Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 187 : Bandung


Kailla masih dalam perjalanan Jakarta - Bandung. Posisi mobil yang dikendarai Donny baru sepertiga perjalananan, tetapi Pram sudah menghubungi Kailla berulang kali. Entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu. Baru keluar dari rumah sakit saja, Pram sudah mengeluh rindu dan kangen.


“Sayang, kamu masih di kantor?” tanya Pram. Belum ada setengah jam, sudah dua kali laki-laki yang terbaring tak berdaya di atas brankar itu menghubungi istrinya.


“Ya, aku masih ada pekerjaan. Kamu istirahat saja, jangan berpikiran yang aneh-aneh. Aku baik-baik saja,” ucap Kailla, terpaksa berbohong. Kalau sampai Pram tahu, dia ke Bandung hari ini, bisa dipastikan suaminya akan mengamuk seperti orang gila.


“Kembali ke rumah sakit sekarang! Aku menunggumu!” perintah Pram, tanpa kompromi.


“Sayang, aku masih ada pekerjaan. Kalau sudah selesai, aku pasti menemuimu,” sahut Kailla, mulai bosan mendengar ocehan suaminya.


“Sayang, aku mohon temui aku sekarang. Aku bisa gila di sini. Kamu tahu, aku tidak bisa melakukan apa pun. Hanya bisa berbaring menatap wajah mama dan Bayu. Semakin dilihat, mereka semakin memuakan.” Pram berkata dengan terus terang, sontak membuat kedua orang yang disebutkan namanya langsung naik pitam menahan kesal.


“Kalau sedang tidak sakit, sudah kupastikan akan memukul anak nakal ini!” gerutu Ibu Citra kesal sendiri. Sejak tadi Pram hanya mencari istrinya. Mamanya yang sejak tadi mengurus, menyuapi makan, bahkan tidak dianggap. Tidak terlihat sama sekali di mata Pram.


“Ayo pulang sekarang, Sayang. Kamu tidak melihat wajah mama. Seperti balon mau meletus. Tegang terus sejak tadi. Bagaimana bisa kamu meninggalkan aku sendirian di sini bersama mama.” Pram masih saja mengoceh, sesekali melirik Ibu Citra yang menahan kesalnya.


“Ya, nanti aku pulang secepatnya begitu pekerjaanku selesai. Untuk saat ini, jangan menghubungiku terus-menerus, aku tidak bisa bekerja, Sayang.” Kailla bersandar di kursi mobil dengan mata terpejam.


Saat ini lelahnya sudah tidak terhitung, kalau bisa meninggalkan semua masalah di kantor dan menemui Pram, dia memilih melakukan itu. Akan tetapi ada tanggung jawabnya di sana. Tidak mungkin meninggalkannya begitu saja.


“Ya, aku menunggumu.” Pram memutuskan panggilannya.


Waktu berlalu, pagi beranjak pergi, siang menyambut hari. Keluar dari tol, mobil yang ditumpangi Kailla disambut oleh kemacetan panjang. Lelahnya semakin menjadi, ditambah kepalanya mulai berdenyut hebat.


“Sam, apa masih lama?” tanya Kailla, memijat pelipisnya. Belum sempat asisten itu menjawab, bunyi ponsel kembali berdering.


“Katakan saja aku sedang rapat!” titah Kailla, masih nyaman di posisinya. Membiarkan Sam yang mengurus semuanya. Tanpa melihat pun, Kailla tahu jelas siapa yang sudah menghubungi ponselnya yang sejak dua jam lalu sudah dititipinya pada Sam. Ibu hamil itu sudah lelah mendengar ceramahan dan rengekan Pram yang tak selesai-selesai.


“Ya, Pak.” Terdengar Sam menerima panggilan dengan ragu.


“Mana Kailla?” tanya Pram dengan suara garangnya. Kalau mendengar suaranya, siapa pun tak akan menyangka kalau saat ini Pram sedang tergolek di brankar rumah sakit.


“Non Kailla sedang rapat, Pak.” Sam menjawab sesuai perintah majikannya.


“Rapat ... rapat! Jangan berbohong padaku lagi. Rapat apa berjam-jam! Mana istriku. Ini sudah jam berapa? Ini sudah jam makan siang!” omel Pram. Menyemprot Sam tanpa jeda. Suara laki-laki itu terdengar nyaring memekakan telinga sampai terdengar oleh Donny dan Kailla.


“Mana Kailla? Kurang ajar! Kamu pasti sengaja menahan ponsel istriku supaya aku tidak bisa bicara dengan Kaillaku,” semprot Pram kembali.


Sam menoleh ke belakang. Menutup rapat ponsel itu supaya percakapannya dan Kailla tidak terdengar.


“Non ... ini bagaimana. Sejak tadi, aku sudah berulang kali diomeli Pak Pram karena Non Kailla tidak mau menerima panggilannya.” Sam berkata dengan wajah memohon.


“Katakan saja aku sedang tidak bisa diganggu. Sudah urusi saja, Sam.” Kailla masih bergeming. Bersandar manja di kursi memandang kemacetan jalan raya seolah tak ada habisnya.


“Maaf Pak. Aku serius, ini Non Kailla sedang rapat.” Sam berkata dengan ragu-ragu di depan ponsel, siap menunggu semprotan susulan dari Pram.


“Rapat-rapat! Aku mendengar sendiri suara klakson mobil. Jangan menipuku, Sam. Mana Kailla? Kalian di mana? Jangan karena aku sudah tidak bisa apa-apa, kamu mau menipuku!” cerocos Pram dengan suara penuh amarah dan kesal.


“Non Kailla sendiri yang memintaku mengatakan, kalau Pak Pram menghubungi lagi, katakan saja aku sedang rapat. Begitu kata Non Kailla, Pak,” ucap Sam, akhirnya asisten itu kesal sendiri. Sejak tadi jadi bulan-bulanan kedua majikannya.


“Sam!!” teriak Kailla nyaring. Dengan wajah cemberut mengambil alih ponsel dari tangan asistennya itu.


“Ya Sayang, ada apa?” sapa Kailla begitu ponsel menempel di telinganya.


“Kamu di mana, Kai? Kamu sudah makan siang?” Nada suara Pram terdengar melembut, berbeda saat bicara dengan Sam.


“Aku sedang dalam perjalanan makan siang ini. Sudah, jangan menghubungiku terus. Aku tidak bisa bekerja, Sayang.” Kailla menjawab dengan suara manja tak kalah lembutnya.


“Cih! Giliran sudah mengobrol berdua, suaranya langsung seperti kerupuk melempem, digigit tidak terdengar lagi bunyi kriuk kriuk. Giliran bicara denganku, dua-duanya seperti petasan, meledak terus.” gerutu Sam, bibirnya menggerutu sepanjang perjalanan. Semakin mendengar suara manja Kailla, semakin dia kesal sendiri.


“Sam! Kamu meledekku?” tanya Kailla. Tiba-tiba menghentikan obrolannya dengan sang suami saat melihat bibir asistennya komat kamit seperti dukun sedang menghafal mantra.


“Ada apa, Sayang? “ tanya Pram.


“Sam mengerjaiku. Dia berani sekali, Sayang.”


“Berikan ponselnya pada Sam. Aku akan membuat perhitungan dengannya,” titah Pram.


“Nih! Bosmu mau bicara!”


“Ya, Pak. Ada apa lagi?” tanya Sam, ragu-ragu saat menempelkan gawai mahal itu di telinganya.


“Sam, jangan karena aku sedang sekarat di sini, kamu bisa seenaknya. Ingat ya, saat aku bisa berjalan kembali. Aku akan menendangmu pertama kali,” ancam Pram. Sejak terbangun dari koma, emosi Pram tidak stabil. Kondisinya yang tidak bisa melakukan apapun sendiri, berpengaruh pada mentalnya. Walaupun Pram tidak pernah mengeluh secara langsung, tetapi terlihat dari sikapnya yang berubah drastis.


“Sejak tadi kamu beralasan rapat-rapat! Berani sekali kamu berbohong, Sam!” Kembali terdengar omelan dari seberang telepon.


Sam hanya bisa mengelus dada. Selama Pram koma, dia bisa bernapas lega, tetapi saat laki-laki itu bangun, di situlah duka dan nestapanya bermula. Tiap hari pasti akan jadi tempat pelampiasan keduanya.


***


Kailla melangkah masuk ke kantor RD Group di Bandung. Sedikit terlambat dari jadwal karena terjebak macet di jalan. Ibu hamil dengan terusan biru tua, menenteng tas tangan channel hitam keluaran terbaru itu tampak gugup saat akan masuk ke ruangan tempat di mana pertemuannya dengan sang calon klien.


Sam yang masih setia mengekor di belakang, terdengar memberi semangat. “Ayo Non, pasti bisa! Acha acha Fighting!” Sam berkoar-koar dengan semangat empat lima.


Begitu pintu ruangan terbuka, Kailla mengedarkan pandangan ke dalam ruangan. Terlihat sudah duduk rapi para staffnya mengitari meja kayu berbentuk oval. Di atas meja juga sudah tersusun kertas bertumpuk yang akan jadi materi rapat hari ini.


Bola mata Kailla membulat saat menangkap sosok yang tidak asing, ikut mengisi kursi bergabung dengan para staffnya. Wanita cantik dengan tampilan elegan, terlihat tersenyum manis padanya. Sedikit berubah dibandingkan pertemuan mereka empat atau lima tahun silam.


“Tante ....” bisik Kailla pelan, menatap tak berkedip.


***


TBC