Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 101 : Tutup Panci


“MAMA! COBA KAMU LIHAT KELAKUAN PUTRAMU!” teriak Kailla kencang, penuh dengan amarah. Kedua tangannya sudah mengepal dengan mata memerah.


“Aku akan membunuhnya sekarang!!” pekik Kailla lagi, menerobos masuk ke dalam kamarnya.


“Kai, dengarkan aku..”


“Diam!” potong Kailla, mengarahkan telunjuknya pada Pram yang baru saja keluar dari kamar mandi. Lelaki itu hanya berbalut handuk di pinggang, memamerkan dada bidang dengan sebagian roti sobek di perut yang tidak tertutup handuk.


“Sayang, sungguh aku tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba, sewaktu keluar dari kamar mandi, dia sudah ada di dalam kamar kita,” jelas Pram, membela diri.


Rambut masih menetes dengan kaki telanjang dia berusaha menenangkan istrinya. Dia juga baru saja mengalami hal yang sama. Terkejut melihat kehadiran pembantu baru yang tiba-tiba sudah berada di dalam kamar lengkap dengan celemeknya.


Pandangan Kailla beralih, menatap Sarah yang segera bangkit dari tiarapnya. Entah apa yang dilakukan Sarah di kamarnya,


“Sini kamu!” ucap Kailla menarik paksa Sarah, si pembantu bohai yang sudah berani masuk ke kamar tidurnya.


“Apa yang kamu lakukan dengan suamiku?” tanya Kailla, menyeret keluar pembantu itu keluar dari kamarnya.


“Kamu bersiaplah setelah ini!” ancam Kailla, menatap sinis pada Pram.


Ibu Citra yang mendengar suara Kailla yang nyaring dan penuh kemarahan, segera melepas cangkir tehnya. Dia baru saja akan menyesap teh hangat ditemani roti gandum untuk sarapan yang sudah disiapkan Sarah.


“Kailla, apa yang terjadi?” tanya Ibu Citra, heran. Dahinya berkerut saat menyusul ke kamar, melihat Kailla mencekal tangan pembantu baru mereka.


“Dia sudah kurang ajar, Ma. Tidak ada sopan santunnya. Beraninya dia masuk ke kamarku dan ada Pram disana!” omel Kailla.


Ibu Citra kian terbelalak. Dia benar-benar tidak menyadari. Padahal baru saja dia mengobrol dengan Sarah di dapur. Asisten rumah tangga itu sedang memasak sup ayam.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Ibu Citra ikut memarahi. Dia juga tidak terima kalau pembantunya benar-benar masuk ke dalam kamar putranya dengan tujuan yang tidak baik.


Terlihat Pram yang sudah mengenakan pakaiannya keluar dari pintu kamar. Lelaki itu sudah rapi, meskipun rambutanya masih sedikit berantakan, belum tersisir rapi seperti biasanya.


“Maaf, Nyonya. Aku hanya mencari tutup panci,” jelas Sarah dengan polos. Sontak Pram dan Kailla terkejut.


Berbeda dengan Ibu Citra yang tampak biasa. Sejak tadi memang pembantunya mempermasalahkan keberadaan tutup panci yang tidak kunjung ketemu. Sampai Ibu Citra yang duduk di depan meja makan terlihat kesal melihat Sarah mondar mandir.


“Jangan mencari alasan. Memang kamu pikir suamiku tukang kredit panci keliling! Apa maksudmu mencari tutup panci di dalam kamar. Ha?” tanya Kailla kesal. Mendorong Sarah hingga terjengkal ke depan.


“Sudah Kai, tidak terjadi apa-apa. Aku baru saja keluar dari kamar mandi saat kamu masuk ke dalam kamar,” jelas Pram.


Tatapan mematikan yang tadi ditujukan pada Sarah, kali ini beralih pada Pram. “Jangan katakan kalau dia yang memandikanmu tadi,” ucap Kailla, menatap suaminya dengan nada menyelidik.


Berganti mengamati Sarah yang berdiri menunduk sembari meremas jemarinya ketakukan. Wanita itu memakai celana panjang hitam sampai menutup mata kaki dan kaos lengan panjang dengan warna senada hingga menutupi leher.


Kembali kemarahan Kailla memuncak melihat pakaian yang dikenakan Sarah. “Mau bekerja atau mau jadi instruktur yoga?” tanya Kailla dengan suara meninggi. Emosi dengan tampilan Sarah dengan kostum tertutup tapi memamerkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Lebih parah dari pakaian yang dikenakannya kemarin. Pakaian hitam itu bahkan bisa memamerkan dengan jelas bongkahan dadanya yang besarnya di atas rata-rata.


Ibu Citra yang berdiri tidak jauh dari tempat Kailla berdiri menutup mulutnya rapat-rapat. Kali ini dia baru melihat sosok Kailla yang luar biasa galaknya. Sangat jauh berbeda dengan gadis kecil yang sering bermanja-manja pada putranya.


“Sudah Kai, aku tidak tertarik padanya. Jangan marah lagi ya. Tidak ada apa-apa, hanya salah paham,”jelas Kailla.


“Ini wilayahku, jangan ikut campur. Aku juga tidak pernah ikut campur masalah pekerjaanmu, Sayang!” pinta Kailla.


“Sudah Kai, mama tahu jelas Sarah memang sejak tadi mencari tutup panci. Mama siap jadi saksi. Tidak ada apa-apa antara suamimu dengan Sarah,” bujuk Ibu Citra, akhirnya menengahi.


Kepalanya pusing, mendengar omelan Kailla yang tidak berkesudahan.


“Iya Nyonya, bahkan tadi Ibu yang memintaku mencarinya di kamar tuan.” Sarah memberanikan diri membuka suara.


Kalimat yang keluar dari bibir Sarah, mampu memancing kemarahan Ibu Citra. “Ya Tuhan, wanita apa yang kamu kirimkan di tengah keluargaku!” gerutu Ibu Citra, memijat pelipisnya.


“Mbak Sarah, aku tidak pernah menyuruhmu mencari tutup panci di dalam kamar putraku.” Ibu Citra memperjelas kembali.


“Lah, bukannya tadi Ibu mengatakan seperti itu.” Sarah masih tetap bersitegang.


“Aku hanya mengatakan cari di tempatnya, jangan kamu mencarinya di kamar lagi. Aku hanya mengatakan seperti itu,” jelas Ibu Citra, khawatir anak dan menantunya salah paham.


“Jangan percaya dia Kai, mama tidak pernah memintanya melakukan hal gila itu. Mama mungkin tidak menerimamu sepenuhnya, tetapi mama tidak bisa melihat putra mama menangis.” Ibu Citra menurunkan nada suaranya.


Pram yang sejak tadi diam, terlihat kembali ke kamar. Tidak lama lelaki itu sudah keluar lagi menggengam sebuah amplop berisi uang di dalamnya.


“Mulai hari ini, kamu tidak perlu berkerja di sini. Aku sudah tidak membutuhkan jasamu. Toh, beberapa hari lagi, kami akan segera kembali ke Indonesia. Aku membayarmu seperti yang dijanjikan istriku kemarin lengkap dengan bonusnya,” jelas Pram, menyodorkan amplop itu ke hadapan Sarah.


“Bay!” teriak Pram, memanggil asistennya yang sejak tadi mematung dan tidak berani mendekat.


“Urus dia!” perintah Pram bergegas menuju ke ruang makan.


***


Ibu Citra yang duduk tepat di samping Kailla bisa melihat jelas kalau menantunya itu masih belum sepenuhnya membaik. Terdengar dari dengusan kasar yang berulang kali dikeluarkan Kailla sembari menatap sinis pada suaminya.


“Sudahlah Kai, kasihan Pram. Dia benar-benar tidak tahu apa-apa. Kamu sudah lebih lama hidup dengannya, kamu istrinya, harusnya kamu lebih paham bagaimana karakter suamimu,” jelas Ibu Citra, sembari menggengam tangan Kailla.


Kailla menengok ke arah mertuanya. Ibu Citra hanya tersenyum dalam diam.


Pram yang sudah menyelesaikan sarapannya terlihat meninggalkan meja makan. “Kai, aku ke kamar. Aku menunggumu,” ucap Pram.


Kailla berbalik, memandang punggung suaminya menghilang di balik pintu. Pikirannya sedang bercabang. Kalimat mertuanya sedikit banyak mempengaruhinya.


“Kamu tahu, betapa beruntungnya kamu memilikinya. Betapa beruntungnya kita memilikinya. Bahkan dia memberi tanpa kita meminta.” Ibu Citra berkata pelan.


“Mama iri padamu. Kamu memiliki waktu bersamanya lebih lama. Kamu bisa mengurusnya setiap hari,” ucap Ibu Citra, menyeka air mata yang menggenang.


Terdengar helaan nafas pelan. Sebelum Ibu Citra melanjutkan kata-katanya. “Mama titipkan kebahagiaan Pram padamu. Tetapi kalau kamu tidak sanggup melakukannya, kembalikan Pram pada mama.”


***



Kailla sudah bersiap, memandang pemandangan dari jendela kamarnya sembari menunggu Pram yang masih mencari mantelnya.



Mencerna kembali kata demi kata yang diucapkan mama mertuanya. Memang bukan waktu yang singkat. Bukan perjalanan yang mudah, sampai mereka seperti sekarang ini.



Kailla masih berdiri di pinggir jendela saat Pram berjalan keluar dari kamar mandi.


“Apa yang kamu lihat?” bisik Pram, kedua tangan kekar itu sudah membelit pinggang istrinya. Memeluk erat, sesekali membenamkan wajahnya di rambut Kailla yang diikat asal.


“Tidak ada. Apa kita akan kembali ke sini berdua, bertiga atau berempat,” ucap Kailla, masih menatap jalanan di bawah apartemen mereka.


“Suatu saat kita akan kembali ke sini. Berdua saja, ketika anak-anak sudah besar nanti,” jawab Pram, mengeratkan pelukannya.


“Kita berangkat sekarang?” tanya Pram.


“Iya..”


Lelaki itu sudah meraih syal bulu istrinya yang tergeletak di atas tempat tidur. Membantu Kailla membawanya. Tepat akan meraih gagang pintu, tiba-tiba Kailla memeluknya dari belakang.


“Maafkan aku. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Reynaldi Pratama.”


Ucapan menghangatkan suasana, di kala Wina yang sedang dilanda musim dingin.


“Tidak akan ada habisnya maafku untukmu,”ucap Pram, mengusap tangan Kailla sembari tersenyum.


“Cukup percaya pada hatiku. Cintaku ini hanya untuk Kailla Riadi Dirgantara, tidak untuk wanita mana pun,” lanjut Pram.


***


To be continued


Love you all


Terima kasih


Note : Sudah tidak ada konflik di Austria, bersiap untuk konflik baru di Indonesia


Tetapi jangan khawatir, tidak ada pelakor, Om baik-baik saja, tidak meninggal kok.