Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 106 : Kamu mencintainya?


Rembulan terlihat malu-malu memperlihatkan wujudnya. Bersembunyi di balik pekatnya awan hitam. Dari pos security kediaman Reynaldi Pratama bisa tampak jelas rembulan malam yang membulat, timbul tenggelam tertutup awan. Hampir terjatuh di ujung lautan seberang rumah, bersama deburan ombak kecil dan desiran angin malam.


Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, saat Bayu membunyikan klakson Bentley GT Continental milik majikannya. Mengejutkan kumpulan security yang berbaur dengan asisten bersarung bermain kartu ditemani kacang kulit dan kopi panas.


Tak lama, tampak seorang diantaranya berlari keluar dengan sikap tegak menghormat, menekan salah satu tombol di remote kontrol. Membiarkan gerbang kekar itu membuka dengan sendirinya, mempersilahkan pemilik rumah masuk.


Mobil hitam kesayangan majikannya terlihat melenggang masuk dengan gagahnya, berhenti tepat di halaman rumah. Sang security berlari kecil, membantu Pram membuka pintu.


“Malam Pak,” sapanya dengan hormat. Melirik sekilas, majikannya yang terlihat kusut dan berantakan. Mengenakan kaos putih, setelan yang lain dari biasanya.


Tanpa menjawab sapaan, lelaki matang itu masuk ke dalam rumah. Di ruang keluarga masih sempat berpapasan dengan Ibu Ida yang sedang menikmati acara televisi.


“Malam Pak,” sapa wanita tua itu.


“Istriku sudah tidur? Dia sudah makan?” Pertanyaan beruntuh hanya butuh satu jawaban cukup mewakili semua.


“Sudah Pak,” jawab Ibu Ida singkat dan menyakinkan.


"Non Kailla selesai makan malam langsung naik ke kamar," sahut ibu Ida.


"Istriku tidak keluar kemana-mana sepanjang hari?" tanya Pram lagi. Kali ini Ibu Ida menjawab dengan sebuah gelengan.


Tersenyum sekilas, lelaki itu sudah berlari menapaki anak tangga mengantarnya menuju kamar tidur. Dengan kerinduan yang mengumpul, Pram membuka pintu kamar dengan buru-buru.


Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah istrinya tertidur dengan lingerie merah super seksinya.


Tidak tertutup selimut, karena lembaran kain hangat itu sudah teronggok jatuh ke lantai berlapis permadani.


"Anak nakal! Bahkan tertidur pun masih senakal saat terbangun!" celetuk Pram tersenyum, meraih kembali selimut itu, meletakan ke atas tempat tidur


“Sayang..,” sapa Pram pelan. Lelaki itu sudah bersimpuh di sisi tempat tidur. Menatap Kailla yang terlelap dengan wajah polos menggodanya.


“Sayang..,” sapa Pram mengulang kembali. Kali ini tangan kekar itu pun mulai nakal. Merapikan rambut tergerai yang sedikit berantakan. Dengan ujung telunjuknya menyusuri lekuk wajah cantik istrinya san berakhir mengusap bibir merah merona yang menggodanya.


Kecupan hangat dilabuhkan pada bibir yang terkatup, dengan tangan bergerak turun mengusap lembut salah satu bukit kembar, memainkan puncaknya sedemikian rupa. Sehingga sang pemilik terusik dalam lelapnya.


Mata indah itu mengerjap, beradaptasi sebentar sampai benar-benar membulat barulah tubuh ramping itu bangkit duduk.


“Sayang,” sapa Kailla dengan suara serak, sembari mencepol rambut panjangnya dan mempertontonkan leher jenjang yang mengundang untuk dikecup basah.


“Kamu baru pulang?” tanya Kailla.


Pram langsung berdiri, melepas kaos putihnya dan melemparnya asal.


“Hmm, aku lelah, Kai,” adu Pram. Merenggangkan kedua tangannya.


“Aku punya obat lelah untukmu,” sahut Kailla. Dia sudah berdiri di atas tempat tidur, bersiap melompat menerkam suaminya yang bertelanjang dada.


Namun, niatnya terpaksa diurungkan, suaminya yang pengertian menyodorkan diri. Membiarkan istrinya bergelayut manja di lehernya.


“Kamu sudah makan?” tanya Kailla, menyandarkan kepalanya di pundak Pram.


“Sudah, aku makan di tempat mama,” sahut Pram singkat. Kali ini melepas ikat pinggang dan bersiap melepaskan celana panjangnya.


“Aku mau mandi dulu,” ucap Pram, memeluk pinggang ramping istrinya. Malam ini Kailla benar-benar menggodanya dengan lingerie model barunya. Pram yakin lingerie ini pasti baru saja menghuni kamarnya. Terbukti dia belum pernah melihat Kailla mengenakannya sebelum ini.


“Kamu tidak melihat lingerie baruku? Kamu suka?” tanya Kailla, memamerkannya pada sang suami.


“Aku lebih suka kamu tidak memakai apa-apa,” sahut Pram tersenyum menggoda.


“Bagaimana kalau menemaniku berendam,” tawar Pram, tangannya sudah melepas ikatan demi ikatan yang membelit tubuh istrinya,


“Aku tidak mau,” tolak Kailla, membenahi kembali apa saja yang baru dilepas suaminya.


“Tadi siang kita sudah melakukannya. Aku ingin istirahat malam ini,” bisik Kailla, memberi alasan penolakannya.


“Baiklah. Berarti besok kamu harus melayaniku dobel,” ancam Pram.


"Apa tidak sebaiknya dicicil malam ini?" tawar Pram, kembali menggoda. Jemarinya menyusuri lekuk tubuh ramping Kailla yang nyaris telanjang.


“Tidak. Besok aku akan ke kantormu. Aku akan membawakan makan siang untukmu,” ucap Kailla lagi.


Oh ya? Kamu akan memasak untukku?” tanya Pram, meraih tangan Kailla yang beberapa bulan lalu sempat terkena minyak panas.


Pram menghela nafas, saat melihat samar-samar bekas menghitam di pergelangan tangan Kailla.


“Maafkan aku, tidak bisa menjagamu dengan baik,” bisik Pram mengusap perlahan bekas luka yang masih tertinggal.


“Minta Ibu Ida atau Ibu Sari saja yang memasak,” pinta Pram.


“Kapan aku bisanya kalau tidak boleh masuk ke dapur lagi,” sahut Kailla cemberut.


“Aku tidak butuh kamu bisa memasak. Semakin tidak bisa, semakin baik,” sahut Pram, mencubit ujung hidung mancung Kailla.


“Ah..... aku serius!” gerutu Kailla.


“Semakin tidak bisa apa-apa, semakin baik. Jadi tidak ada yang akan merebutmu dari tanganku,” ucap Pram asal.


Tidak terlalu penting untuk Pram istrinya bisa memasak atau tidak, bisa mengurus rumah dan melakukan pekerjaan rumah atau tidak. Berumah tangga untuk Pram lebih dari itu. Cukup Kailla memahami kodratnya sebagai istri dan ibu untuknya dan anak-anaknya. Itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada tuntutan lebih.


“Aku tidak kemana-mana, Sayang,” jelas Kailla. Tatapannya teduh menerobos masuk ke manik mata suaminya.


“Kamu tahu Kai, bahkan kamu sendiri tidak paham bagaimana perasaanmu. Aku berharap ada hari dimana kamu benar-benar menerima keadaanmu. Aku bisa melepasmu dengan tenang,” ucap Kailla.


“Apa maksudmu, Sayang?” tanya Kailla.


“Suatu saat kalau aku tidak bersamamu lagi dan kamu menginginkan kebebasanmu. Lepas nama Riadi Dirgantara dari hidupmu, bahkan jangan pernah menginjakan kaki ke RD Group. Itu yang membuatmu selama ini terkurung di istana Riadi bahkan saat bersamaku,” jelas Pram, menghela nafas kasar.


“Aku sudah mengerti itu semua, tidak perlu mengulangnya berulang kali,” ucap Kailla ketus.


“Baiklah kalau mengerti. Aku anggap kamu sudah cukup dewasa untuk hal ini,” jelas Pram.


“Iya, apalagi?” tanya Kailla tidak kalah ketus.


“Selama menjadi istriku, tolong jangan melakukan hal-hal yang akan menghancurkan harga diriku sebagai suami. Dan akan merusak nama baikmu sebagai istri. Kalau begitu menginginkannya, aku akan melepaskanmu. Cukup terus terang padaku,” pinta Pram, dengan berat hati mengucapkannya.


Sudah sejak beberapa minggu, kalimat ini mengumpul di dadany, sulit terucap dari bibirnya tetapi malam ini lolos tersampaikan.


“Kamu tahu kan, hidupmu tidak akan lepas dariku selama menjadi istri Reynaldi Pratama. Aku mengetahui banyak hal, yang bahkan kamu sendiri tidak mengetahuinya,” jelas Pram.


“Kalau menyukainya, katakan padaku. Aku akan melepaskanmu untuknya. Kalau memang tidak menyukainya, tinggalkan dia. Tetap berhubungan dengannya, apapun alasannya hanya akan membuatmu berada di titik terendah, kalau masih menyandang status istriku,” lanjut Pram, berterus terang.


“Kenapa kamu berkata seperti itu?” tanya Kailla mulai sedih. Dia sendiri tidak paham arah pembicaraan suaminya.


“Kemarilah, aku akan ceritakan padamu,” ajak Pram, meraih tangan Kailla dan mengajak istrinya duduk di sofa.


Tangan kekar itu memeluk bahu mungil Kailla dan membawanya merapat di dada bidangnya yang telanjang.


“Kamu tahu, aku lelaki tua yang selalu mengatur hidupmu,” ucap Pram membuka pembicaraan.


“Hmmm, aku tahu itu,” sahut Kailla, memainkan jemarinya. Mengukir tanpa bentuk di dada Pram, menulis tanpa kejelasan dengan ujung telunjuknya.


“Kamu tahu, aku tidak pernah marah, cemburu atau pun mengomel ketika kamu memeluk Sam, memeluk bahkan mencium pipi Pieter di depan mataku sekalipun.”


“Hmm, aku tahu. Makanya aku berani melakukannya di depanmu,” sahut Kailla, tersenyum, mendongak menatap suaminya.


“Bahkan aku tahu, kamu sering menangis di pundak Bayu,” lanjut Pram.


“Dan aku tidak pernah protes untuk pelukanmu pada ketiga orang ini.”


“Lalu apa yang mau kamu sampaikan?” tanya Kailla.


“Tetapi ada lelaki tertentu, aku akan cemburu sekali bahkan disaat kamu hanya memandangnya,” cerita Pram.


“Jatuh cinta itu berjuta rasanya. Ketika kamu merasakan sesuatu yang tidak biasa. Merasakan getaran aneh saat menatapnya. Kamu bisa tersenyum bahagia hanya dengan mendengar suaranya atau melihatnya dari kejauhan. Mungkin itu awal dari yang namanya jatuh cinta,” jelas Pram.


“Dan aku tahu, saat bersamaku. Kamu tidak melewatkan tahapan ini,” lanjut Pram.


“Kita berdua. Bahkan aku juga tidak melewatkan tahapan ini saat bersamamu. Kita bersama karena keadaan, kita menikah karena terpaksa, kita jatuh cinta karena tuntutan dan bertanggung jawab dengan hubungan yang kita sebut suami istri.”


Mata indah Kailla tertegun, menerawang dalam keremangan kamar tidur mereka.


“Aku bersamamu sejak kecil. Hanya melihat ekpresi wajahmu saja, aku tahu isi hatimu. Aku bukan hanya sekedar suamimu, aku bahkan sudah seperti daddymu,” jelas Pram.


“Aku tahu bagaimana perasaanmu saat mendapat hadiah dari Dion pertama kali saat di puncak. Wajahmu berbeda, sangat berbeda. Ratusan hadiah mahalku untukmu selama ini bahkan tidak pernah mendapatkan sambutan seluar biasa itu,” ucap Pram.


“Aku tidak pernah mendapati ekpresi itu saat memberimu hadiah selama ini,” lanjut Pram.


“Yang kamu rasakan dulu dengan Dion itu adalah sebuah perasaan yang mungkin mengarah ke jatuh cinta.”


“Kalau kita tidak bertunangan saat itu, tentu kamu akan menerimanya dengan tangan terbuka, bukan?” ucap Pram dengan helaan nafas berat.


Dan Kailla, istrinya itu sedang meresapi kata demi kata yang keluar dari bibir Pram, mencoba memahami. Dan tebakan Pram mungkin benar adanya.


Pelukan Pram semakin erat. “Dan empat bulan ini, aku melihat kembali ekspresi yang begitu aku nantikan selama pernikahan kita, tetapi bukan untukku,” jelas Pram.


“Apakah kamu jatuh cinta pada seseorang? Tatapanmu itu tidak bisa berbohong. Kamu hanya belum menggali perasaanmu sendiri,” todong Pram.


“Kamu tahu Kai, ada satu waktu ketika aku melihat istriku tersenyum pada seseorang yang bahkan belum dikenalnya pada saat itu. Setiap menerima hadiahnya, istriku akan terdiam. Berusaha melawan kata hatinya sendiri.”


“Terimakasih karena masih menjaga perasaanku dengan diammu, meskipun aku tahu ada getaran lain di hatimu saat memeluk hadiah darinya. Ekspresimu tidak bisa berbohong.”


“Meskipun bibirmu mengatakan tidak,” lanjut Pram.


Kailla yang sudah menangkap arah pembicaraan Pram hanya terpaku diam. Pram mengeluarkan ponsel yang dari kantong celananya.


Dia melempar ponsel itu dengan kasar di atas meja. Bunyi benda pipih persegi berbenturan dengan meja kayu itu menimbulkan suara yang sangat nyaring. Kailla terkejut.


“Maaf, empat bulan ini aku memata-mataimu,” ucap Pram.


“Di dalam sana ada bukti pengkhianatanmu!” tegas Pram tidak bisa berlemah lembut lagi.


Kailla meraih ponsel suaminya dengan cepat. Mencari semua informasi yang baru saja disampaikan Pram padanya.


“Bahkan kamu masih menemuinya siang tadi di rumah sakit,” ucap Pram dengan menahan air matanya.


Tangan Kailla sedang membuka galeri foto di ponsel suaminya. Ada puluhan fotonya dan Ditya disana.


“Aku sangat mengenal istriku. Dia tidak memiliki keberanian seperti ini, kalau tidak memiliki perasaan lebih,” ucap Pram. Dua bulir air mata itu menetes sudah, tidak sanggup ditahan. Menangis di depan istrinya sendiri.


“Perasaanmu padanya sudah sejauh mana?” tanya Pram, tanpa ditutup-tutupi.


Kailla diam. Dan diamnya Kailla cukup menjawab semuanya.


“Shitt!!! Kamu jatuh cinta padanya pada pandangan pertama,” ucap Pram, menegaskan. Segera melepaskan pelukannya, mengurut pelipisnya sendiri.


“Aku mau mandi dulu, Kai. Kamu tidur saja, aku mau berendam,” ucap Pram, mengecup kening Kailla sekilas sembari tersenyum getir.


Baru saja Pram hendak melangkah menuju ke kamar mandi. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya, berbalik. Istrinya masih terpaku memandang ponselnya.


“Aku tidak menyalahkanmu. Jatuh cinta bukan suatu kesalahan. Namun akan menjadi kesialan disaat cinta itu datang tidak pada tempat dan waktu yang tepat.”


"Beruntunglah orang-orang di luar sana bisa jatuh cinta pada orang yang tepat di waktu yang tepat pula, tetapi itu tidak berlaku untukmu Kai. Kamu jatuh cinta mungkin pada orang yang tepat, namun di waktu yang salah. Di saat kamu masih menjadi istriku."


"Aku tidak seperti itu," tolak Kailla, akhirnya bersuara.


"Tidak perlu membantah atau mengiyakan. aku tidak menghakimimu. Perasaanmu seperti apa, kamu yang paling tahu, Kai. Hubungan kita ada di tanganmu," ucap Pram, berusaha tersenyum.


“Sakit.. tentu sakit rasanya, Kai. Sama seperti Dion, aku tidak bisa mendatangi dan memukulnya seperti yang aku lakukan pada lelaki lain. Karena masalahnya bukan di mereka, tetapi di istriku. Istriku yang main hati,” lanjut Pram.


Kembali air mata itu menggenang. Tidak mungkin dia menunjukkan kehancuran perasaan dan harga dirinya di depan Kailla.


***


Spoiler ternyata ada di next bab, karena terlalu panjang. Hari ini Pram akan up 2 bab ya.


To be continued


Love You all


Terima kasih.