Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 95 : Sayang, aku merindukanmu


Pram duduk, menenangkan diri setelah menyalurkan emosi dan amarahnya. Sedangkan Bayu lebih kalem, dia sudah mengenal Pram dengan baik. Bukan hanya mengenal saja, dia tahu betul beban hidup yang harus dipikul Pram. Harus mengemban tanggung jawab dari Riadi untuk menjaga putrinya.


Ada banyak peristiwa yang dilaluinya, dua kali penculikan Kailla, belum lagi keonaran demi keonaran yang tidak kunjung usai. Dan Bayu ada sana, menemani enam tahun terakhirnya bersama Pram.


“Maafkan aku, Bos! Aku lalai kali ini,” ucap Bayu, menyesal. Dia cukup mengerti kemarahan Pram. Memang terkesan masalah biasa, tetapi disitulah jasanya dibayar mahal oleh Pram. Untuk melindungi Kailla, dari masalah apapun.


“Aku tidak bisa menjaga Kailla dengan tanganku sendiri, aku butuh kalian untuk membantuku,” jelas Pram, menerawang.


“Maafkan aku!” bisik Pram. Tepukan hangat di pundak, kemudian berlalu pergi.


Setelah menemui Bayu, target selanjutnya adalah mamanya. Ada banyak kesalahpahaman sang mama mengenai apa yang dipikirkan Pram tentang istrinya. Dan Pram merasa harus meluruskan, sebelum hubungan terlanjur membeku dan kaku kembali seperti dulu.


Saat keluar dari kamar Bayu, pandangan Pram tertuju pada Ibu Citra. Wanita itu tengah duduk melamun di sofa ruang tamu tanpa teman.


“Ma, kita bisa bicara? “ tanya Pram, menghentikan langkahnya.


Sebuah anggukan dengan raut wajah datar Ibu Citra cukup menggambarkan isi hati wanita tua itu.


“Mama kembali ke kamar saja. Nanti aku akan menemui mama. Sekarang aku harus mengurusi istriku dulu. Dia belum makan malam,” jelas Pram.


Lelaki tampan itu bergegas ke dapur, menyiapkan sepiring steak lengkap dengan buncis dan kentang goreng yang sudah melempem. Melemah karena terlalu lama diabaikan di udara dingin.


Pram sudah melangkah menuju kamar dengan nampan di tangannya. Berisi makan malam dan segelas air putih. Dengan punggungnya, dia memaksa membuka pintu kamar Ibu Citra yang di hari kedua beralih fungsi menjadi kamar mereka. Mamanya mengalah, tidur di kamar yang seharusnya diperuntukan bagi mereka.


“Sayang, makan malammu,” ucap Pram, meletakan nampan makanan di atas nakas. Istrinya masih menangis tidak berkesudahan.


“Ayolah Kai, apa yang kamu tangisi lagi?” tanya Pram, menjatuhkan tubuhnya, duduk di sisi ranjang.


Kailla bukannya menjawab malah merengkuh leher suaminya. “Maafkan aku,” bisiknya kembali.


“Aku sudah memaafkanmu,” ucap Pram, meraih sepiring nasi dan meletakan di atas pangkuan istrinya.


“Tetapi aku tidak bisa makan sendiri,” keluh Kailla menunjukan tangan kanannya yang membengkak.


Tanpa banyak protes, Pram meraih kembali piring steak dari pangkuan istrinya. Memotongnya hinggan berukuran sedang, pas untuk masuk ke mulut istrinya. Tidak sampai disitu, setelahnya dia menyuapkan ke dalam mulut Kailla dengan telaten. Sesekali mengusap ujung bibir dengan tisu, karena terkena saos.


“Kita tidak lama berada di sini. Aku harap tidak menghabiskan waktu disini dengan bertengkar,” ucap Pram tersenyum. Tangannya baru saja meyuapkam sepotong steak ke dalam mulut Kailla.


“Aku juga tidak mau bertengkar denganmu. Rasanya tidak enak,” celoteh Kailla dengan mulut penuh.”


“Maafkan aku, sudah membawa mama ikut bersama kita. Aku tadinya ingin mendekatkanmu dengan mamaku,” ucap Pram, terkandung penyesalan di dalamnya.


“Tidak apa-apa. Terkadang mama itu asyik juga, bisa dijadikan partner membuat kekacauan. Lebih seru dengan mama dibandingkan Bella.”


Kailla menutup mulutnya dengan tangannya. Tersenyum usil, layaknya seorang anak kecil yang sedang tertangkap basah sudah berbuat onar.


“Besok aku boleh ke toko tas yang kemarin lagi? Mama tiba-tiba ambruk, aku melupakan tas yang mau kami beli,” ucap Kailla meminta izin. Kali ini dia berterus terang, tidak seperti sebelumnya main kucing-kucingan.


Pram mengangguk, menyuapkan potongan steak terakhir ke dalam mulut istrinya.


“Bawa Bayu bersamamu. Aku bisa bekerja dengan tenang kalau ada yang menjagamu dan mama,” sahut Pram.


“Oh ya, ada yang ingin aku bicarakan dengan mama. Kamu tidur duluan ya,” pamit Pram, menepuk pucuk kepala istrinya. Lalu berjalan keluar kamar, sembari membawa nampan yang sudah kosong.


***


Ketukan lembut di pintu membuat Ibu Citra terjaga. Baru saja matanya menutup karena kantuk, tiba-tiba membuka lebar kembali. Dia ingat janjinya dengan sang putra yang belum terealisasi.


“Masuk!” teriaknya dari tempat tidur. Dia yakin yang mengetuk pintu adalah putranya. Mengangkat tubuh rentanya bersandar di tempat tidur.


Dan benar saja, dari balik pintu muncul Pram dengan kaos santainya. Seperti biasa, selalu terlihat tampan dan menawan dengan senyuman hangatnya.


“Mama sudah tidur?” tanya Pram, memilih duduk di sisi ranjang supaya lebih nyaman berbincang dibanding duduk di sofa.


“Baru saja terbangun saat mendengar suara ketukanmu,” jelas Ibu Citra.


“Apa yang mau kamu bahas? Mengenai istrimu? Mama minta maaf, Pram,” lanjut Ibu Citra, memilih mengaku salah terlebih dulu.


“Ma, sejak awal mama sudah tahu seperti apa kemampuan istriku. Bahkan sebelum ke Austria, aku sudah menjelaskan pada mama. Kalau mama tidak sanggup memakan masakan Kailla, mama bisa memesan makanan dari luar. Tidak ada yang keberatan,” ucap Pram, terdengar kesal.


“Pram, mama hanya ingin istrimu belajar,” sahut Ibu Citra, mencoba membela diri.


“Ma, aku hanya ingin meluruskan. Maaf, kalau selama ini mama berharap lebih pada istriku. Kenyataannya, istriku belum bisa apa-apa,” ucap Pram membuka pembicaraan.


“Tetapi atas ketidakbisaannya selama ini, ada andil diriku juga di dalamnya,” lanjut Pram, menjelaskan.


“Kamu terlalu memanjakannya, Pram. Jadi dia tidak bisa apa-apa.” Ibu Citra berkomentar. Saling menautkan jemari tangannya di atas pangkuannya.


“Tetapi aku memang tidak memaksanya untuk bisa segala hal.”


Wanita berdaster batik biru itu menghela nafas. “Bukan bisa segalanya, Pram. Memasak itu kodrat seorang wanita. Mengurus dan melayani suami itu tugas seorang istri,” jelas Ibu Citra tidak mau kalah.


“Kalau begitu bagaimana dengan mama. Bukankah sama saja dengan istriku? Mama yakin, mama bisa memasak. Kalau aku melabeli mama bukan istri yang baik karena mama tidak bisa memasak. Apa mama bisa terima?”


“Hanya karena dia tidak bisa memasak seperti Kinar, lalu mama beranggapan dia bukan istri yang baik. Begitu maksud mama?” todong Pram lagi.


“Asal mama tahu, aku juga tidak pernah memaksa dia harus bisa memasak. Tidak, Ma. Aku hanya ingin dia memahami tugas-tugas seorang istri itu seperti apa. Tetapi aku tidak menuntut dia harus bisa melakukannya,” jelas Pram.


“Pram, dengarkan ma..” Ibu Citra mengantungkan kalimatnya, Pram sudah memintanya menutup mulut kembali.


“Kalau aku menginginkannya bisa pintar di dapur, sudah lama aku menitipkannya pada cheff terkenal atau mendaftarkannya ke sekolah memasak terbaik di Jakarta. Tetapi aku tidak melakukannya.”


“Karena bisa memasak atau tidak itu, itu tidak penting untukku. Aku masih mampu membiayai semua kebutuhannya, mempekerjakan asisten rumah tangga untuknya.”


“Mama tidak mengerti jalan pikiranmu, Pram.”


“Banyak wanita di luar sana yang tidak bisa memasak. Hanya saja mereka memiliki nasib dan keberuntungan yang berbeda dengan istriku.”


“Mungkin di luar sana, mereka beruntung mendapatkan suaminya yang sederhana. Yang akhirnya memaksa mereka harus turun ke dapur dan bisa memasak atau mengurus pekerjaan rumah lainnya karena keadaan.


“Dan Kailla memiliki keberuntungannya sendiri. Dia tidak perlu repot-repot memusingkan semua itu.”


Ibu Citra menggelengkan kepala. “Kamu terlalu memanjakannya Pram,” gerutu Ibu Citra.


“Kalau bukan aku yang memanjakannya, lalu siapa lagi?”


Kalau aku tidak memanjakan istriku, lalu mama mau aku memanjakan perempuan lain?”


Bukk! Sebuah pukulan penuh kekesalan mendarat di lengan Pram. “Maksud mama bukan seperti itu!” omel Ibu Citra.


“Suatu saat kalau aku sudah jatuh miskin dan tidak memiliki apa-apa, aku yakin Kailla juga bisa melakukannya. Tanpa paksaan!” ucap Pram.


“Bukan begitu maksud mama, Pram. Kamu memanjakan istrimu itu terlalu berlebihan.


“Jujur, aku paham maksud mama. Tetapi di mataku Kailla itu tetap seperti dulu, walau sekarang statusnya istriku,” jelas Pram.


“Aku memperlakukannya sama seperti dulu, seperti anakku sendiri dan..” Seulas senyuman muncul di bibir Pram.


“Dan aku tahu jauh di dalam hati Kailla, ada bagian dari dirinya masih menganggap aku Om-nya, pengganti daddynya.”


“Mama pusing setiap membahas Kailla denganmu,” gerutu Ibu Citra, berbaring kembali. Menarik selimut siap melanjutkan tidurnya.


“Mama tahu, hubungan kami di masa lalu jauh lebih kuat dari hubungan pernikahan kami. Dan itu membuat kami bisa bertahan dengan pernikahan ini.”


“Itu juga yang aku rasakan, setiap harus bersabar dan bertahan menghadapi kenakalan Kailla.”


“Sudah, pergi ke kamarmu. Anakmu pasti sudah menunggu bapaknya,” dengus Ibu Citra kesal, berbaring memunggungi Pram.


***


Pram kembali ke kamarnya, menatap Kailla yang masih sibuk denan ponsel di tangannya. Begitu melihat wajah Pram muncul di balik pintu, Kailla sudah berlari turun dan menyambut dengan manjanya. Bergelayut manja dengan hati-hati di leher sang suami. Was-was melanda, khawatir tangannya yang terluka akan tersenggol tanpa sengaja.


“Ada apa, Kai? Kenapa jadi manja begini?” tanya Pram tersenyum, berjalan mendekati tempat tidur dengan Kailla yang masih betah membelit lehernya.


“Buka kaosmu, aku akan mengobati lukamu,” bisik Kailla dengan malu-malu.


Pram tersenyum usil, semakin melihat Kailla merona semakin dia bersemangat untuk menggodanya.


“Kamu tidak berniat melecehkanku atau memperkosaku, kan?” tanya Pram, tersenyum. Sembari melepas kaos putihnya dan membuangnya asal, memamerkan dada kekarnya.


Pemandangan pertama yang dilihat Kailla adalah bekas luka tersiram air panas yang masih terpampang nyata di dada bidang suaminya.


“Ayo berbaring disana. Aku akan mengolesnya dengan salep yang sama dengan milikku,” sahut Kailla.


Pram menurut, berbaring dengan pasrah. Membiarkan Kailla melakukan apa yang ingin dilakukannya. Usapan lembut tangan Kaila yang mengoles salep di area luka, perlahan tapi pasti berpindah. Usapan hangat yang semakin lama, semakin membuat Pram menggila.


“Kai, kamu jangan menggodaku!” ancam Pram, saat merasakan jemari lincah Kailla kian turun ke bawah. Melewati pusar dan berakhir dengan lancang membuka celana panjangnya.


“Sayang, aku merindukanmu,” bisik Kailla.


***


To be continued


Love you all


Terima kasih.


Note : Yang kangen kegilaan dan kesomplakan Sam dan Kailla, kisah mereka akan muncul di judul Menikahi Majikan Ibu ya. Bab terakhir up dan yang akan diup besok masih seputaran kisah Kailla, Pram dan Sam yang berkolaborasi dengan Bara dan Bella tentunya.


Kisah Pram dan Kailla dari keguguran sampai 4 tahun pernikahan yang diskip disini akan dimunculkan disana.


Note lagi : belum sempat dicek langsung up dan tak tinggal tidur. Kalau ada typo dan kesalahan akan direvisi besok. Author mengantuk sudah.