Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 156 : Jakarta bakal kebanjiran


“Di dalam laci nakas itu ada senjataku. Kalau kamu merasa aku mengancam hidupmu, kamu bisa menembakannya ke kepalaku setiap saat, tetapi jangan pernah pergi lagi dariku,” ucap Pram pelan, masih berusaha meyakinkan Kailla.


Mendengar pernyataan Pram, hati Kailla tentu saja tersentuh, meskipun ragu itu masih ada. Kalau boleh jujur, dia juga sangat merindukan pelukan Pram, dekapan Pram, kecupan Pram, belaian Pram.


Kedua tangan yang tadinya menjuntai, akhirnya dengan ragu ikut memeluk pinggang Pram dengan erat. Tangis Kailla pecah setelah merasakan kembali pelukan suaminya setelah sebulan hanya memimpikannya.


“Jangan menangis lagi, Sayang,” bisik Pram di telinga Kailla, mengusap rambut panjang Kailla yang tergerai sebelum melepaskan pelukannya.


“Habiskan susumu, sekarang,” pinta Pram, meraih segelas susu dan menyodorkannya di bibir Kailla.


Kailla menatap segelas susu itu dengan ragu, setelahnya menatap Pram.


“Hahaha, jangan gila. Aku tidak mungkin meracuni anakku sendiri,” ucap Pram. Tawanya pecah setelah melihat ekspresi Kailla.


“Habiskan Sayang, itu untuk anak-anak kita,” bujuk Pram, tersenyum. Tangannya sudah menyiapkan vitamin- vitamin Kailla yang disiapkan di atas piring kecil.


“Nanti habiskan vitaminmu juga, Kai. Diberi jarak saja untuk minum vitaminnya,” jelas Pram, mengusap kepala Kailla dengan lembut. Dia bisa melihat istrinya dengan susah payah menghabiskan segelas susu.


“Sudah!” ucap Kailla, menutup mulutnya supaya susu yang sudah masuk ke dalam perutnya tidak dimuntahkan.


“Terimakasih sudah menghabiskannya, Sayang. Aku tahu ini berat, tetap aku juga tidak bisa apa-apa. Kalau bisa meminta, lebih baik aku saja yang hamil, tetapi tidak mungkin bisa, kan,” ucap Pram, tersenyum.


Lelaki itu dengan lembut meraih tangan Kailla yang menahan mual karena meneguk susu dalam jumlah banyak. Bibir Kailla memutih dengan sisa susu di sudut bibir.


Cup!


Pram mencium bibir Kailla tiba-tiba, menyapu sisa susu dengan bibirnya. Membersihkan bibir istrinya yang memutih.


“Rasanya enak, Sayang. Kenapa sulit sekali menghabiskannya,” ucap Pram, menyapu bibirnya sendiri dengan lidah.


“Kalau begitu, kamu saja yang menghabiskannya mulai besok,” sahut Kailla dengan santai.


“Memang bisa?” tanya Pram, mencoba menanggapi ucapan Kailla.


“Lalu bagaimana aku menyalurkannya pada anak-anak kita. Disiram seperti biasa apa bisa berfungsi?” tanya Pram mulai usil, mengelus perut Kailla


“Maksudmu apa?” tanya Kailla bingung.


“Kalau aku yang meminum susunya setiap hari. Masuk dari sini turun ke sini,” jelas Pram menunjuk mulutnya sendiri kemudian turun ke perutnya.


“Jadi susu yang aku minum, diproses di dalam sini, aku harus meyalurkannya untuk anak-anakku, kan?” tanya Pram, menepuk perutnya dengan pelan, tersenyum usil.


“Hmmm ....” Kailla bergumam.


“Aku salurkan dengan cara menyiram seperti biasa, apa bisa berfungsi? Hanya tertinggal metode itu saja yang bisa membuatku terhubung dengan anak-anak kita yangap ada di dalam kandunganmu,” lanjut Pram menahan tawa. Memberi ide tidak berguna untuk menjahili Kailla.


“Bagaimana Kai. Aku tidak keberatan. Setiap malam aku akan menyiram bayi-bayi kita,” ucap Pram.


“Apa-apaan ini!” gerutu Kailla.


“Aku serius, Kai. Aku akan menyiramnya dengan rajin. Sehari dua kali juga aku tidak keberatan, supaya ladangnya tidak kekeringan seperti saat aku tinggal di Austria.” Tawa Pram pecah sudah, apalagi saat melihat wajah cemberut Kailla.


“Tidak lucu!” gerutu Kailla lagi.


“Ayo Kai. Aku sudah lama tidak ke ladang. Tidak menyiram, tidak memupuk, bagaimana bisa mendapatkan hasil yang baik. Aku tidak mau jadi petani yang tidak tahu diri, setelah menabur benih dibiarkan begitu saja.”


“Kemarin aku menabur bibit varietas unggul, sebulan ini aku tidak melihatnya. Jangan-jangan yang tumbuh rumput ilalang. Setidaknya malam ini, izinkan aku menengoknya sebentar, Kai.”


“Tidak. Kita masih belum berbaikan.” Kailla menolak, mendorong tubuh Pram yang siap menggerayanginya itu untuk pergi menjauh.


“Ladang sedang dilockdown! Jangan berani-berani mendekat!” ancam Kailla, mengarahkan telunjuknya ke wajah sang suami.


***


Sepasang suami istri itu masih tidur sambil memeluk. Setelah sebulan terpisah, akhirnya mereka sama-sama bisa saling melepas kerinduan. Meskipun ragu itu masih ada, Kailla memilih percaya pada Pram demi anak-anak mereka.


Sinar matahari mulai menyorot tajam, masuk melalui celah-celah jendela kaca. Pram yang sudah bangun sejak tadi, terpaku menatap wajah Kailla.


“Morning Mommy,” sapa Pram, sengaja menganggu tidur istrinya.


Lelaki itu harus berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Dia ada janji bertemu dengan seseorang yang akan diwawancarainya. David dari beberapa minggu yang lalu, meminta dikirimkan pekerja dari Indonesia yang bisa merawaat dan mengurus Pieter yang mengalami kelumpuhan sementara.


“Sayang, bangun. Aku harus ke kantor pagi ini,” panggil Pram, menguncang tubuh Kailla.


Setelah merasa tidak ada pergerakan, Pram langsunb mendekap dan menghujami wajah istrinya dengan kecupan basahnya. Sontak saja Kailla menjerit kaget.


“Ahhhhhh!!” pekik Kailla, mengusap wajahnya yang terkena bulu-bulu halus di dagu Pram.


“Maaf, temani aku ke kantor sebentar lagi, Kai. Setelah itu kita akan menemui mama,” jelas Pram saat kesadaran Kailla sudah mengumpul sempurna. Lengan lelaki itu masih saja mengunci tubuh istrinya.


“Iya, hanya sebentar. Aku harus mewawancarai seseorang, sebelum mengirimnya ke Austria. Aku harus memastikan kalau dia memang pantas merawat Pieter.”


“Apa Pieter separah itu?” tanya Kailla.


“Iyaa, kecelakaan itu membuatnya mengalami kelumpuhan, harus ada seseorang yang merawatnya. Bahkan makan saja harus disuapi. Untuk sementara ini tubuhnya belum bisa berfungsi sempurna. Kecelakaannya terlalu parah,” jelas Pram.


Kailla mengangguk. Buru-buru bangkit dan bergegas ke kamar mandi.


“Sayang, kita mandi bersama, ya,” pinta Pram, ikut mengekor istrinya. Setelah semalam gagal membujuk Kailla, besar harapannya pagi ini, Kailla mengizinkannya mengunjungi bayi-bayinya.


Kailla berbalik, menatapnya tajam. Bola mata istrinya hampir keluar, membuat Pram menciut seketika.


“Ini-ini bukan lagi masalah ladangmu yang kekeringan, Sayang,” jelas Pram terbata.


“Masalahnya bendungan katulampa sudah siaga satu, kalau tidak segera disalurkan, aku khawatir Jakarta bakal kebanjiran. Debet airnya sudah mendekati jebol sebentar lagi. Benar-benar darurat ini, Sayang. Perlu pelampiasan,” ucap Pram semakin asal.


Tanpa menunggu jawaban, dia sudah menggendong Kailla, membawa istrinya ke kamar mandi, membiarkan Kailla memberontak dan menjerit hebat karena ulahnya.


***


Kailla masih saja cemberut saat digandeng Pram masuk ke kantor. Suaminya benar-benar mengerjainya di kamar mandi. Dengusan kesalnya sudah terdengar ratusan kali sejak dari rumah.


“Sudah Sayang, kalau masih saja mendengus, aku akan mengerjaimu sekali lagi di kamar mandi kantor,” ancam Pram, menyeringai licik.


Saat keduanya melewati meja Stella, mata Kailla membulat kala melihat gadis cantik yang berdiri memegang map dengan setelan sederhananya.


“Maaf Pak, ini yang ingin melamar pekerjaan untuk merawat Pak Pieter,” jelas Stella, mengenalkan pada wanita muda yang berdiri di depan mejanya.


Pram menatap sekilas kemudian mempersilakan gadis itu masuk. Sedangkan Kailla yang tadinya cemberut dan mengomel, berbalik merengkuh lengan Pram dengan mesra sembari melirik ke arah gadis cantik yang mengekor di belakang mereka.


“Bagaimana?” tanya Pram, setelah duduk di kursi kebesarannya. Kailla memilih berdiri di samping Pram, menggengam tangan suaminya dengan erat, seolaj takut suaminya akan diambil wanita asing itu. Mata Kailla meneliti gadis manis yang berdiri menunduk itu dari ujung rambut sampai ujung kepala.


“Perkenalkan ... nama saya Naina Pelangie,” jelas Naina membuka perkenalannya.


“Silakan duduk!” titah Pram.


Kailla masih saja menatap tak berkedip, bahkan membuat gadis itu jengah dan tidak enak hati. Sedangkan Pram terlihat membaca data pribadi Naina dari berkas yang baru saja disodorkan sang gadis,


“Kamu tahu kalau akan bekerja di Austria?” tanya Pram, masih sibuk membaca.


“Tahu Pak.”


“Sudah menikah?” tanya Pram, mengerutkan dahinya.


“Sudah Pak.”


Mendengar kata sudah menikah yang diucapkan suaminya, Kailla langsung tersenyum bahagia. Sikapnya melunak dan jauh lebih baik. Bahkan dia menyodorkan segelas air mineral kemasan kepada Naina.


“Diminum, Nyonya,” ucap Kailla, menyodorkan tepat di depan Naina.


“Fighting!!” lanjut Kailla tersenyum, mengepalkan tangan, memberi semangat pada Naina.


“Terimakasih,” sahut Naina sopan.


“Sudah memiliki anak?” tanya Pram lagi.


“Sudah Pak, baru berusia satu tahun.” Naina menjawab.


“Apa suamimu tidak keberatan kalau kamu bekerja di luar negri, bagaimana dengan anakmu?” tanya Pram, timbul rasa iba di dalam hatinya, melihat kondisi gadis manis di hadapannya. Apalagi melihat umurnya yang tidak jauh berbeda dengan Kailla, istrinya.


“Saya butuh pekerjaan ini, Pak. Selama saya bekerja, ada yang menjaga anakku,” jelas Naina.


“Saya jamin, tidak akan menganggu pekerjaanku,” lanjut Naina lagi.


“Baiklah, Stella akan menghubungimu nanti. Kalau memang sudah siap, untuk masalah surat menyurat, tiket dan keberangkatan akan diurus orangku,” jelas Pram.


“Apa kamu tidak keberatan, karena nanti yang akan kamu urus adalah laki-laki lumpuh,” lanjut Pram lagi.


“Saya siap, Pak.”


***


TBC


Note : Kisah Naina ada lapak sendiri ya, di judul Tatap Aku, Suamiku.