
Pram masih menggedor pintu kamarnya setelah Kailla menghilang di dalamnya.
“Sayang, buka pintunya,” pinta Pram, mengepalkan tangannya dan memukul daun pintu kayu di depannya. Kejadian barusan tidak membuatnya marah, tetapi malah mengkhawatirkan Kailla. Sejak kembalinya mereka bersama, emosi Kailla benar-benar tidak stabil. Sering marah tidak jelas, tidak mau didekati.
Pram tidak pernah melihat sikap Kailla yang seperti ini. Semarah-marah Kailla padanya, tidak pernah berlarut-larut seperti sekarang.
“Sayang, buka pintunya,” panggil Pram kembali. Dia tahu, istrinya sedang menangis. Menyesali telah menyiraminya dengan segelas susu.
“Sayang, buka pintunya. Aku tidak akan marah padamu,” tutur Pram di depan pintu, mengusap wajahnya yang basah,
“Sayang, buka pintunya. Aku harus ke kantor. Aku belum berpamitan padamu dan anak kita. Aku belum mencium kalian,” jelas Pram lagi. Bisa saja dia menerobos masuk, pintu kamar itu pasti tidak terkunci. Namun, dia takut Kailla akan semakin marah padanya.
Sepuluh menit mengoceh sendiri di depan pintu, Pram akhirnya mengalah dan memilih pergi.
“Aku pergi, Sayang. I love you all,” teriak Pram di depan pintu.
Pram masih mengibaskan kemejanya yang basah saat kembali ke dapur dan memberi pesan pada dua asisten rumah tangganya.
“Bu, tolong buatkan Kailla susu. Tolong bujuk dia minum susu dan ingatkan dia minum vitaminnya. Aku harus ke kantor,” perintah Pram, meletakan gelas kosong yang tadi dilempar Kailla ke tubuhnya itu ke dalam bak cuci piring.
Kedua asisten itu cukup terkejut dengan tampilan basah dan berantakan Pram, namun mereka tidak berani banyak bertanya.
“Sekalian tolong ambilkan aku pakaian ganti di dalam kamar. Aku tidak sengaja menumpahkan susu Kailla,” pinta Pram, menunjuk kemejanya yang basah.
“Iya, Pak.
“Tolong temani Kailla, jangan biarkan dia sendirian di dalam kamar,” pinta Pram lagi, sembari bergegas keluar. Dia tidak bisa masuk ke kamar mengganti pakaiannya. Tidak mau membuat Kailla mengamuk kembali.
***
Setelah sebulan lebih tidak menapaki kaki ke kantornya, akhirnya Pram kembali lagi. Raut wajahnya jauh berbeda dengan sebelumnya. Saat ini ada aura kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya. Bagaimana tidak, istrinya hamil dan mereka dikaruniai bayi kembar.
“Sore Pak,” sapa Stella saat Pram melewati meja kerjanya.
“Ste, panggilkan David!” perintah Pram, langsung masuk ke dalam ruangannya. Tanpa menunggu jawaban dari sang sekretaris.
Begitu masuk ke ruangannya, Pram sempat terkejut dengan desain ulang yang dilakukan David pada ruangannya selama dia di Austria.
“Not bad,” ucapnya pelan, menjatuhkan tubuh di atas kursi kebesarannya, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Menikmati perubahan yang dilakukan David. Setelah puas mengagumi hasil kerja asistennya, Pram meraih pena dan mulai membuka berkas yang ada di mejanya.
Bunyi ketukan di pintu, membuyarkan konsentrasinya. Fokusnya pecah, mengalihkan pandangan ke pintu. Tidak lama, David muncul dengan setumpuk berkas ditangan.
“Ini pekerjaan yang menunggumu,” seru David, menjatuhkan berkas ke atas meja. Tersenyum melihat ekspresi Pram yang terkejut.
“Hah!! Tidak salah Dave?” keluh Pram, tersenyum kecut.
“Calon daddy sepertimu, jangankan setumpuk. Aku pikir sekontainer pun, kamu tidak akan keberatan dan tetap tersenyum mengerjakannya. By the way, Congratulation!” ucap David menyodorkan tangannya, mengucapkan selamat pada Pram yang sebentar lagi akan menjadi ayah.
“Thanks!” seru Pram, menyambut uluran tangan asisten sekaligus teman baiknya.
“Bagaimana kalau kita merayakannya. Oh ya, Istri Bara sudah melahirkan anak keempatnya. Dia mengundang kita makan malam di rumahnya,” cerita David, bersikap santai.
“Oh ya? Aku ketinggalan berita,” sahut Pram.
“Bagaimana dengan Nyonya? Apa dia tetap terlihat manis di saat hamil?” tanya David, duduk bersandar menunggu Pram bercerita.
Sudah terbayang bagaimana repotnya Pram mengurus istrinya. Yang sedang tidak hamil saja sangat merepotkan, apalagi disaat hamil seperti ini. Pasti akan ada banyak hal gila dan di luar dugaan yang dilakukan Kailla.
“Kamu tidak tahu, Dave. Aku meninggalkannya sebulan, begitu kembali aku kehilangan istriku yang manja dan imut berganti singa betina kelaparan yang mengaum setiap saat. Aku sampai tidak bisa hidup dengan tenang, takut dia akan menelanku bulat-bulat,” adu Pram sembari bercanda.
“Aku sampai bingung, ini sakit hatinya karena aku tinggalkan dan ceraikan di saat hamil atau karena hormon kehamilannya,” lanjut Pram, memijat pelipisnya. Mulai lelah dengan penolakan demi penolakan yang dilakukan Kailla
“Aku tidak paham, Presdir. Coba tanyakan pada yang lebih ahli,” sahut David tersenyum simpul melihat wajah kusut Pram.
“Sudah beres. Presdir batal jadi duda. Padahal aku sudah mau mendaftarkan Stella untuk calon istrimu selanjutnya,” goda David.
“Kenapa tidak untukmu saja, Dave?” todong Pram.
“Dia tidak menyukaiku,” sahut David mengelus dadanya sendiri.
“Pengajuan visamu bagaimana? Kalau sudah keluar, segeralah terbang ke Austria. Aku tidak mungkin meninggalkan Kailla lagi. Aku titip perusahaan di sana,” tegas Pram.
“Mudah-mudahan minggu depan ada kabar,” jawab David tersenyum.
***
Mobil Pram masuk ke halaman rumahnya saat malam menjemput. Seperti biasa, kedatangannya disambut security dan beberapa asisten yang sudah duduk manis menikmati malam panjang ditemani kopi hangat sambil diiringi irama ombak di pos security.
Pram terpaksa lembur untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Itupun terpaksa ditundanya kembali, karena terlalu lelah dan mulai mengantuk. Dan alasan utamanya, dia mulai merindukan istri dan anak-anaknya.
Begitu menginjakan kaki ke dalam rumah, sudah tidak ada seorang pun yang menyambutnya. Kedua asisten rumah tangga dan istrinya sudah meringkuk di balik selimut. Tentu saja, saat ini sudah hampir jam sepuluh malam.
Tergesa-gesa berlari naik, menapaki anak tangga yang mengantarnya ke lantai dua rumahnya. Tempat dimana kamar tidurnya berada.
“Kai, aku masuk ya,” panggil Pram sembari mengetuk pintu kamar tidurnya. Tidak seperti biasanya, mulai sekarang dia harus membiasakan diri, meminta izin Kailla terlebih dulu setiap masuk ke dalam kamar tidurnya sendiri. Kalau tidak, dia harus bersiap dengan wajah cemberut istrinya yang tidak berkesudahan.
Baru saja akan melancarkan ketukan lagi, tiba-tiba pintu itu terbuka. Muncul ibu Ida dengan wajah mengantuknya. “Non Kailla belum tidur Pak,” jelas Ibu Ida.
“Ya sudah, tolong ambilkan pakaianku di lemari. Aku mandi di kamar lain saja,” pinta Pram, mencoba mengintip istrinya dari pintu. Kailla sedang tidur menyamping, membelakanginya dengan tangan mengusap punggung bagian bawah.
“Kailla kenapa lagi?” tanya Pram pada Ibu Ida yang berjalan ke arahnya.
“Biasa Pak, sakit pinggang membuatnya sulit tidur,” sahut Ibu Ida, berbisik.
“Baiklah, kalau Kailla sudah tidur, tolong kabari aku. Aku tidur di kamar mertuaku,” jelas Pram, meraih pakaian bersih yang disodorkan Ibu Ida padanya.
***
Pram masih belum bisa tidur, meskipun hampir tengah malam. Sejak tadi, dia hanya bolak balik sembari memainkan ponselnya. Perasaannya tidak tenang. Sampai akhirnya terdengar ketukan lembut di pintu kamar.
“Pak, Pak, Non Kailla sudah tidur. Aku mau kembali ke kamarku,” panggil Ibu Ida dari balik pintu.
Setengah meloncat, mata yang tadinya mulai mengantuk langsung membulat sempurna. Tanpa banyak bertanya, Pram segera menemui Kailla di kamarnya.
“Maaf, tadi ketiduran, Pak,” jelas Ibu Ida, mengucek matanya. Wanita dengan daster batik itu bergegas menuju kamar tidurnya, setelah melihat Pram tidak meladeninya lagi.
Sampai di kamar, lelaki itu langsung menjatuhkan tubuhnya perlahan tepat di sisi Kailla. Tersenyum menatap wajah polos yang sedang menikmati tidurnya dengan nafas teratur. Beralih, Pram menatap segelas susu yang sisa sejari di atas nakas samping tempat tidurnya.
“Good night, Sayang,” bisik Pram, menyingkap rambut Kailla yang berantakan menutupi dahinya. Menghadiahkan sebuah kecupan ringan disana.
Sebuah usapan lembut dan kecupan hangat juga dihadiahkan Pram di perut Kailla. “Daddy merindukan kalian. Tolong sampaikan ke mommy, marahnya jangan terlalu lama,” bisik Pram lagi.
Setelah menyelesaikan ritualnya, Pram meraih tubuh Kailla dan mendekapnya. Dan dia cukup bahagia saat Kailla tidak menolaknya. Istrinya menyusup, meringkuk di dalam pelukannya.
“Kamu sudah pulang?” tanya Kailla dengan suara serak dan mata terpejam. Bergumam.
Tentu saja, Pram terkejut. Membuat jarak supaya bisa melihat wajah Kailla dengan jelas. Istrinya masih tertidur, bahkan tidak merespon apa-apa lagi.
“Dia hanya bermimpi” ucap Pram terkekeh, mengeratkan pelukannya. Dia cukup bersyukur, masih bisa memeluk Kailla disaat tidur. Karena begitu terbangun, kelinci kecilnya ini akan menjadi singa kelaparan, yang siap menerkamnya kapan saja.
***
To be continued
Love you all
Terimakasih.