Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 39 : Segeralah Hamil


Kailla dan Pram sudah berada di dalam mobil. Mereka meninggalkan Bayu yang masih bersama dengan Ibu Citra dan Kinar.


“Kenapa kamu tidak memberitahuku dulu. Setidaknya aku tidak perlu menangis tersedu-sedu takut kehilanganmu,” dengus Kailla. Tapi walaupun kesal, dia masih saja merengkuh lengan Pram dan bersandar manja disana.


“Aku perlu airmatamu, Sayang,” sahut Pram santai.


Kailla sedang serius menatap ke arah jalanan, mengamati satu per satu gerobak penjual jajanan yang berjajar di sepanjang perjalanan mereka. Ada bakso, bakwan malang, gorengan, mie ayam dan banyak lagi.


Kepalanya celingak-celiguk, menatap penuh harap dengan menelan ludah berkali-kali. Dan Pram sudah sangat hafal betul dengan kebiasaan istrinya.


“Kai, jangan memintaku menghentikan mobil dan membeli rujak buah lagi ya,” ucap Pram tiba-tiba. Dia sedang fokus memegang setir, melirik istrinya sambil tersenyum.


“Hah?!” Kailla heran. Belum mengerti maksud dari ucapan Pram.


“Kita sedang berduaan, tidak ada asisten. Mana sudah malam pula. Jangan memintaku turun untuk membeli rujak buah lagi,” jelas Pram.


Kailla mengangguk, langsung paham arah pembicaraan Pram.


“Sayang, kamu serius memutuskan hubungan dengan Mama?” tanya Kailla tiba-tiba.


“Tidak, tadinya aku berpikir bisa mendekatkan kalian berdua di pertemuan ini. Tapi aku menangkap sesuatu yang aneh dari tatapan mama padamu. Dan aku rasa harus melakukan ini, supaya mama bisa benar-benar sadar, bukan hanya di bibir saja.”


“Bagaimana mengenai Bayu?” tanya Kailla, bingung. Sejak tadi, dia memilih diam dan tidak protes dengan semua tindakan Pram. Dia merasa tidak memiliki hak untuk bertanya atau berpendapat di dalam tadi.


“Aku serius. Bayu orang kepercayaanku. Dan dia sudah mengakui, serius dengan perasaannya pada Kinar, apalagi umurnya sudah tidak muda lagi,” sahut Pram.


“Kalau dia menikah dengan Kinar, aku bisa tenang mempercayakan mama padanya,” lanjut Pram.


“Maksudmu, nanti Bayu akan tinggal dengan Mama?” tanya Kailla bingung.


Sebuah sentilan mendarat di kening Kailla, tepat setelah Pram menghentikan laju mobilnya. Memilih memarkirkan mobil itu di sebuah jalanan yang agak sepi. Dia merasa perlu berbicara serius dengan Kailla.


“Aduh Sayang! Ini sakit,” kejut Kailla, mengusap keningnya. Cemberut, melotot pada Pram.


“Mama yang akan tinggal dengan Bayu. Aku kan sudah jelaskan, rumah yang sekarang mama tempati dan fasilitasnya akan aku berikan pada Bayu. Dia laki-laki, kalau menikah dan tidak punya apa-apa, aku khawatir istri dan mamaku akan menginjak-injak harga dirinya,” jelas Pram.


“Mama menyayangi Kinar seperti putrinya sendiri. Akan lebih baik dia tinggal dengan Kinar dan Bayu, kalau memang mereka jadi menikah, dibanding tinggal dengan kita,” lanjut Pram.


“Aku sangat menyayangi mama. Aku hanya bisa melepaskan mama pada orang-orang yang bisa aku percaya dan Bayu orang yang tepat. Apalagi dia mencintai Kinar.”


“Bukankah kamu terlihat seperti anak yang melepas tanggung jawab orang tuanya pada orang lain?” tanya Kailla.


“Hahaha, istriku mulai sedikit pintar dan belajar berbakti.”


“Huh..!” dengus Kailla dengan sombongnya.


“Aku sangat berharap bisa membawa mama tinggal bersamaku, mengurus mama dengan tanganku sendiri bukan hanya dengan uangku.”


“Lalu?”


“Kondisi saat ini apa memungkinkan kamu dan mama tinggal serumah. Beruntunglah para suami di luar sana, tidak terjebak dalam situasi sepertiku.”


“Sayang, kamu mau mama tinggal bersama kita?” tanya kailla mulai lemah.


Pram menggeleng.


“Mama hanya tinggal dengan mereka, tapi selain itu aku tetap bertanggung jawab pada mama. Untuk situasi kita, akan lebih baik mama tinggal dengan menantu laki-lakinya dibanding dengan menantu perempuannya yang manja, tidak bisa apa-apa ini,” ledek Pram, tersenyum.


“Untuk kebaikanmu dan Mama juga,” lanjut Pram, mengacak rambut Kailla.


Kailla kembali cemberut mendengar ucapan suaminya.


“Jangan hanya bisa cemberut saja. Ingat yang aku katakan tadi di depan mama. Akan membuatmu menjadi menantu idaman.”


“Huh!” dengus Kailla, kembali dia teringat dengan tas berwarna pink yang ditinggalkannya di restoran.


“Jangan hanya bisa mendengus, kata-kataku tadi dicerna, dimasukan ke dalam sini,” ucap Pram menunjuk pelipis Kailla.


“Bagaimana pun kamu harus belajar menjadi istri yang baik, setelah itu kamu masih harus belajar menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita.”


“Apakah seberat itu?” tanya Kailla.


“Tidak, kalau kamu benar-benar mencintaiku, tidak akan berat,” sahut Pram.


“Apakah menjadi seorang ibu begitu berat, sampai aku harus belajar. Bukankah aku bisa besar tanpa seorang ibu.” ucap Kailla pelan.


“Dan perempuan cantik disampingku ini adalah contoh perempuan yang dibesarkan tanpa sentuhan kasih sayang seorang Ibu, hanya besar oleh tangan para lelaki yang gila kerja. Hahaha.” Pram terbahak.


“Daddy dulu benar-benar bekerja keras. Aku ingat, harus melakukan banyak kenakalan hanya untuk bisa bertemu dengannya. Kalau tetap jadi anak baik, sabar menunggu kepulangannya di depan pintu, daddy tidak akan pulang.” Kailla mengingat masa kecilnya.


“Aku masih ingat, dulu aku sengaja menyiram berkas perusahaan dengan segelas susu di ruang kerja. Setelah itu merengek pada Donny menghubungi daddy.”


Pram menggeleng, mengingat kenakalan demi kenakalan yang dilakukan istrinya semasa kecil. Para asisten di rumah sudah kebal dengan kemarahan Riadi karena lalai menjaga Kailla.


“Dan daddy langsung pulang saat itu juga. Walau dengan mengomel dan marah-marah. Tapi aku bahagia.” Kembali Kailla bercerita.


“Itu alasannya kenapa dulu setiap dimarahi, aku hanya akan mendengar sambil tersenyum. Tidak takut sama sekali, aku sedang melepas rinduku pada daddy.”


“Kai, aku terkadang takut, anak-anakku akan senakal dirimu sewaktu kecil,” ucap Pram, tersenyum.


“Aku tidak nakal, aku hanya menginginkan daddy selalu ada disaat aku membutuhkannya. Makanya aku berulah setiap hari.”


“Tahukah rasanya setiap hari harus ke sekolah hanya di antar sopir dan melihat teman-teman dikecup pipi dan keningnya di depan gerbang sekolah oleh papa atau mamanya.”


“Daddy tidak pernah mengantarku ke sekolah sama sekali.”


“Dan untuk itu kamu berulah, membuat Donny dimarahi. Karena sering mengantarmu terlambat ke sekolah,” ucap Pram.


“Iya... aku ingat, bertengkar dan memukul temanku supaya daddy dipanggil ke sekolah. Tapi aku harus menelan kecewa. Bukan daddy, tapi selalu Om Pram yang datang.”


“Dulu setiap aku sakit, aku bahagia. Kalau bernasib baik, daddy akan pulang cepat menemuiku ,” ucap Kailla sedih.


Pram mendengar cerita demi cerita masa kecil Kailla. Bukannya dia tidak tahu bagaimana Riadi memperlakukan Kailla di awal-awal kehadiran Kailla di dalam kehidupan mertuanya. Butuh waktu bertahun-tahun, Riadi baru bisa menerima kehadiran Kailla.


Ibu Rania, mamanya Kailla bukanlah wanita yang dicintai Riadi. Kailla, bukanlah putri yang diinginkan Riadi di awalnya. Butuh waktu dan perjuangan panjang, sampai mertuanya itu bisa mencintai Kailla dengan sepenuh hati.


Dan di masa tuanya, Riadi pernah mengakui penyesalannya. Terlalu sering menyia-nyiakan putrinya di saat kecil. Beruntung saat dia menyadari, belum begitu terlambat, dia masih sempat melimpahkan kasih sayang untuk Kailla, walaupun tidak bisa mengganti masa kecil yang sudah terlewat.


Dan itu juga salah satu alasan Riadi tidak menikah lagi. Selain terlalu mencintai almarhumah istrinya, dia juga melakukannya demi putrinya.


“Aku berharap tidak mendapatkan surat cinta dari guru anakku nanti. Sudah cukup pengalamanku mengurusmu dulu, Kai,” ucap Pram terkekeh.


Masih jelas diingatan Pram, datang ke sekolah menemui guru Kailla. Gadis nakalnya sedang berdiri dengan seragam putih merah kotor karena bergumul di tanah, bergulat dengan teman laki-lakinya di halaman sekolah.


Dan Kailla dengan wajah angkuh, berdiri tanpa menangis sama sekali, berbeda dengan anak laki-laki lawan tandingnya yang menangis ketakutan sampai ingusnya keluar.


Tidak terhitung berapa kali, Pram harus meminta maaf pada orang tua murid yang lain karena ulah nakal Kailla.


“Tapi beruntung aku memilikimu sejak lahir,” ucap Kailla langsung menyerang bibir suaminya dengan brutal.


“Kalau aku benar-benar menikah lagi, apa yang akan kamu lakukan Kai?” tanya Pram, setelah Kailla melepas ciumannya.


“Aku akan membunuhmu dan istri mudamu!” ucap Kailla.


“Tahukah kamu, aku lebih takut kamu yang akan selingkuh dan meninggalkanku,” bisik Pram, merengkuh tubuh istrinya.


“Kamu yang terbaik, Sayang. Bahkan sejak kecil kamu tidak memarahiku disaat aku berulah,” ucap Kailla. Bersandar manja di pundak Pram.


“Karena aku tahu rasanya tidak memiliki siapa-siapa. Masa kecilku juga tidak lebih baik darimu. Aku tahu rasanya tidak memiliki sandaran, tidak mendapatkan kasih sayang orang tua. Untuk itu, aku selalu memanjakanmu. Dan akhirnya.....”


“Akhirnya apa?” tanya Kailla cepat, menautkan jari-jarinya dengan jemari suaminya.


“Dan akhirnya aku kena batunya sendiri. Apa yang aku tanam, dan benar-benar aku tuai sekarang,” sahut Pram terkekeh.


“Istriku manjanya kebablasan!” lanjut Pram.


“Ahhhh!!” gerutu Kailla khas dengan bibir mengerucut setiap Pram berkomentar buruk padanya.


“Segeralah hamil, Kai. Setelah hampir empat tahun berjuang meluluhkan hati mama dan berakhir sia-sia. Tapi semoga mama tidak mengutuk keturunanku lagi,” ucap Pram, mengusap perut rata istrinya.


“Dan aku tidak mau anak-anak kita memiliki masa kecil yang sama seperti kita,” lanjut Pram.


***


Terima kasih.


Love you all


Like komen dong😘😘😘