Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 110 : Ketahuan Pram kembali


Pagi itu, Sam sedang memandang motor terbarunya, hadiah wisuda dari Ditya Halim Hadinata. Dia tidak menyangka keisengannya berujung kenyataan. Tadinya dia hanya bercanda pada sang tuan muda yang belakangan ini sering mengajak bertemu majikannya.



Ternyata iseng-iseng dan beneran berhadiah. Beberapa hari yang lalu Matt, menghubunginya dan menanyakan hadiah apa yang diinginkannya. Padahal Sam hanya asal berucap menginginkan motor baru yang sudah lama diidam-idamkannya itu. Membayangkan harganya yang fantastis, Sam tidak berharap banyak.


Namun, Ditya tidak main-main. Betapa terkejutnya Sam, kemarin sore ada pihak dealer mengantarkan motor baru untuknya tanpa diduganya. Warna dan typenya persis seperti yang diimpikannya.


Dan pagi ini, begitu bangun tidur masih dengan sarung gajah duduknya, Sam sudah duduk di pelataran rumah memandang motor barunya dengan penuh kebahagiaan. Semalaman dia tidak bisa tidur nyenyak, perasaannya sedang bergejolak penuh gairah. Tubuh lelah tidak mampu meredam hatinya yang sedang berpesta. Bayangan motot barunya enggan menghilang dari pelupuk matanya.


“Sam!” panggil Donny. Tiba-tiba asisten senior itu ikut duduk, memandang iri pada motor baru di hadapannya. Hampir dua puluh tujuh tahun ikut dengan Riadi, jangankan motor, sepeda pun dia tidak punya.


“Motor baru lagi?” tanya Donny, ikut terkagum-kagum dengan pencapaian Sam yang tidak kira-kira.


Di antara barisan asisten, terbilang Sam yang paling beruntung. Sudah dikuliahkan Pram, dan sekarang dia mendapatkan hadiah yang tidak main-main. Sebuah motor dengan harga yang tidak murah.


“Hadiah dari pengagumnya Non Kailla,” sahut Sam dengan sombongnya.


“Hah?! Serius. Bagaimana caranya? Ajarin dong!” pinta Donny, antusias.


“Serius! Kalau dia meminta bertemu Non Kailla jangan melapor pada Pak Pram, nanti kalau sudah bertemu beberapa kali, baru laporan. Terus dirayu-rayu, pasang tampang memelas,” sahut Sam dengan santainya.


“Gampang sekali. Itu enaknya kalau punya majikan cantik. Bisa dijajakan keliling,” lanjut Sam asal.


“Aku menargetkan Mas Dion setelah ini, kamu masih ingat kan dengan temasn kampus Non Kailla yang sekarang menjadi asistennya Pak Bara. Mumpung Non Kailla belum hamil, masih laku kalau dijajakan. Dion sekarang kan sudah sukses. Dulu-dulu sepertinya dia ada rasa dengan Non Kailla.”


“Kalau perut Non Kailla sudah membuncit, apalagi sudah ada tentengan, mana ada yang percaya kalau ada lelaki bertanya padaku dan aku katakan Non Kailla masih single,” celetuk Sam.


“Terus?” tanya Donny bingung.


“Pedekate, Bro. Terus tawarin mau bertemu Non Kailla apa tidak. Ya sudah, tinggal mengantar Non Kailla ketemuan. Nanti, pura-pura saja cemplungin ponsel ke dalam gelas. Pasang wajah memelas. Nanti juga ditawarin beli ponsel baru,” sahut Sam santai.


Plakkk!!


Donny memukul pundak Sam dengan kencang. Kesal dengan jawaban asal Sam.


“Gila apa! Bisa dikuliti Pak Pram kalau sampai aku jajakan keliling istrinya. Biasanya aku cuma manfaatin cowok-cowok yang mau deketin Non Kailla. Biasanya mereka rela menyogok demi mendapatkan info tentang Non Kailla,” jelas Sam.


“Beneran?” tanya Donny.


Sam mengangguk. “Aku serius. Aku sering dideketin cowok yang suka sama Non Kailla di kampus. Lumayan Bro, dapat traktiran makan siang,” cerita Sam.


“Sejak saat itu aku belajar banyak. Kamu tidak tahu, kalau di kampus Non Kailla seperti apa. Baru turun dari mobil sudah ada yang suit-suitan. Pak Pram saja yang jarang mengantar istrinya ke kampus. Kalau dia tahu, aku yakin Non Kailla bakal dikurung di dalam kamar, dipaksa hamil supaya tidak ada yang menganggu lagi.


Donny menggelengkan kepala. Namun, dia tidak akan berani melakukannya. Dia tidak punya nasib semujur Sam, yang selalu disayang Kailla dan menjadi orang kepercayaan Pram. Bahkan dia mendengar sendiri dari mulut Sam, kalau terjadi sesuatu dengan majikannya itu, Pram sudah menitipkan Kailla pada Sam.


***


Kalau Sam sedang bahagia dengan motor barunya di halaman rumah, sebaliknya Pram sedang menahan sakit kepalanya sejak subuh. Dia tidak berani bangun dari tempat tidur. Dunianya berputar hebat, bahkan disaat memejamkan mata.


Dari tadi dia tidak mengizinkan Kailla pergi jauh darinya. Meminta istrinya menemani di tempat tidur, sambil memijat pelipisnya dengan minyak kayu putih.


“Sayang, aku panggilkan dokter ya?” tawar Kailla, tidak tega melihat Pram yang mengeluh kesakitan.


“Tidak..! Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, hanya kepalaku tiba-tiba sakit.” tolak Pram, bergelung manja di pangkuan Kailla. Sedikit lebih nyaman, saat menikmati aroma istrinya yang belum mandi.


“Kai, tolong minta Ibu Ida buatkan aku teh hangat,” pinta Pram.


Kailla mengangguk. Baru saja beranjak, tetapi Pram sudah menahan tangannya.


“Kai, kamu jangan pergi. Tetap disini menemaniku. Hubungi ponsel Ibu Ida saja,” pinta Pram dengan manjanya.


Hubungan keduanya membaik, setelah tiga minggu yang lalu sempat terjadi pertengkaran dan berakhir dengan ancaman Pram yang mengajak berpisah. Sejak saat itu, Kailla mulai sedikit berubah, meskipun terkadang masih suka nakal bersama Sam di luar sana.


Pram pun melunak, tidak memperpanjang masalah. Menutup cerita istrinya yang terkadang masih labil dan susah ditebak. Ada banyak hal yang memicu semuanya. Dua puluh empat tahun mereka bersama, empat tahun mereka menikah, bukan waktu yang singkat. Keduanya sudah saling mengenal satu sama lain. Belum lagi sampai detik ini, tidak ada tanda-tanda munculnya seorang bayi di rahim Kailla.


“Sayang, kita ke dokter saja,” pinta Kailla setelah berhasil menghubungi Ibu Ida, dengan lembut menyentuh kening suaminya. Mulai khawatir saat melihat wajah memucat dengan tangan dingin di dalam gengamannya.


“Tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat sebentar dan semua akan baik-baik saja,” tolak Pram.


Tidak lama terlihat Ibu Ida muncul setelah mengetuk dan memanggil di depan pintu kamar. Wajahnya berubah kaget setelah melihat kondisi majikannya.


“Apa yang terjadi Non?” tanyanya sembari menyerahkan secangkir teh hangat.


“Aku tidak tahu, Bu. Dari subuh sudah begini,” sahut Kailla dengan wajah memelas.


“Ayo bangun, Sayang,” pinta Kailla. Membimbing tubuh suaminya agar duduk dan membantu lelaki itu menghabiskan teh hangatnya.


Baru saja menghabiskan sepertiga cangkir, berganti lambungnya bergejolak. Begitu cairan hangat yang melewati kerongkongan itu turun, isi perutnya langsung protes saat itu juga.


Dengan terhuyung dan berjalan sempoyongan, Pram bergegas menuju kamar mandi, menumpahkan isi perutnya ke dalam wastafel.


“Sayang, sebaiknya kita ke dokter saja,” pinta Kailla, mengusap lembut tengkuk suaminya. Khawatirnya semakin menjadi, saat suaminya terkulai lemas, bertumpu di wastafel setelah menumpahkan semua isi perutnya.


“Apa aku salah makan?” tanya Pram heran, berbalik memeluk Kailla.


“Makanya kita ke dokter. Bagaimana bisa ke kantor kalau kondisimu seperti ini,” keluh Kailla.


Pram tetap menggeleng. “Bantu aku ke tempat tidur. Aku mau tidur sejenak. Setelah isi perutku keluar semua, sedikit lebih baik,” jelas Pram, masih menahan sakit kepalanya.


“Minum obat sakit kepala saja ya?” tawar Kailla, berlari mencari kotak obat.


“Iya, aku mau tidur sebentar, nanti tolong bangunkan aku. Aku harus menghadiri rapat di kantor,” pinta Pram, memejamkan mata.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 11.00 siang, saat Pram yang mulai baikan turun dari kamarnya dengan setelah kantor abunya. Wajahnya sudah terlihat biasa dan tidak dilanda sakit kepala hebat lagi setelah mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


Kailla yang mengekor di belakang juga sudah terlihat cantik dengan dress berenda sederhananya.


“Kamu yakin mau tetap ke kantor?” tanya Kailla, memastikan.


“Iya Sayang. Aku sudah baik-baik saja,” sahut Pram.


“Lagipula aku. Masih ada rapat penting setelah makan siang. Setelah itu masih harus meninjau salah satu proyekku,” lanjut Pram, tersenyum.


“Kamu mau kemana?” tanya Pram heran.


“Sam mengajakku mencari pakaian untuk dipakai saat wisuda. Aku belum menyiapkannya, padahal tinggal menghitung hari,” sahut Kailla.


“Mau aku temani?” tawar Pram, meraih tangan istrinya dan mengandengnya menuju meja makan.


“Tidak perlu, aku hanya sebentar.” Kailla menolak.


Dengan cekatan, tangan berjemari lentik itu meraih dua potong roti, memoleskannya dengan selai kacang dan menyerahkannya pada Pram.


“Aku mencintaimu,” ucap Pram, mengecup kedua pipi Kailla, lengkap dengan ciuman hangat di kening dan berakhir di bibir.


“Me, too.”


“Jangan nakal! Jangan keluar terlalu lama,” pinta Pram, berjalan keluar.


***


Kailla sedang sibuk memilih kebaya modern yang akan dikenakannya saat wisuda nanti. Dia tidak punya waktu menjahit lagi, karena tertinggal beberapa hari. Memilih membeli yang sudah siap pakai di salah satu butik ternama langganannya.


Mata itu masih sibuk mengamati satu persatu kebaya yang dikenakan manekin, saat seseorang masuk dan mengagetkannya.


“Hai Kailla, apa kabar?” tanya Ditya. Lelaki itu tiba-tiba sudah berada di belakangnya.


“Ha?! Ditya?” tanya Kailla heran.


“Bagaimana bisa ada disini?” tanyanya lagi.


“Kamu lupa aku tinggal didekat sini,” sahutnya santai.


“Yang ini cantik,” ucapnya menunjuk ke salah satu manekin. Kebaya merah menyala sederhana, namun terlihat elegan.


“Ini?” tanya Kailla lagi memastikan.


Ditya mengangguk.


“Ah ini terlalu menor. Aku tidak menyukainya,” protes Kailla.


“Coba saja, aku akan menghadiahkannya untukmu. Ayo!” pinta Ditya memohon.


Dengan berat hati Kailla menurut, mencobanya dan menunjukan pada lelaki tampan itu.


“Cantik!” puji Ditya. Coba ganti lipstiknya dengan yang merah menyala, rambutnya digelung,” ucap Ditya lagi, menunjuk ke arah bibir. Meminta salah satu karyawan di butik itu membantu Kailla.


Tidak lama, Kailla sudah keluar dengan penampilan barunya. Ditya menatap dengan mata membulat penuh kekaguman.


“Kalau bukan istri orang dan masa lalunya tidak rumit, sudah ku bawa pulang ke istana Halim,” batin Ditya.



“Sempurna!” serunya.


Sam tidak terlihat disana, asisten Kailla itu sibuk mencari setelan jas untuk keperluan wisudanya. Dia sudah berjanji dengan Kailla akan bertemu di lobi.


“Kai, aku mau pamitan,” ucap Ditya tiba-tiba. Kailla yang masih sibuk mencari kebaya yang lainnya tampak menghentikan kegiatannya.


“Ada apa?” tanya Kailla heran, dengan wajah meredup seketika.


“Aku akan ke Jerman, tidak tahu kapan kembali,” sahut Ditya, berbohong. Lelaki itu memilih mundur dari hubungan Kailla dan Pram, setelah mendapat laporan dari Sam, kehadirannya memicu pertengkaran Kailla dengan suaminya.


“Tetapi aku usahakan untuk menghadiri wisudamu nanti,” lanjutnya lagi, dengan kedua tangan terlipat di dada.


“Oke. Titip salam untuk mamamu,” ucap Kailla datar, menyembunyikan perasaan kehilangannya.


“Nanti aku akan sampaikan. Titip salam untuk suamimu,” ucap Ditya menyodorkan tangannya.


Tangan Kailla bergetar hebat saat meyambut tangan Ditya. Ada banyak rasa berkecambuk di dalam dadanya saat ini. Kalau dia bisa memilih, dia akan memupuk perasaan ini, tetapi keadaannya tidak memungkinkan. Semesta tidak mendukungnya.


“Mengenai daddymu, aku akan tetap memantaunya. Semoga ada kabar baik secepatnya,” ucap Ditya.


“Sampai jumpa, aku harus kembali ke kantor” pamit Ditya.


“Pilih semua yang kamu inginkan. Aku akan membayarnya. Designer sekaligus pemilik butik ini adalah temanku,” jelas Ditya lagi.


Kailla terdiam. Tidak menjawab sama sekali, kalimat demi kalimat yang meluncur keluar dari bibir Ditya. Hanya bisa menatap punggung kekar dengan setelan jas kerja itu menjauh. Empat bulan ini, Ditya banyak mengisi hari-harinya. Mereka jarang bertemu, apalagi selama tiga minggu terakhir ini Kailla menolak menemuinya. Tetapi keduanya rutin berkomunikasi, bertukar kabar lewat pesan singkat. Bahkan setelah nomornya dihancurkan Pram, Ditya masih bisa melacak nomor barunya.


Dua bulir air mata itu menetes tanpa bisa diajak kompromi. Entah apa arti Ditya di dalam hidupnya, tetapi selama empat bulan ini, lelaki tampan itu sempat menghuni hatinya. Perhatian kecilnya sanggup menggetarkan perasaannya. Dikala dia bertengkar dengan Pram, lelaki itu akan jadi pendengar setianya. Di kala dia kesal, lelaki itu akan mendengar semua ocehannya dengan sukarela.


Pasti dia akan merasa kehilangan. Tidak ada lagi teman untuk membahas masalah daddy, atau sekedar bercerita tentang tas keluaran terbarunya. Kalau dengan Pram, dia tidak bisa melakukannya. Suaminya terlalu kaku dan tidak paham masalah fashion. Berbeda jauh dengan Ditya.


Moodnya hancur, tidak sanggup lagi melanjutkan acara belanjanya. Hanya membawa pulang kebaya yang tadi dipilihkan Ditya untuknya yang nanti akan dikirimkan ke rumahnya langsung.


Tepat saat akan meninggalkan butik, salah satu karyawan butik memanggilnya.


“Mbak, ini ada titipan dari Mas yang tadi,” jelasnya, menyerahkan shopping bag berukuran kecil pada Kailla.


“Kebayanya akan dikirim ke rumah, Nona nanti sore,” lanjutnya lagi, mengingatkan.


Kailla hanya mengangguk tanpa bicara. Pikirannya berantakan sudah. Merasa kehilangan sosok yang biasanya menemani hari-harinya meskipun hanya lewat pesan. Kalimat perpisahan Ditya tidak seperti biasanya. Sudah sering lelaki itu berpamitan saat hendak ke luar negri, tetapi tidak mendatanginya secara khusus seperti hari ini.


Sampai di lift, pikirannya masih mengambang. Tampak dia mencoba mencari tahu isi kantong yang tadi dititipkan karyawan padanya. Mengobrak-abrik kotak kecil yang ternyata adalah sebuah kalung dengan liontin indah bertahta berlian.



Terlalu sibuk mengagumi hadiahnya sampai dia tidak menyadari sama sekali saat pintu lift terbuka, seseorang sudah menunggunya.



Langkah Kailla terhenti tepat di depan pintu lift. Perasaan yang tadi berantakan sekarang lebih berantakan. Melihat punggungnya saja, dia sudah tahu siapa yang sedang berdiri dengan kedua tangan terselip di saku celana.


“Sa..yang..,” sapa Kailla dengan suara terbata.


Dan benar saja, saat punggung itu berbalik, dia bisa melihat wajah kaku suaminya yang sudah menunggunya di sana dengan raut wajah sulit diungkapkan. Entah sejak kapan suaminya itu berdiri di sana. Dan itu artinya dia harus siap dengan kemarahan Pram lagi, kalau lelaki itu sampai mengetahui pertemuannya dengan Ditya yang tanpa sengaja di butik tadi.



Tidak jauh dari tempat Pram berdiri, tampak Sam menunduk. Sepertinya, asisten itu sudah lebih dulu kena omelan. Itu terlihat jelas dari wajah Sam yang ketakutan. Beberapa minggu yang lalu, Sam sudah menerimah amarah dari Kailla karena melapor semua pertemuannya dengan Ditya pada Pram. Sejak saat itu, Sam memilih bungkam, tidak berani lagi melakukannya.


Pram memang majikannya, tetapi kemarahan Kailla lebih mengerikan. Bahkan majikan perempuannya itu mengancam akan menceburkan motornya ke lautan seberang rumah.


***


To be continued


Love You all


Terima kasih.


Hanya up 1 bab, seperti biasa dua bab dijadikan satu. Sampai jumpa besok ya.