Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 138 : Harus rajin disiram


“Ma! Bisa memilihnya nanti saja. Aku masih ada urusan dengan Kailla,” teriak Pram, mengusir mamanya keluar dari kamar.


Lelaki itu sudah bertolak pinggang di depan istrinya. Kailla sendiri masih terlihat santai, duduk disisi ranjang dengan senyum usilnya.


“Jangan coba-coba kabur dariku!” gertak Pram, mengarahkan telunjuknya dengan tegas ke wajah sang istri. Melihat senyum jahil Kailla yang diam-diam mencuri menatapnya, dia sudah bisa menebak isi kepala istrinya.


Baru saja Pram akan bersuara, dering ponsel di kantongnya memecahkan percakapan ringan keduanya.


“Tunggu! Kamu jangan mencoba pergi dariku!” ancam Pram menyeringai licik, sembari menerima panggilan telepon dari Stella, sekretarisnya.


Dia sudah maju beberapa langkah, mengunci kedua lutut Kailla dengan kedua kakinya. Tidak membiarkan istrinya itu bergerak sedikitpun dari tempatnya duduk. Dengan begitu, Kailla tidak akan bisa kabur darinya.


“Aduh Sayang, jangan begini,” bisik Kailla, berusaha mendorong tubuh Pram yang berdiri menempel di wajahnya. Kedua kakinya tidak bis bergerak sedikitpun, terjepit kaki suaminya.


“Ssssstt!” Pram menempelkan telunjuknya di bibir Kailla, meminta istrinya diam. Bersamaa dengan tangan yang lain menggeser tombol hijau di layar ponsel pintarnya.


“Iya Ste,” sapa Pram, menempelkan gawai mahal itu di telinganya. Tatapannya tidak lepas dari wajah Kailla. Istrinya sedang berusaha lepas dari cengkeramannya. Tentunya dengan wajah cemberut khasnya.


“Tunda lima belas menit lagi rapatnya. Aku akan memimpin langsung rapatnya, nanti sambungkan denganku saat semua sudah berkumpul,” titah Pram.


Lelaki matanh itu sudah berjalan menuju nakas, mematikan sepihak dan melempar pelan ponselnya di atas sana bergabung dengan piring kosong bekas nasi goreng. Entah apa yang dikerjakan Pram, tetapi tak lama dia langsung berbalik saat merasakan ada pergerakan Kailla di belakangnya.


“Hmmm,” seringai licik muncul di wajah tampan Pram untuk kesekian kalinya.


Dengan sigap kedua tangannya sudah mengunci pergelangan tangan istrinya, mendorong pelan tubuh Kailla supaya bersandar di kepala tempat tidur. Tanpa bicara, tanpa suara, lelaki itu sudah mengunci bibir Kailla, mengecup dan mencium sampai akhirnya me’lumatnya lembut. Tidak memberi kesempatan istrinya protes ataupun melawan.


Dengan mengigit kecil bibir tipis menggoda, supaya bisa menyusupkan lidahnya, mengabsen deretan gigi dan bermain-main di dalam mulut istrinya. Berusaha membagi kenyamanan sampai Kailla terhanyut dan terbuai dengan ciuman dan perlakuan manisnya. Hampir lima menit, mereka berciuman, saling menikmati bibir, tiba-tiba Kailla merasa ada yang terdorong masuk ke dalam tenggorokan.


Glek!


Kailla dipaksa menelan. Dorongan lidah Pram, membuat Kailla tidak bisa berontak. Kejadian berulang kembali, Kailla sampai melotot menahan kesal ketika dipaksa menelan sekali lagi. Rasa pahit mulai menjalar di lidahnya. Ciuman manis yang berakhir dengan kepahitan. Berselimut kekesalan.


Saat Kailla berusaha melepas ciumannya, Pram meraih tengkuknya dan memperdalam lu’matannya. Kembali memaksa dan mendorong sebutir vitamin yang tersembunyi di dalam mulutnya entah sejak kapan. Pil terakhir yang didorong Pram masuk ke dalam tenggorokan Kailla.


Glek!


Pil ketiga, Kailla tersedak. Sampai terasa sakit di tenggorokan karena ukuran pil yang terlampau besar dan tenggorokannya terlalu kering.


Pram buru-buru melepas ciumannya, segera menyodorkan segelas air pada istrinya.


“Minum ini!” titah Pram, yang tidak tega melihat istrinya batuk dan tersedak karena ulahnya.


“Maafkan aku,” ucapnya lagi, mengusap pucuk kepala Kailla yang rambutnya berantakan karena ulahnya tadi. Kemudian ikut duduk di samping Kailla. istrinya itu masih bersandar, kelelahan dan tersengal karena tindakan memaksanya tadi.


“Bagaimana rasa vitamin itu? Tidak sesulit yang kamu bayangkan bukan?” tanya Pram, melirik jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu lima menit lagi.


Kailla tidak menjawab. Masih mengatur nafasnya yang memburu karena ulah Pram. Wajah cemberut bercampur kesal itu kembali muncul.


Bukk!!


Sebuah bantal menghantam tubuh Pram. Kailla memukul suaminya untuk menyalurkan kekesalan.


“Kamu kelewatan! Harusnya memberitahuku kalau menyuapiku pil-pil itu,” omel Kailla.


“Maafkan aku. Ini demi anak-anak kita. Aku juga terpaksa,” bisik Pram, mendekat dan membawa Kailla ke dalam dekapannya. Sebuah ciuman lembut kembali mendarat di bibir Kailla.


“Kali ini tidak ada jebakan di dalamnya,” bisik Pram di sela ciumannya. Sebelum menidurkan Kailla di atas tempat tidur dan menyusul menindih pelan. Baru saja dia akan memperdalam ciumannya kembali, pekik kencang Ibu Citra terdengar dari dalam walk in closet.


“PRAM!!!” teriak wanita tua itu, berjalan keluar sembari memeluk tiga buah tas berwarna hitam. Dia tidak hanya mengambil satu, tetapi tiga sekaligus.


Menyusul di belakangnya Kinar tertunduk malu dengan tangan kosong. Sejak tadi dia terpaksa mengintip kegiatan intim pasangan suami istri itu. Meskipun dia sudah diingatkan Ibu Citra supaya memejamkan mata, tetapi naluri penasarannya membuat mata terpejam itu memberi celah untuk indra penglihatannya mengintip apa yang terjadi pada sepasang manusia sedang dimabuk cinta sehingga lupa dengan kehadiran mereka di sana.


“Astaga. Aku lupa, mereka masih ada disini,” ucap Pram menarik Kailla supaya bangun dari tidurnya. Pram terkejut, demikian juga Kailla, tidak kalah terkejut. Mendorong kasar tubuh suaminya supaya menjauh. Berusaha menahan malu, menutup rona memerah di pipinya dengan menunduk. Beruntung mereka tidak melakukan lebih dari ciuman. Kalau tidak, dia tidak tahu mau ditaruh dimana mukanya.


“Mama di kamarku, wajar saja kalau sampai mendapat tontonan gratis. Salah siapa coba,” jelas Pram dengan santai. Berjalan menghampiri mamanya seolah tidak terjadi apa-apa.


“Itu belum seberapa,” celetuk Pram menatap sinis ke arah Kinar.


“Kurang ajar!” gerutu Ibu Citra, berjalan keluar kamar dengan wajah kesalnya.


“Kai, mama keluar dulu,” pamitnya pada sang menantu. Masih sempat menjaga sopannya, apalagi Kailla sudah begitu baik, mengizinkannya mengambil tas sesuka hatinya.


Pram yang menatap Kinar mengekor di belakang sang mama, langsung bersuara kembali. “Ma, orangmu ini akan ikut menginap juga disini?” tanya Pram.


“Sayang!” panggil Kailla, langsung berlari memeluk pinggang suaminya. Pram masih membeku di tempat, menunggu jawaban dan kepastian mamanya.


Ibu Citra yang sedang meraih gagang pintu kamar, menghentikan langkahnya seketika. Sedikit tersinggung dengan ucapan putranya. “Iya, selagi istrimu mengizinkan, aku akan membawa Kinar menginap disini,” sahutnya kesal. Membuat Pram semakin meradang.


Entah kenapa, setiap melihat Kinar, emosi Pram selalu terpancing. Padahal sebelum ini, dia masih bisa bersikap wajar pada perempuan yang sudah menolong mamanya. Sebenarnya dia tidak mempermasalahkan kehadiran Kinar, bahkan dia tidak keberatan kalau harus memperlakukan Kinar seperti adik perempuannya.


“Sayang, sudah biarkan saja. Aku tidak keberatan dengan tante Kinar, asal dia tidak menganggu milikku,” ucap Kailla, menenangkan Pram.


Kailla tidak mau suaminya bertengkar dengan mamanya sendiri. Bahkan sejak dulu, bukan hanya sekarang. Kailla tidak mau Pram bermasalah dengan mamanya. Karena dia paham dan mengerti bagaimana berartinya seorang mama. Cukup dia yang tidak berkesempatan memiliki mama, jangan sampai suaminya juga mengalamai hal yang sama. Tidak memiliki mama itu seperti tidak memiliki pegangan. Tidak memiliki tempat untuk pulang.


“Sayang?” Pram heran dengan sikap Kailla.


“Aku percaya padamu. Kenapa aku harus peduli padanya,” ucap Kailla, mengeratkan pelukannya di pinggang suaminya.


“Lagipula, aku juga tidak bisa bersikap kasar pada tante Kinar. Aku tahu, kamu sangat menghargainya meskipun tante Kinar itu sering menganggumu. Apa yang dilakukan tante Kinar selama ini untuk mama, tidak bisa kita balas dengan apapun, termasuk uang,” bisik Kailla di telinga suaminya.


Pram tersenyum. “Anak manis,” celetuk Pram, mencubit ujung hidung lancip istrinya.


“Ini sakit Sayang,” sahut Kailla, mengusap ujung hidungnya yang memerah.


“Aku tahu kamu terikat budi baik tante Kinar selama ini. Biarkan saja, asal tante Kinar tidak mengusik hubungan kita,” jelas Kailla, berbisik di telinga suaminya kembali. Tidak mau ucapannya terdengar kedua tamu asing di kamarnya. Dia tidak mau Kinar menjadi besar kepala.


“Ma, silahkan puaskan dirimu. Istriku tidak keberatan,” ucap Pram. Matanya masih tertuju pada sang istri, tidak sedikit pun beralih meski sedang berbicara dengan sang mama.


Kecupan di dahi dan pipi Kailla, seiring dengan bunyi pintu kamar tertutup. Ibu Citra dan Kinar sudah keluar dari kamar tidur mereka, membawa tas rampasan dari lemari di walk in closet Kailla.


“Aku harus rapat sekarang, Kai. Kamu istirahat, jangan keluyuran di luar,” bisik Pram, ikut memeluk pinggang istrinya.


“Kenapa tidak rapat di kamar saja sambil menemaniku,” rengek Kailla. Mulai manja kembali, membenamkan tubuhnya di pelukan sang suami. Mengeluarkan jurus andalannya yang membuat Pram tidak berkutik.


“Kalau rapat di kamar, aku tidak bisa konsentrasi. Aku takut khilaf,” sahut Pram, terbahak.


Kailla masih saja merengut dan tidak rela. Sampai Pram keluar kamar pun, dia masih mengekor.


“Kai, kenapa keluar?” tanya Pram saat Kailla masih saja memeluknya dengan manja dari belakang sambil berjalan.


“Rapatnya di kamar saja, sambil mengusap anak-anakmu,” rengek Kailla.


“No! Aku harus kerja, Kai,” tolak Pram. Masih saja melangkah menuju ke ruang kerjanya.


“Aku mohon, please,” pinta Kailla, dengan wajah memelas. Sekarang dia sudah berpindah ke depan. Mengatupkan kedua telapak tangannya di dada. Memohon pada suaminya dengan sangat.


“Oke?” tanya Kailla, memainkan kedua alisnya. Masih berusaha membujuk.


Pram menggeleng, sambil menahan tawa. Hal yang paling sulit adalah saat Kailla sudah mengeluarkan jurus rahasianya. Tatapan mata memelas itu sangat sulit ditolak.


“Please...”


Lagi-lagi Kailla memohon. Membenamkan kembali wajahnya di dada bidang Pram, masih berusaha menghentikan langkah kaki suaminya.


“Anak-anakmu tidak mau jauh darimu, Sayang,” bisik Kailla pelan.


Deg—


Pram mati kutu kali ini. Setiap Kailla sudah membawa nama anak mereka, Pram akan menurut tanpa berpikir lagi. Mengikuti semua kemauan Kailla tanpa banyak protes.


Lima belas menit kemudian, disinilah mereka. Pram yang duduk bersandar di tempat tidur dengan memangku laptopnya, sedang menyimak materi yang dipresentasikan oleh salah seorang manajer perusahaan.


Dan Kailla, istrinya itu sibuk memeluk dan mengecup seluruh wajahnya, sesekali mencium bibir suaminya yang terkatup rapat dan serius mengikuti rapat jarak jauh.


“Mereka tidak bisa melihat apa yang sedang aku lakukan, kan?” tanya Kailla memastikan lagi.


“Hmmmm,” gumam Pram, fokusnya masih tetap di layar laptopnya.


“Sayang, selama sebulan ini aku mau seperti ini. Terus bersamamu, mengganti sebulan kemarin yang begitu menyedihkan. Boleh ya?” tanya Kailla. Jemari lentiknya sedang membuka satu per satu kancing kemeja suaminya.


“Hmmm,” gumam Pram, tidak fokus dengan pertanyaan Kailla. Terlalu serius dengan rapat.


Kailla tersenyum mendengar gumaman Pram yang berarti iya. Menelusupkan jari-jarinya di balik kemeja yang sudah setengah terbuka.


“Sayang, apa rapatnya bisa ditunda dulu. Kita sudah lama tidak ke ladang untuk berkebun,” ucap Kailla, sembari mengukir di kulit dada suaminya.


Konsentrasi Pram teralihkan dengan ajakan Kailla kali ini. “Bukannya benihnya sudah tumbuh. Tinggal menunggu panen saja,” sahut Pram.


“Enak saja! Kalau mau hasil panennya baik. Harus rajin disiram dan diberi pupuk. Bibit-bibit tanamanmu ini sudah sebulan tidak disiram, tidak diberi pupuk. Kering kerontang. Jangan cuma menanam, tidak mau merawatnya,” sahut Kailla, mulai pintar mengusili suaminya.


***


To be continued


Love You all


Terima kasih.