Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 45 : Bekal Makan Siang


Kaki Pram melangkah maju, menarik istrinya yang sudah mulai kedinginan. Tangan mulus itu sudah memutih dan mengeriput karena terlalu lama bermain dengan air.


“Sayang, ikut denganku. Biarkan Ricko dan Bayu yang membantu Sam,” ucap Pram, menggengam tangan Kailla, mengikutinya menuju teras samping.


“Duduk Sayang,” perintah Pram.



Dia pun menarik kursi untuk dirinya sendiri. Duduk berhadapan, saling berbicara lewat tatap mata. Kailla diam, menatap tajam dengan raut cemberut khasnya. Menahan kesal pada suaminya yang mengumpul sejak tadi.



“Aku ke dalam mengambil handuk untukmu, rambut dan pakaianmu basah kuyup,” ucap Pram. Berusaha untuk tidak meladeni kemarahan istrinya. Bersikap sesabar mungkin, tidak ingin larut dalam emosi Kailla.


Pram beranjak masuk ke dalam rumah. Tidak butuh waktu lama, dia sudah kembali dengan handuk putih di tangannya.


Baru saja Pram hendak membantu mengeringkan rambut istrinya, Kailla sudah menghempas kasar tangannya. Tidak mengizinkannya menyentuh rambut panjang tergerai yang sudah basah.


“Apa yang tidak kamu suka, Kai?” tanya Pram, bersabar. Kesabarannya yang akan semakin memancing emosi istrinya.


“Semuanya. Untuk apa mengerjai Sam?” keluh Kailla, berbalik ke belakang. Menatap sinis pada suaminya yang terlihat tenang.



“Kai, aku sudah meminta asisten yang lain untuk membantunya. Dia tidak perlu mencuci semua mobil sportku,” ucap Pram dengan sedikit membungkuk.



“Dengar, aku juga menyayangi Sam sepertimu. Sudah, jangan marah lagi,” bujuk Pram, kembali mengeringkan rambut istrinya.


“Kalau tahu begini, aku tidak akan turun tangan berbasah-basahan dengan Sam,” gerutu Kailla.


“Jadi, kamu ikut mencuci mobil, basah-basahan hanya untuk meluluhkan hati suamimu?” tanya Pram.


“Aku tidak suka kamu mengerjai Sam. Kasihan dia,” ucap Kailla. Bibirnya tetap saja mengerutu tanpa jelas.


Pram tersenyum, sudah terbiasa dengan omelan istrinya. Bahkan dia sudah hafal dengan kata-kata yang akan dilontarkan Kailla.


“Sudah Nyonya, nanti bibirmu bertambah seksi,” goda Pram, tangannya masih terlihat sibuk memainkan handuk di atas rambut panjang tergerai itu. Sesekali terdengar jeritan Kailla, karena rambut yang tidak sengaja tertarik cincin nikah di jari manis Pram.


“Kapan kamu wisudanya, Sayang? Aku sudah tidak sabar mengajakmu jalan-jalan. Kita akan ke tempat yang kamu sukai,” ucap Pram lagi.


“Apa kita pergi sekarang saja?” usul Kailla mulai tergoda.


Amarahnya mereda sudah. Emosinya timbul tenggelam tergantung bagaimana Pram memperlakukannya. Terkadang, kemarahan Kailla, bukanlah sebuah kemarahan yang hakiki, itu hanya cara untuk menarik perhatian suaminya.


“Hanya seminggu, tidak akan mengganggu kuliahku,” lanjut Kailla, memberi ide.


Pram terlihat berpikir. Ide Kailla tidak ada salahnya. Atau mungkin mereka bisa berangkat minggu depan. Dia juga sudah tidak sabar, selain untuk proyek investasinya, dia ingin menjauhkan Dion dari pikiran istrinya yang mulai memasuki tahap CLBK alias cinta lama belum kelar.


“Sayang, kamu tidak menemui mama?” tanya Kailla tiba-tiba, menarik tangan Pram supaya kembali duduk dihadapannya.


Entah kenapa dia kepikiran mama Citra yang beberapa hari ini tidak mengusik kehidupan mereka. Bagaimanapun mengerikannya sang mertua, dia tetap mama Pram.


“Mungkin besok atau lusa aku akan mengunjunginya. Tidak masalah untukmu kan?” tanya Pram memastikan.


Kailla menggeleng.


“Pergi saja. Asal kamu ingat jalan pulang,” sahut Kailla asal.


Sebenarnya Pram yakin, Kailla tidak akan menghalangi dia menemui mamanya. Semanja-manjanya Kailla, ada satu sisi terbaik istrinya. Kailla sangat menghargai hubungan antara orang tua dan anak. Kailla tidak akan pernah memintanya memilih.


“Aku tidak seberuntung dirimu. Kalau aku memiliki mama sekarang, bisa jadi mama Rania dan mama Citra akan saling jambak-jambakan dan kita tinggal menonton di pinggir,” ucap Kailla terbahak.


“Bisa jadi. Aku juga berpikir hal yang sama,” sahut Pram menyetujui.


“Mama Rania tidak mungkin membiarkan putrinya dihina orang lain. Pasti dia akan maju duluan untuk membelaku.” Kailla berkata.


“Lalu, terjadilah baku hantam diantara mereka. Dan kita tinggal masuk kamar, membuat cucu yang manis untuk mereka. Hahaha...” lanjut Kailla terbahak kembali, menutup wajah dengan kedua tangannya. Bahunya berguncang, hanya dengan membayangkan saja sudah membuatnya tertawa geli. Kalau benar itu terjadi, sungguh konyol sekali.


“Kamu bisa bayangkan kalau rambut panjang mama Citra dijambak oleh mamaku. Akan menjeritkah atau membalas?” tanya Kailla usil. Tawanya pecah kembali, tergambar di pelupuk matanya, sang mertua yang sedang menyingsingkan lengan baju, mengangkat tinjunya.


“Sudah! Tidak baik mengusili orang tua,” ucap Pram, meminta Kailla berhenti memikirkan hal yang aneh-aneh.


Pram tertegun, menatap Kailla yang masih menahan tawanya. Istrinya masih memikirkan hal konyol yang tidak mungkin terjadi.


“Coba tersenyum seperti ini setiap hari,” ucap Pram tiba-tiba.


“Jangan suka marah-marah. Jangan suka cemberut padaku,” lanjut Pram, mencubit kedua pipi istrinya. Setelahnya menempelkan keningnya di dahi Kailla.


“Kamu tahu berapa banyak para gadis diluar sana, berlomba-lomba mempersembahkan senyum terindahnya untuk suamimu yang tampan ini,” ucap Pram dengan bangganya.


“Ini sakit Sayang,” keluh Kailla, mengusap kedua pipinya, tidak menanggapi kenarsisan suaminya.


“Besok, sepulang kuliah siapkan makan siang untukku. Aku merindukan telur kecapmu,” pinta Pram.


Kailla mengangguk.


“Temui mereka hanya di kantor saja. Aku akan menanyakannya pada Dave. Aku benar-benar tidak mengetahuinya.”


Kailla mengangguk kembali.


“Ayo kemari!” Kailla sudah menarik tangan Pram supaya berdiri di depannya. Dia sendiri sudah berdiri tegak di atas kursi.


“Pinjamkan punggungmu, aku sudah lama tidak terbang bersamamu,” lanjut Kailla tersenyum, melihay suami yang begitu menurut padanya.


“I’m ready,” ucap Kailla saat sudah menaiki paksa punggung suaminya. Memeluk erat leher Pram supaya tidak terjatuh.


“Aduh Kai!” protes Pram, sesaat kehilangan keseimbangan.


“Mumpung kamu masih kuat menggendongku, beberapa tahun ke depan pasti kamu akan beralasan sakit pinggang untuk menolakku,” ucap Kailla terkekeh.


“Sayang, kamu membuatku melakukan banyak hal gila,” celetuk Pram, membawa masuk istrinya ke dalam rumah.


Saat melewati dapur, Kailla kembali berulah.


“Stop-stop! Aku mau mampir minum air es di kulkas dulu!” pintanya, mengarahkan tangannya ke kulkas side by side yang berdiri kokoh di samping rak dapur.


“Astaga Kailla. Aku sudah setengah mati menahan tubuhmu. Kamu malah banyak maunya,” protes Pram, mulai mengeluh.


“Bu, tolong ambilkan air es di kulkas,” perintah Pram pada Bu Ida yang sedang membersihkan sayur bayam.


“Ini Pak,” sodor Ibu Ida, menahan tawa.


“Jangan tertawa Bu. Nanti dia semakin merajalela,” ucap Pram.


Sam yang baru saja menyelesaikan hukumannya, bertelanjang dada masuk ke dalam rumah. Dengan tujuan yang sama, mencari air es di dalam kulkas.


Saat melihat Pram yang sedang menggendong Kailla di punggungnya, tawa Sam pecah.


“Bagus Non, balaskan dendamku!” celetuk Sam.


Kalau perlu minta dipikul keliling komplek, biar semua orang tahu!” ledek Sam, kembali tertawa.


“Sayang, turunkan aku!” pinta Kailla. Meloncat turun dan menghampiri Sam.


“Sayang, aku ke ruang kerja,” pamit Pram, meninggalkan istrinya yang sedang berbincang dengan Sam. Dia harus menghubungi seseorang.


***


Keesokan harinya..


Ricko sedang membuka pintu mobil, mempersilahkan majikannya masuk. Kailla baru saja keluar dari kampus, bermaksud pulang ke rumah menyiapkan makan siang suaminya. Tapi saat hendak melangkah masuk ke dalam mobil, sebuah mobil berhenti tepat di samping mobilnya.


“Kai, bisa minta waktunya sebentar?” tanya Dion, keluar dari mobilnya.


“Dion? Bagaimana kamu bisa ada disini?” tanya Kailla tersenyum.


“Ibu mau bertemu, bisa?” tanya Dion.


Kailla bingung, dia sudah ada janji dengan Pram untuk membawakan makan siang.


“Begini saja, aku harus pulang dulu. Suamiku minta dibuatkan makan siang. Lagipula aku harus izin dengan suamiku dulu,” sahut Kailla.


“Kirimkan alamatnya padaku, Dion. Nanti aku akan berangkat dengan sopirku ke sana,” lanjut Kailla.


“Baiklah, nomor ponselmu Kai,” pinta Dion.


Setelah memberi nomor ponselnya, Kailla bergegas masuk ke dalam mobil. Dia harus segera membuatkan makan siang untuk suaminya, kemudian meminta izin Pram supaya bisa bertemu dengan Ibu Dion.


***


Kailla, sudah menenteng lunch bag berisi nasi putih dan telur kecap pesanan suaminya. Berdiri di teras menunggu Ricko.


“Rick, tolong antarkan ke tempat Pak Pram ya,” pinta Kailla, menyerahkan lunch bag ke tangan asistennya.


“Kamu jadi ketemuan sama cowok tadi, Kai?” tanya Ricko.


Kaillaa mengangguk.


“Aku berangkat dengan Sam. Nanti aku akan mengabari suamiku langsung,” jelas Kailla.


Tak lama, dua mobil sudah keluar dari gerbang rumah dengan tujuan berbeda. Ricko mengantar makan siang Pram ke kantor Sam mengantar Kailla ke alamat yang baru saja dikirimi Dion. Terlihat Kailla berulang kali menghubungi ponsel Pram, tapi tidak ada satu pun panggilannya diterima.


“Sayang, aku ada janji bertemu dengan ibu Dion. Makan siangmu aku titip ke Ricko. Aku sudah menghubungi ponselmu tapi tidak diangkat. Pulang bertemu dengan Ibu Dion, aku mampir ke kantor.”


Pesan teks terkirim, walaupun cuma centang satu. Kailla bisa bernafas lega, setidaknya sudah berbagi kabar dengan suaminya.


To be continue


Terimakasih


Love you all