
“Tidak ada wanita manapun yang sanggup menggoyahkan hatiku. The one and only, Kailla Riadi Dirgantara,” ucapnya merayu.
Mendengar kalimat terakhir Pram, tentu saja perasaan Kailla melambung. Teringat dengan telur ceplok istimewa yang dihadiahkannya untuk sang suami tadi siang.
“Maafkan aku,” bisik Kailla, menahan malu telah mengasari suaminya tadi siang.
“Maaf untuk apa?” tanya Pram, berpura-pura. Meminta istrinya, mengakui sendiri kesalahannya.
Kailla tertunduk. Ada sesal di hatinya, dia sering menggunakan emosinya disaat tidak menyukai sesuatu.
“Maafkan aku, karena...karena.. “ Ucapan Kailla tertahan, tidak sanggup mengakui khilafnya.
“Karena sudah membuat telur ceplok di atas kepalaku?” tanya Pram, terbahak.
“Bukankah itu memang keahlian istriku,” lanjut Pram lagi.
“Aku bahkan mau mencatatkannya di dalam sejarah. Kamu pasti akan menjadi perempuan sekaligus istri pertama di dunia yang melakukannya,” sindir Pram.
“Setara dengan orang pertama yang mendaratkan kakinya ke bulan. Sampai berpuluh-puluh tahun, bahkan ratusan tahun akan diingat dalam sejarah dunia,” lanjut Pram.
Kailla merona malu, diingatkan kembali kesalahannya “Maafkan aku,” ulang Kailla, membenamkan wajahnya di pelukan suaminya.
Sebaliknya Pram tidak bisa berkata-kata. Hanya menghela nafas kasar. Mendidik Kailla yang keras kepala bukanlah perkara mudah, dia baru mengambil alih di usia Kailla 17 tahun, selebihnya istrinya masih di bawah kendali Riadi.
Kalau dulu setiap Kailla berulah, dia hanya bisa diam-diam menyelesaikannya tanpa protes, berbeda dengan sekarang. Dia bisa melakukan apapun.
Kalau ditelusuri kembali, Kailla sudah banyak berubah. Hanya saja masih sulit meredam emosinya sendiri. Di saat dia tidak menyukai sesuatu, merasa tidak benar, dia akan protes dengan caranya sendiri. Cara yang bahkan orang lain tidak pikirkan.
“Maafkan aku,” cicit Kailla kembali.
“Dengar Kai, ketika tidak menyukai sesuatu, ada banyak cara untuk menunjukan ketidaksukaanmu,” jelas Pram.
Terdengar helaan nafas, sebelum Pram mengeratkan pelukan di pundak sang istri.
“Aku tidak suka orang lain menganggu milikku. Dan aku tidak suka, kamu menatap gadis di mall itu seperti tadi,” ucap Kailla.
“Memang bagaimana tatapanku?” tanya Pram.
“Sama seperti saat menatapku!” gerutu Kailla, mulai kesal kembali.
“Apalagi usinya jauh dibawahku, perutnya masih rata, tubuhnya masih langsing,” ungkap Kailla.
Pram terbahak. “Ini tidak rata dan membesar karena ada anakku disini. Bukan hanya satu, tetapi ada dua, wajar-wajar saja kalau tidak selangsing gadis ingusan itu,” ucap Pram, mengusap perut istrinya.
“Kalau dia sedang hamil anakku juga akan mengalami hal yang sama sepertimu sekarang,” lanjut Pram, tersenyum usil, bersiap menyambut ledakan istrinya. Menikmati kecemburuan Kailla.
“Jangan bersikap seperti tadi lagi. Aku tidak masalah dengan telurnya, tidak masalah dengan apa yang kamu lakukan. Hanya saja aku malu pada Sam. Kamu melakukannya di tempat terbuka, yang bisa dilihat semua orang. Harga diri suamimu hancur seketika,” jelas Pram.
Tentu saja Kailla mengangguk.
“Bibir ini tidak boleh tersenyum pada siapapun, hanya boleh tersenyum padaku!” ucap Kailla, menyapu bibir suaminya dengan ujung ibu jari dan menghadiahkan sebuah kecupan.
“Mata ini tidak boleh menatap siapapun, hanya boleh memandangku!” lanjut Kailla.
“Hmmmm,” gumam Pram.
“Apalagi?” tanya Pram.
“Ini semua cuma milikku!” tegas Kailla, memeluk Pram dengan erat.
“Manis sekali!” sahut Pram. Ikut memeluk istrinya dan menghadiahkan kecupan ringan di pucuk kepala.
“Tidur sekarang. Besok aku harus berangkat sedikit lebih pagi. Ada masalah di salah satu proyek, aku harus turun sendiri menyelesaikannya,” jelas Pram, merebahkan istrinya, kemudian menyusul berbaring di sisi Kailla.
“David sudah terbang ke Austria, tidak ada yang membantuku lagi disini. Apa aku meminta Lolita menjadi asistenku saja ya,” celetuk Pram.
“Lumaya buat pijat-pijat,” lanjutnya lagi.
Entah kenapa, dia menikmati sekali dengan kecemburuan Kailla yang berlebihan. Pram merasa benar-benar dicintai istrinya.
Tentu saja Pram terbelalak, untuk pertama kalinya. “Adik kecilku yang meminta dipijat,” sahut Pram asal, bersipa menikmati wajah kesal istrinya.
Buk!!
Sebuah bantal menghantam wajah Pram. Tidak lama terdengar suara kencang Pran yang menertawai istrinya. Lelaki itu berbalik, membuka kaosnya menyodorkan punggungnya.
“Disini!” perintah Pram, menunjuk punggung telanjangnya, menunggu sentuhan tangan istrinya.
“Besok aku akan ke rumah sakit menemui daddy,” cerita Kailla sekaligus meminta izin. Jemari lentik dengan kuku panjang berkutek biru muda itu sudah menari di atas punggung suaminya.
“Hmmm, sampaikan salam untuk daddy. Katakan padanya, belakangan aku sibuk, tidak sempat sering-sering mengunjunginya,” lanjut Pram lagi.
“Tolong pijatnya lebih keras sedikit. Ini tidak ada rasanya,” protes Pram, saat merasakan jari-jari tangan Kailla mengelitik pelan kulit punggungnya.
Tak lama terdengar teriakan kecil Pram, Kailla mencubit punggung suaminya dengan sekuat tenaga.
“Ini berasa kan, Sayang?” tanya Kailla, dengan senyum usilnya.
Pram berbalik badan tiba-tiba, dengan posisi telentang menatap istrinya. “Aku mencintaimu,” ucap Pram pelan.
“Ah..... !” pekik Kailla saat tangan kekar suaminya menarik tubuhnya ke dalam pelukan hangat.
***
Keesokan harinya.
Pram sedang berkutat dengan setumpuk berkas di atas meja kerjanya. Sejak tadi pagi dia tidak bisa keluar kemana-mana. Rencananya dia ingin mengunjungi salah satu proyeknya yang bermasalah, namun urung karena Stella menghadiahkannya setumpuk pekerjaan yang sudah deadline dan harus secepatnya ditanda tangani.
Tentu saja sebagai Presdir, tidak semudah itu menandatanganinya. Dia harus membacanya ulang. Pekerjaan yang seharusnya dilakukan David, tetapi karena asistennya itu sedang bertugas di luar, mau tidak mau Pram harus mempelajarinya sendiri.
Beberapa proyek yang sudah mencapai progres 30%, perusahaannya bisa mengajukan pencairan dana sekian persen sesuai kontrak awal dan itu membutuhkan tanda tangannya. Tidak semua bisa diwakilkan oleh manajer atau menggunakan tanda tangan stempel. Apalagi kalau nilainya mencapai miliaran, itu benar benar membutuhkan goresan tangannya langsung.
Lelaki itu masih serius membaca laporan-laporan kerja di lapangan, saat ponsel di atas mejanya bergetar sekalis berteriak nyaring. Saat melihat nama yang muncul di layar, Pram mengerutkan dahinya. Perasaannya tidak enak, seperti akan terjadi hal buruk.
Dan benar saja.
“Iya, selamat siang,” sapa Pram, ketika gawai mahal itu menempel di telinganya.
Pram hanya tertegun mendengar segala informasi yang disampaikan si penelepon, sedetik kemudian lelaki itu bergegas meraih jas hitam yang digantungnya di sandaran kursi. Mengenakannya buru buru dan berlari keluar, meninggalkan setumpuk pekerjaan di atas mejanya.
“Ste, aku ada urusan di luar. Tolong mejaku dibereskan!” titahnya sebelum berlari menuju lift.
***
Saat ini Pram sudah berada di ruang ICU. Berdiri tepat di depan tubuh kurus tidak berdaya, terbujur kaku selama hampir empat tahun. Belasan selang menempel di tubuh renta itu. Ada banyak jarum juga menancap di kulit keriput tanpa daging.
“Bangun b’rengsek!!” umpat Pram, di tengah keheningan ruangan. Hanya terdengar beberapa alat medis yang berbunyi pelan, menandakan mesin itu masih berfungsi.
Seringai licik muncul di wajahnya. Dengan sedikit membungkuk, lelaki itu berucap penuh amarah di telinga Riadi.
“Putrimu di tanganku, bahkan nyawanya pun di tanganku. Aku bisa menghancurkannya, cukup dengan satu remasan tangan. Sama seperti kamu menghancurkan keluargaku!” ucap Pram.
“Hahaha...!” Tawa Pram begitu mengerikan, memantul di empat sisi ruangan.
“Aku sudah mengetahui semuanya. Kejahatan yang kamu lakukan pada orang tuaku dan keluargaku. Dan sekarang, aku akan membalaskannya pada keturunanmu.”
“Kamu tahu, putrimu itu sangat menyusahkan!”
“Bahkan dia berani merendahkanku. Aku berharap kamu bisa mendengar semuanya, Riadi Dirgantara.”
***
To be continued
Love you all
Terimakasih