
Menunggu adalah hal yang paling melelahkan. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, Kailla hanya bisa menunggu dalam diam. Menikmati rasa sakit di perutnya yang timbul tenggelam.
Keputusan operasi dirasa paling tepat saat ini. Pram melihat sendiri kondisi Kailla yang mulai melemah diserang sakit perut bertubi-tubi. Istrinya sudah tidak memiliki tenaga lagi kalau dipaksa mengeluarkan dua bayi di dalam perut. Apalagi dari pemeriksaan terakhir, terhenti di pembukaan empat, belum ada penambahan lagi. Sejak dua jam yang lalu, tidak ada perkembangan. Masih setia di pembukaan empat.
Kailla sempat bergidik saat mendengar cerita perawat, di kasus lain biasanya diinfus untuk merangsang pembukaan supaya cepat mencapai maksimal. Tentu saja ia menolak, teringat bagaimana Bella bercerita sakitnya saat proses itu terjadi.
Dengan terus menggenggam erat tangan suaminya, Kailla terlihat meringis, mengernyit. Menahan gejolak melilit yang menari di perut bagian bawah.
“Sayang, apa masih lama?” tanya Kailla. Suaranya melemah, seiring energinya terkuras menahan rasa sakit. Menatap Pram yang tengah berbicara di ponsel dengan mama mertuanya.
“Sebentar lagi.” Pram menjawab setelah mematikan sambungan telepon. Terdengar sedikit lega, saat jam di dinding menunjukan kalau empat puluh menit lagi menuju pukul delapan malam.
Perlahan mengusap kening Kailla dengan penuh cinta, Pram tersenyum menatap istri yang begitu tenang menghadapi sakit perutnya. Berbanding terbalik saat berhadapan dengan jarum suntik, Kailla menggila.
“Kai, apa perutnya sakit sekali?” tanya Pram, melihat Kailla diam, tergolek tak berdaya di atas tempat tidur.
“Hmmmm, tetapi ini jauh lebih baik dibanding harus disuntik.” Kailla meringis, sembari mengeratkan genggaman tangan pada jemari Pram.
“Maafkan aku, Kai. Hamil sekali lagi, kamu boleh melahirkan dengan normal, tetapi tidak untuk bayi kembar ini.”
Kailla menggeleng. “Aku tidak mau lagi. Aku tidak mau disuntik,” tolak Kailla.
Obrolan keduanya terhenti saat seorang perawat masuk dan membawa berkas-berkas yang harus diisi Pram, kelengkapan datanya dan Kailla.
“Tolong diisi, Pak.” Perawat menyerahkannya pada Pram.
“Oke ....” Pram menerima dengan tangan kanannya yang bebas. Sejak tadi, tangan kirinya menjadi milik Kailla, istrinya bahkan tidak mau melepaskan sama sekali.
“Sayang, tolong lepas sebentar, aku harus mengisinya.” Pram terlihat membungkuk untuk mengisi data-datanya di atas nakas. Beberapa menit kemudian, pria matang itu tampak berpikir. Terdiam menggigit pelan ujung pena, beralih menatap Kailla.
“Kai, berapa umurku Sayang?” Pram mengerutkan dahi. Di saat darurat, pikirannya ambyar. Tidak bisa diajak kompromi. Ingat tahun lahir, tetapi dia tidak bisa menghitung cepat karena panik yang menguncangnya selama beberapa jam terakhir.
“44 sebentar lagi 45 tahun.” Kailla menjawab. Untuk pertama kalinya sejak menginjak rumah sakit, Kailla terbahak sambil menahan perutnya yang melilit kembali.
“Kamu menertawaiku, Kai.” Pram berpura-pura kesal.
Tak butuh waktu lama, data yang sudah diisi, dikembalikan pada perawat. Beriringan dengan itu, pintu kamar terbuka. Muncul beberapa perawat, yang akan mempersiapkan Kailla menuju ke ruang operasi.
“Sudah siap, Bu?” tanya salah satu gadis perawat, tersenyum memandang Kailla.
“Bukannya masih setengah jam lagi,” cicit Kailla pelan.
“Ya, kita akan menunggu di ruang transfer,” jelasnya, mendekati Kailla dan bersiap mendorong keluar Kailla berikut brankarnya.
Jantung Kailla berdetak tak karuan. Yang bisa dilakukannya adalah berdoa di dalam hati.
“Sayang, temani aku,” pinta Kailla, segera meraih tangan suaminya. Tidak mengizinkan Pram menjauh darinya. Telapak tangannya dingin seketika, menyembunyikan ketakutan yang tercetak jelas di sorot mata hitam pekat.
***
Memandang langit-langit sepanjang jalan menuju ke ruangan yang dimaksud, jantung Kailla semakin bergemuruh. Apalagi saat tiba di ruangan yang letaknya bersebelahan dengan kamar operasi. Banyak orang-orang berpakaian hijau dengan penutup kepala. Panik dan gugup menyerang Kailla tiba-tiba.
“Sayang, kamu jangan pergi jauh. Aku tidak mau ditinggal sendirian,” pintanya pada Pram.
“Ya, Sayang. Aku akan menemanimu di dalam,” ucap Pram menggengam tangan Kailla.
“Semua akan baik-baik saja, Sayang.” Pram menarik kursi, duduk di sisi brankar. Mengusap pelan anak rambut Kailla yang keluar dari penutup kepala berwarna senada dengan pakaiannya.
“Aku takut, Sayang,” bisik Kailla. Ingin kabur, tetapi tidak mungkin.
“Hmm,” gumam Pram, tersenyum menenangkan.
Di tengah kegugupannya, muncul dokter kandungannya. Wanita itu menyapa dengan hangat.
“Semangat ya, Bu,” ucapnya tersenyum. Berhenti sejenak sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan lain.
Kailla hanya sanggup mengangguk di tengah kepanikan.
“Selamat malam Bu.” Terdengar suara maskulin. Tiba-tiba memecah keheningan. Pria yang ketampanan setara dengan aktor Korea idolanya, tengah berdiri di ujung kaki. Begitu gagah dan rupawan, dengan seragam hijau sama persis dengan yang dikenakan dokter kandungannya.
“Ya Tuhan, apa aku tidak salah lihat. Kenapa kamu kirimkan pria tampan ini di saat kondisiku sehancur ini. Bagaimana Lee Min Hoo oppa bisa ada di sini,” gumam Kailla dengan wajah berbinar.
Ibu hamil itu melupakan semua kesakitannya saat mata disuguhkan pemandangan indah luar biasa.
“Perkenalkan saya Dokter Caessar, dokter anak yang akan menangani bayi ibu nanti di dalam.”
Bibir Kailla mengulas senyum di tengah kesakitannya. Lupa sudah dengan semua ngilu dan paniknya. Menatap dokter anak yang ketampanannya di atas standar dokter pada umumnya itu tanpa berkedip.
Pram yang sudah hafal dengan gelagat Kailla, hanya bisa mengulum senyuman. Berdiri dan membungkuk, membisikan sesuatu setelah dokter anak itu beranjak pergi.
“Di saat seperti ini, matamu masih sempat jelalatan. Bahkan berani tebar pesona pada pria lain di depan suamimu sendiri. Di saat kamu akan melahirkan anak-anakku, Kai,” bisik Pram, di depan telinga Kailla. Mengulum senyuman sembari mengancam.
“Sayang ....” Kailla tersenyum kecut, saat ketahuan Pram mengagumi sang dokter anak.
“Setelah anak-anak kita lahir, jangan harap bisa pergi dariku lagi, Kai. Aku pastikan tidak akan melepasmu seumur hidup,” ancam Pram, dengan wajah seriusnya.
***
Pram tampak menyusul Kailla yang sudah lebih dulu masuk ke dalam ruang operasi, setelah mengenakan kostum hijau sama seperti petugas medis lainnya.
Pria itu menyimpan paniknya saat melihat Kailla sudah duduk membungkuk bersiap melakukan suntikan epidural.
“Sayang,” lirih Kailla, menyembunyikan takutnya. Kalau bersama Pram di kamar perawatan, sudah bisa dipastikan dia akan meloncat turun dan mengamuk ... tetapi sekarang, dia tidak bisa melakukannya.
“Jangan tegang, Bu,” ucap dokter anastesi yang sudah mengambil posisi di belakang Kailla, siap melaksanakan tugasnya.
Kailla bisa merasakan jarum itu menancap di punggung bagian bawah. Tak lama, Kailla bisa merasakan dari pinggang ke kakinya seperti disengat listrik. Kailla menjerit kesakitan. Pram yang berdiri di dekatnya hanya bisa mengeryit, berbagi kesakitan Kailla.
“Maaf, jangan tegang, Bu.” ucap sang dokter, ketika harus mengulang menyuntik kembali.
“Sakit!” teriak Kailla, ketika merasakan sengatan listrik kembali.
“Maaf Bu. Rilex. Jangan tegang,” salah seorang perawat terlihat mengusap tangan Kailla.
Hal yang sama terjadi lagi. Kailla menangis saat berulang kali harus mengalami hal yang sama. Sakit di bagian punggung tertusuk jarum, ditambah tubuhnya seperti tersengat listrik berulang kali.
“Sayang, aku tidak mau. Ini sakit.” Kailla menangis, meminta Pram mendekat padanya. Berurai air mata.
“Ya, tenang dulu, Bu.” Sang dokter memberi jeda.
“Ini sudah suntikan ke berapa. Kenapa belum selesai juga,” isak Kailla, meraih tangan Pram.
“Ya, tenang, jangan tegang. Kalau kamu panik, proses ini tidak akan selesai. Kamu akan disuntik berulang kali, kesakitan berkali-kali,” bujuk Pram.
Pada suntikan ke tujuh, Kailla baru tidak merasakan sengatan listrik itu lagi. Dia bisa bernapas lega, tidak perlu merasakan kesakitan berulang.
Diminta berbaring, dengan kedua tangan membentang di kiri dan kanan tubuhnya. Kailla sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi, selain ketakutan kalau dokter membelah perutnya, ternyata dia bisa merasakan kesakitannya.
“Dok, jangan langsung mengiris perutku, ya. Aku takut obat biusnya belum berjalan,” lirih Kailla.
“Ya, Bu. Tenang, jangan panik. Coba kakinya apa masih bisa digerakan?” ucap seorang asisten wanita.
“Masih ....” ucap Kailla. Dia bisa merasakan ujung jari tangan dipasangkan sesuatu dan seseorang memasang alat bantu pernapasan di hidungnya.
“Sayang, semua akan baik-baik saja,” hibur Pram, yang berdiri di dekat kepala Kailla, di temani dokter anastesi.
Kailla berbaring pasrah, menatap lampu memancar di ruang operasi.
“Dok, kakiku masih bisa digerakan, jangan dibelah dulu ya,” ucap Kailla saat pandangannya tertutup kain berwarna hijau. Dia sudah tidak bisa melihat apa -apa lagi. Tidak tahu apa yang dilakukan dokter dan timnya pada perutnya.
“Ya, Bu. Tenang saja.”
Kailla tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah Tubuhnya menggigil kedinginan. Suara alat medis mengiringi obrolan dokter dan timnya yang sedang membahas final Indonesian Idol yang baru saja berlangsung kemarin malam. Kailla hanya menyimak sesekali memanggil suaminya.
“Sayang ....” lirihnya.
“Ya, aku di sini, Sayang,” sahut Pram pelan, mengusap pelan kening Kailla dan tersenyum. Sejak tadi pria itu berdiri dengan tangan terlipat di dada. Mengamati Kailla tak berkedip. Tidak bisa berbuat apa-apa.
“Sesak, Sayang,” ucap Kailla pelan. Napasnya tersengal-sengal. Netranya terasa berat, Kailla memilih memejamkan mata.
“Sssstttt ....” Pram lagi-lagi mengusap pelan pelipis Kailla.
Tak lama terdengar riuh suara dokter dan rekannya, diiringi tangis bayi yang pecah menggelegar.
“Laki-laki, lengkap ya,” ucap dokter. Menyerahkan bayi laki-laki pertama yang berhasil dikeluarkan kepada dokter anak.
Tak lama disusul bayi laki-laki kedua. Tangisan yang tidak kalah kencang dengan bayi pertama. Hal pertama yang Pram lakukan adalah mencium kening Kailla yang hampir tertidur.
“Sayang, buka matanya. Anak kita sudah lahir,” ucap Pram pelan, sembari mengecup kening Kailla. Pria itu bersusah payah menahan tangisnya. Kelopak matanya memanas, mengembun. Haru menyelimuti hatinya, saat tangis kedua bayinya saling bersahutan. Seolah berbincang lewat tangisan.
“Mom, anak kita sudah lahir.” Pram kembali memanggil Kailla. Istrinya masih betah memejamkan mata.
Senyum Pram terkembang, bahagianya membuncah saat duo bayi laki-lakinya dibawa pada Kailla untuk melakukan inisiasi menyusu dini. Bahkan, di saat Kailla masih setengah sadar. Matanya terpejam, sesekali membuka lebar. Pram bisa melihat bibir Kailla yang tersenyum tipis.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Pram, mengecup kening Kailla hangat dan dalam. Tangannya mengusap satu persatu bayinya.
“Sus, mana yang pertama dan mana yang kedua?” tanya Pram bingung. Menatap dua bayi yang menelungkup di dada Kailla.
“Ini yang pertama ....” Perawat menunjuk bayi di sisi kanan Kailla.
“Bentley Tristan RD. Pratama,” ucap Pram, menyebut nama putra pertamanya.
“Yang di kiri adiknya,” lanjut perawat tersenyum.
Pram mengangguk. “Kentley Sean RD. Pratama.”
***
THE END