
“Aku tidak rela, Sayang. Cium aku untuk yang terakhir kalinya,” pinta Pram, merentangkan tangan siap menyambut Kailla.
Kailla sejak tadi hanya bisa menangis. Pram memberinya kejutan yang bahkan tidak sanggup diterimanya. Rasanya antara percaya dan tidak percaya, diambang batas yakin dan tidak yakin. Sosok yang berdiri dengan koper silver di tangannya seperti bukan Pram, suaminya yang selama 4 tahun ini menemani hidupnya.
Lelaki yang menghapus air matanya dikala dia menangis. Lelaki yang menyediakan bahunya dengan sukarela di kala dia lemah dan terjatuh. Namun, lelaki yang selama 24 tahun ini menjaganya akan meninggalkannya seorang diri.
Saat Anita datang dan mengacaukan kehidupannya, dia masih bisa berdiri tegar. Saat penculikan yang berujung kegugurannya, dia masih bisa bangkit. Bahkan saat mertuanya memaki dan menjatuhkan harga dirinya dia masih bisa kuat,
Namun, saat Pram mengatakan kata cerai, duninya runtuh seketika. Menolak percaya dan tidak bisa terima. Tidak terbayang harus hidup tanpa lelaki yang sudah menjadi bagian dari dirinya.
“Tidak! Kamu tidak sungguh-sungguh menceraikanku kan? Katakan padku kalau ini cuma prank, Sayang!” pinta Kailla, menghambur dan memeluk erat suaminya. Mendekap dan menangis hebat di dada bidang Pram.
“Kamu tidak boleh kemana-mana!” perintah Kailla di sela isaknya, meraih koper dari gengaman tangan Pram dan melemparnya sampai membentur meja kerja.
Brakk!!
Bunyi koper yang menghantam meja dan tergeletak di lantai membuat Pram tersenyum.
“Sayang, sudah,” bisik Pram, mengelus rambut panjang Kailla yang tergerai berantakan. Dia bisa merasakan pelukan erat Kailla yang membelit pinggangnya dan tidak mengizinkannya pergi.
“Jangan pergi!” Kailla menangis seperti anak kecil yang merengek pada ayahnya. Kedua kakinya menghentak ke lantai bergantian dengan kasar, seiring dengan tangisnya semakin kencang.
Dia masih belum bisa menerima, semuanya begitu mendadak dan tiba-tiba. Tidak ada pertengkaran, tidak ada perdebatan. Bahkan mereka baru saja menghabiskan malam panjang indah berdua.
Namun, tiba-tiba Pram bangkit dan menyodorkan gugatan cerai yang harus ditandatangani. Penolakannya berujung dengan Pram yang pada akhirnya menoreh tinta di atas materai. Dunia Kailla hancur, runtuh tidak bersisa..
“Sudah. Jangan menangis,” pinta Pram lembut. Menangkup wajah cantik berantakan, berhias air mata.
Kailla menggeleng, membenamkan wajahnya ke dalam dada suaminya kembali. Pram bisa. merasakan jelas penolakan Kailla yang begitu kuat.
“Ayo, aku temani tidur,” ajak Pram, mengengam tangan Kailla dan membawanya kembali ke kamar mereka yang sebentar lagi hanya akan menjadi kamar Kailla seorang.
Saat palu hakim membentur meja, artinya Pram hanya akan menjadi orang luar, tidak memilik hak apapun atas diri Kailla.
Kailla masih enggan melepas, bahkan sambil berjalan pun tetap memeluk pinggang kekar Pram dengan erat. Masuk ke dalam kamar, Kailla langsung mengunci pintu. Menarik anak kunci dan berlari ke kamar mandi. Membuang anak kunci itu ke dalam kloset duduk dan menekan tombol yang membuat air menghambur keluar. Anak kunci itupun lenyap ke dalam kloset, menghilang seketika.
“Kai, apa yang kamu lakukan?” tanya Pram, terkekeh. Dia harus mengekor Kailla ke kamar mandi, khawatir istrinya akan berbuat hal-hal di luar akal sehat.
“Ayo, kita tidur sekarang,” pinta Pram, ikut masuk ke dalam kamar mandi. Baru saja akan meraih tangan Kailla, tetapi istrinya menolak.
“Tidak. Mau gendong,” pinta Kailla dengan manja. Bergegas naik ke atas kloset, menunggu Pram menyetujui permintaannya. Seperti biasanya, kemanjaannya akan meluluhkan suaminya.
“Ayo!” Pram menurut, segera berjongkok dan menyodorkan punggungnya tanpa protes. Semakin lama Kailla berdiri diatas kloset duduk itu, semakin berbahaya. Bisa saja tutup kloset itu tidak sanggup menopang berat tubuh Kailla dan membuatnya terjatuh.
Kedua tangan yang merangkul erat di leher, ditambah berat beban yang mulai terasa dipunggungnya. Pram berjalan sembari menggendong istrinya keluar. Menikmati detik demi detik kebersamaannya dengan Kailla yang mungkin nanti tidak bisa dirasakannya lagi.
“Aku tidak mau bercerai,” bisik Kailla di telinga Pram. Tangisnya keluar lagi, tetapi tanpa suara. Hanya sesekali terdengar isak pelan sampai akhirnya tubuhnya diturunkan perlahan ke atas tempat tidur.
“Tidurlah,” pinta Pram, setelah memastikan Kailla berbaring dengan nyaman di atas tempat tidur empuknya. Kamar itu masih berantakan, sisa-sisa pergulatan panasnya dan Kailla masih terlihat jelas.
“Tidur bersamaku di sini,” rengek Kailla, menarik tangan Pram yang sedang menyelimutinya.
“Iya, Sayang.”
Pram mengalah, merebahkan diri di samping Kailla. Berbaring telentang dengan kedua tangan menopang kepalanya. Pandangan menerawang ke langit-langit sembari mengigit bibir, menahan tangisnya.
Melihat berbagai tingkah Kailla sejak tadi, rasanya dia ingin menangis. Pertahanan diri dan keyakinan yang berusaha dikumpulkan sejak kemarin hampir luntur. Dia hampir menyerah dan membatalkan semuanya. Namun, semua ini dilakukannya untuk Kailla.
Keputusan untuk bercerai bukanlah mudah. Sejak dulu, Pram sudah menyiapkan hati kalau sewaktu-waktu tidak sanggup meluluhkan hati Kailla. Kehadiran Ditya di antara mereka membuka matanya, kalau kebahagiaan Kailla bukan bersamanya.
Pilihan terberat di dalam hidupnya. Sedikit pun, Pram tidak menyangka, akan berada di titik ini. Mungkin dia terlalu percaya diri selama ini, sudah memiliki Kailla seutuhnya. Namun, empat bulan terakhir ini menyadarkannya.
Sebelum mengambil langkah ini, dia sudah bersimpuh memohon ampun di depan makam mama Kailla, bahkan sudah meminta maaf pada Riadi yang sedang menikmati tidur panjangnya. Tadi siang dia sudah memohon maaf pada keduanya, sebelum mengambil keputusan bercerai.
Kailla masih memeluk erat tubuh Pram, seolah takut ditinggalkan. Mata indah itu masih membuka, tidak mau terpejam. Perasaan tidak mau ditinggalkan menguasai dirinya, membuat kantuknya menghilang.
“Tidurlah Kai,” pinta Pram, menatap pucuk kepala Kailla dari posisi tidurnya. Istri yang sebentar lagi akan jadi mantan itu sedang membenamkan wajah di dadanya.
“Aku tidak mau tidur. Nanti kamu akan pergi meninggalkanku,” sahut Kailla dengan wajah cemberut.
“Kalau sudah bercerai nanti, kita tidak bisa seperti ini lagi. Aku tidak mau dikeroyok warga kampung karena berbuat zinah dengan janda di Pantai Mutiara,” sahut Pram, menyembunyikan perasaan dan sakitnya dengan bercanda.
“Aku tidak mau bercerai denganmu,” bisik Kailla. Airmatanya turun lagi, tidak terbendung. Sesekali menarik cairan yang menyumbat di hidungnya.
Pram menghela nafas kasar.
“Aku datang ke acara wisudamu kemarin. Dan aku melihatmu memeluk Ditya sambil menangis,” cerita Pram, dengan suara tertahan. Bergetar menahan gejolak rasa yang menyesak di dada.
“Karena itu kamu menceraikanku?” tanya Kailla, mengeratkan pelukannya.
“Tidak. Rasa cemburu itu pasti ada, tetapi...” Pram menghentikan ucapannya.
“Maafkan aku, Sayang,” potong Kailla.
“Kemarilah!” Pram menarik tubuh Kailla supaya mendekat padanya. Memeluk tubuh istrinya tidak kalah eratnya dengan pelukan Kailla padanya.
“Aku tidak marah padamu, aku tidak cemburu padamu lalu membuat keputusan bercerai”
“Aku melakukannya karena kecewa pada diriku sendiri, bukan kecewa padamu. Aku sudah gagal jadi seorang suami. Aku tidak bisa membahagiakanmu.”
“Tidak..seperti itu, Sayang,” ucap Kailla terbata.
“Seharusnya sejak dulu, aku melepaskanmu. Atau tidak menuruti permintaan daddy untuk menikahimu, meski daddy memaksa,” jelas Pram.
“Aku tidak bisa membahagiakanmu. Mungkin ada lelaki lain yang bisa membahagiakanmu,” lanjut Pram.
Kembali Kailla menggeleng dan menangis.
“Sssttt, jangan menangis. Aku tidak mau jadi egois. Karena hubungan kita bukan sekedar suami istri, kamu sudah seperti anakku,” ucap Pram.
“Kebahagiaanmu prioritasku,” ucap Pram.
“Kalau aku membebaskanmu, kamu bisa dengan lelaki manapun, tidak perlu takut dicap perempuan murahan. Kalau kita berpisah, kamu bisa mencintai pria manapun, tanpa khawatir dengan tuduhan berselingkuh dari suamimu.”
“Aku tidak mau berpisah denganmu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup tanpamu,” ucap Kaila di sela isaknya.
“Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan tetap menjagamu. Bahkan aku tidak bisa menikah lagi setelah kita berpisah. Aku terikat janji dengan kedua orangtuamu,” ucap Pram, sebuah kecupan hangat dilabukan Pram di pucuk kepala Kailla.
“Maafkan aku, untuk apa yang kita lakukan tadi. Aku begitu tidak berperasaan. Memberimu surat cerai setelahnya.”
“Kalau boleh egois, aku masih berharap kamu hamil setelah ini dan aku punya alasan tidak menceraikanmu,” ucap Pram, memejamkan matanya. Berusaha agar air yang mengenang di kedua bola matanya tidak terjatuh lagi.
Tubuh Kailla bergetar hebat di dalam pelukan Pram, menangis sampai kesulitan bernafas.
“Sayang, bisakah menciumku,” pinta Pram, memohon.
Ada jeda sejenak, sampai akhirnya terasa pergerakan dari Kailla. Dengan setengah menindih tubuh Pram yang masih berstatus suaminya. Menangkup wajah tampan yang mulai terlihat kerutan di kedua sudut matanya itu dengan kedua tangannya.
Perlahan Kailla melabuhkan kecupan di bibir Pram, ciuman hangat yang langsung disambut. Keduanya sedang menikmati ciuman yang mungkin akan menjadi ciuman terakhir. Tampak Pram menggulingkan tubuh Kailla, mengambil alih semuanya.
Kali ini Pram yang mencium Kailla dengan penuh perasaan. Menikmati ciuman dengan berurai air mata, sembari memeluk pinggang lelaki yang sekarang berada di atasnya.
“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu,” ucap Pram, setelah melepas ciumannya.
“Sayang, aku juga mencintaimu,” bisik Kailla pelan.
Kali ini Pram tergelak, membenturkan dahinya dengan dahi Kailla.
“Kalau mencintaiku, tidak akan menyakitiku. Kalau mencintaiku, tidak akan menyukai lelaki lain. Kalau mencintaiku, tidak akan mau menyentuh dan disentuh lelaki lain,” ucap Pram, lembut. Lelaki itu masih sempat merapikan anak rambut Kailla yang berantakan, menggesekan hidungnya dengan hidung mancung Kailla yang memerah karena terlalu banyak menangis.
“Aku akan pergi setelah kamu tertidur,” bisik Pram pelan, tersenyum hangat.
Kailla menggeleng, menolak kembali, menatap wajah Pram yang masih menindih tubuhnya.
“Aku tidak mau kamu pergi,” rengek Kailla dengan manja.
“Aku tidak kemana-mana. Aku kembali ke apartemenku yang lama. Kamu bisa menemuiku di sana, bisa juga menemuiku di kantor.”
“Aku tidak mau. Jangan pergi. Aku pasti merindukanmu. Siapa yang akan memelukku saat tidur,” pinta Kailla.
“Kamu bisa menghubungiku setiap saat,” ucap Pram.
“Aku akan ada untukmu seperti dulu. Sebelum kita menikah,” lanjut Pram.
“Tidak bisakah membatalkan perceraian ini. Aku tidak mau berpisah. Aku mohon,” pinta Kailla, dengan wajah sembab dan memelas.
“Awalnya, pasti akan berat untuk kita. Aku juga merasa begitu, aku yakin kamu akan melupakanku sampai saatnya tiba,” ucap Pram.
“Dengan sendirinya Reynaldi Pratama akan hilang dari hatimu, bahkan jejaknya pun tidak bersisa di sini,” ucap Pram, telunjuknya mengarah ke dada Kailla.
Pram berpindah, memilih duduk di sisi tempat tidur. Terlalu lama dalam posisi ini, dia akan semakin sulit melepaskan Kailla.
“Jangan katakan apapun pada mama. Biarkan mama tetap tidak tahu apa-apa,” pinta Pram.
“Bayu akan kembali menjagamu. Aku tidak tenang meninggalkanmu sendirian. Sebisa mungkin jangan membuka identitasmu pada siapapun. Dunia ini kejam.”
“Aku berharap orang itu Ditya. Karena dia akan menjagamu, seperti aku menjagamu. Mungkin kalau dia yang mengekangmu, membatasi ruang gerakmu, kamu tidak akan protes,” ucap Pram lagi.
“Ketika mencintai seseorang, cobalah untuk mengerti alasan dibalik semua yang dilakukannya untukmu. Tidak ada seorang pun yang dengan sengaja membatasi ruang gerak orang lain tanpa alasan. Belajarlah mengerti kehidupanmu sendiri. Kamu tidak bisa membandingkannya dengan kehidupan orang lain, karena akan terlihat tidak adil untukmu.”
***
Pram baru bisa meninggalkan Kailla saat hari menjelang pagi. Istrinya tidak mau tidur semalaman, takut ditinggal pergi. Setiap Pram bergerak, Kailla akan tersadar. Bahkan dia memeluk Pram dengan erat seolah takut terlepas.
Hampir pukul enam pagi, barulah Kailla tertidur pulas. Sampai tidak sadar saat Pram memberinya kecupan selamat tinggal. Kailla terlalu banyak menangis dan kelelahan.
“Aku berharap ada yang menetap disini setelah semalam, jadi aku punya alasan untuk tidak meninggalkan kalian,” ucap Pram berbisik, mengusap perut rata Kailla.
“Dan aku punya alasan untuk menahan gadis nakal ini tetap disisiku,” lanjut Pram.
“Aku benar-benar pria tua yang tidak tahu diri,” ucap Pram lagi.
Terlihat Pram sudah berganti setelan kerja, menghubungi Sam untuk membuka pintu kamar tidurnya dengan kunci cadangan. Tidak lama, Sam muncul di balik pintu kamar dengan kostum kebangsaannya. Kaos butut lengkap dengan sarung kotaknya.
“Iya Pak,” sapa Sam dengan wajah mengantuknya.
“Ikut aku ke ruang kerja,” perintah Pram, melenggang keluar melewati Sam yang sibuk merapikan sarungnya.
Sam berdiri keheranan melihat koper terguling di ruang kerja. Namun, belum sempat bertanya lebih jauh, Pram sudah bercerita lebih dulu.
“Aku memutuskan berpisah dengan Kailla,” cerita Pram, duduk di kursi kebesarannya. Dengan tangan saling menaut di atas meja.
“Ha?! Bagaimana bisa?” tanya Sam, reflek. Seolah tidak yakin dengan apa yang didengarnya.
“Tolong jaga Kailla untukku. Kabari aku segera kalau terjadi sesuatu padanya.”
“Baik Pak!”
“Laporkan semua lelaki yang mendekatinya. Aku perlu tahu lelaki seperti apa yang akan mengantikan posisiku. Apakah dia benar-benat mencintai Kailla atau hanya memanfaatkan kepolosannya,” perintah Pram.
Terlihat Pram melempar sebuah amplop coklat yang baru saja dikeluarkan dari laci meja kerja.
“Itu semua musuh Riadi yang aku ketahui. Sebisa mungkin jauhkan Kailla dari mereka,” jelas Pram.
“Jangan biarkan dia berbicara dengan orang asing yang mencurigakan! Selalu ingatkan para asisten, untuk tidak membahas masa lalu Kailla”
“Iya Pak!”
“Jangan sampai orang lain tahu kalau aku berpisah dengan Kailla. Aku tidak mau memberi celah mereka mendekati Kailla untuk membalas dendam Riadi,”
“Bayu akan kembali menemani Kailla. Tolong aku, Kailla paling menurut padamu,” lanjut Pram.
Lelaki itu sudah meraih kopernya bergegas keluar ruang kerja tanpa menoleh lagi. Terlalu berat langkah kakinya untuk pergi, tetapi ini mungkin yang terbaik untuk Kailla.
***
Pram tiba di apartemennya kala matahari mulai menyingsing. Dia tidak berpamitan dengan banyak orang di rumahnya. Hanya menceritakan semuanya dengan Sam, orang kepercayaannya selain Bayu yang memang sudah tahu semuanya sejak kemarin.
Dengan kacamata hitam, berusaha menutupi wajah sembab dan kurang tidurnya, Pram masuk ke lobi apartemennya. Semalam dia tidak bisa tidur, Kailla semalaman merengek padanya, tidak mau lepas darinya.
Dengan menyeret kopernya, melangkah masuk, berusaha menguatkan hatinya yang sedang hancur berkeping-keping. Tidak ada lagi yang tersisa dari seorang Pram. Lelaki yang melangkah dengan gagah dan tegar saat ini hanyalah raga tidak berpenghuni.
Kehilangan Anita di masa lalunya tidak seberat ini. Setidaknya dia masih bisa menegakan kepala menatap dunia. Namun, kali ini berbeda, dia bahkan kehilangan dirinya sendiri. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di hidupnya ke depan.
Saat melangkah masuk ke apartemennya, dia langsung melempar kacamata dan jas hitamnya asal, menghempas kasar tubuhnya di lantai bersandar di tempat tidur. Sejak semalam dia berusaha terlihat tegar dan kuat, meskipun airmata itu sempat meluncur turun beberapa kali.
Empat tahun berumah tangga dengan Kailla, tetapi semuanya sebentar lagi hanya akan tinggal kenangan. Tidak adalagi yang tersisa dari hubungan mereka.
Sebentar lagi, dia bukan lagi suami Kailla dan sebaliknya Kailla bukan lagi Nyonya Reynaldi Pratama. Tidak akan ada lagi kemanjaan Kailla yang luar biasa di dalam hidupnya. Tidak akan ada lagi senyum polos dan usil istri yang menyambutnya setiap pulang kerja.
Airmata yang tertahan sejak semalam, jatuh sudah. Disini dia bebas menangis sepuasnya. Bebas mengekspresikan luka dan kehancuran dirinya. Tidak perlu berpura-pura tersenyum dan tegar. Tidak perlu terlihat kuat di depan semua orang.
***
To be continued
Love You all.
Terima kasih.