Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 130 : Bukan Terminal


“Kamu mau mi goreng?” tanya Pram, mengerutkan dahi. Membayangkan hal aneh apa lagi yang diinginkan istrinya.


Pram tahu, istrinya tidak sederhana, bahkan disaat hamil pun wanita di pelukannya ini akan memilih hal paling rumit dan membuat kepalanya berdeny


Iya..,” sahut Kailla mengangguk.


Lelaki dengan wajah lelahnya itu terlihat memutar otak, berpikir sejenak mencari jalan terbaik untuk memenuhi permintaan istrinya.


“Ayo, aku akan memasaknya untukmu, Kai,” ucap Pram, berusaha membawa istrinya masuk.


“Aku tidak mau mi goreng yang di rumah. Aku mau mi abang-abang yang jualan di pinggir jalan,” tolak Kailla, melepaskan diri dari gengaman tangan suaminya.


Sam yang masih berdiri di tempatnya, memberi usul. “Non, di depan komplek sepertinya ada. Biasa suka ada yang jualan disana.”


Wajah Kailla langsung berbinar kembali setelah sempat meredup. “Ayo kita kesana. Aku mau ikut,” ajak Kailla, penuh semangat.


“Tidak Kai. Biarkan aku saja yang memasak untukmu. Lebih terjamin kebersihan dan bahan-bahannya,” cegah Pram. Bukannya apa-apa, disaat Kailla tidak hamil pun, Pram selalu memperhatikan asupan makanan istrinya, apalagi disaat Kailla mengandung anak kembarnya.


“Aku tidak mau,” tolak Kailla.


Bujukan demi bujukan dilancarkan Pram demi sang istri mengurungkan niatnya. Penolakan demi penolakan juga selalu menjadi jawaban Kailla. Hampir setengah jam perdebatan alot itu terjadi, sampai akhirnya Pram mengalah.


“Biarkan Sam yang pergi membelinya untukmu,” ucap Pram pada akhirnya.


“Jangan pakai msg, biarkan begitu saja,” perintah Pram pada asisten Kailla. Setidaknya makanan tanpa rasa akan membuat Kailla berpikir dua kali untuk memakannya.


Deg—


“Kalau begitu, mana enak,” keluh Kailla kesal dengan kebawelan suaminya. Dia terlahir dari generasi micin, rasanya aneh harus menerima makanan hambar tanpa rasa.


“Ayolah, aku tidak setiap hari makan seperti ini,” rengek Kailla, memohon.


Lelah berdebat, akhirnya Pram mengalah.


“Baiklah, tunggu aku sebentar. Aku akan ikut dengan Sam,” ucap Pram. Berlari masuk ke dalam, mengambil sesuatu di dapur dan menyimpannya ke dalam saku celana kerjanya.


***


“Ayo Sam! Antarkan aku ke tempat penjualnya,” pinta Pram.


Kailla tersenyum, ikut melangkah turun ke halaman.


“Kenapa turun, Kai. Disini dingin!” ucap Pram lembut, menghentikan langkahnya saat menyadari Kailla mengekor di belakang mereka.


“Aku mau ikut, mau makan di tempatnya,” rengek Kailla.


Pram menghela nafas. Tidak memiliki tenaga lagi kalau harus berdebat.


“Masuk ke dalam, ambil jas kerjaku. Tadi aku melemparnya di sofa ruang tamu. Kenakan itu, aku menunggumu di mobil.” Lagi-lagi Pram harus mengalah, mengingat ada bayinya di dalam perut Kailla dan menuruti semua permintaan istrinya,


Tidak lama, mobil yang dikendarai Sam akhirnya berhenti tepat di depan gerobak penjual mi tek-tek tidak jauh begitu keluar dari komplek perumahan. Kailla dengan semangat empat lima, meraih gagang pintu dan berniat turun.


“Mau kemana?” tanya Pram heran.


“Tetap di mobil bersama Sam, biarkan aku yang turun untuk membelinya,” cegah Pram, meraih tangan Kailla supaya tetap duduk di tempatnya.


“Aku mau turun melihat abang penjual itu menggorengnya, menikmati aroma asapnya,” pinta Kailla, dengan wajah memelas ditunjukan sedemikan rupa demi melunakan hati suaminya.


“Kamu tetap disini, biarkan aku turun dulu untuk mengecek kesana. Aku harus memastikannya dulu. Aku tidak bisa membiarkanmu makan sembarangan,”ucap Pram, membuat Sam dan Kailla mengeleng menghadapi kecerewetan Pram.


Pram sudah turun duluan, terlihat berbincang sebentar dengan penjualnya. Tidak lama, dia kembali ke mobil, membuka pintu belakang dan mempersilakan Kailla turun.


“Ayo,” ajak Pram, sembari merapatkan jasnya yang menutupi tubuh Kailla, tidak membiarkan tubuh Kailla terkena angin malam yang dingin.


“Duduk disini,” pinta Pram, meraih sebuah kursi plastik dan menyeretnya di belakang bokong istrinya.


Lelaki itu langsung menyingsingkan lengan kemejanya. Dengan cekatan mengambil posisi bapak penjual. Setelah bernegoasiasi dengan penjual, Pram diizinkan menggoreng sendiri mi untuk istrinya. Tentunya dengan panduan sang bapak dan bahan tambahan yang dibawa dari rumah. Penyedap rasa non msg yang diambil dari dapur rumahnya.


“Sayang..,” panggil Pram tersenyum pada istrinya sambil memegang sodet di tangannya. Lelah dan letihnya hilang saat melihat Kailla tersenyum.


Kailla mengangguk, memandang Pram yang sedang dikepung asap tebal di depan wajan panas. Aroma bawang bercampur bahan-bahan lainnya membuat cacing di perut Kailla berdemo. Minta diisi secepatnya.


Dengan bantuan penjualnya, Pram menyelesaikan seporsi mi tek tek ukuran jumbo dalam waktu singkat.


“Terimakasih Pak,” ucap Pram pada penjualnya, membawa sepiring mi dengan asap yang masih mengepul.


“Ayo, aku akan menyuapimu,” ajak Pram, meraih tangan Kailla untuk ikut bersamanya ke dalam mobil. Dia tidak mungkin membiarkan Kailla, menikmati mi di tengah keramaian, berpanas-panasan.


Lelaki itu masih sempat mempersilahkan Sam memesan. Pram melihat sendiri bagaimana wajah Sam yang sudah tidak bisa dikondisikan dengan menelan ludah saat melihat Pram membawa sepiring penuh mi di tangannya.


Keduanya sudah duduk kembali di dalam mobil. Duduk bersisian, menghabiskan sepiring mie berdua.


“Enak? Anak-anakku menyukainya?” tanya Pram saat menyuapi sesendok penuh mi ke dalam mulut Kailla.


Kailla mengangguk.


“Kai, kalau menginginkan sesuatu, mintalah kepadaku. Sebisa mungkin aku akan mengabulkannya. Aku tidak mau kehilangan momen-momen indah selama kehamilanmu,” ucap Pram di sela-sela menyuapi Kailla.


“Mau selelah apa pun, seletih apapun. Aku akan ada waktu untuk kalian,” ucap Pram, kembali menyuapi Kaila.


“Kamu tahu, setelah empat tahun pernikahan kita, mereka adalah salah satu kado terindah yang dikirim Tuhan untukku,” ucap Pram, mengelus perut Kailla.


Kailla masih diam dan menyimak. Meski sudah tidak menolak keras, tetapi Kailla belum mau berbicara banyak.


“Aku menemui mama tadi siang,” cerita Pram.


Kailla terkejut. Sudah lama dia tidak menemui mertuanya, bahkan menghubunginya pun tidak.


“Mama sudah sembuh?” tanya Kailla, akhirnya bersuara.


“Mama merindukanmu. Mama akan ke rumah, besok,” jelas Pram.


“Benarkah?” tanya Kailla memastikan.


“Iya, mama senang mendengar berita kehamilanmu.”


Wajah Kailla berbinar-binar, tanpa berpikir lagi langsung memeluk Pram. “Aku merindukan mama,” bisik Kailla, hampir menangis.


“Iya, kamu tidak merindukanku?” tanya Pram tersenyum. Lelahnya hilang seiring dengan eratnya pelukan Kailla yang membelit tubuhnya.


“Kamu masih belum mengizinkanku memanjat pohon mangga di lapangan.” Kailla mengingatkan.


“Aku tidak bisa tenang, bayangan buahnya yang bergelatungan membayang terus d di otakku,” adu Kailla.


Pram terbahak. “Minggu ini aku akan membawamu ke sana, tetapi jangan coba-coba pergi sendirian dan memanjat tanpa sepengetahuanku,” ancam Pram.


Kailla mengangguk, pertanda setuju.


“Maafkan aku,” ucap Pram tiba-tiba, meletakan piring di jok mobil. Setelah beberapa hari, akhirnya dia memiliki kesempatan bicara dari hati ke hati dengan istrinya.


“Aku sudah menarik kembali gugatan perceraian di pengadilan. Aku tidak bisa menceraikanmu,” ucap Pram , menautkan jari jemarinya dengan jari-jari Kailla.


“Bukah karena kamu hamil, sebelum mengetahui kehamilanmu pun, aku sudah meminta pengacaraku membatalkan gugatannya,” cerita Pram. Dia merasa perlu menceritakannya pada Kailla, tidak mau masalah mereka yang berlarut-larut akan membebani istrinya dan berimbas pada kehamilannya.


Kailla hanya mendengar, tidak mau menjawab, tetapi dia tidak menolak saat Pram merengkuh tubuhnya dan memberinya pelukan hangat.


***


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali Pram sudah berangkat ke kantor. Sejak hubungannya dengan Kailla menjauh, dia tidak bisa bertemu dengan sang istri setiap pagi. Mereka tidur di kamar terpisah. Pram baru bisa masuk ke kamarn dan memeluk Kailla saat istrinya terlelap dan harus keluar dari kamar sebelum Kailla terbangun.


Berjalan menuju mobilnya di parkiran dengan wajah mengantuk karena semalam kurang tidur, Pram memanggil Sam. Ada banyak tugas yang harus dilakukan asisten istrinya itu.


“Mamaku akan datang ke sini. Dia mau membawakan makanan untuk Kailla. Usahakan cicipi terlebih dulu,” pinta Pram, membuat Sam terbelalak.


Bukannya apa-apa. Sam tidak habis pikir dengan permintaan majikannya. Atas dasar apa, dia yang hanya pekerja, mencicipi makanan yang diperuntukan bagi majikannya.


“Kenapa?” tanya Pram.


“Bukan begitu Pak. Aku harus mencari alasan apa untuk bisa mencoba lebih dulu semua makanan-makanan itu,” ucap Sam, kebingungan.


“Kamu cari saja alasannya. Kalau bisa usahakan Kailla tidak memakannya.”


“Entahlah, aku tidak percaya dengan Kinar tetapi aku juga tidak bisa menolak mamaku. Ini salah satu bentuk kegembiraa mama menyambut kehamilan Kailla. Aku tidak tega menolaknya,” jelas Pram, bergegas masuk ke mobil. Membiarkan Sam dengan wajah anehnya.


***


Siang itu, Kailla sedang menikmati segelas jus jeruk di taman belakang ditemani kedua asistennya Ibu Sari dan Ibu Ida. Ketiganya berbincang santai ditemani semilir angin laut yang bertiup sepoi di tengah cuaca panas.


Tiba-tiba dari arah depan rumah terdengar suara Ibu Citra menggelegar memanggil menantunya.


“KAILAAA..!” teriaknya. Mengekor di belakangnya sang sopir dengan kedua tangan penuh dengan tentengan.


Sam dan Bayu sedang duduk di pos security, segera berlari menghampiri. Mencari tahu apa yang terjadi gerangan sampai Ibu Citra berteriak begitu kencang dan bersemangatnya.


“Maaf Nyonya, tinggal tekan bel saja,” ucap Sam, memberitahu. Menunjuk ke arah tombol di samping pintu.


“Ini bukan di terminal,” celetuk Sam, membuat mata Ibu Citra hampir keluar menahan kesal.


***


To be continued


Love You all


Terimakasih.