Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 104 : Making love di siang bolong


Pram dan Kailla sudah duduk di depan dokter kandungan yang menangani Kailla dari sebelum hamil, hamil, keguguran dan sekarang.


“Bagaimana Pak, Bu?” sapa sang dokter kandungan wanita yang mulai hafal dengan keduanya.


Kailla terlihat mengeluarkan hasil tes laboratorium yang baru saja minggu lalu diambilnya. Hasil tes miliknya dan Pram juga, menyerahkannya kepada sang dokter.


Dokter terlihat membaca satu persatu hasil tes yang sudah dijalankan keduanya. Sampai akhirnya sebuah senyuman sempurna merekah di bibirnya.


“Hasilnya baik, semuanya normal. Baik Bapak dan Ibu sehat, tidak ada kendala apapun,” jelas Ibu dokter mengangkat pandangannya dari kertas hasil tes laboratorium.


Tangan cekatan dokter itu beralih pada amplop lain yang tersisa, membacanya kembali. Jemarinya terlihat menggaris di atas hasil tes yang berupa angka-angka tidak dipahamai oleh orang awam.


“Hasil tes torch juga bagus. Tidak ada tokso dan sejenisnya. Semuanya baik. Kemungkinan hanya diperlukan kesabaran lebih saja,” jelas sang dokter, tersenyum pada Pram dan Kailla.


“Ayo Ibu, kita periksa lagi. Jangan bosan-bosan ya. Siapa tahu beberapa minggu lalu belum hadir, tiba-tiba sekarang sudah ada yang bersembunyi di dalam,” ucap Ibu dokter, meminta Kailla berbaring di atas brankar dan mulai melakukan pemeriksaan biasa.


Kailla sudah terlalu sering berkunjung, sudah hafal. Sampai rasa gugup yang di awal-awal begitu mendominasi, saat ini dia merasa ruangan dokter itu sudah seperti rumah sendiri.


“Wah, sepertinya masih belum sampai kiriman paketnya, Bu,” ucap Ibu dokter menggunakan kata candaan untuk membuat pasiennya lebih santai dan tidak menelan kecewa kembali. Setelah hampir empat bulan ini selalu gagal.


Jemari tangan dokter itu sedang mencoret tanpa kejelasan dengan tulisan cacingnya di atas meja kebesarannya. Coretan yang hanya bisa dibaca apoteker, kemungkinan seperti itu.


“Seperti biasa, saya hanya meresepkan vitamin. Tetap hidup sehat, berolahraga teratur, konsumsi makanan sehat dan jangan stress,” nasehat sang dokter sebelum menyalami keduanya.


Keduanya melangkah keluar ruang praktek dokter dengan lemas. Hasil yang sama, berulang kali harus mereka terima.


“Sayang, kamu langsung pulang ke rumah atau kembali ke tempat daddy?” tanya Pram, menyerahkan bungkusan berisi vitamin yang baru saja didapatkannya dari apotik.


“Aku lelah, mungkin aku pulang ke rumah saja,” ucap Kailla, menghela nafas kasar melihat isi kantong.


“Kenapa vitamin yang ini lebih besar dari vitamin sebelumnya?” keluh Kailla menatap suaminya.


“Semangat berjuang, Sayang,” bisik Pram.


“Ah. Kenapa tidak kamu saja yang minum vitaminnya,” lanjut Kailla mendengus kesal. Lagi-lagi dia harus meminum vitamin berukuran raksasa.


“Sudah, jangan cerewet. Nanti aku minta dokter menyuntikmu saja, kalau tidak mau minum vitamin,” ancam Pram seketika membuat Kailla menciut.


“Tidak! Aku tidak mau disuntik. Itu lebih mengerikan dibanding harus minum vitamin.”


“Ya sudah. Kalau begitu jangan banyak protes!”


***


Mobil yang dikendarai Bayu, baru saja tiba di gerbang rumah. Terlihat security berlari untuk membukakan pintu. Kailla yang hampir tiap hari menghabiskan waktu di rumah sakit, membuat para orang rumah keheranan saat bayangannya muncul di depan pintu.


“Non, kok pulang cepat hari ini?” tanya Ibu Ida.


“Iya, aku capek Bu. Mau tidur sebentar,” sahut Kailla,melenggang naik ke lantai dua. Tempat dimana kamar tidurnya berada.


Pram yang mengikuti di belakang, tampak menyerahkan kantong berisi vitamin pada Ibu Ida.


“Itu vitamin Kailla, ingatkan anak nakal itu untuk meminumnya tepat waktu,” perintah Pram. Ikut menapaki anak tangga yang mengantarnya ke kamar.


Begitu Pram melangkah masuk ke kamar tidurnya, tampak Kailla sudah merebahkan diri, telentang di atas tempat tidur sembari merentangkan tangan selebar-lebarnya. Menaik turunkan kedua tangannya seperti sedang terbang.


“Hmmm, nyaman sekali,” ucap Kailla,. Wajah terpejam itu mengulas senyuman manis di bibirnya. Senyuman itu belum menghilang sempurna, saat tiba-tiba Pram mengecupnya hangat. Kecupan ringan yang semakin dalam. Semakin menuntut dan penuh decapan hasrat.


Deg—


Mata Kailla membuka dengan jantung memburu, mendapati Pram menguntitnya sampai ke kamar tidur mereka.


“Sayang, bukankah katanya mau ke kantor?” tanya Kailla heran, setelah mendorong kecil tubuh Pram yang menindihnya.


“Aku berubah pikiran, Sayang,” bisik Pram, pelan. Menghembuskan nafas pelan di telinga Kailla, sontak membuat istrinya itu bergidik. Menatap suaminya dengan pandangan penuh kengerian.


“Tidak! Ini masih siang. Kamu jangan memancingku!” tolak Kailla, setelah berhasil menguasai tangan Pram yang menelusup masuk ke balik kaos putihnya.


“Ayolah, kita coba membuatnya siang hari,” bujuk Pram. Tanpa basa-basi, tangannya sudah menarik keluar kaos Kailla melewati kepala, tertinggal bra dengan warna senada bermotif renda.


“Ah.. kamu tidak ke kantor?” tanya Kailla, berusaha mengalihkan perhatian Pram. Suaminya itu sudah menelusupkan tangan kanannya di balik punggung Kailla, meraba-raba. Mencari pengait yang akan membebaskan dua buah tawanan yang belasan tahun dikungkung Kailla dengan bra mahalnya.


Srettt! Tidak sampai lima detik, keajaiban dunia ke delapan setelah Taj mahal di India dan tembok besar China itu terpampang nyata dan siap menggoda.


“Ah! Kenapa kamu jadi menyebalkan sekali!” keluh Kailla. Tubuh ramping itu sudah duduk tegak. Bersiap memberi perlawanan.


“Sudah, sebaiknya menurut saja, Kai,” ucap Pram, melonggarkan simpulan dasi di leher. Cukup dengan satu tarikan, dasi itu pun bernasib sama dengan bra milik istrinya. Beralih membuka satu persatu kancing kemeja birunya, tersenyum menyeringai sambil mempertontokan dada bidang lengkap dengan beberapa potong roti sobek di otot perutnya.


“Ah..!” Kailla protes kembali, kala Pram lagi-lagi menindih dan mengecup seluruh wajah kemudian turun beberapa senti dan mengecup basah leher jenjang mulus yang sudah menengadah ke atas kala tangan Pram yang nakal mulai meremas dan menangkup gundukan kembar yang istimewa.


Protes kecil Kailla berganti desahan ringan saat Pram mulai menebar stempel kepemilikan hampir di sebagian tubuh atas istrinya.


Empat tahun mengarungi bahtera pernikahan dengan Kailla, tentu Pram sudah menamatkan banyak hal tentang istrinya, termasuk trik untuk menumbangkan Kailla di atas ranjang.


Desahan kecil dari bibir tipis Kailla semakin memacu nafsu dan hasrat Pram. Hampir menggila saat dia berhasil menanggalkan seluruh benang yang melekat di tubuh indah istrinya. Saat ini setengah otak Pram sudah di awang-awang, setengahnya lagi tertinggal di ruang rapat.


Ya Tuhan, demi apa coba dia meninggalkan proyek puluhan miliar di meja rapat hanya untuk bersenang-senang dengan istrinya di tempat tidur.


Tangan Pram yang tadinya bergerilya di bagian atas, beralih menyusuri lekuk pinggang ramping dan kian turun ke bawah. Membuat Kailla melayang-layang ke udara.


Dengan setengah memohon, istrinya itu pun akhirnya merengek sudah, setelah menunggu sekian lama, Pram hanya mempermainkan perasaannya.


“Ayo, Sayang,” pinta Kailla, memohon. Pram yang berada di atas angin hanya tersenyum penuh usil, mempermainkan istrinya di saat terpenting. Namun, pada akhirnya Pram melemah, setelah melihat Kailla bak cacing kepanasan tersiram cairan sabun pencuci tangan.


Penyatuan indah di kala mentari masih memamerkan kegagahannya. Berhias peluh dan keringat diiringi alunan nafas keduanya yang memburu dan tersengal hebat.


Kailla bahkan harus berkali-kali menancapkan kuku panjangnya di punggung kekar suaminya, setiap kenikmatan yang hakiki itu menghampirinya. Bukan yang pertama, tetapi setiap menghabiskan kebersamaannya dengan sang suami, semua terasa indah.


Pencapaian terakhir yang sempurna pada kesepakatan bersama. Dengan meremas kasar rambut bergelombang milik Pram, disertai pekikan tertahan karena Pram menyodorkan bahunya untuk digigit istrinya saat mencapai tempat terindah di kerja sama mereka saat ini.


Desahan feminim yang bercampur erangan maskulin itu menandakan peletakan batu pertama selesai sudah. Pram menghadiahkan sebuah kecupan hangat pada kening berkeringat istrinya, yang memaksa tersenyum di kala kelelahan melanda.


“Terimakasih Sayang,” bisik Pram setiap kali menyelesaikannya.


Senyuman tanpa suara di bibir Kailla cukup untuk menjawab semuanya.


“Tetap berbaring disana sampai bayi-bayiku menemukan persembunyiannya. Kalau kamu bangun sekarang, aku khawatir anak-anakku bakal main kabur-kaburan seperti mamanya dulu,” canda Pram penuh dengan keseriusan di dalamnya.


***


Pram baru saja keluar dari walk in closet kamarnya setelah tadi sempat membersihkan diri sebentar. Langkah kakinya terhenti saat menatap Kailla yang tidur dalam damai.


Dengkuran halus diiringi nafas pelan yang teratur menandakan istrinya sudah terlelap dengan nyaman. Sehingga membuatnya tidak tega untuk membangunkannya. Lelaki itu sudah menarik gorden, membuat kamar menggelap seketika. Menyalakan lampu tidur supaya Kailla bisa menikmati kenyamanannya.


Tangan kekar itu juga merapikan selimut yang menutup tubuh polos istrinya saat ponsel di nakas berderit kecil karena getaran ponsel. Pram sengaja mematikan suara deringnya di saat bersama Kailla.


Puluhan pesan gambar yang dikirimkan oleh orang suruhan Pram membuat emosi Pram memuncak. Istrinya lagi-lagi bermain kucing-kucingan di belakangnya.



Mata menerawang dengan senyum yang tiba-tiba menghilang dari sudut bibir, Pram hanya bisa mengepalkan tangannya untuk saat ini. Menampilkan buku-buku yang memutih demi menahan emosi diri.


***


To be continued


Love You all


Terima kasih