
“Kai, kamu lihat kelakuan mertuamu tersayang. Begitu tidak bertanggung jawabnya dia. Di saat mendesak seperti ini, dia memilih menyelamatkan dirinya sendiri,” ujar Pram usil, memainkasn tambut panjang Kailla dan menggulunng dengan telunjuknya.
“Membiarkanmu diterkam macan kumbang sendirian,” lanjut Pram, memajukan wajah dan menggigit hidung istrinya.
“Ah..! Kamu mengagetkanku,” gerutu Kailla kesal, mengusap hidung yang basah.
Senyuman sekaligus sebuah pelukan hangat menjadi akhir dari perbincangan keduanya. Pram tidak bertanya lebih jauh lagi. Hanya sesekali mengecup pucuk kepala istrinya.
Kailla yang sudah lelah pun, tidak mau bersuara. Memilih bersandar sembari memejamkan mata. Hanya butuh beberapa kali menguap, dia langsung tertidur pulas di pundak Pram seperti biasa. Tempat ternyaman untuk melepaskan kantuknya.
“Tukang tidur!” celetuk Pram, melirik sekilas.
“Bay, cari tahu tentang Ditya Halim Hadinata! Aku mau laporan sedetail-detailnya! Laporkan padaku paling lama malam ini,” perintah Pram. Pandangannya kembali tertuju pada istrinya.
“Besok, kita akan menemuinya,” cerita Pram, beralih pada shopping bag yang tergeletak di sampingnya.
“Baik Bos!” Bayu mengangguk.
***
Matt sudah kembali lagi dengan map baru ditangannya. Kali ini berkas tidak setebal sebelumnya.
“Bos,” sapanya.
Ditya sedang tidur di kursi malasnya. Beberapa hari ini dia belum aktif ke kantor, kecelakaan kecil yang membuat kakinya keseleo dan membengkak memaksanya harus beristirahat beberapa hari di penthouse mewahnya.
“Hmmm,” gumam Ditya, masih belum sepenuhnya sadar. Menunggu Matt terlalu lama, membuatnya mengantuk.
“Reynaldi Pratama, umur 44 tahun.” Matt langsung membaca semua data tanpa menunggu instruksi atasannya terlebih dulu.
Ditya langsung membuka matanya saat mendengar usia suami Kailla.
“Oh God!” Hanya kata itu saja yang keluar dari bibirnya.
“Menikah dengan Kailla Riadi Dirgantara sejak empat tahun yang lalu.”
“Wait! Maksudmu Kailla menikah saat berusia 20 tahun. Dengan lelaki yang terpaut usia 20 tahun darinya. Oh No!” ucap Ditya menegakan duduknya. Masih belum sanggup menerima informasi yang disampaikan si asisten.
“Dijodohkan!” ucap Matt selanjutnya, kembali mengejutkan Ditya.
“S’hittt!” Hanya kata ini yang bisa meluncur keluar dari bibir Ditya.
“Belum memiliki anak. Sempat keguguran seperti yang aku infokan sebelumnya,” lanjut Matt.
“Reynaldi Pratama sekarang menjabat Presdir di RD Group, menggantikan mertuanya.”
Ditya terdiam, mencerna kalimat demi kalimat yang baru saja diucapkan asistennya. Masih belum bisa percaya dengan informasi yang didengarnya.
“Aku ingin melihat seperti apa tampilan Reynaldi Pratama,” pinta Ditya.
Ditya terkejut, lelaki ini sering dilihatnya. Bahkan tadi juga dia masih sempat bertemu. “Dia suami Kailla,” bisiknya pelan.
Pandangannya tertuju pada foto Pram dengan seorang anak kecil. Ditya tersenyum melihat gadis kecil yang sedang dipeluk suami Kailla.
“Ini..?” tanya Ditya, menunjuk pada foto gadis kecil yang bersama lelaki dewasa.
“Iya, itu Kailla kecil bersama Reynaldi Pratama,” jelas Matt.
“Wow!”
Ditya tampak memejamkan matanya. Tidak tahu harus berbuat apa
“Kirim orang untuk mengawasi dan mengawal Kailla, laporkan semuanya padaku.
Akhirnya Ditya membuka suara, setelah sekian lama terdiam. Dia mungkin tidak bisa meneruskan niatnya untuk mengenal Kailla lebih jauh. Tetapi saat membaca riwayat hidup Kailla yang sempat mengalami penculikan, akhirnya Ditya memutuskan memberi pengawalan secara diam-diam.
“Perintah sebelum ini tetap dijalankan?” tanya Matt, memastikan mengenai mencari dokter untuk Riadi.
Ditya mengangguk. “Cari dokter terbaik untuk merawat ayahnya.”
“Bos, masih berniat maju?” tanya Matt memberanikan diri bertanya. Disaat mengetahui status Kailla yang sudah bersuami, Ditya tetap memintanya mencari dokter sekaligus memberi pengawalan.
Ditya tersenyum. Terlihat dia berjalan ke arah minibar, meraih sebuah gelas dan mengisinya kembali dengan wine.
“Melihat statusnya yang istri orang.” Ditya menarik nafas berat.
“Kalau pun suatu saat dia bercerai, aku tidak mungkin membawanya masuk ke keluarga Halim. Kalau pun aku memaksa untuk memilikinya, aku hanya bisa menyimpan dan menyembunyikannya dari dunia,” lanjut Ditya.
“Menyimpannya di salah rumahku. Kasihan Kailla, dia berhak mendapatkan tempat yang lebih pantas. Tapi bukan disisiku,” jelas Ditya.
Matt tersenyum.
“Tidak mau mencoba memperjuangkannya Bos?” tanya Matt kembali.
“Aku hanya akan berjuang untuk wanita yang pantas diperjuangkan. Tetapi Kailla tidak di posisi pantas diperjuangkan.”
“Memaksanya bersamaku, hanya akan membuatnya menderita. Hidupku tidak sesimple hidup orang lain. Bukan hanya keluargaku, tetapi dunia. Yang harus dihadapi itu dunia.”
Matt mengangguk.
“Suatu saat, kalau aku menikah. Aku tidak mau dunia mengganggu kehidupan keluargaku. Tidak mau anak istriku diserang pemburu berita kemana pun mereka melangkah. Untuk itu, aku harus memilih wanita yang berstatus jelas dan dari keluarga baik-baik,” ucap Ditya.
“Cih! Cinta bisa memilih?!” ucap Matt pelan, tidak percaya.
Ditya hampir melempar gelasnya kembali saat pendengarannya menangkan ucapan asistennya yang bernada cibiran.
“Aku menyukainya. Aku akui aku menyukainya dari pandangan pertama. Tapi untuk melangkah lebih jauh, untuk mencintainya aku harus memastikan dulu seperti apa wanita itu,” jelas Ditya.
“Aku mau istirahat. Kamu boleh pergi sekarang!” perintah Ditya. Dia harus menenangkan perasaannya terlebih dulu. Mengetahui status Kailla, membuat pikirannya kacau.
***
Selesai makan malam Kailla langsung naik ke kamarnya, meninggalkan Pram yang sedang menghubungi asistennya, David.
Cup!
“Sayang, aku ke kamar,” ucap Kailla, mengecup bibir Pram sekilas.
Pram masih sibuk menyimak ucapan David melalui ponsel yang ditempelkan di telinganya. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir lelaki itu. Hanya sebuah anggukan dengan senyuman yang tersungging di bibir.
Sesampainya di kamar, Kailla segera membuka laptopnya. Duduk bersila di atas tempat tidur, melanjutkan membuat skripsinya. Seharian ini dia disibukan dengan urusan mertuanya, sama sekali tidak memiliki waktu membuka laptopnya sama sekali.
Dia sedang sibuk membaca lembaran kertas-kertas yang berhamburan memenuhi tempat tidur saat Pram masuk ke dalam kamar.
“Astaga Kai, terjadi gempakah?” tanyanya usil, merapikan kertas-kertas yang berserakan itu, supaya memiliki ruang untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
“Hmmmm,” gumam Kailla, tidak menyimak sama sekali ucapan suaminya. Dia masih sibuk dengan selembar kertas di tangan, membaca dengan teliti. Bibirnya komat kamit dengan mata terpejam.
“Ini data-data yang kamu minta dari David?” tanya Pram lagi.
“Hmmmm.” Kailla bergumam kembali.
“Memang datanya tidak bisa simpan di tempat lain. Kenapa harus pakai kertas berlembar-lembar seperti ini,” keluh Pram. Kepalanya pusing melihat kertas berserakan di atas tempat tidurnya.
“Aku yang memintanya. Supaya...”
“Supaya kamu mudah menghamburkannya seperti ini.” potong Pram.
Tangannya sedang mengelus paha mulus istrinya, mengusap berulang kali membuat konsentrasi Kailla terganggu.
Plakkk!!
Kaiila memukul tangan Pram yang sudah menyusup masuk di balik gaun tidurnya. “Aku sedang sibuk sekarang,” gerutu Kailla, memgomel.
“Kai, aku belum dapat jatah dari kemarin,” rayu Pram, tersenyum usil. Tangannya yang barusan mendapat peringatan kecil dari Kailla berpindah menurunkan tali gaun tidur. Dalam hitungn detik pundak itu terekspos sempurna. Gaunnya melorot, membuat mata Pram membulat saat melihat Kailla tidak mengenakan bra.
“Huh! Mengganggu saja,” omel Kailla, menaikan kembali tali gaun tidurnya.
“Ayo dong, Kai. Besok saja baru melanjutkannya. Sekarang kita berlayar dulu,” rayu Pram.
Pram langsung mengambil posisi duduk, menyandarkan kepalanya di bahu sang istri. Sesekali mengecup leher jenjang dan memberi tanda kepemilikan di sana.
“Aduh! Menganggu konsentrasiku saja!” gerutu Kailla. Melotot pada Pram yang sedang memasang wajah memelasnya.
Kailla tetap saja melanjutkan mengetik di laptopnya. Tidak perduli dengan tangan suaminya yang sudah merambah ke mana-mana. Menyusup masuk dari ujung gaun tidur.
“Astaga Kailla, serius ini tidak pakai apa-apa di dalam,” tanya Pram, saat tangannya sudah menyentuh bagian sensitif istrinya.
“Singkirkan tanganmu!” omel Kailla, menatap sinis suaminya.
Baru saja, Kailla hendak berpindah tempat, memilih mengerjakannya di sofa. Tetap bertahan di ranjang pasti akan berakhir di tangan suamimya. Tetapi, Pram bertindak lebih dulu. Tanpa permisi menutup paksa laptop di tangan istrinya. Tidak disampai disitu, dia juga melempar tumpukan kertas sehingga berterbangan dan berhamburan ke lantai.
“Sayang!!” pekik Kailla.
Bibir mungilnya terkunci seketika, Pram sudah melahapnya tanpa permisi. Membuatnya tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Laptop ditangan pun sudah berpindah tempat. Pram meletakannya di atas nakas.
“Kai, besok aku akan menemui Ditya,” bisik Pram di sela ciumannya.
“Hah?! Untuk apa?” tanya Kailla heran, mendorong tubuh suaminya menjauh.
“Untuk membuat perhitungan dengannya. Jadi malam ini aku butuh tambahan kekuatan,” jelas Pram. Mulai mel”umat bibir merah merona. Ciuman dan kecupan basah, semakin dalam, berperang lidah di dalam sana.
Tidak lama, Pram sudah melepaskan gaun tidur istrinya, dan melemparnya asal ke lantai. Dia pun menyusul, melepas kaosnya memamerkan dada bidang dengan perut roti sobek yang siap menghangatkan istrinya.
Baru saja dia membawa istrinya melayang, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar.
Tok!Tok!Tok!
Tidak lama terdengar suara Bayu memanggil dari balik pintu.
“Sayang, ada Bayu,” ucap Kailla dengan nafas terengah-engah. Pram masih sibuk menghentak di bawah sana.
“Sssttt, biarkan saja!” sahut Pram dengan santai.
“Biarkan dia berteriak sampai lelah,” lanjut Pram, masih belum mau berhenti. Meraih tisu di atas nakas.
“Tutup saja telingamu. Anggap tidak mendengar apa-apa,” pinta Pram dengan santainya.
Kailla bukannya menurut, tetapi malah memgomel. Suara Bayu yang masih berteriak dari luar pintu benar-benar mengganggunya.
“Kalau kamu tidak mau membukanya, biar aku saja!” gerutu Kailla, mendorong kasar tubuh suaminya supaya berpindah dari atasnya.
Brukk!! Pram terjengkang ke belakang.
Segera Kailla turun dari tempat tidur, meraih kembali gaun tidurnya.
“Kai, aku belum selesai!” teriak Pram kesal. Kailla meninggalkannya sebelum dia menuntaskan kegiatan mereka.
“Aku pusing mendengar suara Bayu, kamu selesaikan saja dengannya,” ucap Kailla melempar pakaian suaminya ke atas tempat tidur.
***
To be continued
Love You all