
“Nanti saja, aku makan bersama mama,” jelas Kailla, mendekati wajahnya di samping Pram, kemudian membisikan sesuatu di telinga Pram.
Pram menatap tak percaya mencerna kalimat yang baru saja disampaikan Kailla padanya. “Serius?” tanya Pram, menatap istrinya tidak percaya.
Kailla mengangguk dan tersenyum.
“Congratulation Sayang. Berarti sekarang sudah percaya padaku?” tanya Pram, melepaskan sendok dan garpu dari tangannya. Lelaki itu sudah memposisikan diri menghadap Kailla. Istrinya sedang menopang kepalanya dengan tangan kanan bertumpu di meja makan.
Kailla mengangguk. “Maafkan aku sebulan ini sudah berpikiran macam-macam tentangmu. Sudah meragukanmu,” ucap Kailla.
Keduanya saling menatap dengan wajah memancarkan kebahagiaan yang sama. Berbicara lewat tatapan mata, saling menyalurkan cinta lewat pandangan. Pram mendekatkan wajahnya ke arah Kailla, cukup hanya dengan pergerakan sederhana saja, sang istri sudah paham maksudnya,
Cup! Kecupan bibir secepat kilat itu terjadi begitu saja. Ringan, manis dan hangat. Merayakan kebahagiaan keduanya.
“Aku mencintaimu,” bisik Pram, merengkuh tengkuk Kailla dan menempelkan dahinya pada dahi sang istri.
Kelakuan manis keduanya terhenti saat Kinar tanpa sengaja menyenggol piring keramik sehingga menimbulkan suara berisik.
“Ma-maaf.” Ucap Kinar, tanpa sengaja melihat sepasang suami istri yang sedang dimabuk cinta itu berbisik manja, melempar senyuman yang diakhiri menempel bibir.
Pram kembali melanjutkan makan siangnya, dengan Kailla tanpa permisi merogoh saku celana suaminya. Mencuri ponsel Pram. Keduanya mengabaikan Kinar yang tidak berani mendekat, hanya memandang dari kejauhan.
“Ponselmu dimana, Kai?” tanya Pram. Melirik sekilas ke arah Kailla. Istrinya sibuk mengecek halaman instagram.
“Ponselku dijual untuk keperluan hidup selama sebulan,” sahut Kailla, pandangannya tidak beralih sama sekali. Sibuk mengecek instagramnya, yang sudah sebulan ini tidak dibuka sama sekali.
“Mau kutemani membeli ponsel yang baru atau meminta Stella membelikannya untukmu?” tawar Pram, masih sibuk menghabiskan makan siangnya.
“Aku akan membelinya sendiri, boleh?” tanya Kailla, tangannya sedang sibuk menggeser-geser layar, melihat ponsel keluaran terbaru di google.
Pram mengangguk. “Yang terpenting kamu harus hati-hati. Ada bayi-bayiku bersamamu,”
“Kai, kamu serius tidak mau makan? Anak-anakku tidak lapar?” tanya Pram, kali ini lelaki itu memilih menyuapi istrinya.
“Aku masih kenyang,” sahut Kailla. Meskipun begitu, ibu hamil itu tetap membuka mulut, menerima suapan dari suaminya.
“Sudah, aku suapi saja. Aku tidak yakin denganmu. Aku tidak tenang kalau tidak memastikan kamu sudah makan dengan benar,” ucap Pram, menambah nasi putih dan lauk dari atas meja.
“Aku bisa sendiri, Sayang,” tolak Kailla, dengan mulut penuh makanan.
“Tidak, aku saja yang menyuapimu. Setelah kamu selesai makan, aku baru ke kantor.”
Netra lelaki itu tersenyum melihat jemari lincah Kailla yang mulai sibuk dengan game di ponselnya.
“Mulai sekarang, kamu harus makan yang banyak. Berat badanmu turun, Sayang.” Pram kembali menyodorkan sesendok penuh nasi dan lauk ke mulut Kailla.
“Iya ....”
“Nanti sore, kita pulang ke rumah, kan? Aku sudah meminta Bara merenovasi kamar bayi kita,” jelas Pram.
“Hmmm,” gumam Kailla. Terlalu sibuk dengan game di ponselnya.
Pram langsung berpamitan dengan Ibu Citra begitu selesai menyuapi istrinya. Sebenarnya tidak tega, melihat Kailla yang sedang menikmati permainan di ponsel pintarnya. Dia tahu, Kailla sudah hampir sebulan tidak bisa menikmati kecanggihan benda persegi itu.
“Ma, aku harus ke kantor sebentar. Aku titip Kailla. Tolong jaga Kailla untukku,” pamit Pram, masih menatap Kailla yang berdiri, bersandar di pilar rumah sedang berkonsentrasi. Jemari lentiknya dengan lincah bergeser kesana kemari dan ekpresinya begitu menggemaskan. Dengan wajah kaku, sesekali mendengus kesal dengan bibir mengerucut.
“Ah ... aku kalah lagi!” pekiknya kesal. Mengulang permainan dari awal lagi. Lupa dengan suami yang sebentar lagi akan berangkat ke kantor.
Lima menit Pram berdiri mematung, menunggu Kailla. Sampai akhirnya, dia pun maju dan mendekati istrinya sambil tersenyum.
“Sayang aku berangkat sekarang.” Mengecup pipi Kailla sembari mengambil alih ponselnya dari tangan sang istri.
“Yaaaaaaaa, hampir menang itu, Sayang!” protes Kailla dengan wajah sedihnya.
“Minta Bayu menemanimu membeli ponsel baru. Aku harus ke kantor sekarang, aku jalan,” pamit Pram lagi, mengusap pelan perut Kailla, sebelum berjalan menuju ke mobil di mana Ricko sudah menunggunya.
***
Keesokan harinya.
Pram dan Kailla sudah kembali ke rumah mereka kemarin malam. Kedatangan Kailla sudah disambut kedua asisten rumah, Ibu Sari dan Ibu Ida. Keduanya langsung memeluk Kailla seperti seorang Ibu yang kehilangan putrinya.
Kailla baru saja menyiapkan sarapan pagi untuk Pram. Setelahnya, bergegas ke kamar untuk membangunkan suaminya itu. Baru saja pintu kamar itu terbuka, Kailla sudah disuguhkan pemandangan yang begitu menggiurkan.
Lelakinya sudah berdiri di depan meja rias, hanya mengenakan celana panjang berbahan kain, berwarna hitam. Memamerkan dada bidang dan perut roti sobeknya. Kemeja putih dan dasi masih terbentang di atas tempat tidur.
“Sayang, kamu sudah bangun?” tanya Kailla, berjalan menghampiri.
“Hmmm, kamu sudah membuatkan sarapan untukku?” tanya Pram, merengkuh tubuh Kailla dan mendekapnya erat.
“Sudah.” Kailla menjawab dengan nada manjanya.
“Bantu aku berpakaian. Selama sebulan ini aku mengenakannya sendiri. Aku rindu sentuhan tanganmu,” ucap Pram, mengedipkan matanya.
Tanpa protes, Kailla sudah meraih kemeja dan membantu Pram mengenakannya sambil mengulum senyuman.
“Kai, kamu tidak merindukan aroma tubuhku selama sebulan ini?” tanya Pram berbisik. Pandangan penuh cinta dilabuhkannya pada Kailla, yang sekarang sibuk mengancingkan satu persatu kancing kemejanya.
“Aku merindukanmu, sampai hampir gila. Setiap saat terbayang-bayang wajahmu. Setiap aku duduk di teras belakang aku melihatmu sedang membersikan rumput, tetapi begitu mengedipkan mata ternyata Bapaknya Sam,” ujar Kailla, sambil terbahak.
“Kamu mengerjaiku, hah?” tanya Pram. Kedua tangannya sudah mengunci pinggang Kailla. Menghadiahkan kecupan demi kecupan di wajah, membuat istrinya berteriak protes saat bulu-bulu halus di dagunya mengesek kulit mulus bak pualam.
“Kamu selalu menggemaskan Kai. Kalau aku sedang tidak ada jadwal meeting sebentar lagi, aku pastikan kamu habis di tanganku pagi ini,” ucap Pram, menggoda.
“Pagi-pagi pikiranmu sudah kemana-mana.” omel Kailla. Tangannya sudah membuka pengait kancing celana Pram, menurunkan resleting celana panjang suaminya.
“Sayang, aku ada janji dengan mama siang ini,” jelas Kailla. Menurunkan celana panjang Pram dan memasukan kemeja ke dalam celana. Sedangkan suaminya itu hanya pasrah dan menurut.
Setelah memastikan semuanya rapi sempurna, barulah Kailla mengaitkan kembali celana panjang itu dan memasangakan ikat pinggang.
“Selesai! Tinggal dasinya saja,” ucap Kailla masih merapikan bagian pinggang suaminya.
“Jam berapa kamu akan mengunjungi daddy?” tanya Pram. Dengan sekali sentak, tangan kekar Pram berhasil menaikan tubuh istrinya duduk diatas meja rias, berbagi tempat dengan alat-alat kosmetik Kailla.
“Mungkin setelah makan siang,” sahut Kailla. Jemarinya sedang memainkan dasi biru motif milik suaminya.
“Aku perlu menemanimu?” tanya Pram, membungkukan tubuhnya, membiarkan Kailla memasangkan dasi di lehernya.
“Kamu sibuk hari ini? Kalau sibuk, biarkan aku dan mama saja,” sahut Kailla. Tangannya sudah membuat simpulan dengan terampil, tak lama dasi itu pun sudah terpasang sempurna di tempatnya.
“Kalau kamu menginginkanku ikut, aku akan meminta Stella mengatur ulang jadwalku.”
“Tidak perlu, aku bisa berdua dengan mama,” sahut Kailla. Kedua kakinya bergoyang-goyang, duduk dengan nyaman di atas meja rias.
“Yakin?” tanya Pram, lelaki itu semakin membungkuk ke arah Kailla, dengan kedua tangan mengunci disisi kiri dan kanan tubuh istrinya.
Kailla mengangguk.
“Baiklah. Ayo kita turun sarapan,” ajak Pram, menempelkan bibirnya pada bibir tipis istrinya, dan melumatnya’ sebentar.
Keduanya sudah turun ke lantai bawah dengan Kailla yang bersandar manja di lengan suaminya. Mata Pram membulat melihat sarapan pagi yang disiapkan Kailla. Tidak ada telur ceplok dengan lelehan kecap malika atau sereal seperti biasanya. Namun pagi ini Kailla menyiapkan menu baru untuknya. Meskipun sederhana, tetapi ini kemajuan untuk istrinya.
“Sayur bening dan telur dadar?” ucap Pram tersenyum bangga pada Kailla.
Kailla mengangguk.
“Aku akan membayar sarapan pagi ini dengan hermes keluaran terbaru. Stella akan mengirimkannya untukmu nanti siang.”
“Benarkah?” tanya Kailla, sudah meloncat kegirangan.
“Iya, tetapi jangan katakan pada mama, nanti mama ikut-ikutan lagi,” jelas Pram terbahak
“Kamu tahu, tas mama sebentar lagi hampir menyamai koleksimu. Untung masih ada nilainya kalau dijual, kalau tidak hanya akan buang-buang uang saja,” lanjut Pram.
“Terimakasih, Sayang.” Kailla mengecup pipi suaminya dengan kencang.
“Aku yang terimakasih. Uang itu bisa dicari, tetapi niatmu untuk belajar itu tidak ternilai, tidak sebanding dengan hermes sekalipun,” ucap Pram tersenyum.
***
TBC