Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 139 : Pelukan di tengah malam


Layar laptop itu sudah tertutup rapat. Bahkan sekarang posisinya bukan lagi di atas ranjang tetapi tergeletak pasrah di dekat kaki ranjang tertutup kemeja cream milik Pram yang berurai berantakan bersama pakaian dalam berenda putih milik Kailla.


Presentasi dan materi rapat semuanya menghilang dari otak Pram. Lelaki itu sedang sibuk membajak sawahnya yang hampir sebulan lebih tidak dikunjungi. Pemilik sawah yang benar-benar tidak bertanggung jawab, begitu menurut Kailla.


Usapan dan belaian istrinya, membuat Pram takluk, bertekuk lutut dan menyerah kalah. Rayuan Kailla dengan suara feminimnya mendayu-dayu, menggoda lengkap dengan sentuhan lembut jemari tangan mengeksplor kulit tubuhnya membuat Pram luluh lantah saat itu juga.


Bagaimana tidak? Bahkan istrinya dengan tidak tahu malu membuka paksa kemeja di tengan rapat virtual, memberi stempel kemerahan di sekujur dada telanjang berototnya, membuatnya menggila di tempat. Lupa sudah dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya sebagai seorang presdir. Saat ini dia hanya lelaki biasa yang sedang dikuasi nafsu.


Pikiran yang tadinya berisi belasan proyek yang sedang berjalan dengan keuntungan milyaran rupiah, lenyap menguap, berganti keindahan dan kenikmatan yang dijanjikan Kailla. Bahkan istrinya tidak segan-segan menelanjangi dirinya sendiri, saat melihat Pram tetap bergeming. Memilih tetap fokus dengan pekerjaan dan mengabaikan keberadaannya.


Dan sekarang, Pram hanya bisa menuruti semua keinginan sang istri yang tengah mendesah di bawah kungkungannya. Kecipak hasrat itu terdengar jelas, bergabung dengan desah manja Kailla yang mencengkeram erat punggung Pram, menancapkan kuku-kuku lancip yang baru saja dinail-art kala mencapai puncak kenikmatan yang entah sudah ke berapa kalinya. Pram memanjakannya, membuatnya melambung ke langit.


Pelampiasan keduanya akan kerinduan menggebu setelah perpisahan panjang mereka. Pram masih sibuk memprovokasi hasrat Kailla, menghentak perlahan saat ponsel di atas nakas berdering hebat, menganggu konsentrasi. Keduanya memilih menulikan pendengaran, membiarkan alunan nada dering itu bagai musik pengantar tidur mengiringi penyatuan indah mereka.


“Biarkan saja,” bisik Pram tersenyum.


“Desahanmu mengalahkan semuanya,” ucapnya dengan nafas tersengal, keringat membanjiri dahinya.


Dan Kailla menurut, dimatanya hanya ada Pram saat ini, di telinganya hanya ada suara erangan pelan suaminya dan mengabaikan suara-suara penganggu yang bisa merusak momen indah mereka.


Pergulatan panas itu selesai dengan sebuah kecupan hangat di bibir Kailla. “I love you all the time,” bisik Pram, menepuk pelan wajah istrinya.


Buru-buru bangun dari posisinya, berlari ke kamar mandi setelah menutupi tubuh polos Kailla dengan selimut. Membersihkan diri secepat kilat. Dering ponsel yang berbunyi sejak tadi, tidak mau berhenti menandakan seberapa penting informasi yang akan dibagi si penelepon untuknya.


Tak lama, Pram sudah keluar dengan kemeja dan celana baru, memakainya asal. Segera meraih ponsel dan laptopnya kembali, membawa keduanya ke sofa. Melanjutkan meetingnya yang tertunda. Dia ingat kesalahannya, meninggalkan rapat tiba-tiba, bahkan tidak mengabari Stella saat keluar tadi.


Kailla sendiri melanjutkan tidurnya. Dia terlalu lelah. Membiarkan Pram meneruskan pekerjaan tertunda di sofa. Dia sudah tidak memiliki tenaga lagi meski hanya sekedar membuka mata.


***


Terlelap entah sudah berapa lama, saat merasakan ada sesuatu yang menyapu lembut wajah, mengusik ketenangannya.


“Sayang,” sapa Kailla saat kelopak matanya membuka sempurna. Wajah tampan Pram, memenuhi pandangan dengan senyum lembut seperti biasa.


“Cepat bersihkan tubuhmu. Kamu harus makan siang. Kasihan anak-anakku kelaparan,” bisik Pram, meraih tubuh istrinya supaya segera bangkit.


“Ibu hamil itu tidak boleh bermalas-malasan,” celetuk Pram lagi, dengan tangan masih menggengam bathrobe yang disiapkannya untuk Kailla.


“Jam berapa sekarang?” tanya Kailla dengan suara serak, menampilkan wajah bantal dan rambut acak-acakan. Masih memeluk guling empuknya.


“Hampir makan siang. Ayo bangun,” pinta Pram, menyelipkan kedua tangannya di bawah ketiak Kailla, dan mengendong turun istrinya dengan paksa. Selimut itu melorot, menampilkan tubuh telanjang yang tidak tertutup sehelai benang pun. Pram bisa melihat jelas, perut yang sedikit membesar di bagian pusar ke bawah.


“Ini jauh lebih besar dibanding kehamilanmu yang pertama,” bisik Pram, mengusap lembut perut istrinya. Rasanya Pram sudah tidak sabar ingin segera melihat Kailla dengan perut buncitnya, berjalan dengan daster mengelilingi rumah mereka. Dan tentunya membuat kekacauan.


“Ayo, ke kamar mandi sekarang,” titah Pram, memakaian bathrobe menyelimuti tubuh istrinya.


“Gendong,” pinta Kailla, sudah bergelayut manja.


Dalam sekali sentak, Kailla sudah meloncat naik, bak bayi koala menemukan induknya, melingkarkan kedua kakinya di pinggang sang suami. “Aku mau makan mie ayam, boleh?” tanya Kailla.


“Tidak ada mi ayam. Aku akan meminta Ibu Sari membuatkannya untukmu nanti. Sementara makan yang ada sudah disiapkan saja,” sahut Pram, membawa Kailla menuju kamar mandi.


“Aku mau kamu yang membuatkannya untukku, aku tidak mau buatan Ibu Sari atau Ibu Ida.” Sebuah kecupan mendarat di bibir Pram.


“Aku tidak bisa, Kai,” sahut Pram, berganti lelaki itu yang mengecup kening Kailla. Berhenti tepat di tengah pintu. Mengencangkan pelukannya, supaya Kailla tidak terjatuh dari gendongannya.


“Aku mau kamu yang membuatkannya untukku,” rengek Kailla, memohon.


“Iya, nanti aku akan membuatkannya.” Pram menurut.


“Oh ya, kamu belum menemui daddy lagi?” tanya Pram. Dia sendiri hampir sebulan tidak menemui kedua mertuanya.


Kailla mengeleng.


“Besok kita temui daddy dan mama. Kita belum mengabari kehamilanmu,” ucap Pram dan langsung dianggukin Kailla.


“Kamu sudah menyelesaikan rapatmu?”


“Sudah,” sahut Pram, mengangguk.


“Setelah makan siang, aku masih harus memeriksa beberapa data yang dikirimkan David,” lanjutnya lagi.


“Aku boleh menemanimu?” tanya Kailla, rasanya enggan berpisah dengan Pram, meski hanya sebentar.


“Janji tidak mengangguku,” tukas Pram.


Kailla mengangguk. “Aku tidak mau berpisah denganmu. Aku mau melihatmu setiap waktu,” ucap Kailla dengan manjanya, bersandar di bahu suaminya.


“Kamu sudah menyelesaikan kuliahmu. Kenapa tidak bergabung dengan tim desain di perusahaan. Jadi kamu bisa melihat suamimu setiap hari dan aku bisa menjagamu setiap waktu. Bagaimana?” tawar Pram.


“Tentu saja. Asal tidak menganggu kehamilanmu,” sahut Pram, tersenyum.


Kailla mengangguk. “Aku mau,” sahut Kailla, memeluk erat leher suaminya yang sudah membawanya masuk ke kamar mandi.


“Bersiaplah. Kita akan makan siang sebentar lagi. Setelah itu, minum vitaminmu, Kai,” ujar Pram.


***


Siang berganti petang. Petang pun menyambut malam. Sepanjang hari ini, Kailla benar-benar menikmati bermanja dengan suaminya. Tidak sedetik pun, wanita itu berjauhan dari Pram. Menghabiskan waktu berduaan, mengabaikan kehadiran tamu di kediaman mereka. Bahkan Kailla tidak peduli dengan Kinar yang ikut menginap di rumah mereka.


Saat itu, waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam saat Kailla membangunkan Pram.


Perutnya tiba-tiba keroncongan. Sejak hamil, nafsu makan Kailla meningkat dua kali lipat, meskipun tidak jarang harus dimuntahkannya kembali.


“Sayang, bangun,” panggil Kailla.


Tidak ada pergerakan, Pran masih di alam mimpinya.


“Sayang, ayo bangun. Buatkan aku makanan,” pinta Kailla, menguncang tubuh Pram yang masih terlelap.


Terlihat pergerakan kecil, lelaki itu mulai terusik kala Kailla menganggu tidurnya. “Ada apa Kai?” Suara serak dan berat keluar dari bibir Pram.


“Aku lapar, bisakah membuatkanku makanan?” tanya Kailla, mengusap perutnya yang keroncongan, minta diisi.


“Ha!?” Pram masih belum sepenuhnya sadar.


“Aku lapar, Sayang,” ulang Kailla.


Lelaki itu mengusap wajahnya, berusaha menghilangkan kantuknya. “Kamu mau makan apa?” tanya Pram, masih dengan mata terpejam. Bangkit duduk dan bersandar di tempat tidur.


“Aku mau telur dadar,” sahut Kailla.


“Ya sudah. Kamu tunggu disini. Jangan turun, ini sudah malam. Aku akan membawa makanannya ke atas,” ucap Pram, setengah menyeret langkahnya dengan menahan kantuknya.


Kailla yang dipaksa menunggu, akhirnya menyerah setelah hampir lima belas menit suaminya tidak kunjung muncul. Kesabarannya habis sudah. Dengan gaun tidur satin tipis, dia menyusul Pram ke dapur. Lebih menyenangkan menunggu di sana sambil menyaksikan sendiri bagaimana Pram menyiapkan makanan untuknya.


***


Di sisi lain, Pram masih sibuk dengan teflon dan sodet di tangannya. Dia baru saja memasukan kocokan telur ke dalam wajan. Lelaki itu terlihat serius dengan kegiatan memasaknya sampai tidak menyadari derap langkah perlahan seseorang yang mendekatinya.


Dia baru mengetahui, saat dua tangan menelusup melewati pinggang dengan lancang dan mengunci di perutnya. Fokus masih pada telur dadar spesialnya karena Pram mencampur dengan beberapa sayuran potong dan udang cincang yang membuatnya harus menghabiskan waktu lebih lama dari normalnya membuat telur dadar biasa.


Senyumnya terkembang saat merasakan pelukan hangat sang istri di tengah malam yang dingin. Bahkan dia bisa merasakan kecupan hangat Kailla beberapa kali di kulit punggungnya yang hanya terbalut kaos versace yang digunakan untuk tidur.


“Kai, kenapa turun?” tanya Pram, lembut. Bisa merasakan kemanjaan Kailla yang menempel di punggungnya. Lelaki itu masih sibuk merapikan pinggiran telur yang mulai menguning dengan sodetnya. Mengenggam erat kuncian tangan Kailla di perutnya.


Hening.


Tidak ada jawaban. Istri manjanya masih menikmati kehangatan punggung kekarnya. Begitu dekat, sampai Pram bisa merasakan gundukan kembar yang begitu berasa di sertai hembusan nafas kasar Kailla yang mulai menggodanya kembali.


“Aku mencintaimu, Kai,” bisik Pram, tersenyum sendiri.


“Baru ditinggal sebentar, sudah merindukanku kah?” tanya Pram lagi, menunduk menatap tangan yang mengengam di perutnya.


Deg—


Denyut jantung lelaki itu berdetak kencang tiba-tiba, saat pandangannya menangkap ada keanehan dari jari-jarinya yang saling menaut. Tidak ada cincin nikah yang biasa dikenakan Kailla di jari manisnya. Nail-art bermotif bunga mawar yang menghiasi kuku lancip Kailla juga tidak ada di sela-sela gengaman itu.


Masih berusaha berpikir positif, meskipun otaknya sudah kacau dan dadanya bergemuruh. Namun, suara isak tertahan yang terdengar sayup di belakangnya membuat Pram panik dan khawatir. Berharap ketakutannya tidak menjadi kenyataan, meskipun jemari tangan yang masih membelit pinggangnya sudah cukup menjawab semuanya.


Menghempas kasar tangan yang membelit pinggangnya, kemudian melepaskan diri dari pelukan.


“Lepas!!” tegas Pram. Lelaki itu berbalik badan. Pemandangan pertama yang dilihatnya begitu memilukan dan mengiris hatinya.


Istrinya terisak, berurai air mata sambil menutup mulut dengan kedua tangan supaya suara tangis itu tidak terdengar keluar, berjarak lima meter dari tempatnya berdiri.


Dan..


***


To be continued


Love You all


Terima kasih.