Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 188 : Aku iri padamu,Tante


“Tante ....” bisik Kailla pelan, menatap tak berkedip.


Bayangan itu muncul kembali, ingatan kelam itu berputar ulang. Anita bukan sosok baru di dalam hidup Kailla, bahkan wanita dengan senyum yang siang ini terlihat manis adalah wanita pertama yang dikenalnya setelah Ibu Ida dan Ibu Sari.


Langkah kaki itu terasa berat, tetapi mau tidak mau Kailla harus menghadapinya. Dengan tangan terus mengusap perut buncitnya, Kailla meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.


“Tante ....” Kailla menyapa Anita, memaksa tersenyum. Di antara orang-orang yang duduk mengitari meja oval, hanya Anita sosok yang dikenalnya.


“Kailla.” Anita langsung berdiri menyambut.


“Apa kabarmu, Kai?” Tangan itu terulur, memamerkan senyum yang terlihat ikhlas.


“Baik, Tante.” Kailla berusaha menguatkan hati, menyembunyikan takutnya dibalik sikap tegar. Menyambut uluran tangan Anita dengan jantung berdegup kencang.


“Selamat untuk kehamilanmu. Sudah berapa bulan?” tanyanya berbasa-basi.


“Lima bulan, Tante.”


Tersenyum, Anita masih sempat mengusap perut buncit Kailla. “Waktu cepat berlalu, gadis kecil yang selalu merengek meminta es krim dan lolipop, sekarang sudah akan menjadi seorang ibu.”


Melihat Kailla bergeming di tempat, Anita mencoba mencairkan suasana. “Apa kabar Rey?” tanyanya pelan.


“Suamiku baik-baik saja, Tante.”


“Titip salam untuk Rey. Terimakasih ... Rey sudah mengurusku beberapa tahun belakangan. Aku tidak bisa mengabarinya sewaktu aku keluar dari rumah sakit.” Anita berjalan kembali ke tempat duduknya, diikuti Kailla yang mengambil posisi berseberangan.


Kedua wanita yang kisahnya terhubung karena seorang laki-laki bernama Reynaldi Pratama itu tampak melempar senyum satu sama lain saat kedua pasang mata beradu pandang. Kailla tampak serius mendengar semua materi rapat yang hanya 50% persen dikuasainya. Satu hal yang dia tahu, Anitalah calon klien potensial yang mungkin akan membantu perusahaannya kalau proyek ini berhasil dimenangkannya.


Hampir satu jam, Kailla duduk diam menyimak, mengabaikan Sam yang sibuk menerima omelan dari Pram di luar ruang rapat. Ibu hamil itu bisa bernapas lega saat rapat dinyatakan usai.


“Kai, apa kita bisa bicara?” tanya Anita tiba-tiba.


Kailla baru saja akan berdiri untuk melakukan rapat dengan staff dan direktur anak perusahaan RD Group, membahas masalah proyek yang ditawarkan Anita.


“Tidak lama. Ada yang harus aku bicarakan secara pribadi denganmu,” bujuk Anita lagi.


Kailla terdiam, membeku di tempat. Bayangan masa lalu, dimana dia sempat diculik dan hampir dilecehkan oleh orang suruhan Anita membuat Kailla bergidik ngeri.


“Aku tidak akan mencelakaimu,” ucap Anita, tersenyum.


Kailla tampak berpikir. Bukan apa-apa, sekarang dia sedang hamil, suaminya juga sedang sakit. Kalau terjadi sesuatu padanya, Pram akan menggila. Apalagi sampai terjadi sesuatu pada bayi-bayi mereka. Bisa dipastikan suaminya akan mengamuk, bahkan bisa membunuh orang.


“Kamu tidak percaya padaku? Em ... bagaimana kalau kita bicara di sini saja,” tawar Anita.


“Baiklah.” Kailla kembali duduk di tempatnya dengan Anita mengambil tempat di seberang meja.


Jantung ibu hamil itu berdetak kencang saat pintu ruang rapat tertutup dan tertinggal mereka berdua di dalamnya. Bayangan buruk itu kembali berputar, jemari Kailla saling meremas di atas pangkuannya.


“Maafkan aku, Kai. Untuk peristiwa empat tahun lalu ....” Anita tertunduk malu, mengucapnya dengan pelan. Sesal itu datang menyerangnya. Membayangkan seberapa jahatnya dia pada saat itu.


“Ya ....”


“Sampaikan juga maafku untuk Rey. Aku tahu, dia sangat membenciku sekarang.” Anita melanjutkan kalimatnya.


“Suamiku sudah memaafkanmu, Tante.” Kailla berkata pelan. Masih menunduk, tidak mau beradu tatap dengan Anita.


“Aku tahu ... perusahaanmu sedang mengalami kesulitan keuangan. Aku menawarkan proyek ini untuk membantumu. Di penawaran tadi, perusahaanmu akan mendapatkan pembayaran pertama setelah progres mencapai 30%, tetapi aku akan membayarmu 30% dimuka, bahkan saat ini juga aku bersedia membayarmu.” Anita berkata.


Tentu saja Kailla terkejut. 30% yang dimaksud Anita, bukanlah nilai yang sedikit. Bahkan itu bisa membuat RD Group sedikit bernapas lega.


Ya, walau pada akhirnya dia benar-benar mencintai Pram, tetapi ada harga yang harus dibayar karena kebohongannya di awal. Riadi mengetahui semuanya, dan menolaknya dengan keras. Meskipun berulang kali, dia mengatakan kalau dia benar-benar mencintai Pram, Riadi sudah tidak mau mendengar lagi.


Kailla menyodorkan sekotak tisu ke hadapan Anita setelah melihat wanita itu menangis hebat.


“Tante sangat mencintai suamiku?” tanya Kailla pelan.


Anita tidak menjawab, sebaliknya wanita itu menangis sampai tubuhnya gemetar hebat.


“Suamiku Pram, sangat mencintaimu, Tante. Aku tahu dia sangat mencintaimu dulu. Bahkan, Tante wanita pertama yang dicintai suamiku. Tante yang memilikinya pertama kali. Kalau boleh jujur, aku iri padamu, Tante.” Kailla berkata.


“Aku menyesal ....” lirih Anita.


“Memang seharusnya Tante menyesal. Tante pasti tahu seperti apa seorang Pram kalau mencintai seseorang.” Kailla mengingatkan Anita kembali.


Anita mengangguk di dalam isak tangisnya. Pram adalah laki-laki terhebat saat mencintai seseorang. Pram akan berkorban banyak saat mencintai.


“Tante tahu, belasan tahun dia berusaha melupakanmu. Dengan susah payah dia melupakanmu. Harusnya tante menyesal. Bahkan dia menikahiku hanya dengan rasa sayang dan tanggung jawab.” Kailla membeberkan semuanya.


Anita terdiam, mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir Kailla.


“Dia mencintaimu, sangat mencintaimu. Betapa beruntungnya dirimu, Tante. Menjadi satu-satunya yang dicintai Pram. Bahkan suamiku sampai sekarang masih harus menanggung beban dan dosa karena meninggalkanmu dulu, membuat anak kalian meninggal.” Kailla mengurai semua yang diketahuinya.


“Aku menyesal.” Anita berkata lirih di sela isaknya.


“Dan sekarang dia milikku. Kalau Tante muncul lagi di hidup Pram untuk merebutnya kembali, Tante akan berhadapan denganku,” ancam Kailla.


“Sekarang cinta Pram milikku, hidup Pram milikku. Tidak ada lagi sisa-sisa Anita di dalam hidupnya ....” ungkap Kailla.


“Aku menolak proyek yang Tante tawarkan.”


Anita mengangkat pandangannya, terkejut dengan penolakan Kailla. Bukannya dia tidak tahu bagaimana keadaan RD Group yang di ujung tanduk.


Kailla sudah berjalan hendak keluar, tetapi wanita hamil itu berbalik lagi.


“Tante, kamu harus tahu satu hal ... suamiku pernah berkata ... dia menyesal meninggalkanmu, sangat menyesal. Itu adalah keputusan terberat di dalam hidupnya. Keputusan terbodoh yang diambilnya. Mungkin kalau dulu posisinya sama seperti sekarang, dia memiliki segalanya, dia akan mempertahankanmu. Dan tidak akan menjadi pecundang. Kalau waktu bisa diputar ulang, dia akan memilihmu dibandingkan aku dan daddy.”


Tangis Anita semakin kencang.


“Aku pernah bertanya padanya ... apa dia mencintaimu. Dia menjawab terus terang padaku. Dia sangat mencintaimu.”


***


Kailla keluar dari ruang rapat dengan langkah gontai. Perjuangannya menempuh perjalanan Jakarta - Bandung tidak membuahkan hasil. Dan Anita, wanita itu masih menangis sesengukan. Menyesali semuanya. Tidak ada lagi yang tersisa. Dia sudah tahu sejak empat tahun yang lalu Pram memang sudah bukan miliknya lagi. Dan dia datang ke sini bukan untuk merebut kembali.


Bunyi dering ponsel membuat Anita berhenti meratapi nasibnya. Seulas senyum muncul saat melihat sang ibu lah yang menghubunginya saat ini.


“Ya, Bu. Ada apa?” tanya Anita sembari terisak.


“Bagaiamana, An?” tanya suara lemah dari seberang.


“Istri Rey menolak, tetapi aku akan tetap mengirim dana itu ke perusahaannya.” Anita berkata pelan.


“Aku bisa melihat Rey dengan wanita lain, tetapi aku tidak bisa melihat Rey hancur,” lanjut Anita.


***


TBC