Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 52 : Kemarahan Pram 1


Kailla keluar dari rumah mertuanya dengan mendengus kesal. Beberapa kali menghentakan kaki, melampiaskan emosi tertahan, yang tidak sempat tersalurkan di dalam sana.


Masuk ke dalam mobil, membanting pintu dengan keras. Sam yang hampir tertidur di belakang setir, jantungnya seolah meloncat keluar mendengar suara bantingan pintu yang kencang.


“Huh! Kalau bukan karena mertuaku itu mama suamiku, sudah aku jambak tadi!” gerutunya kesal.


“Hahahahaha! Kalimat apa yang barusan kamu ucapkan Non. Mertuamu ya pasti ibu suamimu,” ucap Sam kembali tertawa.


“Jangan berisik! Aku sedang emosi. Sedang marah!” gerutu Kailla kembali, meninju sandaran kursi di depannya.


“Lalu mana Pak Prammya?” tanya Sam heran. Tujuan mereka kesini untuk menjemput Pram, tapi malah kembali dengan tangan kosong.


“Aku tidak tahu dia dimana. Tapi tidak ada disini,” ucap Kailla dengan suara bergetar. Menahan tangis dan kesal.


“Mau menangis, Non?” canda Sam, kembali tertawa. Dia tidak tahu sedikit pun kejadian di dalam sana. Apalagi di tengah kegelapan malam, dia tidak bisa melihat jelas, betapa hancurnya wajah sang majikan. Pipinya memerah dengan luka kecil disudut bibir, dilengkapi bengkak di pelipis karena terjatuh dari tangga sewaktu di rumah tadi.


“Tante itu, sengaja tidak mau mencari gara-gara denganku. Padahal tanganku sudah gatal ingin mencakar wajahnya,” lanjut Kailla lagi, mengingat Kinar yang berdiri diam, mendukung mertuanya.


“Kalau berhadapan dengan pelakor tua itu, aku pastikan tidak akan mengalah!” lanjutnya lagi. Mengepalkan tangannya, meninju sandaran kursi yang diduduki Sam.


“Tidak ada suamimu yang menahan, bisa lebih totalitas ya, Non,” ucap Sam yang sudah sangat hafal kelakuan Kailla sejak dulu.


“Memang mertuamu kelewatan, Non? Kenapa kamu tidak melawannya seperti biasa?” tanya Sam heran. Tidak biasanya seorang Kailla mengalah dengan orang lain, kecuali saat berhadapan dengan Riadi dan Pram.


“Daddyku bersalah padanya, apalagi dia ibunya suamiku, aku tidak bisa melawannya,” ucap Kailla kesal.


Kembali Sam terbahak. Sudah lama sekali tidak melihat Kailla bertengkar atau membuat kekacauan. Kalau dulu sebelum menikah, hampir setiap hari dia harus menghubungi Pram, demi menghentikan pertengkaran majikannya.


Kalau dulu, hanya karena sebuah tas atau sepatu saja, tidak menutup kemungkinan untuk Kailla bertengkar, perang mulut bahkan sampai jambak-jambakan di tengah mall. Kalau bertemu dengan orang-orang yang sifatnya sealiran dengannya, sudah dipastikan akan berakhir diamankan security.


Bahkan Pram pernah hampir berujung di kantor polisi karena ulah Kailla. Hanya karena rebutan sebuah sepatu berakhir jambakan-jambakan di parkiran mall. Sampai Pram dan suami si wanita itu diminta datang untuk mengamankan pasangan masing-masing. Untuk itu Pram yang masih menjabat Wakil Direktur harus meninggalkan rapat pentingnya.


“Sudah puas melampiaskan kekesalannya, Non?” tanya Sam, setelah lama tidak terdengar lagi suara majikannya. Kailla sudah diam setelah melampiaskan emosinya. Memejamkan mata, bersandar di kursi.


Kailla menggeleng, kembali teringat daddy. Satu-satunya keluarga yang tertinggal di dunia ini. Sebenarnya bukan satu-satunya tertinggal, sejak lahir dia hanya memiliki daddy.


Rasanya ingin menangis, setiap kali ke rumah sakit selalu melihat pemandangan yang sama. Daddy tidak pernah bangun lagi sejak 3,5 tahun yang lalu. Tidak ada lagi kecupan di kening atau tepukan di pucuk kepalanya. Tidak ada lagi yang menemaninya sarapan pagi dengan roti gandum selai strawberry atau coklat.


Daddy ada tapi seperti tidak ada sekarang. Namun, diluar sana dosa dan kesalahan daddy masih disebut-sebut dan dihitung oleh musuh-musuhnya.


“Non, jadi kita pulang sekarang?” tanya Sam, menjalankan mobilnya kembali.


Hening—


Sam tidak bisa mendengar jawaban apa-apa, Tapi sebagai asisten yang sudah cukup lama mengikuti Kailla, dia sangat hafal setiap tingkah laku dan keinginan majikannya.


Perlahan mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Bayu. Namun, tidak ada panggilannya yang tersambung. Ponsel Bayu tidak bisa dihubungi. Mau menghubungi majikannya langsung, nyalinya menciut.


Tepat saat akan melempar ponselnya ke atas dashboard, pandangannya tertuju pada pesan yang belum sempat terbaca.


“Sam, Pak Pram berpesan dia tidak pulang malam ini. Sedang ada masalah di proyek. Pak Pram pulang ke apartemennya. Minta Ibu Ida dan Ibu Sari tidur di rumah besar menemani Non Kailla.”


Sam berbalik. Entah majikannya itu sedang tertidur atau tidak, tapi sepertinya sudah mulai kelelahan dengan emosi dan kemarahan yang menguras tenaga dan energinya.


Tanpa bertanya, dia melajukan mobilnya ke apartemen Pram. Disaat seperti ini, Kailla membutuhkan tempat untuk menangis atau mengeluh kekesalannya. Dan tempat terbaik sejak dulu adalah Pram.


Hanya Pram yang bisa membuat Kailla menjadi penurut. Hanya Pram yang bisa meredam emosinya.


***


Pram memutuskan kembali ke apartemennya, yang tidak terlalu jauh dengan lokasi proyek. Setidaknya besok pagi, dia bisa kembali ke proyek sebelum ke kantor.


“Bay, kamu sudah mengabarkan Sam?” tanya Pram, mengurut dahinya yang pusing memikirkan begitu banyak korban karena kelalaian orang lapangan.


“Sudah Bos,” sahut Bayu, fokus dengan jalanan ibukota yang tetap ramai meskipun hampir tengah malam.


“Aku butuh Donny untuk membantuku. Dia sudah lama bersama Riadi,” ucap Pram.


“Baik Bos!”


“Pastikan dalam minggu ini Kailla tidak ke kantor dulu. Aku tidak tahu imbas dari kejadian ini akan seperti apa,” lanjut Pram lagi.


“Separahkan itu Bos?” tanya Bayu, heran.


“Aku tidak tahu. Aku hanya merasa perlu menjaga keluargaku,” sahut Pram.


Kendaraan Bayu, sudah masuk ke salah satu apartemen mewah di Jakarta Selatan. Sebelum menikah dengan Kailla, Pram lama tinggal disini. Bahkan setelah menikah, dia masih sempat memboyong istrinya tinggal beberapa hari di apartemennya.


Saat menuju parkiran basement, mata Pram menangkap ujung mobil milik Kailla yang sedang berputar-putar mencari parkiran kosong.


“Bay, stop! Bukannya itu mobilnya istriku?” tanyaa Pram, menegakkan duduknya. Menunjuk ke sisi kiri, selisih blok dengan mobil mereka.


“Sepertinya Bos,” sahut Bayu. Menginjak pedal rem, dan membiarkan Pram turun dari mobil.


Laki-laki dengan tampang kusam dan lelah itu pun berlari, menghentikan mobil Sam yang berjalan perlahan.


Sebuah decitan ban yang bergesekan dengan lantai cor menimbulkan bunyi nyaring. Sam memang tidak melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, tapi kemunculan Pram yang tiba-tiba di tengah jalan, cukup mengejutkannya.


“Pak..,” sapa Sam, membuka jendela mobil. Menyapa Pram yang berjalan menghampirinya.


“Kenapa kesini? Terjadi sesuatu dengan istriku?” tanya Pram yang belum tahu apa-apa, memberondong Sam dengan banyak pertanyaan sekaligus.


“Non....” Kalimat Sam menggantung, sebagai gantinya Kailla sudah membuka pintu belakang. Keluar mobil dengan wajah yang jauh berbeda saat berada di rumah mertuanya.


Hilang sudah Kailla yang garang. Lenyap sudah Kailla yang begitu kuat dan bersuara lantang di depan Ibu Citra. Air mata yang ditahannya sejak tadi, langsung mengucur deras.


Pram mengalihkan pandangannya. Pram terkejut melihat wajah Kailla. Ada luka di sudut bibir istrinya, lengkap dengan bengkak di pelipis yang biasa dikecupnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Pram, meraih tubuh Kailla. Mengusap luka di wajah istrinya


Istrinya tidak menjawab, hanya memeluknya erat dan menangis hebat.


"Katakan padaku, apa yang terjadi? Siapa yang membuatmu seperti ini?" tanya Pram panik.


Deg— Sam terkejut, dia tidak memperhatikan wajah Kailla sejak tadi. Penerangan di parkiran Ibu Citra terlalu gelap. Dia tidak bisa melihat apa-apa.


Wajah Pram berubah, lelah yang sempat mendera tubuhnya langsung lenyap. Berganti kemarahan tertahan.


“Siapa yang memukulmu?” tanya Pram sekali lagi. Melepas paksa pelukannya, supaya bisa mengamati luka di wajah istrinya dengan teliti.


“Siapa yang memukulmu? Katakan padaku!” ucap Pram lebih keras dari sebelumnya. Mendengar suara keras dan tegas suaminya, Kailla bukan menjawab malah semakin menangis kencang.


Lagi-lagi dia memeluk erat suaminya dengan tubuh berguncang.


“SAM!!!!” teriak Pram. Pecah sudah kemarahannya.


Masalah datang bertubi-tubi seharian ini, dia masih bisa menahan sabarnya. Tapi saat melihat istrinya saat ini, dia sudah tidak bisa mengendalikan diri.


Sam mengkerut, bahkan bingung. Perasaannya tadi Kailla masih begitu hebat, mengumpat dan mengomel. Tapi kenapa tiba-tiba sekarang menangis seperti seorang bayi.


“Tamat riwayatmu kali ini, Sam!”


***


to be continued


Terima kasih


Love You all