
Pram menghela nafas kasar. Masih dengan menatap tajam ke arah Sam, mengeluarkan ponsel pintar di tangannya. Mengecek cctv yang terhubung dengan kediaman Ibu Citra.
Bola matanya membulat saat melihat istrinya ditampar sebanyak dua kali oleh mamanya.
Kailla tidak melawan, bahkan tidak menangis setetes pun.
"Itu hasil kerjamu hari ini, Sam!" ucap Pram, melempar ponselnya ke sofa, penuh amarah.
Melihat istrinya ditampar rasanya sakit. Bahkan dia sendiri belum pernah memukul istrinya.
Sam menatap sekilas pada layar ponsel yang masih menyala. Lumayan kaget saat melihat Pram memiliki rekaman cctv di tempat Ibu Citra.
"Sam, dimana kamu saat itu?" tanya Pram, menatap sinis.
"Dimana kamu?" tanya Pram lagi, mengintimidasi.
"Maaf Pak, aku menunggu di mobil," sahut Sam pelan. Tertunduk dan menyesali kelalaiannya. Kalau saja dia mengekor turun, mungkin kejadian tidak akan seperti ini.
Pram berjalan menuju ke pintu, mengunci pintu apartemen supaya Bayu tidak bisa masuk. Bagaimanapun dia harus bicara serius dengan asisten istrinya.
"Sam, tahukah kamu kenapa aku membayar banyak asisten selama ini?" tanya Pram, duduk di sofa dengan tangan terlipat di dada. Amarah yang berusaha di tahannya, serasa memburu di dada.
Sam diam. Bukan karena dia tidak tahu jawabannya, tapi karena sudah terlalu bosan mendengar peringatan sang majikan. Dia mengerti, kali ini dia lalai. Pikirnya Kailla di tempat mertuanya, tidak terbersit sedikit pun kalau akan terjadi kekerasan fisik.
"Musuh mertuaku itu ada dimana-mana. Dan kalau kamu lalai sedikit saja, nyawa istriku terancam."
"Maaf Pak," sahut Sam penuh sesal.
"Jangan pernah menganggap remeh pekerjaanmu. Jangan pernah percaya pada siapapun, bahkan orang terdekat sekalipun!" tegas Pram lagi.
"Maafkan aku, Pak."
"Kalau aku bisa, aku akan menjaga istriku dengan tanganku sendiri. Tapi, aku juga memiliki tanggung jawab yang lain."
"Untuk itulah, kalian ada di sisiku untuk menjaga keluargaku," lanjut Pram.
Sam benar-benar menyesal. Baru kali ini dia mendapat ultimatum langsung dari Pram karena kelalaiannya.
"Semua mobilku dipasang GPS dan semua rumah tinggalku pasti terpasang kamera cctv." Pram mengingatkan.
Dan kamu tahu jelas itu untuk apa!"
Sam mengedar pandangannya, menatap ke seluruh penjuru.
"Termasuk di apartemen ini!" ucap Pram, memberi jawaban dari gerak-gerik Sam yang terlihat aneh.
"Aku membutuhkan semua itu untuk menjaga keluargaku!" lanjut Pram lagi.
"Aku tidak bisa mengandalkan tanganku yang cuma dua ini, aku tidak merasa cukup dengan kalian, aku harus memastikan sendiri kalau istriku baik-baik saja!"
Pram sudah beranjak menuju ke kamarnya, meninggalkan Sam untuk merenungi kesalahannya. Tapi baru beberapa langkah, dia segera berbalik kembali.
"Kompres wajahmu! Aku tidak mau sampai Kailla tahu kalau aku memukulmu," ucap Pram, meraih kembali ponselnya yang hampir terlupakan.
"Maaf, aku terpaksa memberimu tamparan. Kalau kamu merasa itu menyakitkan, bayangkan apa yang dirasakan istriku saat ini karena kelalaianmu!" lanjut Pram lagi.
"Baik Pak," sahut Sam.
"Bukakan pintu untuk Bayu nanti."
"Besok pagi, ambilkan pakaian ganti untukku dan Kailla. Minta Ibu Ida menyiapkannya," perintah Pram.
Sam mengangguk. Meskipun anggukannya tidak dipedulikan majikannya yang sudah berlalu pergi menuju kamar.
***
Hari sudah berganti pagi. Cahaya mentari pun mulai merambat masuk ke dalam kamar. Semburat itu malu-malu, menyorot tepat di wajah tampan yang sedang memeluk tubuh mungil istrinya dengan erat.
Kelopak mata itu membuka perlahan, mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya membuka sempurna.
"Kai, bangun Sayang," panggil Pram. Menatap jam di atas nakas, sudah benar-benar terlambat untuk berangkat ke kantor atau ke kampus.
"Kai...," panggilnya. Menyusupkan tangannya dibalik piyama satin yang sudah tersingkap sebagian.
"Ah, kamu menggodaku lagi Kai," bisik Pram, saat menyadari istrinya tidak mengenakan bra. Entah sejak kapan Kailla melepaskannya.
"Kai..."
Panggilan ketiga berikut dengan gigitan kecil di telinga sekaligus remasan di dada, membuat Kailla menggelinjang seketika.
"Hmmm, kamu mengganggu saja," gerutu Kailla yang masih menikmati tidurnya.
"Tolong aku, Kai," bisik Pram memohon.
Menghembuskan nafas berulang kali di ceruk leher istrinya. Berusaha menjinakan macannya yang sudah terbangun sejak beberapa menit yang lalu.
"Pipiku masih bengkak, bibirku juga masih sakit, Sayang," keluh Kailla, beralasan.
"Tapi aku tidak butuh itu sekarang," bujuk Pram. Sudah beralih, menindih tubuh istrinya.
"Ayo, aku mau menanam padi di ladang kita," goda Pram. Tangannya sudah bekerja keras, melepas satu persatu kain penutup tubuh Kailla. Melemparnya sejauh mungkin.
"Ah, kenapa harus menanam padinya sekarang? Bisakah Pak tani tidak perlu serajin ini, pagi-pagi sudah ke ladang,” keluh Kailla, mengusap sudut bibirnya yang tanpa segaja tersenggol tangan Pram.
"Sudah jangan banyak protes," ucap Pram, menyeringai. Menatap dan menyusuri lekuk tubuh indah istrinya dengan jemari lincahnya.
Bibirnya mengulas senyum penuh kemenangan saat sudah bisa menguasai tubuh istrinya yang tidak berdaya di bawah kungkungannya.
"Ah....!" protes Kailla, mendengus penuh kesal saat Pram memulainya.
"Jangan menggerutu. Aku butuh desahanmu bukan dengusanmu," ucap Pram tersenyum.
"Ayo, tolong bekerjasama. Semakin kamu mempersulitku, ini akan semakin membutuhkan waktu lama."
Kailla mengalah, membiarkan Pram menguasainya seperti biasa. Tidak ada protes lagi, memilih menikmati.
Proyek kerjasama itu berakhir dengan kecupan hangat dan diakhiri pelukan mesra Pram.
"Ah.. aku lelah sekali. Aku mau tidur saja, Sayang," bisik Kailla, memejamkan matanya.
Pram tersenyum, dia sendiri memilih segera bangun. Dia harus ke proyek dan menemui mamanya pagi ini. Dia sudah tidak bisa menerima semua perlakuan mamanya ke Kailla. Ini sudah kelewatan.
***
Dering ponsel tiba-tiba memecahkan keheningan di dalam kamar apartemen. Kailla membuka matanya, menatap ke sisi ranjang. Suara nyaring ponsel itu sungguh mengganggu tidurnya.
Kosong.
Suaminya sudah tidak ada. Masih dengan tubuh polos dan rambut tergerai acak-acakan, bangkit duduk sembari memeluk selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Pram, tiba-tiba.
Kailla mengedarkan pandangannya, mencari asal suara berat yang sudah sangat dihafalnya. Sampai akhirnya, netra mata itu menangkap sosok tampan yang sudah rapi dengan setelan kerjanya. Kemeja putih dan celana hitam, lengkap dengan dasi yang masih terpasang berantakan.
Suaminya sedang duduk di sandaran sofa tepat di depan pintu kaca yang menampilkan pemandangan pagi ibukota. Gedung pencakar langit terpampang nyata di depan mata.
“Sayang, kamu sudah rapi?” tanya Kailla, menyipitkan pandangannya supaya bisa melihat suaminya dengan jelas. Dia pun bergegas turun, menghampiri Pram.
“Kenapa tidak membangunkanku?” tanya Kailla, mendekap erat selimut supaya tidak melorot. Tersenyum malu-malu, dia bahkan masih dengan wajah bantal dan aroma liur berbanding terbalik dengan suaminya yang sudah rapi dan wangi dengan parfum mahalnya.
“Kenakan pakaianmu, Kai. Kita perlu bicara,” ucap Pram serius. Mengumpulkam pakaian tidur Kailla yang berserakan di lantai dan menyerahkannya ke tangan istrinya. Tersenyum sekilas saat memandang bra dan ****** ***** renda yang berwarna senada milik istrinya.
“Ada apa?” tanya Kailla. Dengan tidak tahu malunya, melepas selimut dan berganti pakaian di depan suaminya.
“Katakan padaku apa yang terjadi semalam?” tanya Pram, membuang pandangannya. Kailla benar-benar mengujinya kembali.
“Tidak terjadi apa-apa, Sayang,” sahut Kailla. Mendekati Pram, merapikan dasi suaminya yang berantakan. Kailla terlihat merapikan kancing kemeja yang belum terpasang sempurna
Tangan itu sudah bergelayut manja di leher suaminya, sesekali mengecup wajah Pram yang selalu terlihat tampan di segala situasi.
“Ada apa?” tanya Kailla, memiringkan wajahnya.
“Kita perlu bicara serius, Kai. Aku tidak mau kamu berbohong lagi,” sahut Pram, melepaskan rangkulan Kailla dari lehernya.
“Ceritakan padaku, apa yang terjadi semalam. Aku ingin mendengarnya langsung dari bibir istriku,” ucap Pram. Berganti menatap Kailla, sembari merapikan kancing di lengan kemejanya.
“Kenapa menangis?”
“Siapa yang menamparmu semalam? Aku ingin tahu semuanya,” ucap Pram. Tangannya sudah meraih jas hitam yang tersampir di atas sofa.
“Tidak ada Sayang. Aku benar-benar jatuh dari tangga,” sahut Kailla, menatap suaminya heran.
“Jangan berbohong lagi, Kai. Aku tidak suka,” lanjut Pram, mengenakan jas dan berjalan mendekati istrinya.
Tangannya sudah mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Pram berhenti sejenak, menunggu Kailla bercerita.
“Masih sakit?” tanya Pram, mengusap sudut bibir yang sedikit bengkak.
Kailla menggeleng.
“Maafkan aku. Karena aku, kamu jadi seperti ini,” ucap Pram tiba-tiba. Jemarinya sudah beralih mengusap pipi yang sekarang sudah tidak memerah seperti semalam.
Tampak Pram menghela nafas sejenak, sebelum melanjutkan kata-katanya kembali.
“Mulai sekarang, kamu memiliki hak penuh terhadapku,” ucap Pram dengan penuh ketegasan.
Kailla terkejut, belum terlalu paham dengan ucapan suaminya.
“Aku tidak akan menemui mamaku, kalau kamu tidak mengizinkanku,” jelas Pram, dengan nada bergetar. Ada rasa yang berusaha di tahannya.
“Sayang kamu kenapa? Aku tidak melarangmu bertemu dengan mama,” ucap Kailla semakin heran.
“Kenapa masih tidak mau bercerita padaku?” tanya Pram lagi. Kali ini dia langsung mendekap erat istrinya.
“Apa mama menyakitimu semalam? Apa yang dikatakannya?” tanya Pram, berusaha memancing supaya istrimu mau bicara.
“Kenapa mama menamparmu. Apa yang dikatakan mama padamu? Mama menyakitimu?” tanya Pram lagi.
Pelukan itu semakin erat, saat dia merasa tubuh istrinya mulai bergetar.
“Mau menangis lagi? Kamu boleh menangis dipelukanku,” tawar Pram.
“Tapi setelah itu, ceritakan padaku apa yang terjadi,” pinta Pram, mengusap lembut punggung istrinya.
Tangis Kailla langsung pecah, tangannya memeluk erat pinggang suaminya. Jas kerja yang tadinya rapi, sekarang jadi basah dan berantakan. Bahkan sesekali Kailla, membersihkan ingus yang keluar di kemeja putih Pram.
***
To be continued
Love You All
Terimakasih.