Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 64 : Permainan Kailla


Emosi dan kesabaran Kailla benar-benar diuji saat ini. Rasa-rasanya sudah ingin dia menjambak rambut panjang perempuan licik di depannya ini tanpa ampun. Dia bukannya tidak tahu, Kinar sedang memancing emosinya, menguji level kesabarannya yang sebentar lagi melewati ambang batas.


Kailla tahu, semakin dia terbawa kemarahan dan larut dalam cerita, Kinar akan semakin bahagia. Dia berusaha untuk tidak mau terseret dengan permainan rubah betina yang sedang mengaduk-aduk di air jernih.


Tetapi kata-kata yang dilontarkan Kinar benar-benar membuatnya memanas, bagaimana perempuan licik itu memperagakan dan menunjukan cara Pram memeluk dan mengecup. Rasanya dia sudah ingin merobek paksa mulutnya.


“Oh, sepertinya Tante bahagia sekali dipeluk suamiku,” celetuk Kailla, berusaha menahan gejolak di dalam dadanya. Cemburu yang sebentar lagi akan menyembur keluar. Susah payah menahan gejolak di hatinya, sembari menggigit bibir supaya tidak mengumpat dan berkata kasar.


“Minta maaf Tante tidak terlihat tulus,” lanjut Kailla dengan terus terang. Tatapannya menantang, seolah menunggu Kinar bereaksi. Berbalik, strateginya kini adalah untuk menguras kesabaran dan mengaduk emosi Kinar.


Perempuan itu terlihat biasa saja, tidak menanggapi sindiran halus yang dilempar Kailla. Kembali meraih pisau buah dan melanjutkan mengupas apel, membuat irisan tipis pada kulit buah merah pekat itu.


“Tante, memang tidak ada niat untuk menikah?” tanya Kailla sedang mencari perkara. Sejak tadi otaknya sedang mengatur rencana bagaimana membalas kelakuan Kinar yang dengan sengaja menyakitinya.


“Belum bertemu jodoh,” sahut Kinar singkat padat dan jelas, tetap fokus dengan kegiatan memotong buahnya. Bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari apel washington yang menggugah selera itu.


“Tante sih ketinggian, harusnya menerima jodoh yang ada di depan mata, bukannya lelaki di depan mata.” Kailla menyindir kembali. Sindiran halus yang entah tepat sasaran atau tidak.


“Anak kecil, tidak perlu ikut campur masalah jodoh orang dewasa,” ucap Kinar berusaha tidak terpancing.


“Tante, suamiku itu tampan tidak?” tanya Kailla tiba-tiba. Masih tetap tidak menyerah membuat Kinar kesal. Mulai selangkah lebih dekat dengan tujuannya.


Kinar diam, tidak meladeni pertanyaan Kailla. Saat ini, siapapun yang sanggup bersabar dialah yang akan menjadi pemenangnya.


“Bagaimana kalau aku pinjamkan sehari untukmu. Tante berminat?” tawar Kailla asal.


“Apa maksudmu?” Kali ini Kinar bereaksi, mengangkat pandangannya. Tajam, tertuju pada manik mata lawan bicaranya.


Kailla bergeser, duduk mendekat pada Kinar, berbicara sembari berbisik pelan.


“Aku tahu semua isi hati Tante. Tante menyukai suamiku kan?” todong Kailla.


Kinar mulai terpancing. Melepas buah apel dari tangannya.


“Apa yang kamu inginkan, Kai?” Kinar mencoba berbicara serius.


“Tidak ada. Aku hanya ingin mengatakan, cari laki-laki lain. Jangan suamiku!” tegas Kailla, dengan suara pelan. Takut suara berisiknya akan membangunkan sang mertua.


“Kalau tidak mampu mencari yang masih sendiri, aku bisa mencarikannya untuk Tante. Di rumahku banyak, berbaris dari gerbang sampai ke halaman belakang. Tapi jangan coba-coba mengganggu miliku!” ancam Kailla, berbisik langsung di telinga Kinar.


Kinar mengenggam pisau buah itu dengan erat, memandang Kailla tidak berkedip. Ingin rasanya melempar gadis kecil yang to the point ini. Rasanya ditelanjangi.


“Jangan pikir aku tidak tahu apa yang ada di otakmu selama ini,” ucap Kailla, jari telunjuknya sedang mengetuk pelipisnya sendiri berulang kali.


“Wanita murahan! Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan untuk membohongi mertuaku. Kebaikanmu itu palsu!” tuding Kailla, tersenyum sinis.


“Kurang ajar kamu, Kai! Beraninya kamu menghinaku!” kecam Kinar, tetap dalam pengendalian diri yang baik. Setidaknya masih menjaga volume suaranya agak tidak membangunkan Ibu Citra.


“Aku bahkan berani memukulmu, tapi aku tidak akan melakukannya. Mengotori tanganku saja menyentuh perempuan murahan sepertimu!” ucap Kailla, menggesek kedua tangannya, seolah sedang membersihkan telapak tangannya dari kotoran debu.


Kinar meradang. Benar-benar emosi mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari bibir Kailla.


Reaksi berbeda ditunjukan Kailla, bocah nakal itu malah tertawa mengejek. Senyumnya begitu mengesalkan.


“Sssttt, p*elacur bahkan lebih terhormat dibandingkan wanita perebut suami orang sepertimu Tante,” ucap Kailla terngaga, tiba-tiba dia menutup mulut dengan telapak tangannya. Mengolok-olok dan mempermainkan perasaan Kinar.


“Kurang ajar kamu, Kai!” geram Kinar. Rasanya sudah ingin mencabik-cabik mulut Kailla yanh kelewatan.


“Hadeuh! Aku yang seharusnya mengatakan itu, Tante. Kamu yang mau merebut milikku kenapa sekarang lebih galakan Tante,” celetuk Kailla, dengan santai.


Baru saja dia akan berpindah menjauh, Kinar sudah mencekal tangannya terlebih dulu. Dengan tatapan tajam Kinar menggengam erat pergelangan itu hingga memerah.


“Eh, mau mengajak bertarung? Ayo!” Kailla ikut menarik atasan yang dikenakan Kinar dengan tangannya yang bebas. Membuat wanita itu terpasksa berdiri.


Saling tarik menarik, berlanjut saling menjambak dan saling mencakar. Bahkan kaki pun ikut berperan serta. Kailla masih sempat menendang paha Kinar, berusaha melepaskan cekalan kuat wanita itu. Suara berisik mereka sempat membuat Ibu Citra terganggu, terbukti ada pergerakan sebentar walaupun setelah itu terlelap kembali.


“Aduh! Ini serius Tante?” tanya Kailla masih bercanda. Saat Kinar menyeretnya menjauh.


Kailla masih berusaha melawan, dari segi postur, Kinar jauh lebih besar dan tenaganya jauh lebih kuat. Bahkan kalau dia mau, dia bisa menghempas kasar tubuh Kailla ke lantai.


“Sini kamu, aku akan merobek mulutmu, supaya kamu tidak bisa mengoceh lagi!” ancam Kinar berusaha tidak berteriak. Dia tidak mau pertengkaran mereka disaksikan Ibu Citra. Rusak sudah image perempuan kalem dan baik-baik yang dibangunnya bertahun-tahun.


“Anak kecil mau melawanku, Beraninya kamu menginjak-injak harga diriku!” ujar Kinar, murka.


Kailla sengaja memancing dan tidak mau melawan. Sembari menunggu Bayu datang menemuinya. Sesekali melirik ke arah mertuanya yang sedang terlelap. Dan benar saja, tidak lama terdengar bunyi pintu kamar terbuka, Kailla memulai permainannya kembali.



“Aduh...aduh...! Sakit.. Tolong aku Bay!” jerit Kailla berpura-pura, tanpa melihat siapa yang masuk ke dalam. Dia menggengam erat tangan Kinar supaya tidak melepas jambakan di rambutnya, sembari terus merintih kesakitan. Tidak peduli lagi dengan suara berisiknya. Toh, ada saksi yang akan membelanya nanti di depan mertua ataupun sang suami.


“Kai, lepaskan!” pinta Kinar saat menyadari siapa yang baru saja masuk. Lelaki tampan dan matang yang sudah membulat dengan tangan terkepal. Mendadak emosi saat melihat aksinya dan Kailla.


“Mas Pram....,” bisik Kinar pelan.


Kailla terkejut, segera melepaskan tangan Kinar.


“Mati aku kali ini, ketahuan bertengkar lagi!” batin Kailla.


Segera berpikir cepat untuk menyelamatkan dirinya supaya tidak terkena omelan suaminya. Dengan berlari sembari menangis, menghambur ke pelukan Pram.


Permainan akan semakin menarik. Dia akan menunjukan dimana tempat perempuan licik ini di dalam hidup Pram dan mamanya. Jadi wanita rubah ini. bisa sadar untuk tidak menganggu apa yang tidak ditakdirkan Tuhan untuknya.


“Hikssss.. hikssss... hiksss!” Tangis Kailla pecah. Dengan bersusah payah dia harus mengeluarkan air matanya buayanya. Berharap suami yang begitu menyayanginya akan membelanya mati-matian seperti biasa.


“Sayang, ada apa ini? Mana Bayu?” Suara berat Pram akhirnya terrdengar juga. Emosinya mencuat ke permukaan saat melihat kekacauan yang sudah diperhitungkannya. Apalagi melihat istrinya menangis san kesakitan.


“Sayang, kamu tidur dengan Tante Kinar semalam ya?” tanya Kailla di sela isakannya. Mengadukan semua, bahkan melebih-lebihkan. Mendramatisir cerita supaya Pram semakin emosi dan memukul mundur Kinar. Dia tidak ingin mengotori tangannya dengan memukul wanita itu, yang hanya akan membuatnya terlihat buruk di mata dunia.


“Hah?! Siapa mengatakan ini padamu?” tanya Pram, kembali emosi.


Pandangannya beralih pada Kinar. Dia yakin pasti wanita itu sudah bercerita banyk pada istrinya. Padahal sebelumnya dia udah memberi peringatan pada Bayu supaya Kinar tidak memiliki kesempatan untuk menyebar fitnahnya, tapi Bayu lalai lagi untuk kesekian kalinya.


“Kata Tante Kinar, semalaman kamu tidur bersamanya. Hiks..Hiks...!” Kembali Kailla menangis sembari melirik ke arah Kinar. Senyum terukir saat melihat raut wajah ketakutan wanita penggoda itu.


“Apa yang dikatakannya padamu. Apa yang dilakukannya padamu? Mana Bayu?” tanya Pram. Wajahnya penuh dengan kemarahan sekaranh. Suaranya meninggi, tidak peduli lagi kalau akan mengganggu mamanya. Kalau perlu Ibu Citran harus tahu kelakukan busuk wanita yang sudah dianggap putrinya sendiri.


Segera dia mengeluarkan ponselnya, menghubungi asistennya yang entah menghilang kemana. Tepat di deringan pertama, terdengar suara maskulin dari seberang.


“Bay! Kamu mau mati sekarang?” ucap Pram langsung menutup ponselnya. Kalimat yang cukup membuat Bayu segera berlari ketakutan dan menemuinya.


Pram mengedarkan pandangannya, menatap mamanya yang mulai terjaga. Masih dengan menggengam tangan istrinya, Pram menghampiri Ibu Citra. Dia masih sempat menangkap pemandangan saat Kailla menjulurkan lidahnya, mengejek Kinar yang berdiri mematung di sana.


“Ma, bagaimana kamu mendidik putrimu itu! Dia berani memukul istriku!” adu Pram, berusaha menahan kemarahannya. Ibunya baru saja bangun dari tidur, bahkan tidak tahu apa-apa.


“Ada apa Pram. Mama tidak tahu menahu,” ucap Ibu Citra, bingung.


“Bagaimana ceritanya. Aku baru saja menitipkan istriku sebentar disini. Tapi dia sudah menjadi korban dari putri kesayanganmu.”


Ibu Citra yang tidak mengetahui apa-apa hanya bisa memanggil Kinar mendekat. Mencari informasi dari wanita yang sudah dianggapnya seperti putrinya sendiri.


“Kalau mama bertanya padanya, pasti dia akan membela diri,” ucap Pram, kesal.


“Aku pusing, kalau ada Kinar berjaga disini, sebaiknya aku dan Kailla tidak datang dulu. Aku tidak mau melihat istriku disiksa lagi,” lanjut Pram, sudah menarik istrinya untuk keluar.


“Ja-jangan Pram.” Ibu Citra, berusaha menahan. Ibu Citra menatap Kinar dengan raut wajah memelas.


“Kinar, sebaikanya kamu pulang istirahat dulu. Biarkan Pram yang menjagaku hari ini.” pinta Ibu Citra, meminta Kinar mengalah.


“Ma, tapi aku tidak melakukan apa-apa pada Kailla.”


Mendengar ucapan Kinar, tangis Kailla semakin kencang. Masih dengan memeluk erat pinggang suaminya, dia menyusupkan wajahnya di dada Pram.


”Sudahlah Kinar, tolong menurut,” pinta Ibu Citra. Sedikit paham dengan situasinya saat ini. Semakin Kailla menangis, semakin pula mereka terjepit.


Tiba-tiba dari arah pintu, masuk Bayu yang berjalan sambil menunduk ketakutan. Tadi dia terlalu lama, menghabiskan rokoknya di taman rumah sakit sambil menggoda gadis cantik yang belum sempat diajaknya berkenalan.


“Bos..!” sapa Bayu, dengan ragu-ragu. Bersiap menunggu hukuman sekaligus perintah


***


To be continued


Love You all


Terima kasih.