
“Sayang ....” lirih Kailla, menahan sakit perutnya yang masih saja timbul tenggelam tanpa ada kepastian mau dibawa ke mana.
“Sayang ....” ulang Kailla jeda beberapa detik kemudian, memejamkan mata, menikmati ngilu melilit yang sulit diceritakan.
Selang beberapa detik kemudian, terdengar lagi suara Kailla. Tidak mendapati Pram di dekatnya, Kailla hampir menggila.
“Sayang, kamu ... di ... mana?” Terbata-bata. Ibu Citra yang masih setia berdiri di samping Kailla hanya bisa diam. Sejak tadi, Kailla tidak mau dengan yang lain. Hanya mau dengan Pram. Bahkan hanya sekedar mengusap punggung saja, menantunya hanya mau Pram yang melakukannya.
“Sayang ....” Entah panggilan yang ke berapa kali, setelah Pram pamit ke kamar mandi. Baru menghilang sejenak, tetapi Kailla sudah tidak bisa kompromi.
“Ya, aku di sini, Sayang,” ucap Pram, berlari dengan kecepatan penuh, buru-buru menggenggam tangan istrinya.
Baru saja pria itu meninggalkan Kailla untuk ke toilet, dalam lima menit Kailla sudah puluhan kali memanggilnya.
“Sakit ....” lirih Kailla, menggenggam erat tangan suaminya.
Dua jam berbaring di brankar, masih dalam kondisi pembukaan dua tanpa ada perubahan sama sekali. Tiap detik, tiap menit yang keluar dari bibir Kailla hanya kata Sayang, memanggil Pram tanpa berhenti.
Sudah tidak terhitung luka bekas cakaran tangan, menghiasi lengan Pram. Melampiaskan rasa sakitnya saat lilitan di perut terasa begitu ngilu luar biasa.
Pram menghela napas kasar, rasanya sudah tidak tega melihat Kailla menanggung kesakitannya. Bulir-bulir cairan bening keluar memenuhi dahi yang bercampur dengan helai rambut berantakan.
“Kai, kita operasi saja, ya?” tawar Pram.
“Ya, Sayang.” Kailla menjawab lirih. Menanggung sakit yang luar biasa, membuat Kailla tidak sanggup berpikir jauh. Saat ini, dia ingin semuanya cepat berlalu.
“Setelah dokter datang memeriksamu, aku akan memutuskan semuanya, Kai.” Pram menenangkan. Merapikan anak rambut, yang mengganggu penglihatan Kailla.
Pram tidak mau mengambil resiko. Di dalam perut Kailla bukan hanya satu bayi, tetapi dua bayi sekaligus. Semakin lama Kailla menanggung kesakitan, semakin terkuras juga tenaga Kailla. Sejak awal memang tidak ada rencana melahirkan secara normal. Pram lebih memilih caesar untuk keamanan Kailla dan bayi-bayinya.
Di tengah persiapan mental yang minim, Pram dari awal masuk ke rumah sakit sudah tidak yakin. Bahkan selama empat bulan terakhir yang di lahap calon ayah dan ibu itu hanya persiapan-persiapan kecil sebelum naik ke meja operasi. Tidak tahu bagaimana mengatur napas sewaktu kesakitan datang, tidak tahu apa yang harus dilakukan saat proses melahirkan normal itu sudah di depan mata.
Bahkan aktivitas Kailla di penghujung trismester tiga, tidak seperti ibu hamil lainnya. Yang berjalan keliling komplek setiap pagi, berjongkok dan banyak bergerak. Mengatur pola makan agar berat bayi tidak berlebih sehingga mudah untuk dikeluarkan nanti. Berlatih bagaimana bernapas yang tepat di saat detik-detik kelahiran bayi. Semuanya tidak dilewati Kailla.
Belum lagi kesiapan mental yang tidak kalah penting. Karena itu sangat berpengaruh untuk selanjutnya, bahkan setelah ibu melahirkan. Pram menyadari, istrinya berbeda dengan para ibu lainnya. Istrinya manja, tidak mau jauh darinya. Kailla membutuhkannya untuk menguatkan.
***
“Pembukaan empat!” ucap Dokter, tersenyum. Setelah sekian kali pemeriksaan, ada sedikit kemajuan. Meskipun menunggu lama baru bertambah, itu pun tidak banyak.
“Dok, aku memutuskan untuk caesar saja. Tentu dokter paham apa alasanku. Bahkan sejak beberapa bulan yang lalu, aku sudah mengutarakannya,” tegas Pram dengan penuh keyakinan.
Tidak tahu kondisi ini akan berlangsung cepat atau lambat. Andaikan lambat, Kailla akan kesakitan dan tetap saja tidak sanggup melahirkan secara normal di kala tenaganya habis terkuras untuk semua kesakitan yang menghajarnya berjam-jam.
Dokter wanita itu tersenyum. “Baiklah, silakan mengisi data yang harus disiapkan untuk operasi.”
Dokter itu tidak membantah lagi setelah dari awal masuk rumah sakit Pram tetap bersikeras dengan keputusannya. Meskipun dalam hati, ia menyayangkan. Tinggal beberapa langkah lagi, kemungkinan Kailla bisa melahirkan normal. Berulang kali meyakinkan pasiennya untuk kelahiran normal, tetapi suami pasien sudah menentukan sikapnya.
“Sus, tolong. Disiapkan, ya.” Sang dokter berbicara dengan perawat yang mendampinginya.
“Saya masih ada jadwal operasi juga. Mungkin sekitar jam delapan malam ya, Pak. Saya belum bisa memastikan, karena harus mengatur jadwal dengan dokter yang lain juga. Nanti ada perawat yang mengabari, ya.” Sang dokter melanjutkan.
Semua melirik ke arah jam yang tergantung di dinding. Saat itu baru pukul lima sore, masih harus menunggu tiga jam lagi. Itu pun kalau sesuai dengan yang diucapkan dokter.
“Baik, Dok. Terima kasih.” Pram tersenyum.
“Semangat ya, Bu!” ucap dokter, menyemangati Kailla yang terlihat lemah.
“Sus, tolong terus dipantau. Tadi pembukaan empat. Kalau ada apa-apa, segera hubungi saya,” jelas dokter pada perawat yang menemaninya.
Sepeninggalan dokter, terlihat seorang perawat masuk dan meminta Pram menyelesaikan admininstrasi untuk proses kelahiran caesar.
“Sus, untuk masalah deposit, orangku akan mengurusnya. Bisakah untuk data, aku melengkapinya di sini saja. Istriku tidak mau ditinggal.” Pram berkata, sambil menunjukan tangannya yang terus digenggam Kailla.
“Baiklah Pak.” Perawat itu tersenyum.
Tak lama berselang, seorang lelaki rupawan dengan kulit sawo matang diperkirakan seumuran Pram masuk bersama seorang perawat yang membawa nampan berisi pakaian dan alat mandi. Lelaki dengan blazer putih itu berjalan mendekati Kailla.
“Selamat sore, Bu. Perkenalkan saya Andre, dokter anastesi yang akan menemani ibu saat operasi berlangsung.”
Tersenyum manis, menyalami Pram dan Kailla, berbincang sejenak memberi gambaran sekaligus menenangkan pasangan suami istri itu.
“Semangat, Bu. Saya tinggal dulu. Mari, Pak,” pamit sang dokter.
“Sus, tolong kutek kukunya harus dihapus. Tidak boleh mengenakan make-up. Semua perhiasan juga harus dilepas saat operasi berlangsung,” pinta sang dokter pada perawat yang menemaninya sebelum melangkah keluar. Dokter itu sempat melihat kutek kuku Kailla yang terpoles indah di jemari lentiknya lengkap dengan cincin kawin yang masih tersemat di jari manis.
“Haruskah?” tanya Kailla, sudah ingin protes.
“Baik, Dok,” potong Pram, membuat istrinya tidak banyak bertanya.
“Harus Bu, selama operasi berlangsung dokter akan memantau dari perubahan warna kulit dan kuku,” jelas perawat tersenyum.
Mendengar semua penjelasan, di situlah Pram dan Kailla mulai panik. Dari Kailla yang diminta untuk membersikan diri sebelum berganti pakaian milik rumah sakit sampai gambaran apa yang akan terjadi di dalam ruang operasi.
“Sayang ....” cicit Kailla pelan, saat melihat pakaian yang ditumpuk beserta perlengkapan mandi khusus, seperti sabun dan lain-lain. Sesaat setelah tertinggal mereka berdua di ruang perawatan. Ibu Citra dan Kinar sudah diminta Pram pulang.
“Aku akan membantumu,” ucap Pram berusaha menenangkan, di saat ia sendiri merasakan kepanikan yang sama. Yang disembunyikan di dalam hatinya.
***
“Aku takut, Sayang,” bisik Kailla, di dalam kamar mandi. Kedua tangannya bergelayut manja di leher Pram.
“Tidak akan apa-apa. Yang melakukan caesar itu bukan kamu saja, Kai. Ada banyak ibu di dunia ini melakukan operasi untuk melahirkan bayi-bayinya dan mereka baik-baik saja,” ucap Pram masih menenangkan.
Mendekap tubuh telanjang Kailla yang bersiap untuk mandi.
“Ka-kalau aku tidak bangun lagi ... bagaimana?” tanya Kailla dengan polosnya.
“Bagaimana bisa tidak bangun lagi? Kamu tidak akan ditidurkan, Sayang. Hanya dibius dari perut ke bawah. Kita bisa berbincang di dalam, kita bisa menggosipkan para idola tampanmu, Bahkan kamu bisa menggosipkan Ditya Halim Hadinata, idolamu di dunia nyata.” Pram masih bisa bercanda di tengah kegalauan hatinya.
“Kalau ... kalau obat biusnya tidak berjalan. Saat mereka mengiris perutku dan aku bisa merasakan. Bagaimana?” tanya Kailla lagi.
“Kamu bisa menjerit atau berteriak. Mengomel juga boleh,” sahut Pram. Ingin terbahak menghadapi pertanyaan-pertanyaan Kailla yang tidak biasa.
“Kamu harus bersamaku, tidak boleh pergi jauh-jauh. Kalau aku tidur, kamu harus menunggu di sampingku. Ketika membuka mata, aku ingin melihatmu pertama kali,” pinta Kailla.
“Ya, mandi sekarang. Tidak perlu takut. Kamu akan operasi jam delapan, jam sembilan malam nanti ... dua bayi ini sudah ada di dalam dekapanmu,” ucap Pram, menyemangati. Mengusap perut buncit Kailla.
“Secepat itu?” tanya Kailla, mencengkeram tengkuk Pram. Menancapkan kuku-kuku panjangnya di kulit tengkuk suaminya saat sakit perut itu menyerang lagi.
“Saat kamu lahir dulu, seingatku tidak sampai satu jam. Saat mama masuk ke kamar operasi, sepertinya hanya sebentar saja. Perawat membawamu keluar, menunjukan padaku. Penampakanmu seperti sekarang, belum dipakaikan baju, hanya dilapisi kain.” Pram terkekeh, berusaha mengalihkan perhatian Kailla.
Plakkk! Pukulan mendarat di pundak Pram. Ibu hamil itu masih sanggup mengomel di detik-detik terakhir sebelum melahirkan.
***
Author pikir harusnya bab ini tamat, ternyata mesti 1 bab lagi 🙏🙏