Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 125 : Perjuangan Pram


“Maaf, aku ketiduran,” ucap Kailla, muncul tiba-tiba dari balik pintu dengan wajah polosnya.


Wajah panik Pram berubah, berganti senyuman. “Kamu baik-baik saja?” tanya Pram memastikan. Baru saja tangannya hendak meraih tangan Kailla, membantu istrinya keluar dari kamar mandi.


“Sayang, lepaskan. Aku bisa jalan sendiri,” tolak Kailla, menghempas kasar tangan Pram.


“Kai, jangan seperti ini. Boleh memukulku, boleh menamparku, tetapi jangan mendiamkanku seperti ini,” pinta Pram. Meraih tangan Kailla, dan menghentikan langkah istrinya.


“Aku gendong ya,” tawar Pram, tersenyum.


Kailla menggeleng. “Cuma dua langkah, aku bisa sendiri,” tolak Kailla.


Tanpa permisi dan bertanya lagi, Pram langsung menggendong Kailla, kemudian menurunkan tubuh yang masih lemah itu di atas ranjang rumah sakit.


“Maafkan aku,” ulang Pram berdiri dengan kedua tangan bertumpu di ranjang, mengunci tubuh Kailla yang berbaring.


“Jangan menahan kemarahanmu seperti ini. Aku tidak mau sampai kamu tertekan. Kasihan bayi-bayi kita,” ucap Pram lagi, mengusap perut Kailla yang mulai terlihat muncul dibalik baju pasien yang dikenakannya.


“Mau menamparku?” tawar Pram, menyodorkan pipinya.


“Atau memukulku?”


“Memakiku? Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, tetapi jangan memendamnya,” lanjut Pram.


Kailla tetap keras kepala. Hanya mendengar dan menatap Pram tanpa suara. Memandang tanpa bereaksi.


“Sebulan ini begitu merindukanku?” tanya Pram, mengusap rambut Kailla, menyelipkannya di balik telinga.


“Maafkan aku,” bisik Pram, menurunkan wajahnya. Menempelkan dahinya pada dahi Kailla, memangkas jarak yang tercipta sebelumnya.


Pram tersenyum kembali, saat Kailla masih memilih bungkam. Dia bisa memaklumi kalau Kailla menghukumnya begitu berat saat ini. Rekaman cctv yang ditontonnya, membuat Pram bergidik ngeri, bagaimana Kailla melewati hari-harinya seorang diri, menanti kepulangannya.


“Maafkan aku untuk tangisanmu selama sebulan ini,” ucap Pram. Saat ini dia berbicara sendiri, istrinya tidak mau menimpali. Tetap setia dengan bibir tertutup rapat.


“Tidurlah. Besok kita akan bertemu dengan anak-anak kita,” ucap Pram, mengecup bibir Kailla sekilas, sebelum kembali berbaring di sofanya.


***


Keesokan harinya.


Terlihat seorang perawat masuk dengan kursi roda yang siap membawa Kailla ke ruangan dokter untuk melakukan pemeriksaan.


“Bu, temani aku,” pinta Kailla pada Ibu Sari. Asisten rumah tangga yang hari ini bertugas menjaga Kailla, bertukar tempat dengan Ibu Ida.


Pram yang merasa tidak diundang, hanya tersenyum kecut. Dengan tidak tahu malu, mengekor di belakang Kailla ikut menuju ke tempat dokter.


Sampai disana, mereka tidak perlu menunggu. Kailla langung didorong masuk.


“Selamat siang,” sapa dokter pada Kailla dan Ibu Sari. Dari arah pintu muncul Pram ikut masuk dan bergabung.


“Bagaimana, Bu?” tanya sang dokter.


“Baik Dok,” sahut Kailla pelan.


“Selamat untuk kehamilannya. Ayo silahkan,” ucap dokter, mempersilahkan Kailla naik ke atas brankar untuk melakukan pemeriksaan.


Baik Kailla mau pun Pram, tampak bahagia saat dokter menjelaskan layar yang menampilkan rahim dengan dua kantong yang menari dan bergerak kesana kemari.


“Iya, sudah dipastikan ada dua kantong.” ucap dokter.


Tidak lama, dokter memperdengarkan bunyi detak jantung yang terdengar seperti derap langkah kuda yang sedang berlari kencang.


Mendengar suara itu, Pram langsung meraih tangan Kailla, mengecupnya pelan. “Terimakasih,” bisiknya.


Kalau sedang tidak ada siapa-siapa, bisa dipastikan Pram akan mencium dan memeluk Kailla. Menghaturkan ribuan terimakasih karena memberinya kado yang terindah di dalam hidupnya. Bukan hanya satu, tetapi Kailla menghadiahkannya dua sekaligus.


“Apa ada keturunan kembar?” tanya dokter begitu menyudahi pemeriksaannya.


Kailla menggeleng.


Selama ini, Pram menutup rapat segala infomasi mengenai masa lalu Kailla, termasuk mamanya. Namun, kegembiraan yang meluap membuatnya lupa dan tanpa sengaja melempar jawaban yng akan menyulitkannya di kemudian hari. Kailla pasti akan mencari tahu.


***


Seminggu berlalu, kondisi Kailla sudah membaik. Sudah diizinkan pulang ke rumah. Selama seminggu dirawat di rumah sakit, tidak sekalipun Pram meninggalkan istrinya itu. Bahkan Pram tidak ke kantor, hari-harinya dihabiskan untuk menemani Kailla.


Tidak hanya itu, setiap detik, setiap menit, setiap jam dan setiap hari Pram memohon pada Kailla supaya mau memaafkannya. Tidak pernah putus asa membujuk Kailla. Tidak kenal menyerah dan selalu bersabar menunggu Kaila mau berbicara padanya seperti dulu.


Setelah memastikan Kailla sampai di rumah, Pram pun berencana ke kantor. Dia sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaannya. Tidak bisa lagi membiarkan berkasnya semakin menggunung di atas meja kerja. Apalagi David sedang tidak di Jakarta. Asistennya itu ditugaskannya ke Austria, menggantikan posisinya sementara di sana.


Dengan segelas susu di tangan, Pram menuju kamar tidur Kailla yanb tertutup rapat. Istrinya itu tidak membiarkannya masuk ke dalam kamar tanpa izin.


“Sayang..,” panggil Pram, sembari mengetuk pintu.


“Sayang..”


Baru saja Pram akan mengetuk pintu itu kembali, tiba-tiba Kailla muncul dari balik pintu. Tanpa berbicara hanya berdiri mematung di tengah pintu.


“Aku harus ke kantor sebentar. Habiskan susumu, Kai,” ucap Pram, menyodorkan segelas susu ke hadapan Kailla.



Lelaki yang sudah rapi dengan kemeja abu itu tersenyum. Besar harapannya, Kailla mau menurut dan tidak mempersulitnya seperti yang sudah-sudah.


“Aku tidak mau minum susu,” tolak Kailla, menatap gelas di tangan Pram.


“Bawa balik saja,” lanjut Kailla, menarik daun pintu kamarnya, supaya menutup kembali.


“Kai, jangan begini,” cegah Pram, menahan pintu itu tetap terbuka. Dia tidak bisa pergi ke kantor, sebelum memastikan Kailla meminum vitamin dan susunya.


“Kamu bisa pergi ke kantor, tidak perlu mengurusku!” potong Kailla.


“Kai, aku mohon. Tolong jangan mempersulitku,” pinta Pram, memohon.


Kailla semakin kesal sendiri, saat Pram mulai memaksanya seperti biasa.


“Baiklah, kamu boleh pergi ke kantor sekarang,” ucap Kailla sembari meraih gelas susu dari tangan suaminya.


Baru saja dia berbalik masuk ke kamar, Pram sudah menahannya lagi.


“Habiskan susunya sekarang, Kai. Setelah itu, aku akan ke kantor,” pinta Pram. Seperti yang sudah-sudah, kalau tidak ditunggui, Kailla tidak akan menghabiskannya. Bahkan seringkali berakhir di tempat pencucian piring.


“Iya, aku akan minum nanti,” ucap Kailla sudah bersiap menutup pintu kamarnya.


“Tidak Kai, habiskan sekarang,” cegah Pram, menahan pintu kamar agar tidak menutup.


Dengan kesal, Kailla menyiram segelas susu itu ke wajah Pram.



“Sudah habis susunya! Kamu sudah boleh pergi ke kantor sekarang!” ucap Kailla dengan penuh amarah.



“Kai, kenapa harus seperti ini,” bisik Pram.


Kailla tidak menggubris, malah membanting pintu kamarnya dengan kencang, membiarkan Pram yang basah mematung di sana.


Bukan kali ini saja, seminggu ini Pram sudah banyak menelan kecewa. Sejak kepulangannya kembali, Kailla benar-benar berubah padanya. Tidak ada lagi Kailla yang penurut dan gampang dibujuk. Berganti Kailla yang sulit didekati dan tidak bisa diajak bicara.


***


To be continued


Love you all


Terima kasih.