
Ketukan sepatu hak lima senti itu terdengar menggema di sepanjang koridor rumah sakit. Kailla dengan wajah lelah terlihat bersusah payah menyeret kakinya untuk tetap melangkah. Seharian ini disibukan dengan masalah perusahaan yang carut-marut tidak karuan. Ada banyak PR yang harus diselesaikannya agar RD Group tetap berjalan dan tidak hancur ditangannya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau sampai semua kerja keras daddy dan suaminya berpuluh-puluh tahun, hancur di tangannya dalam dua bulan.
Angka-angka dengan jumlah miliaran itu melayang-layang di otaknya sejak tadi. Entah bagaimana bisa mendapatkannya untuk menutupi kerugian perusahaan yang terbilang besar. Dua bulan duduk di puncak tertinggi RD Group, perusahaan harus merugi karena kebijakan dan proyek yang diambilnya tanpa perhitungan matang.
“Sam, sebaiknya kita menemui suamiku dulu,” pinta Kailla pelan. Di saat seperti ini, mengadu pada Pram adalah cara terbaik berbagi masalah yang sedang dipikulnya. Karena tidak mungkin membawa semua beban dan membaginya dengan sang mertua yang sudah renta.
“Sebentar Non.” Sam masih serius dengan ponsel di tangan sembari mengikuti langkah majikannya. Sejak tadi, asisten itu sibuk berbalas pesan dengan pembantu komplek yang baru saja mendapat gelar jandanya setelah bercerai dengan suaminya yang seorang sekuriti di rumah Pak RT.
“Bagaimana, Non?” Asisten itu kembali bertanya, setelah menyimpan ponsel ke dalam saku celana.
“Kita menemui suamiku dulu, baru ke tempat dokter,” pinta Kailla, mengulang.
“Di depan belok kiri, sudah Non.” Sam menunjuk arah sesuai dengan instruksi Bayu yang dikirim melalui chat.
Dengan pundak melemas Kailla terpaksa setuju. Belum menyiapkan dirinya untuk informasi yang akan disampaikan dokter, yang mungkin saja tidak mengenakan hati. Masalah perusahaan terlampau berat, Kailla tidak punya tempat lagi di otak dan hatinya untuk memikirkan masalah lain.
Terlihat Sam mendorong pelan pintu sebuah ruangan bercat putih. Berjalan masuk, kemudian mempersilakan Kailla ikut masuk bersamanya.
“Silakan, Non.” Sam berbisik pelan, hampir tak terdengar.
Pemandangan pertama yang dilihat Kailla adalah Bayu. Asisten suaminya itu terlihat santai di sofa dengan fokus pada ponsel di tangan.
“Bay, tolong hubungi Kailla. Ini sudah jam berapa. Aku benar-benar mengkhawatirkannya.” Suara maskulin yang menghilang sejak dua bulan lalu kembali berkumandang di telinga Kailla. Sam tampak tersenyum di pinggir pintu menunggu reaksi Kailla yang sebentar lagi akan meledak.
“Bay!” Pram setengah berteriak setelah tak mendapat respon. Asistennya hanya tersenyum menatap ke arah pintu masuk. Tubuh boleh sakit dan lemah, tetapi suara Pram sudah kembali seperti sedia kala.
Setelah memastikan pendengarannya tidak salah, Kailla berlari menghambur masuk. Posisi brankar yang tertutup kamar mandi, menghalangi pandangan Kailla, tetapi suara itu nyata dan tidak terbantah.
“Sayang ....” Jantung Kailla berdetak kencang, berpacu dengan langkah kaki yang melaju tak terhenti. Suara itu, suara yang sangat dirindukannya selama dua bulan terakhir. Hadir di setiap mimpi-mimpi malamnya, bahkan di saat terbangun pun dia bisa merasakan suara itu sayup mengalun di telinganya.
Menghambur ke pelukan suaminya dengan berurai air mata. Terkejut ini bukan hanya milik Kailla, Pram juga merasakan kejutan yang sama.
“Sayang, kenapa lama sekali tidurnya?” isak Kailla dalam posisi membungkuk dan menimpa tubuh Pram yang terbaring pasrah di atas tempat tidur.
Pram tidak bisa berkata-kata, hanya membeku di tempat. Laki-laki itu sedang menikmati aroma Kailla yang hampir terlupakan olehnya. Menikmati sentuhan nyata yang selama tidurnya hanya hadir dalam bayangan tak terjamah.
Pelukan itu melonggar, Kailla mengurai belitan tangannya pada leher Pram. “Maaf, apa aku memelukmu terlalu kencang?” tanya Kailla, melihat suaminya sedikit meringis.
“Tidak, aku merindukan kalian, Kai. Jangan menangis lagi. Aku belum bisa memelukmu dengan erat, sebagian tubuhku masih susah digerakan,” jelas Pram, tertusuk sembilu tajam saat melihat air mata Kailla yang turun tak mau berhenti.
Tatapan sendu penuh sesal dan rasa bersalah memancar dari sorot mata laki-laki dengan seragam biru milik rumah sakit. Berusaha mengulas senyum sembari mengabsen detail wajah istrinya. Pipi itu menggembul, sepertinya berat badan Kailla naik belasan kilo sejak terakhir kali melihatnya di depan kios penjual ikan.
Kantong mata tampak jelas dengan gurat lelah yang tak bisa berdusta. Pram bisa membaca setiap lekuk wajah cantik istrinya tanpa harus bertanya.
“Aku mencintaimu, Kailla Riadi Dirgantara,” ucap Pram menarik tengkuk Kailla, sebelum melabuhkan kecupan dalam di bibir istrinya. Tak peduli dengan kedua asisten yang melotot dan buru-buru berbalik badan.
Laki-laki dengan selang infus di tangan itu terlihat kepayahan, namun rindunya terlalu menumpuk. Berbagi rasa lewat kecupan bibir, mengganti dua purnama yang mereka lewati percuma. Keduanya baru tersadar saat bunyi pintu tertutup, menandakan kedua asisten mereka sudah pergi tanpa mengirim permisi.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Kailla di ujung isaknya, setelah melepas pelukan. Berulang kali melihat Pram meringis menahan sakit, hatinya ikut tercubit.
“Ya, aku baik-baik saja. Obatku sudah di sini. Tidak ada alasan untukku tidak baik-baik saja.”
“Kemari Sayang. Bantu aku menyapa anak-anak,” pinta Pram, meminta Kailla berdiri di dekatnya. Dia ingin menyentuh dan mencium anak-anaknya. Dengan susah payah menggulingkan tubuhnya yang hampir mata rasa, Pram berhasil mencium perut buncit itu dengan penuh perasaan.
Tangis tanpa suara, Pram berurai air mata saat menyentuh anak-anaknya. Rasa bersalah dan bahagianya menyatu, membentuk gumpalan rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bermenit-menit Pram hanya diam, mengelus pelan perut buncit Kailla yang ukurannya jauh lebih besar pada kehamilan bayi normal. Di usia kandungan lima bulan, Kailla tampak seperi wanita hamil tujuh atau sembilan bulan.
“Mereka rewel, Sayang?” tanya Pram pelan. Masih betah mengelus dan fokus pada perut istrinya.
“Terkadang, tetapi tidak selalu. Mereka jagoan-jagoan daddy yang baik,” ucap Kailla, cukup mengejutkan Pram.
Pram mengalihkan pandangannya, kali ini menatap Kailla. “Laki-laki?” tanya Pram, memastikan.
“Ya, seperti doamu di setiap malam. Mereka jagoan-jagoan kesayangan daddy.” jawab Kailla, tersenyum meyakinkan.
***
Kailla sedang membantu memijat kaki Pram yang mati rasa, saat kedua asitennya masuk kembali.
“Bay, dokter mengatakan apa tentang kaki suamiku?” tanya Kailla pada sang asisten.
“Tidak apa-apa, hanya butuh waktu untuk pemulihan. Kasus ini mungkin membutuhkan waktu lebih lama dari kasus normalnya, karena Pak Pram sempat koma selama dua bulan. Otomatis organ-organ yang lain juga lebih kaku. Butuh latihan dan terapi.” Bayu menjelaskan.
“Yang di kepala?” tanya Kailla lagi, menunjuk perban yang masih melilit. Dia memang lebih banyak di kantor. Untuk urusan rumah sakit, Bayu lebih mengetahui.
“Itu sudah tidak apa-apa, mungkin beberapa hari lagi bisa dilepas.”
Kailla mengangguk dan tersenyum. Ibu hamil itu menghentikan pijatannya.
“Ini saja baru tadi sore dilepas alat bantu pernapasan. Kondisi Pak Pram sangat baik. Perkembangannya cepat, sejak siuman sampai sekarang. Sudah ada beberapa alat bantu yang dilepas bertahap. Perawat dan dokter akan memantau secara berkala,” jelas Bayu.
“Hanya saja tubuhnya masih kaku dan sakit-sakitan. Itu normal. Benturan begitu keras di tambah dengan berbaring dua bulan tanpa bergerak.”
“Ya, aku mengerti.” Kailla tersenyum.
Bahagia itu terlihat jelas, tangan Pram tak mau melepas. Menautkan jemarinya di jemari lentik istrinya. Pandangannya pun tak beralih sedikit pun. Sejak pertama kali Kailla masuk, Pram hanya terus-terusan menatap Kailla, tidak ingin sedetik pun beralih. Seolah takut istrinya hilang dari pandangannya.
“Non, Ibu Citra tadi menghubungi Sam,” cerita Bayu tiba-tiba.
“Malam ini Non menginap di sini atau pulang? Kita harus mencari alasan. Atau mau berterus terang sekarang?” tanya Bayu.
“Jangan sekarang, besok saja. Nanti mama shock. Besok aku akan menjelaskan pelan-pelan.”
Selama dua bulan ini, bukan hanya Pram dan Kailla saja yang terpisah. Bayu juga harus merelakan waktu bersama istrinya yang sedang hamil tiga bulan. Siang malam berjaga di rumah sakit. Bayu hanya pulang ke rumah sesekali di siang hari, berganti tempat dengan Ricko. Laki-laki itu lebih banyak di rumah sakit menemani Pram dibanding mengurus Kinar.
“Temani aku malam ini.” Pram menyentak Kailla pelan, saat mendengar pertanyaan Bayu.
“Hah!” Kailla masih belum sepenuhnya sadar apa yang dimaksud Pram.
“Tidur di sini malam ini. Temani aku. Biarkan Bayu menemani istrinya,” pinta Pram dengan manjanya. Tatapannya begitu memelas memohon pada Kailla.
***
TBC