Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 133 : Tas hitam atau tas pink


Suasana siang di halaman belakang kediaman Reynaldi Pratama lumayan panas. Pepohonan dan tanaman menghijau tidak cukup memberi oksigen, kalah dengan terik matahari yang menyegat.


Kailla sedang menemani mertuanya di gazebo belakang rumah menikmati semilir angin pantai yang bertiup sambil menyantap rujak mangga buatan Ibu Sari. Ibu Citra yang masih saja berdecak kagum memandang setiap sudut rumah mewah putranya semakin dibuat terpengarah melihat dermaga kecil yang dihuni yacht dan jetski yang berjejer rapi, terombang ambing terkena ombak pantai.


“Itu semua milik Pram?” tanya Ibu Citra, menunjuk ke alat transportasi yang mengapung di air.


Tidak semua, punya kita cuma dua. Yang lain milik tetangga rumah, Ma,” sahut Kailla, memasukan potongan mangga muda yang asam kecut ke dalam mulutnya dengan santai.


Ibu Citra mengangguk, mulai merasa betah tinggal di kediaman putranya. Selain nyaman, dia bisa berbincang dan melakukan banyak hal dengan Kailla. Dan yang terpenting, dia bisa dekat dengan anak dan cucunya.


“Itu tidak asam, Kai?” tanya Ibu Citra mengernyit, menelan ludah.


“Tidak, ini enak,” sahut Kailla. Tanpa berhenti, memasukan potongan mangga muda ke dalam mulutnya.


“Kai, suamimu mana?” tanya Ibu Citra. Sejak kembali dari memetik mangga, dia tidak melihat putranya sama sekali. Pram seperti hilang di telan bumi.


“Kalau Pram tidak ke kantor, artinya dia sedang bekerja di ruang kerjanya, Ma,” sahut Kailla. Sudah hafal dengan kebiasan Pram yang gila kerja.


“Selalu seperti itu?” tanya Ibu Citra.


Kembali Kailla mengangguk. “Sejak dulu, Ma,” sahut Kailla.


“Dan kamu tidak protes, Kai?” tanya Ibu Citra, heran.


“Suamiku kerja, kenapa aku harus protes. Kecuali dia pergi ke rumah istri mudanya atau tidak pulang ke rumah, baru aku mengamuk. Bisa kupotong peliharaannya ,” sahut Kailla, masih saja sibuk menikmati mangga muda.


Ibu Citra menggelengkan kepala. Tidak habis pikir, bagaimana Pram melewatkan hari-harinya. Dia tahu Pram pekerja keras, tetapi dia tidak tahu kalau waktu Pram habis untuk kerja.


“Kai, panggil Pram kemari. Mama harus bicara dengannya,” ucap Ibu Citra lagi.


Kailla menurut, bergegas masuk ke dalam rumah.


***


Pram sedang mengecek email-email yang dikirim David di ruang kerja. Dia terpaksa bekerja dari rumah setelah sebelumnya Ibu Citra mengomel karena Pram terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga mengabaikan istri dan calon anak-anaknya.


Semua berawal dari keinginan Kailla yang selalu ditunda Pram, membuat perempuan tua itu meradang. Dan akhirnya Pram memutuskan seharian ini bekerja dari rumah.


Dua kali ketukan di pintu, membuat Pram mengalihkan perhatian dari layar laptopnya. Lelaki dengan setelan santai itu, mengerutkan dahinya menebak siapa gerangan yang berani menganggu kerjanya.


“Sayang..,” suara Kailla lembut mengalun dari balik pintu.


Bagai mendapat undian berhadiah, Pram ingin bersorak-sorai saat mendengar suara manja mendayu istrinya setelah sekian lama Kailla memilih mendiamkannya.


“Masuk!” pinta Pram, berpura-pura serius.


Bunyi pintu terbuka diiringi derap langkah perlahan. Tidak lama, sudut mata Pram menangkap bayangan feminim yang berdiri kaku di depan meja kerjanya. Ternyata hubungan mereka yang tadi sempat membaik belum sepenuhnya mencair. Terbukti dari sikap Kailla yang masih menjaga jarak dengannya.


Sebelumnya, setiap masuk ke ruang kerja, Kailla akan langsung menghampiri dan duduk di pangkuannya tanpa permisi. Hal kecil yang sekarang menjadi sesuatu yang sangat dirindukannya.


“Ada apa, Kai?” tanya Pram, memfokuskan diri pada layar persegi di depan matanya.


“Mama mencarimu,” sahut Kailla, pelan.


“Katakan pada mama, aku masih ada pekerjaan,” sahut Pram, mencoba memancing.


Kailla merengut, tidak mau pergi selangkah pun. Sebaliknya, dia berjalan mendekat. Dari depan meja kerja, sekarang dia sudah beralih ke sisi meja, berusaha membujuk Pram.


“Ayolah, aku tidak mau mama mengomel lagi karena tidak bisa membawamu keluar dari ruangan ini,” bujuk Kailla.


Pram tersenyum, menutup laptop dan menyingkirkannya ke sisi meja. Dengan cepat meraih tangan Kailla dan menuntunnya duduk di pangkuan.


“Sudah lama kamu tidak duduk disini, kamu tidak merindukan tempatmu?” tanya Pram, kedua tangannya membelit pinggang Kailla dan mengunci di perut yang sudah terlihat keluar saat istrinya duduk dengan posisi seperti ini.


“Ayo Sayang, cepat temui mama. Aku tidak mau mama mengomel lagi seperti tadi,” ucap Kailla, teringat dengan omelan Ibu Citra saat Pram hendak berangkat kembali ke kantor.


“Kamu takut sekali kalau mama mengomel, tetapi aku lebih takut kalau kamu yang mengomel,” celetuk Pram, dengan santainya menjatuhkan dagunya di pundak Kailla.


“Ayolah, jangan seperti ini. Nanti mama masuk bagaimana?” keluh Kailla.


“Tinggal diusir keluar,” sahut Pram, terkekeh.


“Kalau bukan karena mama, aku yakin kamu tidak akan menemuiku kan?” tanya Pram memastikan. Memandang wajah Kailla dari samping, istrinya masih belum bisa bersikap biasa. Masih menjaga jarak dan belum mau bermanja-manja dengannya.


“Ayolah Kai, jangan marah lagi ya,” rayu Pram.


Kailla masih belum menjawab.


“Aku melihat brand kesayanganmu meluncurkan tas seri terbaru. Kamu mau?” tawar Pram, meraih ponsel yang tergeletak di atas meja, menggeser-geser dengan tangan kanannya dan menunjukan foto tas yang terpampang di layar ponselnya.


“Mau aku belikan yang ini? Ada warna pink kesukaanmu,” tanya Pram, mengulang.


Kailla menatap tas itu tanpa berkedip. Kalau menuruti kata hatinya dia sudah ingin mengangguk, namun egonya masih tinggi. Belum mau semudah itu mengalah pada suaminya.


“Baiklah, aku minta Stella memesannya untukmu. Kamu mau yang mana? Yang hitam atau yang pink?” tanya Pram, tidak patah semangat.


Pram sudah menghubungi Stella melalui panggilan video, meletakannya ponselnya di atas meja supaya dia dan Kailla bisa berbicara dengan sang sekretaris.


“Ste, tolong pesankan tas untuk istriku. Sudah aku kirimkan fotonya tadi. Tolong dicek!” perintah Pram saat sambungan videonya tersambung dengan sekretarisnya.


“Baik Pak,” sahut Stella, tersenyum melihat atasannya sedang duduk memangku istrinya seperti biasa.


“Pesankan untuk Kailla warna hitam ya, Ste,” lanjut Pram lagi, yang langsung dipotong oleh Kailla.


“Aku mau yang pink, Ste,” ucap Kailla pelan, menatap Pram yang sedang tersenyum padanya.


“Pesankan warna pink. Secepatnya kirim ke rumahku, Ste,” tegas Pram, mematikan panggilan video sepihak.


Lelaki itu kembali mendekap istrinya, masih berjuang melunakan hati istrinya yang membeku. Sebulan lebih mereka tidak bersama, dia benar-benar merindukan kemanjaan Kailla.


“Kamu suka, Kai?” tanya Pram, lembut.


Kailla mengangguk.


“Aku menunggu ucapan terimakasihmu,” lanjut Pram lagi.


“Terimakasih,” ucap Kailla, sontak membuat Pram terkekeh.


“Kamu sudah lama tidak menciumku,” bisik Pram, menghembuskan nafas kasar di telinga Kailla.


“Cium aku sekarang dan aku akan menuruti semua keinginanmu,” ucap Pram, tersenyum usil.


“Benarkah? Baiklah kalau begitu temui mama sekarang,” ujar Kailla, berbalik dan mengecup bibir suaminya sekilas. Ciuman ringan dan sekejap, bahkan Pram belum sempat merasakannya.


“Ah... kenapa secepat ini. Apa bisa diulang, Kai?” pinta Pram tersenyum.


“Tidak. Aku sudah menurutimu. Ayo sekarang temui mama,” pinta Kailla memohon.


Lelaki itu terlihat berpikir. “Tunggu sebentar. Malam ini, apa aku sudah diizinkan tidur di kamar berdua denganmu?” tanya Pram tiba-tiba, memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil kembali tempatnya.


Sejak pulang dari rumah sakit, Kailla menolak sekamar dengannya. Pram baru bisa memeluk Kailla saat istrinya itu terlelap.


Dengan mata mendelik, Kailla berkata. “Bukankah selama ini, kamu juga sering menyelinap masuk ke kamar diam-diam saat aku tertidur!” todong Kailla, kesal.


“Jadi kamu tahu? Dan kamu pura-pura tidur supaya bisa merasakan pelukanku kan?” todong Pram, merasa di atas angin. Genderang kemenangan sedang bertalu-talu di dalam hatinya.


“Tidak. Ayo, cepatlah. Temui mama sekarang!” omel Kailla mulai kesal. Berdiri dan menarik tangan Pram keluar dari ruang kerja.


“Kai, tunggu. Jadi nanti malam kita sudah tidak perlu pisah ranjang kan?” tanya Pram lagi, memastikan. Dia sudah tidak betah seperti ini. Bagaimana pun caranya, dia harus meluluhkan Kailla hari ini.


“Tidak! Kamu tetap tidur di luar!” tegas Kailla, dengan mata melotot.


***


Ibu Citra yang menunggu di gazebo belakang rumah terlihat kesal. Berulang kali melihat ke arah rumah, menunggu kemunculan Pram dan Kailla. Kekesalan itu baru menghilang saat melihat Pram keluar dengan mengandeng tangan istrinya.


“Ada apa Ma? Kenapa mencariku?” tanya Pram, menjatuhkan tubuhnya di kursi.


“Ada yang ingin mama bicarakan,” ucap Ibu Citra.


“Pentingkah?” tanya Pram, beralih menatap Kailla.


“Ibu Citra mengangguk. “Memang ada apa, Ma?” tanya Pram heran.


“Tidak bisakah mengurangi pekerjaanmu dan lebih fokus dengan kehamilan Kailla,” ucap Ibu Citra, menatap anak dan menantunya yang duduk bersisian di hadapannya.


“Aku tidak keberatan Ma. Sejak dulu aku sudah terbiasa. Bahkan daddy lebih bekerja keras, sampai tidak punya waktu. Setidaknya Pram masih kembali dan pulang setiap malam,” ucap Kailla, beralasan.


Kailla cukup mengerti dengan pekerjaan suaminya. Lagipula dia tidak pernah kemana-mana. Kalau pun harus pergi, masih ada asisten yang mendampinginya. Apalagi perhatian Pram tidak berkurang sedikit pun selama ini. Di saat dia membutuhkan suaminya, Pram akan meluncur secepat kilat menghampirinya.


“Oh, aku kira apa. Aku akan usahakan. Kebetulan sekarang David akan ke Austria, jadi pekerjaanku menumpuk,” jelas Pram.


“Kasihan istrimu, Pram,” ucap Ibu Citra, mengingat bagaimana perasaannya dulu sering ditinggalkan suaminya bekerja. Dan tidak lama, almarhum suaminya itu pergi untuk selama-selamanya. Ada sesal dihati Ibu Citra, karena selama menikah, mereka tidak menghabiskan banyak waktu bersama.


“Aku akan berusaha,” ucap Pram, tersenyum menatap Kailla.


“Ma, belakangan ini aku sibuk di kantor, bisakah mama tinggal disini untuk sementara? Menemani Kailla selama aku di kantor,” tanya Pram tersenyum licik.


Pram berharap dengan kehadiran Ibu Citra bisa membuat Kailla semakin melunak padanya. Walau bagaimanapun, Kailla tidak mungkin menolaknya di depan sang mama. Paling tidak, mereka akan tidur bersama selama mamanya tinggal di rumah.


***


To be continued


Love You all


Terimakasih.