Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 134 : Makhluk Tuhan paling seksi


Persetujuan Ibu Citra tentu saja membuat kebahagiaan Pram meletup. Mamanya sudah mengiyakan akan tinggal sementara untuk menemani Kailla. Lelaki itu bahkan langsung menunjukan kamar yang akan digunakan sang mama selama menginap.


“Sayang, kenapa kamu meminta mama tidur di sebelah kamar kita. Kasihan mama harus turun naik tangga kalau tidur di lantai dua,” protes Kailla setelah memiliki kesempatan berdua dengan suaminya di kamar.


“Supaya aku bisa mengawasi mama juga, Sayang,” sahut Pram beralasan, berbaring dengan nyaman di tempat tidur empuknya. Setelah sekian lama dia harus sembunyi-sembunyi setiap masuk ke kamarnya, sekarang lelaki itu sudah bebas merdeka.


Ide untuk membawa mamanya menginap di rumah, akan dimanfaatkannya sebaik mungkin. Bukan hanya melunakan hati Kailla, dia juga akan memanfaatkan kesempatan ini untuk melunakan adik kecilnya yang sebulan ini tidak mendapatkan sentuhan pemilik sesungguhnya, yaitu istrinya.


Kalau boleh jujur, hubungannya dengan Kailla belakangan ini, seperti baut yang kehilangan mur, terasa kurang lengkap dan tidak bisa mengunci sempurna.


Kailla menghela nafas, tidak mau bertanya lebih jauh lagi, kalau soal berdebat, dia tidak akan pernah menang dengan suaminya. Satu-satunya cara dia menang dari Pram adalah dengan merajuk dan mengambek. Setelah merasa tidak ada yang bisa dibahas lagi, Kailla melangkahkan kakinya menuju pintu. Cara terbaik adalah mengalah dan memilih pergi dari pada tetap bersama dan akhirnya tersulut emosi sendiri.


“Kamu mau kemana, Kai?” tanya Pram, berusaha menghentikan langkah Kailla.


“Mau melihat mama,” sahut Kailla singkat.


“Mama tidak akan kemana-mana, Kai. Tidak perlu dilihat. Kamu lupa mama memintamu untuk beristirahat,” ingat Pram.


“Dan memintaku berhenti bekerja hanya untuk menemanimu di kamar,” lanjut Pram, memainkan alisnya, tersenyum licik.


Kailla menghentakan kaki, dengan wajah cemberut khasnya kembali duduk di sisi tempat tidur. Pram yang masih berbaring nyaman di tengah ranjang, diam-diam mengulum senyumnya. Setidaknya sudah terlihat hasil dari kekuatan mamanya di tengah konflik panjang antara dirinya dan Kailla. Hanya dengan menyebut nama sang mama, istrinya jadi begitu penurut.


“Ya sudah. Kalau mau tetap keluar, aku tidak akan melarangmu, tetapi kalau mama mengomelimu, aku tidak ikut-ikutan ya,” ucap Pram, pura-pura mengalah. Mencuri tatap pada wajah cantik istrinya yang masih saja betah cemberut.


Hampir lima menit, Kailla duduk membeku di tempat, sampai akhirnya Pram menarik tangan Kailla supaya ikut berbaring di sampingnya. Jerit dan pekik terkejut Kailla, memekakan telinga sebelum akhirnya dibungkam Pram dengan bibirnya.


“Aku merindukan bibir yang setiap hari mengomel ini,” bisik Pram, melepaskan ciumannya.


“Aku merindukan bibir yang hampir setiap saat merengek manja padaku,” lanjut Pram, menahan tubuh


Kailla agar tetap berbaring menyamping, menghadap padanya.


Semenjak Kailla hamil, Pram benar-benar ekstra hati-hati. Bahkan dia tidak berani menindih tubuh istrinya. Setiap melakukan apapun, selalu memikirkan kenyamanan Kailla. Pengalaman keguguran Kailla empat tahun lalu, membuat Pram lebih waspada.


“Maafkan aku. Aku salah, jangan marah lagi ya,” bujuk Pram.


“Masih sore. Istirahat sebentar. Seharian kamu diluar, apa tidak lelah,” lanjut Pram lagi, dengan lancang mengelus perut Kailla, mencoba merasakan bayi-bayinya.


“Sedikit,” sahut Kailla, mulai melunak.


“Kemarilah, kamu tidak merindukan pelukanku, Kai?” tanya Pram.


Kailla menurut, membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya. Sekian lama menahan rindu memeluk suaminya. Sekarang dia bebas mengekspresikannya.


Dua bulir cairan bening menetes membasahi pipinya, seiring tangan melingkar memeluk pinggang kokoh sang suami.


“Aku ingin membencimu,” ucap Kailla, terisak.


“Kamu boleh memukulku, boleh juga memarahiku, tetapi jangan seperti ini. Kembalilah menjadi Kailla yang biasa. Yang suka manja padaku dan membuat masalah. Aku merindukanmu,” bisik Pram, mendekap erat tubuh istrinya. Dekapan menyalurkan kerinduannya selama ini.


“Aku mencintaimu, sangat mencintamu, Kai,” bisik Pram di sela pelukannya.


***


Keesokan harinya.


Kailla terjaga dalam belitan tangan Pram yang begitu erat. Untuk pertama kali setelah pertengkaran mereka, dia terbangun dengan Pram yang masih memeluk erat. Biasanya hanya ada ranjang kosong dan dingin.


Begitu matanya membuka, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah sang suami yang masih terlelap. Jemari lentiknya mengukir garis wajah tampan Pram perlahan. Sudah lama sekali rasanya tidak melihat wajah tidur suaminya yang begitu damai.


Terlalu lama merasakan sensasi hembusan nafas suaminya, membuat Kailla memilih bangun. Apalagi ada mertuanya yang ikut menginap di rumah mereka. Perlahan, melepaskan diri dari dekapan erat Pram, tetapi pergerakannya terhenti saat tangannya tertahan.


“Mau kemana, Kai?” tanya Pram dengan suara serak.


“Aku harus bangun sekarang,” sahut Kailla pelan.


Pram mengangkat kepalanya, memandang jam yang tergantung di dinding kamarnya. “Masih pagi, Kai. Ayo tidur lagi,” bujuk Pram, setelah memastikan saat ini baru pukul lima pagi.


“Ada mama menginap. Aku tidak enak kalau bangun terlalu siang,” ucap Kailla.


“Ah, biarkan saja mama. Lagian kamu juga tidak perlu mengerjakan apapun. Ada ibu Sari dan Ibu Ida. Ayo, temani aku tidur.” pinta Pram.


“Aku harus membuatkan sarapan untukmu,” tolak Kailla, sontak membuat lelaki tampan itu tersenyum.


“Kamu masih mengingatnya, Kai?” tanya Pram, binar bahagia terlihat dari wajah bantalnya.


“Jangan senang dulu. Aku hanya tidak mau mama berpikiran macam-macam,” gerutu Kailla.


“Kalau begitu buatkan aku telur ceplok. Sebulan ini, aku merindukan telur goreng buatanmu, yang diberi toping kecap malika,” pinta Pram, mengedipkan sebelah matanya.


Kailla sudah berlalu pergi ke kamar mandi setelahnya turun ke dapur, meninggalkan Pram seorang diri melanjutkan tidurnya. Setidaknya Pram bisa tersenyum lega, Kaila sudah kembali mengurus sarapan paginya.


Deg—


“Anak-anak yang baik dan penurut,” ucap Pram pelan, tersenyum mengingat bagaimana semalam dia berbicara dengan kedua bayinya di depan perut Kailla seperti orang gila.


***


Kailla baru saja selesai membuat telur mata sapi, saat terdengar derap langkah kaki mendekat. Tadi dikira mama mertuanya, tetapi dia terkejut mendapati ternyata itu adalah Pram.


“Kamu sudah menyelesaikan pesananku, Nyonya?” tanya Pram, mendekap Kailla dari belakang. Ibu Sari dan Ibu Ida yang sedang membersihkan sayuran tidak jauh dari kedua majikannya tersenyum. Ikut bahagia melihat keduanya sudah mulai berbaikan. Tidak ada lagi aksi diam dan tutup mulut sang nyonya rumah. Mereka kembali disuguhkan adegan mesra yang sempat hilang sebulan ini.


“Lepaskan aku!” omel Kailla, dengan tangan memegang piring berisi telur goreng.


“Tidak mau! Aku tidak akan melepaskanmu. Jangan menolakku lagi. Nanti ada mama, dikiranya kita sedang bertengkar,” bisik Pram, sengaja menempelkan bibirnya di telinga istrinya, menghembuskan nafasnya membuat bulu kuduk Kailla meremang seketika.


Kailla hanya bisa menahan sabar. Membiarkan Pram berbuat sesuka hatinya. Tidak mau mengambil resiko, membiarkan Pram menikmati kemenangannya.


“Nanti aku akan membuat perhitungan denganmu,” ancam Kailla. Berjalan menuju meja makan, meletakan pirig ke atas meja dengan Pram yang terus menempel di punggungnya. Membelit pinggang bermanja-manja dengannya.


Kelakuan Pram tidak selesai sampai disitu. Saat semua orang sudah bersiap sarapan, lelaki itu kembali berulah. Kailla dan Ibu Citra sudah duduk manis di meja makan menunggu kedatangan kepala keluara di rumah ini, bersiap memulai sarapan. Tidak lama derap langka Pram terdengar menuruni anak tangga dengan setelan kerja yang masih acak-acakan.


Kemeja berantakan belum terkancing mempertontonkan dada bidangnya,. Ikat pinggang dan dasi masih ditenteng di tangan kanannya. Belum lagi rambut belum tersisir rapi, masih dengan air menetes membasahi sebagian pundak kemejanya.


Terlihat mengekor di belakangnya, Ibu Ida yang entah sejak kapan berada bersama Pram. Asisten rumah tangga itu menenteng sepatu dan kaos kaki Pram, mengikuti langkah majikannya.


Penampilan teraneh Pram sepanjang sejarah kehidupannya. Biasanya lelaki itu turun dengan tampilan rapi mengkilap, hanya dasi saja yang belum terpasang di lehernya.


“Selamat pagi, Sayang,” sapanya, mengecup pipi Kailla.


“Selamat pagi, Ma,” sapa Pram, beralih mengecup pipi Ibu Citra.


Kedua wanita itu langsung terperanjat saat melihat keadaan Pram saat ini. Bahkan bola mata Ibu Citra hampir keluar dari tempatnya. Ibu Sari yang sedang menyajikan makanan di atas meja, langsung menutup mulut, tidak percaya. Seumur-umur, belum pernah melihat Pram seberantakan ini.


“Pram, apa yang terjadi?” tanya Ibu Citra, setelah memandang putranya dari ujung rambut sampai ujung kaki, perempuan tua itu bersuara.


“Sejak ada mama disini, sepertinya istriku lupa mengurus suaminya sendiri, Ma,” adu Pram, dengan wajah memelas.


Mendengar jawaban Pram, sontak Kailla terpancing. Sepanjang pernikahan mereka memang dia tidak pernah mengurus suaminya sedetail itu. Selama ini, dia hanya ditugaskan Pram memasang dasi saja, tetapi kenapa penampilan Pram pagi ini sebegitu parahnya.


Pram sudah berdiri di samping Kailla. Meletakan dasi dan ikat pinggang di atas meja. Menyusul, merogoh sisir dari kantong celananya dan menyerahkannya kepada Kaila.


“Pak, ini saya letakan dimana?” tanya Ibu Ida, menahan tawanya.


Di dekat kakiku,” sahut Pram, menatap kaki yang hanya tertutup sandal jepit.


Mata Pram masih memandang lekat istrinya, seakan tidak peduli dengan sorot mata lain yang memandang heran padanya. Saat ini, dia hanya menginginkan perhatian dan sentuhan Kailla, tidask yang lain.


“Kai, urusi saja suamimu dulu,” pinta Ibu Citra, seketika membuat Pram memenangkan undian hadiah utama. Kebahagiaannya saat ini melebih kebahagiaan saat memenangkan tender proyek puluhan miliaran rupiah.


“Ayo Sayang, tugasmu belum selesai. Bagaimana bisa kamu memulai sarapan sedangkan suamimu masih berantakan seperti ini,” rengek Pram, tersenyum menggoda Kailla, sembari memamerkan dada bidang dan perut roti sobeknya.


Kailla terpaksa menurut. Lebih tepat, tidak mau membantah ucapan mama mertuanya. Dengan kesal, mengancingkan kemeja suaminya dan membantu Pram memasukan kemeja ke dalam celananya. Setelah rapi, Kailla masih harus membantu Pram mengenakan kaos kaki dan sepatunya.


“Aku akan membuat perhitungan denganmu. Kamu sengaja mengerjaiku di depan mama,” gerutu Kailla masih berjongkok memakaikan kaos kaki suaminya. Mengancam dengan pelan, takut ucapannya terdengar sang mertua.


Setelah semuanya selesai, meraih sisir untuk merapikan rambut Pram yang berantakan. Dengan kasar menyisir rambut suaminya sesekali menariknya sampai Pram menjerit kesakitan.


“Ma, menantumu ini sepertinya tidak ikhlas melayani suaminya,” keluh Pram. Lag-lagi mendapat sorotan tajam, siap menerkam ala singa betina kelaparan.


“Sudah!” ucap Kailla, dengan wajah masam dan kesal. Menjatuhkan tubuhnya di kursi kembali. Selera makannya hilang.


“Terimakasih Sayang. Menantumu ini sungguh luar bisa, Ma,” puji Pram mengecup pipi Kailla. Dia berusaha menahan tawanya supaya tidak pecah. Raut wajah Kailla benar-benar menggemaskan saat ini.


Sarapan pagi itu lebih banyak diisi dengan obrolan Ibu Citra dan Pram, Kailla lebih banyak diam. Kesalnya belum sepenuhnya reda. Sampai suaminya hendak berangkat ke kantor pun, wajahnya masih tetap cemberut, terpaksa mengantar suaminya sampai di depan pintu.


Pram masih mengenggam paksa tangan Kailla sampai di teras. Baru saja dia hendak mencium pipi istrinya, mengucapkan pamitnya, tiba-tiba di depan gerbang rumah mereka yang sudh terbuka, berhenti sebuah taksi biru. Membuat aksi Pram tertunda.


Saat pintu taksi itu terbuka, baik Pram maupun Kailla terbelalak menatap sosok feminim yang turun dan langkah gemulai dengan tangan menenteng sesuatu, masuk ke dalam pekarangan rumah mereka tanpa permisi.


Bayu yang berada di dekat gerbang. sedang mengecek kondisi mobil Pram ikut terkejut. Tidak terbayang sepagi ini sudah kedatangan tamu istimewa.


“Bagaimana bisa makhluk Tuhan paling seksi ini sampai ke sini,” celetuk Bayu, tanpa berkedip.


***


Love you all


To be continued


Maaf, sampai akhir tahun, jadwal up tidak teratur ya. Author ada kesibukan di dunia nyata.


Happy New Year 2021