
Pram menelan dadar telur dan sayur bening dengan penuh perjuangan. Laksana pejuang yang sedang bergerilya untuk memenangkan pertempuran. Kalau bisa memilih, dia lebih suka telur ceplok tanpa rasa dengan toping lelehan kecap malika di atasnya, ketimbang Kailla memasak menu aneka rupa yang sulit diterima lidah manusia normal pada umumnya.
Kailla sudah merampas sendok dari tangan sang suami. Melihat cara makan Pram yang merem melek, mengelitik rasa penasaran Kailla akan cita rasa masakan yang dibuatnya. Terlihat suaminya itu sangat menikmati. Itu tampak dari cara makan Pram yang buru-buru, mengunyah seadanya kemudian menelan secepatnya.
“Sayang, bagaimana rasanya?” tanya Kailla, sudah menyendokan kuah sayur bening dan bersiap menyesapnya. Belum juga masakan itu masuk ke dalam mulutnya, Pram sudah menyeruputnya sampai habis tak bersisa. Bahkan yang tertinggal di mangkok pun ikut dituang ke dalam mulutnya.
Glek, glek, glek.
Jakun lelaki itu naik turun ketika harus menelan sayuran dalam porsi besar dan waktu yang terbatas.
“Hampir sempurna!” sahut Pram tersenyum menatap istrinya yang cemberut karena tidak diberi kesempatan mencicipi.
“Benarkah? Kenapa tidak membiarkanku mencobanya sedikit!” gerutu Kailla. Ada rasa bangga memyelimuti perasaannya.
“Makanan begini luar biasa, aku tidak rela membaginya untukmu,” sahut Pram, berdusta. Tidak ingin melihat kekecewaan di mata Kailla.
“Aku mengikuti resep yang diajarkan Ibu Sam,” jelas Kailla, mengulum senyuman.
“Maaf Sayang, aku terpaksa berbohong. Ini benar-benar tidak ada rasanya. Seperti minum air mineral, hambar dengan aroma sayuran yang aneh.” Pram membatin.
Dia tidak bisa membiarkan Kailla menelan kecewa di hari pertamanya belajar, setidaknya besok Kailla akan semakin semangat belajar sampai mendapatkan hasil sempurna. Kalau Pram mengeluh hari ini, bisa saja istrinya itu patah semangat dan memilih berhenti belajar.
Pandangan keduanya tertuju pada piring yang sama. Baik Pram dan Kailla, menatap sepotong telur dadar yang sudah sempat dicicipi Pram di awal. Dengan garpu di tangan, Kailla sudah siap menancapkan ke bagian tengah telur dadar.
Namun, kecepatan tangannya sedikit lebih lambat dibandingkan tangan Pram. Suaminya itu tanpa aba-aba sudah merampas telur dadar dan memasukan ke dalam mulutnya. Tidak sampai semenit, makanan itu sudah menghuni lambung Pram.
“Sekali lagi, maaf Sayang. Aku tidak bisa membiarkanmu mencoba telur dadar yang rasanya seperti tercelup di air laut. Asinnya sudah tidak kira-kira. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana anak-anakku di dalam sana kalau kamu berani memakannya,” batin Pram.
Lelaki matang itu mengulum senyuman, menatap wajah kesal Kailla yang merajuk karena tidak diberi kesempatan mencoba dan mendapat bagian.
“Besok, memasak lagi untukku, Kai,” ucap Pram, setelah semua masakan Kailla masuk ke dalam perutnya. Habis tidak bersisa.
“Bagaiamana masakanku, Sayang. Apa aku berbakat?” tanya Kailla dengan wajah cerianya.
“Sangat berbakat, hanya saja masih perlu belajar lagi saat memberi rasa pada masakannya, Sayang.” Pram masih berusaha menyemangati Kailla. Andai dia berterus terang, tidak yakin Kailla masih mau belajar atau tidak.
“Ini tidak enak?” tanya Kailla memastikan.
“Bukan tidak enak, tetapi baru mendekati sempurna. Aku ingin istriku memasak sesempurna mungkin. Sepertinya masalah ada di cara kamu memberi taste di masakan. Coba sempurnakan dengan melihat Ibu Citra dan Ibu Sari. Seberapa banyak mereka memberi garam dan perasa. Itu penting, Sayang. Selebihnya sempurna!” puji Pram.
Lelaki itu sudah berdiri, mengecup bibir istrinya sekilas sebelum berpamitan untuk berangkat ke kantor.
“Aku ke kantor dulu ya. Kalau sempat, aku usahakan makan siang di rumah bertemu dengan mama sebelum kalian ke rumah sakit,” ucap Pram, menepuk pelan ubun-ubun istrinya.
“Sayang, mau aku masakan apa untuk makan siang?” tawar Kailla. Pujian Pram, membuatnya semakin bersemangat.
“Tidak perlu, biarkan Ibu Sari dan Ibu Ida menjalankan tugasnya. Kalau mau, cukup membantu mereka saja. Tugasmu cukup membuatkan sarapanku saja. Selebihnya, kamu tidak harus melakukannya.”
Kailla mengerutkan dahinya. Dia sudah begitu bersemangat tetapi suaminya malah mengendorkan semangatnya.
“Setidaknya untuk saat ini kamu cukup membuatkanku sarapan saja, tetapi ketika bayi-bayi kecil itu lahir, aku mau kamu yang menyiapkan semua asupannya. Belajarlah mulai sekarang, aku akan meminta Stella mengirimimu buku-buku yang bisa kamu baca, panduan untuk ibu hamil, menyusui dan lain-lain,” jelas Pram.
***
Bertepatan dengan wanita lansia itu turun, tampak mobil lain ikut masuk. Kali ini adalah sopir kantor Pram yang datang atas suruhan Stella membawa tas, hadiah untuk Kailla.
Begitu sang sopir turun membawa bungkusan, mata Ibu Citra sudah tidak lepas memandang. Sebagai pecinta tas-tas bermerk, tentu saja dengan hanya melihat penampakan luar saja, dia sudah tahu apa isi di dalamnya. Apalagi dia tahu jelas, menantunya memiliki hobi yang tidak kaleng-kaleng. Yaitu menguras isi dompet putranya dengan tas -tas mewah.
“Kai ... Sayang ....” panggil Ibu Citra begitu masuk ke dalam rumah. Ibu Sari yang kebetulan membuka pintu untuk mertua majikannya itu hanya bisa tersenyum.
Tak lama muncul Kailla dari dalam rumah. Begitu melihat Ibu Citra, senyumnya merekah. Ibu Citra sudah merentangkan tangannya, siap menyambut sang menantu, tetapi sayang beribu sayang, wanita tua itu harus menelan kecewa saat pelukan hampir terjadi, mata Kailla tanpa sengaja melihat bungkusan Hermes di atas sofa ruang tamu.
Tanpa permisi, ibu hamil itu berganti arah. Bergegas mendekati bungkusan kiriman Stella yang dikirim khusus untuknya. Begitu bungkusan itu dibuka bukan hanya sepasang mata, tetapi dua pasang mata berbinar, menatap tas kulit berwarna hitam senilai ratusan juta rupiah itu.
“Wah Kai, kamu membeli tas baru lagi?” tanya Ibu Citra, buru-buru menelan salivanya. Kalau tidak, dia yakin air liurnya akan mengalir turun. Pandangannya tidak beralih sedikit pun, kesalnya hilang saat tadi diabaikan Kailla. Wajar saja, dia pun akan melakukan hal yang sama kalau berhadapan dengan tas mahal ini.
“Bukan Ma, ini hadiah dari Pram,” ucap Kailla, tersenyum bahagia.
“Hah?! Serius?” tanya Ibu Citra.
“Iya Ma. Tadi pagi aku membuatkan sarapan untuk suamiku itu dan dia menghadiahkanku tas ini,” jelas Kailla, tanpa berpikir ulang dengan pesan Pram untuk tidak membocorkan pada mama mertuanya itu. Terlalu bahagia, lupa dengan segalanya.
Mendengar itu, akal ibu Citra pun ikut berjalan. “Apa yang kamu masakan untuk Pram sampai mendapat hadiah semahal ini?” tanya Ibu Citra penasaran.
“Sayur bening dan telur dadar, Ma,” sahut Kailla.
Lagi-lagi Ibu Citra menelan ludah, hanya masakan begitu sederhananya Kailla bisa mendapatkan tas begini luar biasa.
“Baiklah Kai, minggu ini ajak Pram datang ke tempat mama, ya. Sarapan pagi di rumah mama,” pinta Ibu Citra.
“Mama akan membuatkan Pram telur dadar dan sayur bening kesukaannya. Mama saja baru tahu, ternyata putra maka begitu menyukai dua masakan itu,” lanjut Ibu Citra, mengulum senyuman. Terbayang di pelupuk matanya, hadiah yang sama akan diterimanya saat Pram mencicipi makanan buatannya.
***
Setelah selesai makan siang, Kailla dan Ibu Citra bergegas ke rumah sakit. Tadinya Pram akan ikut makan siang di rumah, tetapi pekerjaan membuat lelaki itu terpaksa membatalkannya. Hingga Kailla dan Ibu Citra harus menikmati makan siang berdua saja,
Perjalanan menuju rumah sakit, siang itu terbilang lancar. Tidak sampai satu jam, keduanya sudah berdiri di depan ruang perawatan Riadi yang terbaring koma.
“Kai ....” Ibu Citra memanggil menantunya. Ada rasa gugup menyergap perasaannya saat akan bertemu dengan musuh bebuyutannya. Lelaki yang seumur hidup ingin dihindarinya. Namun apa daya, takdir memaksanya untuk selalu berhadapan, kenyataan membuatnya harus bertemu dan tatap muka kembali.
Dengan tangan gemetar, membuka pintu ruangan. Tangan renta itu mendingin seketika. Air matanya mengalir saat melihat sendiri kondisi Riadi saat ini.
“A ... ku datang, Riadi Dirgantara,” ucap Ibu Citra terbata saat berdiri mendekat. Tubuh laki-laki itu kaku, tidak bertenaga. Terbaring dengan selang menempel di tubuh kurus kering, tinggal tulang dan kulit. Tak kuasa menahan tangis, melihat musuhnya hanya raga tak bertenaga, hidup seperti mati.
“Masih ingat denganku, Citra Wijaya.” Suara itu, bergetar dengan tangan dingin mengenggam menantunya.
“Dulu, kamu datang menemuiku untuk memohon maaf dan sekarang aku datang menemuimu untuk memberi maaf,” ucap Ibu Citra dengan suara bergetar.
***
TBC