Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 80 : Siasat Kailla


Pram sedang sibuk memeriksa berkas di ruang kerjanya, saat sebuah pesan masuk di ponselnya. Mengerutkan dahinya, bingung dengan pengirim yang tidak terdaftar di kontaknya. Sebuah foto, pesan itu berisi sebuah foto yang membuat matanya terbelalak.


Berusaha meredam emosinya yang terpancing oleh orang yang sama. Tidak mau marah, tapi rasanya tidak terima. Tetapi, marah pun percuma, harus marah pada siapa. Dia yang terlalu posesif atau istrinya yang terlalu polos dan tidak berperasaan.


Berkali-kali menghela nafas, berusaha membuang semua pikiran buruknya.


“Kailla baik-baik saja.” Berbisik pelan menyakinkan dirinya sendiri.


“Dia masih istrimu, Pram,” ucapnya kembali, menumbuhkan kepercayaan dirinya kembali.


Kalau pekerjaannya tidak menumpuk sudah pasti dia akan meninggalkannya dan menemui Kailla saat ini juga. Meraih ponselnya dan menghubungi Sam, itulah yang bisa dilakukannya saat ini. Tidak punya jalan lain. Sengaja menyalakan speaker, jadi tidak perlu susah menempelkannya di telinga.


“Sam, kamu dimana?” tanyanya saat panggilan itu terhubung dengan sang asisten.


“Lagi di mall, Pak. Non Kailla lagi mencari syal untuk mamanya Pak Pram,” sahut Sam. Suaranya bergetar menyembunyikan ketakutannya. Sebenarnya dia kehilangan jejak Kailla sejak lima belas menit yang lalu.


“Kamu tidak perlu berbohong!” tegas Pram dengan suara lebih nyaring dari biasanya.


“Cari istriku sampai ketemu. Seret dia pulang sekarang. Jangan pikir aku tidak tahu Kailla sedang bersama siapa sekarang!” omel Pram.


“Ba-baik Pak.”


“Tunggu aku pulang. Aku akan membuat perhitungan denganmu. Menjaga seorang Kailla saja kamu tidak becus! Pantas saja sampai sekarang masih belum punya pacar. Jomblo akut!” omel Pram lagi, meletakan ponsel sembarang di atas meja kerja. Kepalanya pusing. Urusan kantor menumpuk, sekarang ditambah masalah istrinya.


Hening—


“Cih! Aku baru 30an. Apa dia tidak berkaca? Umur berapa dia baru menikah. Itu pun dijodohkan Riadi. Kalau tidak, aku yakin dia lah ketua para jomblo se-Indonesia!” dengus Sam kesal tidak berkesudahan. Belum menyadari kalau panggilan belum dimatikan, masih tersambung dengan majikannya.


“Sam, kamu menyindir di belakangku!” teriak Pram sekencang-kencangnya guna menunjukan kehadirannya yang masih setia mendengar.


“Ya Tuhan, belum dimatikan panggilannya, dia mendengar semua ucapanku,” batin Sam


“Ma-maaf Pak, bukan begitu,” ucapnya terbata, segera memutuskan panggilan.


Dia harus segera mencari Kailla dan menyeret majikannya itu pulang, kalau tidak, bisa dipastikan kemarahan Pram semakin menjadi.


Setelah berkeliling setengah mall, dia baru menemukan sosok yang dicarinya. Sedang menikmati makan siang berdua di sebuah restoran.


Baru saja Sam melangkah masuk, lelaki yang menemani Kailla itu tiba-tiba berdiri. Melewatinya begitu saja, tanpa permisi.


“Non, sekali melihatku, dia langsung pergi. Keberadaanku sebagai asistenmu memang tidak perlu dipertanyakan lagi. Hanya dengan melihat wajahku saja, dia langsung menciut,” sahut Sam membanggakan diri.


“Iya, kurang lebih sama seperti saat kamu melihat suamiku, langsung mengkerut!” ucap Kailla terbahak. Tawanya semakin pecah saat melihat kekesalan Sam.


“Kamu kemana saja Sam? Aku mengirim pesan di ponselmu sejak tadi,” ucap Kailla, setelah tawanya terhenti.


“Ya Tuhan, aku lupa mengecek pesan, Non,” sahut Sam, menepuk keningnya.


“Ayo kita pulang, dicari Pak Pram,” pinta Sam.


“Habiskan dulu milikmu,” ucap Kailla, menunjuk seporsi steak yang masih utuh.


Melihat itu Sam langsung lemas. Seumur-umur, cukup sekali menikmati steak, sewaktu di Austria. Itupun karena terpaksa tidak ada pilihan lain. Rasanya lumayan walaupun tidak senikmat rendang di warung padang.


Tetapi yang membuatnya susah menelan, karena kebiasaannya di kampung. Dia sudah terbiasa makan nasi dengan lauknya, tidak pernah makan lauk begitu saja.


Masa kecilnya, kalau sampai ketahuan emak makan lauk, apalagi daging sapi di atas meja, langsung dapat bonus sabetan ikat pinggang. Padahal itu daging dapat gratis, setahun sekali setiap hari raya Idul Adha.


“Sudah habiskan saja. Tinggal telan, lep!!” ucap Kailla, masih sibuk menatap ponsel di tangannya.


Sam sedang berusaha menghabiskan makanannya sambil membayangkan semur jengkol di warung langganannya. Dengan begitu, akan lebih muda menelannya.


“Non, setelah ini kita langsung pulang ya,” ucap Sam, menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya.


“Hmmm,” gumam Kailla.


“Pak Pram tahu kalau Non bertemu dengan Ditya,” cerita Sam, kembali menyuapkan sepotong daging ke mulutnya.


Mendengar ucapan Sam, Kailla langsung panik. Segera menyeret tangan asistennya itu supaya berdiri dan meninggalkan restoran secepatnya.


“Non..Non.. ini makannya belum selesai,” ucap Sam masih menggengam garpu di tangannya, hampir saja tersedak. Kailla mengagetkannya.


“Sudah, tinggalkan saja. Nyawa kita lebih penting dari makanan itu,” sahut Kailla, bergegas menuju mobil.


Jantungnya berdetak kencang, saat mendengar kalimat terakhir dari Sam. Saat bertemu Ditya, dia tidak memperhitungkan sama sekali kalau suaminya bakal mengetahui.


“Sam, kita harus bisa membujuknya supaya tidak emosi nanti sepulang kerja,” perintah Kailla lagi.


Otaknya sedang berpikir, mencari cara merayu suaminya nanti malam. Bagaimanapun dia tidak mau mendengar omelan Pram lagi. Baru saja , dia bisa bebas berbelanja hari ini, masa harus dilockdown kembali.


***


“Apa aku memasak saja untuknya Sam. Bagaimana menurutmu?” tanya Kailla meminta pendapat.


Keduanya sudah di dalam mobil sekarang, hendak menuju pulang ke rumah.


“Sebaiknya jangan Non. Keahlian memasak Non itu belum bisa diandalkan. Jangankan untuk Pak Pram, kucing tetangga yang sedang berkunjung ke rumah pun menolak mencicipi masakan Non Kailla,” ucap Sam serius.


“Sam! Aku serius!” omel Kailla.


“Aku terlebih lagi serius, Non. Itu fakta yang tidak terbantahkan.”


“Coba Non Kailla ingat-ingat, selama empat tahun menikah pernah tidak Pak Pram memuji masakan Non Kailla enak?” tanya Sam, melirik sebentar, selanjutnya kembali fokus menyetir.


Belum sempat Kailla menjawab, Sam sudah menyela.


“Tidak pernah kan. Jadi sebaiknya jangan mengambil resiko, Non,” potong Sam.


“Jadi aku harus bagaimana Sam?” tanya Kailla lagi.


Sam hanya menggelengkan kepala, tidak bisa memberi masukan.


***


Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, saat mobil yang dikendarai Bayu masuk ke halaman rumah. Tidak lama, terlihat Pram keluar dengan wajah gusar dan tidak bersahabat. Melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah kasar.


“Sam! Sam!” teriakan itu terdengar nyaring. Mengejutkan seisi rumah. Ibu Sari dan Ibu Ida yang sedang menyaksikan acara televisi segera mematikannya, bergegas ke kamar. Tidak mau mencari masalah atau terlibat lebih jauh.


“Sam! Sam!” Kembali teriakan itu terdengar.


Hening.


Terlihat Ricko muncul dari arah belakang rumah. Masih dengan kain sarunngnya.


“Mana Sam?” tanya Pram dengan wajah tidak bersahabat. Dia sudah menyimpan kesalnya sejak siang tadi. Baru sekarang bisa diledakan.


“Ma-maaf Pak, Sam sedang keluar,” Ricko menjawab dengan ragu.


Pram menghela nafasnya, berusaha bersikap tenang.


“Dimana Kailla?” tanya Pram lagi. Entah kepada siapa, hanya tertinggal Ricko yang berani menghadapi Pram seorang diri. Ibu Ida dan Ibu Sari sudah kabur sejak tadi.


“Di kamar Pak,” sahut Ricko, telunjuknya mengarah ke atas.


Tanpa basa basi, Pram melangkah ke kamarnya. Kali ini mungkin dia harus bertindak tegas pada istrinya. Setidaknya Kailla bisa berpikir dua kali setiap melakukan sesuatu.


Ceklek! Pintu kamar terbuka.


Pram melangkah masuk ke dalam kamarnya, tetapi saat matanya tertuju pada sosok istrinya. Raut kesal dan marah itu berubah khawatir. Hilang sudah semua kata-kata yang ingin disampaikan pada sang istri. Tubuhnya melemas hampir merosot.


“Sayang,” panggilnya, berlari menghampiri Kailla dengan panik.


***


To be continued


Love You All.