Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 177 : Ada apa dengan Pram?


Kailla berlari menghampiri suaminya yang terkapar tak berdaya. Waktu terasa berhenti berputar, jantungnya bergemuruh hebat. Ibu hamil itu bersimpuh di sisi tubuh yang tergeletak tidak berdaya dengan darah berlumuran yang keluar dari belakang kepala.


Wajah tampan yang biasanya sering tersenyum mengusilinya itu, kaku tanpa ekspresi. Diam seperti tidak ada kehidupan. Dengan tangan bergetar, menyelipkannya di bawa tengkuk sang suami yang sudah tak bergerak. Membawa kepala Pram ke dekapannya.


“Sayang, bangun. Ayo kita pulang, jangan bercanda seperti ini,” bisiknya pelan. Air mata turun, mengucur di kedua pipinya yang mulai gembul. Menolak percaya, tetapi ini nyata.


“Sayang ... bangun!” ucap Kailla sedikit lebih keras, ditambah menguncang pelan pundak Pram. Mata suaminya tertutup rapat tanpa celah.


Beberapa warga dan pengendara tampak mulai berdatangan, berkerumunan di sekeliling pasangan suami istri itu. Amis darah mulai menyengat. Tampak seorang bapak tua ikut berjongkok. Tangannya terulur menyentuh ujung hidung Pram. “Masih hidup!” serunya, saat merasakan nafas yang berhembus pelan di sana.


“Tolong bantu bawa ke rumah sakit!” lanjutnya lagi meminta pertolongan setelah melihat Kailla sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya menangis tanpa suara, memeluk Pram dengan tangan berlumuran darah.


“Tolong wanita ini!” serunya lagi, ikut membantu Kaila menopang tubuh Pram yang membeku.


***


Kailla sudah berdiri di depan ruang IGD dengan pakaian bernoda darah. Wajahnya banjir oleh air mata. Mengigit kuku-kuku tangannya, hampir setengah jam dia menunggu dalam cemas. Tidak ada seorang pun yang keluar untuk mengabarinya tentang kondisi sang suami.


“Non, apa yang terjadi?” Bayu tiba-tiba sudah muncul di hadapan majikannya bersama tiga rekan asisten lainnya. Begitu mendapat telepon dari Kailla, Bayu segera berlari ke rumah sakit.


Kailla tidak menjawab, hanya menunjuk ke pintu ruang IGD.


“Yang sabar, Non!” Sam langsung mendekat. Berdiri tepat di samping Kailla dan merangkul pundak ibu hamil itu.


“Apa dia akan baik-baik saja?” tanya Kailla seperti anak kecil. Dia melihat sendiri seberapa parah kondisi suaminya di tempat kejadian.


“Ya, Pak Pram pasti baik-baik saja.” Sam berusaha menghibur.


Perhatian mereka teralihkan saat pintu ruang IGD terbuka. Muncul laki-laki paruh baya dengan pakaian kebesarannya, menyapa.


“Keluarga pasien yang kecelakaan?” tanyanya.


Tentu saja, Kailla secepat kilat mendekat. “Saya istrinya, Dok.”


Senyum datar sang dokter membuat Kailla tidak bisa menebak apa pun. Harapnya Pram baik-baik saja, hanya luka kecil. Akan tetapi harapnya pasti tidak akan sejalan dengan kenyataan. Dia melihat sendiri seberapa parah kondisi sang suami.


“Ikut saya ke ruangan. Saya akan menjelaskan bagaimana kondisi pasien. Dan tindakan apa yang harus dilakukan,” tegas laki-laki dengan jas putih yang menampilkan kegagahannya.


Kailla menurut, berjalan mengekor di belakang.


“Non, aku ikut!” Dengan lancang, Bayu menawarkan pengawalan. Setidaknya saat ini, dia merasa perlu mendampingi Kailla yang terlihat shock dan tidak bisa berbuat apa-apa.


“Begini, Pak, Bu.” Sang dokter membuka pembicaraan setelah memastikan Kailla dan Bayu sudah duduk tenang di depannya.


“Pasien mengalami pendarahan di otak dan patah tulang di kaki kanannya. Ada beberapa patahan dari betis ke bawah.”


Jeda sejenak, sang dokter tampak memperhatikan raut wajah kedua keluarga pasien yang tampak pasrah, tidak berdaya.


“Untuk patah tulang, itu tidak masalah. Hanya saja pendarahan di otak, harus segera dilakukan operasi.”


Ada napas lega terdengar dari sang dokter. Menyampaikan berita duka pada ibu hamil di hadapannya, bukanlah perkara mudah.


“Lakukan apapun yang menurut dokter harus dilakukan. Selamatkan suami saya, Dok!” Kailla langsung bersuara membuat Bayu terperanjat akan respon majikannya.


“Baik, kami akan melakukan serangkaian tes untuk memastikan lagi, sebelum operasi dilakukan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Bu,” ucap sang dokter penuh keyakinan.


***


Beberapa jam setelah Kailla menandatangani surat persetujuan operasi dan tindakan lainnya, akhirnya Pram bisa masuk ke dalam ruang bedah.


Masih ditemani asistennya, ibu hamil itu menunggu di depan ruang operasi dengan doa dan harap yang tidak pernah putus. Air mata tak berhenti turun dari wajah cantiknya.


“Non, sebaiknya Non Kailla istirahat. Kasihan dengan adek bayinya kalau Non terus-terusan berdiri di sini,” bujuk Bayu. Tidak tega melihat kondisi Kailla yang begitu memprihatinkan. Wajahnya memucat dan sembab. Belum lagi air mata yang tidak berhenti mengalir sejak tadi, seolah tidak ada habisnya.


“Aku tetap di sini sampai suamiku keluar!” tolak Kailla.


Dari arah koridor, terlihat Ricko muncul dengan sekantong berisi roti dan air mineral. Dia terpaksa membawanya sampai ke depan ruang operasi.


“Sam, ini!” sodor Ricko pada rekannya yang sedang duduk di lantai, menemani Kailla.


Asisten kesayangan Kailla itu sejak tadi berada di dekat majikannya. Di mana ada Kailla, di situ ada Sam. Bahkan tidak jarang Kailla bersandar di pundak Sam, sekedar meminta kekuatan di tengah ketakutannya.


Kailla sekarang tampak jauh lebih tenang. Tidak seperti saat Riadi pergi, saat ini Kailla jauh lebih tegar meski terus mengumbar tangisan. Terisak perlahan, sembari berdoa dalam hati. Semoga ujian ini terlewati dan Pram baik-baik saja. Ayah dari anak-anaknya pasti baik-baik saja.


“Non ....” Sam menyodorkan sebotol air mineral yang baru saja dibukanya.


Kailla menggeleng, mendorongnya perlahan menjauh dengan tangannya.


“Harus kuat, Non. Pak Pram pasti baik-baik saja,” bisik Sam pelan.


“Ya, suamiku membutuhkanku.” Kailla menjawab pelan, sembari mengusap kasar airmata yang kembali turun. Ibu hamil itu terlihat kuat, dengan wajah sembab dan basah. Tubuhnya melemas tetapi dia berusaha menguatkan diri dan hati.


***


Berjam-jam menunggu di depan ruang operasi, Kailla bisa bernafas lega saat lampu ruangan itu dimatikan. Tetapi kelegaan itu tidak berlangsung lama, kembali dia harus menunggu Pram yang masih harus dipantau petugas medis di ruang transisi untuk memastikan tidak ada komplikasi dan berbagai hal diluar perkiraan.


“Bagaimana, Dok?” tanya Kailla begitu salah satu dari tim dokter yang menangani suaminya keluar. Wajah lelah itu bukan hanya miliknya dan asisten, tetapi tim medis yang berjam-jam berkutat dengan gunting, pisau dan darah juga sama lelahnya.


“Operasinya sukses. Semoga kondisi pasien semakin membaik. Sementara pasien masih harus menunggu sampai kondisinya stabil baru bisa dipindahkan,” sahut sang dokter, tersenyum.


Ada banyak haru dan syukur dipanjatkan Kailla. Semua doa-doa yang dikumandangkan dalam diam, terkabul. Dia bisa bernafas lega saat melihat senyuman tulus sang dokter.


Perut yang sejak tadi keroncongan dan hanya diisi dengan sepotong roti dan air mineral mulai terasa nyeri. Bayi-bayinya berontak sudah.


“Sam, temani aku ke cari makan. Perutku lapar,” pinta Kailla, merengkuh lengan Sam agar berjalan mengikutinya.


“Selamat Non. Pak Pram sudah baik-baik saja,” bisik Sam.


Keduanya menikmati makan malam yang sudah terlewat beberapa jam di kantin rumah sakit. Beruntung, di saat hampir tengah malam, masih ada restoran yang buka di lobi rumah sakit.


Kailla bisa kembali tersenyum, meskipun tetap ada kabut mendung di matanya. Setidaknya Pram baik-baik saja. Keduanya baru kembali, setelah menghabiskan waktu hampir satu jam. Meninggalkan Pram bersama tiga asisten yang lain.


“Bay!” teriak Sam saat jarak tertinggal beberapa langkah. Dia dan Kailla baru saja menyelesaikan makan malam.


“Ini!” sodor Sam, menyerahkan kantong plastik berisi makanan yang tadi dipesannya di restoran. Jatah untuk Bayu, Ricko dan Donny.


“Bay, bagaimana? Sudah ada kabar?” tanya Kailla. Setelah perutnya terisi, kondisinya jauh lebih baik. Wajahnya tidak sepucat sebelumnya.


Belum sempat Bayu menjawab, tampak beberapa perawat berlari masuk ke ruangan di sebelah ruang operasi. Wajah-wajah panik itu tidak mau menjawab saat ditanya. Bahkan, tak lama disusul dokter yang tadi sempat berbincang dengan Kailla ikut berlari masuk. Raut tegang terlihat jelas.


“Bay, apa yang terjadi?” tanya Kailla, wajah ibu hamil itu mendung kembali. Senyum yang sempat terukir di bibirnya, kembali hilang.


“Sabar Non. Semua akan baik-baik saja,” hibur Bayu, walau dalam hatinya ketar ketir.


Setengah jam berlalu, akhirnya Kailla bisa sedikit bernafas lega saat melihat dokter keluar dengan langkah gontai,


“Apa yang terjadi dengan suami saya, Dok?” tanya Kailla, meminta kejelasan.


Sang dokter lama menatap, sampai akhirnya memaksa diri untuk bersuara. Menatap Kailla yang sedang hamil, iba terlihat nyata di raut wajah sang dokter.


“Maaf, Bu ... pasien koma.”


***


TBC