Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 100 : Aku akan membunuhnya sekarang


Kailla masih betah duduk di pangkuan Pram. Hampir satu jam dia bercerita dengan mama mertuanya, sesekali menggeser duduknya, karena bokong dan pinggangnya mulai pegal. Jangan ditanya bagaimana kedua paha Pram, yang sudah baka tanpa rasa.


Namun, lelaki itu tidak mengeluh sedikitpun, memilih duduk bersandar sembari memejamkan matanya. Ikut menyimak obrolan para wanita dalam diam tanpa suara. Hanya kedua tangannya yang sedari tadi bermain-main naik turun di pinggang ramping istrinya, terkadang berpindah mengelus paha mulus Kailla yang polos, mengenakan rok mini.


“Mama tahu, saat aku menangis Om Pram ku ini langsung membawaku ke dalam gendongannya. Sampai aku tertidur di pelukannya. Seperti ini,” cerita Kailla, merangkul leher Pram dengan kedua tangan, memperagakan cara merangkulnya dulu.


“Dulu Pram tinggal bersama kalian?” tanya Ibu Citra penasaran,. Jujur dia sudah masuk ke dalam cerita.


Kailla menggeleng. “Setelah pulang dari Inggris, dia tinggal di apartemen. Iya kan Sayang,” ucap Kailla, meminta pembenaran dari suaminya.


“Hmmm,” gumam Pram, masih dengan mata terpejam.


“Aku sering menginap di tempat Pram,” cerita Kailla lagi.


“Kalau daddy keluar kota, seringnya aku dititip ke apartemen ditemani Ibu Ida,” jelas Kailla.


Ibu Citra terbelalak. “Sampai kalian menikah seperti itu?” tanya Ibu Citra.


“Tidak juga, sewaktu SMA, aku sudah jarang menginap di tempatnya, Ma. Hanya sesekali berkunjung kalau Pram menjemput, tetapi aku sudah tidak menginap lagi seperti waktu masih kecil,” jelas Kailla kembali. Ibu Citra terus menerus bertanya.


“Oh, bagaimana ceritanya bisa sampai mau menikah dengan Pram? Kamu tidak pernah pacaran?” tanya Ibu Citra masih saja penasaran.


“Mama belum selesai menginterogasi istriku? Apalagi yang mama ingin ketahui?” tanya Pram. Akhirnya lelaki itu angkat suara. Matanya membuka, tersenyum menatap Kailla.


“Bisa geser, Sayang. Kakiku kesemutan,” ucap Pram, memohon. Kedua kakinya sudah mati rasa. Terlalu lama tidak bergerak menahan berat tubuh istrinya.


“Ha!” Kailla terperanjat. Menutup mulut dengan kedua tangannya saat menyadari dia sudah duduk terlalu lama di atas pangkuan suaminya.


“Maaf Sayang.” Segera bergeser, tetapi Pram menahan tubuhnya supaya tidak pergi menjauh.


“Tidak, disini saja. Aku hanya ingin ,menggerakan kakiku sebentar,” pinta Pram, memeluk istrinya semakin erat. Tubuh bersandar itu sudah duduk tegak mendekap Kailla, menikmati aroma tubuh yang memabukan.


“Istriku ini menikah denganku pada awalnya karena daddynya. Bukankah begitu, Kai?” tanya Pram.


“Hmmm, iya juga sih. Mama bayangkan aku saat itu baru berumur dua puluh tahun, tiba-tiba diminta daddy menikah dengan lelaki yang sudah mengasuhki sejak kecil. Bukan hanya itu, umurnya dua kali lipat umurku,” jelas Kailla.


“Kenapa tidak menolak? Bisa saja menolak kan?” tanya Ibu Citra.


“Pram sudah menyetujuinya, bahkan tanpa sepengetahuanku. Di umurku delapan belas tahun, dia sudah setuju menikahiku. Bagaimana aku bisa menolak lagi. Asal Pram setuju, daddy akan menggunakan segala cara untuk membuatku menerimanya,” lanjut Kailla.


“Mungkin, kalau aku memiliki kekasih. Aku akan berjuang untuk menolaknya. Bagaimana mau pacaran, Ma. Putramu ini menjagaku seperti satpam dua puluh empat jam,” sahut Kailla.


“Mama bayangkan saja, dulu kalau kemana-mana aku harus izin darinya dulu, Ma. Daddy bahkan tidak secerewet Pram.”


“Benarkah?”


“Iya, bahkan seringkali kartu kreditku diblokir tanpa sebab!” dengus Kailla kesal.


Pram terkekeh kali ini, mempererat pelukan dan meletakan dagunya di pundak Kailla.


“Kailla sangat nakal. Aku tidak pernah menemukan anak perempuan senakalnya. Dia selalu melakukan banyak hal di luar pemikiran kita orang dewasa,” jelas Pram.


“Aku tidak nakal,” tolak Kailla.


“Hahaha.. ! Itu kamu bilang kreatif.” Tawa Pram pecah.


“Mama tahu, saat dia menginginkan sesuatu dan tidak ada yang mau mengabulkannya, dia akan melakukan banyak hal gila. Itu sejak masih kecil sekali,” jelas Pram.


“Dia berani merobek perjanjian kerjasama perusahaan demi untuk bisa bertemu dengan daddy. Coba mama bayangkan apa tidak gila itu,” ucap Pram mengelengkan kepala, sembari mengacak kasar rambut Kailla.


Ibu Citra terkejut, benar-benar terkejut dengan sifat Kailla.


“Dan mama tahu, saat dimarahi daddy malah tersenyum. Setelah Riadi puas memarahinya, dia langsung memeluk. Mama bayangkan saja seberapa nakalnya dia sewaktu kecil,”


“Tapi aku akui, selain dengan daddy, dia sangat menurut denganku. Aku akui itu. Walau terkadang dia mengomel kesal, tetapi dia selalu menurut. Itu sisi termanisnya,” ucap Pram, mengecup pucuk kepala istrinya.


“Oh ya Ma, setelah ini aku akan mengajak Kailla keluar. Mama tidak masalah kan pulang dengan sopir?” tanya Pram.


“Kalian mau kemana?” tanya Ibu Citra heran. Baru kali ini, Pram menolak membawanya serta.


“Aku mau pacaran dengan istriku. Kalau mama mengikuti kami terus, kapan aku bisa membuatkanmu cucu,” sahut Pram tanpa malu-malu.


Suara ibu Citra tertahan. Rasanya seperti disindir secara halus, namun dia tidak keberatan.


“Ada Bayu dan Sarah di rumah menemanimu, Ma,” lanjut Pram lagi.


***



“Kamu mau, Sayang?” tanya Kailla, menyodorkan hotdog kepada suaminya.


“Ini rasanya enak. Masih sama seperti dulu,” lanjutnya lagi.


Pram menggeleng sembari tersenyum. Keduanya sedang duduk di bangku taman yang sama saat kunjungan mereka di Austria hampir empat tahun yang lalu. Di tempat inilah Kailla yang belum mencintai Pram, tetapi bersedia hamil anak Pram.


“Ayo cobalah! Ini enak sekali,” pinta Kailla, masih menyodorkan roti dan sosis itu kepada suaminya.



Pram mengangguk. “Namun, akan lebih enak kalau kamu bersedia menyuapiku dengan bibirmu,” ucap Pram usil. Sudah lama rasanya mereka tidak seperti ini. Sejak kehadiran mamanya yang masuk ke dalam kehidupannya, dia tidak pernah bisa tenang.


Namun duduk berdua dengan Kailla di taman ini, rasanya sama seperti dulu lagi. Perasaannya kembali ke empat tahun yang lalu.


“Waktu cepat berlalu, aku bahkan sekarang sudah dua puluh empat tahun,” ucap Kailla pelan.


“Kembali ke Indonesia, bagaimana kalau kita ke dokter. Rasanya sudah lama tidak mengunjungi dokter kandungan,” ucap Pram, meminta persetujuan.


“Baiklah. Kita akan berjuang kembali untuknya. Setelah beberapa tahun berlalu, aku lupa bagaimana rasanya hamil,” ucap Kailla, sembari menghapus jejak saos yang tertinggal di sudut bibir Pram.



“Aku bahkan lupa, bagaimana rasanya menjadi daddy. Dulu dia datang begitu cepat, sampai kita tidak menyadarinya,” ucap Pram.


“Terkadang aku takut, apakah kegagalanku dulu menjaga kalian membuat Tuhan tidak yakin padaku untuk menjadi daddy kedua kalinya,” bisik Pram dengan mata berkaca-kaca.


“Kita baru akan berjuang, kenapa harus patah semangat. Aku masih muda kan, aku masih bisa hamil,” ucap Kailla berusaha menghibur.


Pram tertegun. Kalau boleh jujur, hasil test pack dengan hasil negatif membuatnya pesimis. Ada berbagai pikiran buruk menari di otaknya. Lama keduanya terdiam, menikmati suasana taman yang begitu damai, sampai akhirnya Pram membuka suara.


“Kamu masih mengingat tempat ini?” tanya Pram sembari merapikan helai rambut Kailla yang berantakan dan menyelipkannya dibelakang telinga.



“Iya..” Kailla mengangguk.


“Disini pertama kalinya Kailla Riadi Dirgantara membuatku begitu terharu. Saat dia mengatakan bersedia hamil anakku. Padahal aku tahu jelas, saat itu bahkan kamu tidak mencintaiku,” ucap Pram.


“Aku harap setelah ini, kamu akan memberiku hadiah terindah,” lanjut Pram.


“Seorang bayi laki-laki mungkin. Kalau bisa serakah dan meminta, aku menginginkan bayi laki-laki. Suatu saat dialah yang akan mengambil alih tanggung jawabku untuk menjagamu,” bisik Pram, segera merengkuh Kailla masuk ke dalam dekapannya.


“Kenapa bicara seperti itu. Kamu membuatku sedih!” keluh Kailla, mulai menangis.


“Aku ingin menua bersamamu,” ucap Kailla pelan.


“Hahaha.. masalahnya sekarang saja aku sudah tua. Mau setua apalagi,” canda Pram.


“Jangan menangis, aku hanya merasa perlu mempersiapkan segala sesuatunya. Aku bahkan sudah membuat surat wasiatku.”


“Jangan khawatir, aku tidak akan kemana-mana. Aku masih harus menjaga amanat daddy, saat dia menghembuskan nafas terakhirnya.”


“Maksudnya? Apakah masih banyak yang daddy rahasiakan dariku,” tanya Kailla. Penasaran yang dulu pernah ada di dalam hatinya. Sekarang muncul kembali.


“Pada saat yang tepat, aku akan menceritakan semua padamu. Salah satunya, daddy tidak ingin kamu masuk ke perusahaan. Mungkin itu juga salah satu alasan mengapa dia mewariskan RD Group padaku.”


“Dan aku juga tidak akan mewarisakannya padamu atau anak-anak kita nantinya. RD Group akan berakhir di tanganku.”


“Di wasiatku, RD Group dan asetnya akan disumbangkan ke yayasan. Kamu tidak keberatan kan, Kai?” tanya Pram, membuka sedikit apa yang dilakukan selama ini.


Kailla menggeleng.


“Itu bukan aset yang sedikit, aku merasa perlu memberitahumu. Aku tadi sudah menceritakan pada mama. Sepertinya mama tidak keberatan. Walau bagaimana pun, RD Group itu berawal dari perusahaan orang tuaku. Aku perlu meminta izin kalian,” jelas Pram.


“Aku tidak masalah,” jawab Kailla.


“Aku berharap kamu mengerti. Aku juga tidak bisa apa-apa. Aku hanya melakukan yang terbaik untuk kalian,” lanjut Pram, mengeratkan pelukannya.


“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu,” ucap Pram melabuhkan sebuah kecupan hangat di bibir Kailla.


***


Keesokan harinya.


Kailla yang semalam tidur dengan mertuanya, baru saja akan kembali ke kamarnya untuk mencari Pram. Hanya berpisah satu malam, tetapi rasanya dia sudah merindukan lelaki itu.


Mereka sudah berencana menghabiskan akhir pekan dengan jalan-jalan berdua dan menikmati salju di salah satu tempat wisata es terbesar di kota Wina.


Namun, baru saja mendorong pintu kamar, dia sudah disambut dengan pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Bukan Kailla kalau bisa bersikap tenang dan tidak menggunakan emosi.


“MAMA! COBA KAMU LIHAT KELAKUAN PUTRAMU!” teriak Kailla kencang, penuh dengan amarah. Kedua tangannya sudah mengepal dengan mata memerah.


“Aku akan membunuhnya sekarang!” pekik Kailla lagi, menerobos masuk ke dalam kamarnya.


“Kai, dengarkan aku ...."


***


To be continued


Love You all


Terima kasih.