Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 103 : Empat Bulan Berlalu


Tatapan Pram membeku saat matanya menangkap sosok asing yang berdiri tidak jauh dari kedua asistennya. Pram bahkan harus mengerjap beberapa kali demi memastikan punggung kekar dalam balutan jas kerja hitam yang sedang mematung membelakanginya dan Kailla.


“Semoga saja aku salah,” bisik Pram, menatap punggung lelaki itu tanpa berkedip.


Kailla yang belum bisa menebak sama sekali terlambat terkejut. Dia baru terperanjat kala sosok tinggi kekar itu berbalik dan tersenyum hangat.


“Ditya..” Kailla berbisik lirih, sembari menggengam erat tangan Pram.


“Apa.....”


Pram baru saja hendak bertanya, tetapi Ditya sudah membuka suara. Lelaki itu berjalan maju, memangkas jarak yang tercipta sebelumnya.


“Aku Ditya, salah satu pemilik rumah sakit ini. Aku turut prihatin, tetapi kami akan berusaha semaksimal mungkin. Saat ini kami sedang mendatangkan dokter dari Malaysia untuk menangani Pak Riadi. Semoga ada kabar gembira,” potong dia, berbicara panjang lebar.


Pandangan mata elang miliknya tidak bisa berbohong. Meski berusaha sebisa mungkin membuang tatapannya ke arah lain, tetapi sudut mata itu masih melirik perempuan yang sudah berstatus istri orang.


Pram yang sejak awal kehadiran Ditya, sudah mulai terpancing emosi. Raut wajahnya masih tidak bersahabat, apalagi kala dia menangkap pandangan Ditya yang mencuri tatap pada istrinya.


“Aku permisi,” pamit Ditya, mempersembahkan senyum di wajah tampannya. Dia tidak menunggu jawaban keduanya, baik Pram ataupun Kailla. Pria itu menunggu disana hanya untuk memastikan kondisi pasien di dalam ruang ICU tetap baik-baik saja.


“Terimakasih,” ucap Pram, berbalik menatap Ditya yang berjalan menjauh. Pria itu bahkan tidak menoleh, hanya menghentikan langkahnya beberapa detik dan bergegas pergi.


Kepergian Ditya, memberi David kesempatan menjelaskan segalanya. Dari awal mula dihubungi Donny hingga penjelasan dokter mengenai kondisi sebenarnya sekaligus hal terburuk yang bisa saja terjadi.


“Mudah-mudah ada kabar baik setelah ini,” bisik David berusaha tersenyum.


Kailla yang terus-terusan menangis di pelukan Pram tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi saat David menceritakan kemungkinan terburuk, tangisnya semakin kencang.


“Kai, mau kemana?” tanya Pram heran. Kailla sudah bergegas menemui pintu untuk menemui daddynya.


“Sayang mau kemana?” tanya Pram berusaha menahan tangan istrinya. Tangis Kailla semakin kencang,


“Aku mau bertemu daddy...,” tangis bercampur jeritan itu terdengar ngilu di telinga. Mengiris hati yang terdalam.


“Iya, tunggu aku. Kita masuk bersama,” pinta Pram, mengedarkan pandangannya. Mencari perawat atau petugas rumah sakit yang bisa dimintai tolong. Dia tidak bisa masuk sembarangan. Terlebih tidak mungkin membiarkan Kailla masuk seorang diri.


***


Begitu masuk ke dalam ruangan, alunan nada yang tercipta dari beberapa alat medis terdengar begitu mencekam. Belum lagi beberapa selang dan alat-alat medis yang menempel di tubuh daddy. Saat ini lebih banyak dari biasanya.


“Daddy, aku datang,” bisik Kailla, berdiri di samping tempat daddynya terbaring. Tidak jauh dari tempatnya berdiri tampak Pram berdiri dan berbincang dengan petugas jaga.


“Maaf Pak, hanya diperbolehkan sebentar saja,” jelas sang petugas, yang langsung dianggukin Pram.


Pram mendekati Kailla, memeluk istrinya yang menangis tersedu-sedu.


“Daddy pasti baik-baik saja,” hibur Pram.


“Aku belum mau berpisah dengan daddy. Tidak masalah kalau daddy tinggal diruangan ini, tetapi daddy harus tetap ada di dunia ini. Aku belum siap ditinggal daddy.”


“Aku....”


Tampak Kailla menghela nafas di sela tangisannya. Berusaha tenang untuk bisa melanjutkan kalimatnya.


“Aku.. aku belum siap melepas daddy pergi,” ucapnya kemudian. Berbalik memeluk erat Pram, menggigit kemeja suaminya supaya tangis itu tidak terdengar keluar.


“Iya, daddy tidak akan kemana-mana.”


“Aku belum membahagiakan daddy,” ucap Kailla lagi.


“Iya, kita sama-sama akan membuat daddy bahagia. Jangan menangis seperti ini, kalau daddy mendengar suara tangismu pasti daddy akan sedih,” bujuk Pram, menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya. Kemudian menghapus air mata yang keluar tanpa bisa ditahan oleh pemiliknya.


“Kita akan berusaha supaya daddy tetap ada bersama kita,” bisik Pram, di sela pelukannya.


“Ayo pamit pada daddy, kita tidak bisa terlalu lama di dalam sini. Kita harus pulang sekarang,” pinta Pram.


“Tapi aku belum mau pulang,” tolak Kailla dengan manja.


“Kamu harus istirahat, besok kita akan ke sini lagi,” bujuk Pram, sembari mengusap punggung istrinya. Berharap Kailla mau menurut.


“Lagipula, tetap disini juga, kita tidak bisa apa-apa. Besok kita akan menemui daddy lagi,” lanjut Pram.


Kali ini Kailla menurut, tidak banyak membantah seperti biasanya. Mendekati Riadi dan mengecup lembut tangan daddy yang keriput dan tersambung alat-alat medis.


***


Waktu berlalu, detik berganti menit, menit berganti jam. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Empat bulan sudah terlewati. Hari-hari Kailla dan Pram banyak dihabiskan di rumah sakit. Sepanjang hari Kailla akan menunggu daddynya di temani Sam, Ricko dan Donny sembari mengerjakan skripsinya. Hanya sesekali ke kampus untuk menemui dosen pembimbing dan tentunya mengambi data yang belum terlengkapi untuk keperluan skripsinya.


Pram bahkan menyewa sebuah ruangan untuk istrinya supaya bisa beristirahat. Karena hari-hari Kailla yang banyak dihabiska di rumah sakit.


Dan Pram pun melakukan hal yang sama. Hari-hari Pram tidak jauh dari kantor dan rumah sakit. Keduanya hanya akan pulang ke rumah saat malam tiba. Menikmati empuknya ranjang di kamar tidur mereka setelah seharian melewati hari di luar rumah.


Empat bulan ini tidak ada pertengkaran, tidak ada kekacauan seperti yang biasanya dilakukan Kailla. Pram pun jauh melunak, tidak seperti biasanya terhadap Kailla. Melarang istrinya kesana kemari. Mengawasi terus menerus.


Selama seratus dua puluh hari ini keduanya fokus untuk menemani Riadi di rumah sakit. Bahkan Kailla tidak pernah menemui mertuanya, hanya berkomunikasi melalui sambungan video call dengan Ibu Citra.


Sedikit berbeda dengan Pram. Lelaki itu terkadang masih menyempatkan waktu untuk menemui mamanya di saat jam makan siang.


Siang itu seperti biasanya, Kailla yang sudah menyelesaikan semua tahapan skripsinya termasuk sidang skripsinya beberapa hari yang lalu itu sedang duduk mengobrol dengan Sam di depan ruang ICU.


Dari arah lift terlihat Ditya, masih dengan setelan jas kerja datang menghampiri Kailla ditemani asitennya, Matt. Tidak lupa pria itu membawa bekal makan siang untuk ketiga asisten Kailla.


“Kai, kamu sudah makan siang?” tanya Ditya dengan santai. Ini bukan pertemuan mereka yang pertama kali selama empat bulan ini. Sebelumnya Ditya sudah pernah beberapa kali menemui Kailla secara terang-terangan setiap berkunjung ke rumah sakit.


“Belum.” Kailla menggeleng.


“Ayo, temani aku makan siang,” pintanya seperti biasa. Hubungan keduanya lebih akrab dari sebelumnya. Pertemuan demi pertemuan membuat keduanya semakin dekat.


Sebelum mendengar jawaban Kailla, pria itu terlebih dulu masuk ke dalam ruangan tempat Riadi terbaring koma, sekedar menyapa. Dan biasanya dia juga akan menemui petugas untuk menanyakan perkembangan kesehatan pasien rumah sakitnya yang terkesan jalan di tempat.


Padahal, dia sudah mendatangkan dokter terbaik untuk menangani Riadi Dirgantara secara khusus. Bahkan dia membeli sebagian kepemilikan rumah sakit ini untuk bisa mengawasi perkembangan orang tua dari wanita yang mencuri hatinya di kesempatan pertama.


“Aduh! Tumpah kan!” omel Sam kala kotak makan siangnya tumpah karena ulah Ditya.


“Temani kami makan siang,” pinta Ditya. Selanjutnya mempersembahkan senyuman kepada dua orang asisten Kailla yang tertinggal, yaitu Ricko dan Donny. Mereka berdua juga sedang menghabiskan nasi kotak, bekal makan siang yang dibawa Ditya. Lebih tepatnya sogokan sebagai penutup mulut. Dia tidak mau bermasalah dengan suami Kailla dikira berselingkuh saat dia menyapa.


***


Bagaimana kuliahmu?” tanya Ditya, setelah memesan menu makan siang untuk mereka bertiga, Kailla, Sam dan dirinya sendiri. Matt ditinggalnya untuk menemani Donny dan Ricko di depan ruang ICU, sekaligus untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu suami Kailla, tiba-tiba berkunjung ke rumah sakit dan mencari istrinya.


“Bulan depan aku wisuda,” sahut Kailla santai.


“Wah, congratulation!” ucap Ditya mengulurkan tangannya hendak menyalami Kailla.


“Thanks,” sahut Kailla tersenyum. Menyambut uluran tangan pria tampan yang sampai sekarang bagi Kailla seperti titisan dewa Yunani.


“Katakan, apa yang kamu inginkan sebagai hadiah?” tanya Ditya, melirik Sam.


“Jangan katakan kamu juga wisuda,” celetuk Ditya menatap sinis pada Sam.


“Iya tuan. Aku bisa apa, kenyataannya aku dan Non Kailla senasib seperjuangan,” sahut Sam.


“Setelah memikirkan apa hadiah yang kamu inginkan. Kabari Matt, aku akan mengirimkan hadiahnya untukmu,” ucap Ditya.


“Serius tuan?” tanya Sam memastikan. Dia sudah membayangkan akan meminta motor pada tuan muda kaya raya yang selalu bagi-bagi pada mereka setiap berkunjung ke rumah sakit. Makanya tidak ada seorang pun yang membuka mulut pada Pram tentang kunjungan rutin tuan muda ini.


“Kapan aku pernah berbohong,” ucap Ditya menautkan jemarinya di atas meja.


“Oh ya Kai, katakan apa hadiah yang kamu inginkan. Aku akan mengirimnya ke rumahmu,” lanjut Ditya lagi.


“Aku pikir-pikir dulu. Brand favoritku sedang mengeluarkan produk apa saja. Aku butuh melihat katalog dulu,” sahut Kailla.


“Tidak masalah, hubungi aku kapan saja. Aku akan meminta Matt mencarinya untukmu,” sahut Ditya lagi.


Obrolan ketiganya terhenti saat seorang pelayan membawa nampan berisi pesanan mereka. Setelah menyajikannya di atas meja, pelayan itu pun pamit undur diri.


“Bagaimana kabar suamimu, Kai?” tanya Ditya, sembari menyuapkan sesendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya.


“Pram baik-baik saja,” sahut Kailla, ikut menikmati makan siang pesanannya.


“Apa yang suamimu hadiahkan untukmu?” tanya Ditya.


Kailla belum sempat menjawab, tiba-tiba dering ponsel di dalam tas mengejutkan ketiganya.


“Maaf, suamiku,” ucap Kailla, setelah membaca nama yang muncul di layar ponselnya yang menyala.


Segera bangkit dan menjauh supaya bisa bicara dengan leluasa dengan Pram.


“Iya Sayang,” sapa Kailla ketika menggeser tombol hijau di layar ponsel dan menempelkannya di telinga.


“Sayang, kamu di rumah sakit kan? Aku sudah di parkiran,” ucap Pram dari seberang telepon.


“Iya ada apa? Bukannya hari ini harusnya kamu makan siang di tempat mama.” tanya Kailla heran.


“Kamu lupa lagi, Sayang. Hari ini kita ada janji bertemu dengan dokter kandunganmu kan,” sahut Pram mengingatkan.


“Astaga, aku benar-benar lupa,” sahut Kailla menepuk keningnya sendiri.


“Ya sudah, sebentar lagi aku naik,” ucap Pram, sembari menutup panggilannnya.


Bunyi ponsel ditutup itu membuat Kailla membeku di tempatnya berdiri sambil menatap Ditya dan Sam yang sedang mengobrol sembari menghabiskan makan siangnya.


“Dit, aku pamit. Suamiku sebentar lagi tiba. Aku ada sedikit urusan. Mungkin kita bisa makan siang lain waktu. Atur saja waktunya, aku tunggu,” pamit Kailla, menyambar tasnya dan berlari.


“Kamu tidak menghabiskan makan siangmu, Kai?” tanya Ditya setengah berteriak.


“Tidak. Mungkin next time ya. Aku yang akan mentraktirmu,” sahut Kailla tanpa melihat ke belakang lagi.


***


Kailla tiba di ruangan ICU dengan berlari. Dari kejauhan dia bisa melihat punggung suaminya yang berdiri dengan kedua tangan bertolak di pinggang.


“Sayang,” panggil Kailla, memeluk Pram tiba-tiba dari belakang. Tubuh Pram sampai terdorong ke depan karena benturan Kailla ditubuhnya begitu kencang.


“Kamu darimana saja?” tanya Pram menoleh ke belakang punggungnya. Dia bisa merasakan denyut jantung Kailla yang berdetak kencang.


“Aku makan siang di kantin rumah sakit tadi,” sahut Kailla, berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


“Kamu tidak mengajakku?” tanya Pram, mengusap lembut tangan Kailla yang mengunci pinggangnya.


“Aku kira kamu akan ke tempat mama siang ini,” sahut Kailla dengan manjanya.


“Kamu melupakan janji kita. Bukankah kita harus menemui dokter siang ini,” sahut Pram. Ada nada sedih dan terluka di dalamnya.


Selama empat bulan ini mereka selalu mengunjungi dokter untuk memastikan apakah Kailla sudah hamil atau belum. Tidak sampai disitu saja, mereka sudah membuang puluhan test pack dengan hasil segaris selama ini.


Membandingkan dengan pengalaman saat kehamilan Kailla yang pertama, tentunya perjuangan mereka kali ini terasa lebih berat. Sudah banyak kekecewaan yang ditelannya dan tentunya dirasakan Kailla selama empat bulan ini.


Pram bisa melihat wajah Kailla yang hampir putus asa dan menyerah setiap mendapati hasil tes yang negatif. Meskipun istrinya itu tidak menangis, tetapi dia bisa merasakan juga apa yang dirasakan Kailla.


“Ayo kalau begitu. Kita pergi sekarang,” sahut Kailla, melepaskan pelukannya pada sang suami.


***


To be continued


Love you all


Terima kasih.


Bab ini 2 bab dijadikan 1 bab. Jadi hanya up sekali ya.