sampai Non Kailla sudah siap dan bisa menggantikan Pak Pram mengurus semua yang tertunda selama Pak Pram koma.”


“Ya.” Keduanya serempak menjawab. Saat ini tidak ada pilihan lain. Mereka harus bisa mencari jalan keluar sendiri.


“Aku juga akan mencoba membahasnya dengan Stella dan David.” Bayu berkata dengan penuh keyakinan.


***


Kailla membuka matanya setelah lama tertidur dalam kondisi tidak sadarnya. Kelopak mata itu membuka perlahan, sebelum akhirnya bola mata hitam pekat itu terlihat membulat sempurna. Hal pertama yang diingatnya adalah Pram. Dalam tidur pun, suaminya berterbangan di alam mimpi.


“Sayang ....” Kailla berbisik pelan, nyaris tidak terdengar. Lama terdiam menatap langit-langit kamar, Kailla berteriak tiba-tiba saat ingatan yang sempat kocar-kacir itu kembali berkumpul.


“Sayang ....” lirihnya berlinang air mata. Melempar selimut yang menutup tubuhnya. Dengan kasar, mencabut selang infus yang menancap di punggung tangannya. Turun buru-buru dengan tubuh limbung menuju Sam yang duduk menunggu di sofa.


“Sam, antarkan aku bertemu suamiku!” Kailla menarik tangan Sam. Asistennya itu hampir tertidur, terkejut saat melihat Kailla sudah berdiri di depannya.


“Non ... sudah bangun? Sudah sehat?” Sam mencerca banyak pertanyaan.


Sam menggeleng. “Pak Pram belum bisa dikunjungi untuk sementara. Sedang di ruang ICU masih dalam pemantauan dokter.”


Kailla terperanjat. Sebegitu parah kondisi Pram, sampai istrinya pun tidak diizinkan menjenguk. Hancur sudah, tubuh Kailla luruh di lantai rumah sakit. Tersedu meratapi nasibnya.


“Mama? Apa mama sudah tahu?” tanya Kailla lagi, mengedar pandangan ke sekeliling.


“Aku tidak tahu, Non. Masalah itu, Bayu yang mengurus.”


Kailla hanya bisa menghela napas dalam. Terisak sembari mengelus perutnya.


"Aku harus bagaimana, Sam? Aku harus bagaimana? Ditinggal daddy aku masih bisa berdiri kembali karena ada Pram yang selalu menopangku. Sekarang berganti dia yang pergi, berganti dia yang meninggalkanku sendirian. Aku harus bagaimana?” ratapnya, bersimpuh di lantai.


“Sabar Non.” Asisten itu buru-buru berjongkok di depan Kailla, merengkuh tubuh ibu hamil itu agar berdiri lagi.


“Istirahat saja dulu. Nanti saat Pak Pram sudah diizinkan dijenguk, Non bisa ke sana.”


“Saat ini istirahat saja dulu. Jaga kandunganmu, Non. Pak Pram akan marah besar dan kecewa kalau sampai terjadi sesuatu pada anak - anaknya.” Sam berusaha menenangkan.


Sam sudah membantu Kailla merebahkan tubuhnya di atas brankar kembali.


"Non, jaga diri baik-baik, jaga adek bayinya. Jangan sampai sakit. Non tahu, kalau sampai terjadi sesuatu pada bayi-bayimu, macan tua itu bisa bangkit dari komanya, bakal mengamuk dan siap menerkam siapa saja,” jelas Sam, berusaha bercanda untuk menetralkan suasana sedih yang menyerang majikannya tiba-tiba.


“Aku ... belum mau mati di tangan Pak Pram, Non. Aku belum menikah,” ucap Sam, berusaha bersikap biasa.


***


Setelah beberapa hari hanya bisa menunggu di depan ruang ICU, akhirnya pada hari ketiga Kailla diizinkan masuk ke dalam menemui Pram.


Ruangan yang sepanjang empat tahun ini sangat familiar dengannya. Setelah kepergiaan daddynya, Kailla tidak menyangka sama sekali akan masuk ke dalamnya lagi. Begitu cepat, hanya berselang beberapa minggu, kembali dia harus mendengar alat medis yang membuatnya trauma sendiri.


Suasana mencekam dengan bunyi denyut alat medis yang mengerikan. Ragu-ragu masuk ke dalam, Kailla sudah disambut dengan tubuh kaku suaminya dengan selang menempel di hidung, mulut, tangan dan dada.


Baru tiga hari tidak bertemu, rasanya Pram jauh berubah. Kepala suaminya terbungkus perban putih, bulu-bulu halus mulai terlihat keluar di dagunya dengan tulang pipi sedikit menonjol dari sebelumnya.


“Kamu sedikit kurusan, Sayang,” bisik Kailla saat kakinya membeku di samping tempat tidur Pram. Matanya mengkristal kembali. Susah payah menahannya supaya tidak menangis di depan sang suami.


“Kamu mendengarku, Sayang?” bisik Kailla membungkuk. Berucap pelan di telinga Pram dengan tangan menggengam erat jemari kaku yang tidak bertenaga.


“Bayi-bayimu sehat ... mereka baik dan tidak sabar menunggumu bangun.” Suara wanita hamil dengan gaun motif floral selutut itu terdengar bergetar.


Berbalik ke belakang, menghapus air mata yang sempat menetes perlahan.


“Sayang, cepat bangun. Anak-anak rindu usapan tanganmu lagi,” ucap Kailla, meraih tangan Pram dan membawanya menyentuh perut besarnya, setelah berhasil menguasai diri. Berusaha setegar mungkin dan tidak menangis.


“Sayang, aku ... baik-baik saja. Kamu lihat ... aku ... tidak menangis.” Kailla berucap dengan suara bergetar. Menahan sesak di dadanya, harus kuat seorang diri. Tidak ada lagi tempatnya berbagi sekarang. Pram meninggalkannya dengan tega.


Dia harus kuat menanggung semuanya sendiri. Bahkan, sampai hari ini mama mertuanya tidak tahu apa-apa. Wanita lansia itu hanya tahu kalau Pram sedang bertugas ke luar negri, sehingga diminta untuk menemani Kailla di rumah.


***


TBC