Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 128 : Istriku hamil


Setelah perdebatan panjang dan alot, akhirnya keduanya mengalah. Baik Pram dan Kailla menurunkan egonya masing-masing setelah tidak menemukan titik temu.


“Berikan aku waktu untuk mencari jalan keluar untuk memenuhi keinginanmu. Aku berjanji, tidak lama. Jangan coba-coba memanjat tanpa setahuku,” ancam Pram, membuka pintu mobil dan menarik turun Kailla dari dalam mobil.


“Aku harus ke kantor. Aku usahakan pulang cepat,” pamit Pram, mengecup kening Kailla yang mematung. Kailla bimbang, antara mau menerima atau menolak perlakuan manis suaminya pagi ini.


Menerima karena kalau boleh jujur, dia juga merindukan sentuhan suaminya. Menolak karena sakit hatinya sebulan ini ditinggal pergi apalagi saat dia hamil belum sepenuhnya sembuh.


“Ya, cuma begini saja dramanya berakhir. Tidak seru sama sekali!” gumam Sam.


Asisten itu sejak tadi duduk berjongkok di pinggir, menonton perdebatan yang mengalahkan acara debat di tv. Berharap akan ada akhir yang seru seperti gontok-gontokan atau saling bertolak pinggang dengan mata mengiris tajam satu sama lain.


Namun, ekspektasinya terlalu tinggi. Pasangan suami istri di depannya memilih gencatan senjata untuk sementara. Berdamai untuk saat ini.


“Setidaknya ini lebih baik, daripada mereka saling mendiamkan,” guman Sam, kembali tersenyum.


Pram baru balik badan, hendak kembali ke rumah. Akan tetapi, sudut matanya menangkap pergerakan Kailla yang berjongkok dan menutup mulutnya tiba-tiba.


“Kenapa Kai?” tanya Pram, kembali menghampiri, ikut berjongkok di hadapan Kailla. Tampak istrinya sedang menahan mual, menutup mulut rapat-rapat. Pergerakan tubuh Kailla yang berusaha menahan isi perutnya tidak tertumpah keluar terlihat jelas.


Indra penciuman Pram pun beraksi, mengendus aroma yang mungkin saja membuat perut Kailla yang dihuni bayi-bayinya tidak terima, memberontak dan berdemonstrasi di dalam sana.


Aroma ikan goreng dari dalam rumah menyeruak keluar, memenuhi halaman rumah. “Kamu tidak bisa mencium bau ini?” tanya Pram. Untuk pertama kali menghadapi kerewelan Kailla di kehamilan kembarnya.


Kailla tidak menjawab, sibuk menahan isi perutnya tidak menyembur keluar. Pagi tadi dia sudah menyelesaikan agenda muntah pertamanya saat bangun tidur dan sekarang harus merasakan kelelahan dan kesakitan lagi saat isi perut yang bahkan hanya cairan bening itu memaksa keluar.


Pram cukup paham, kebiasaan Kailla mengedus aroma tubuhnya selama kehamilan pertamanya, membuat lelaki itu segera membuka kancing kemejanya tergesa-gesa. Meraup tubuh Kailla supaya mendekam bak kucing kecil di dalam pelukannya, menikmati aroma tubuh, keringat dan parfum mahalnya yang bercampur sempurna.


Beberapa detik suasana hening, elusan lembut di punggung menenangkan sang istri yang sedang berjuang melawan adukan di dalam perutnya.


“Sudah baikan?” tanya Pram lembut.


Anggukan kecil, tetapi ketenangan itu tidak berlangsung lama. Perut Kailla bergejolak tidak tertahan, menumpahkan isi perutnya di tubuh Pram. Berhamburan berulang kali, baru berhenti saat tidak ada yang tersisa lagi di dalam lambungnya.


Pram tertegun, membeku di tempat menikmati cairan yang dimuntahkan Kailla merembes kemeja dan kaos dalamnya. Mengesek ke kulit dadanya.


“Maaf..” bisik Kailla pelan.


“Iya, sudah jauh lebih enak sekarang?” tanya Pram, memastikan.


Kailla mengangguk.


“Masuk ke dalam, bersihkan tubuhmu. Aku harus membersihakn bekas muntahanmu,” jelas Pram tersenyum menatap kemejanya yang basah.


Sam yang masih menonton pertunjukan, menahan tawanya saat melihat Pram yang terkena semburan Kailla.


“Bau keringatmu sudah tidak semanjur dulu lagi Pak,” bisik Sam, mengulum senyuman.


***


Sepeninggalan Kailla, Sam masih mengekor kemana Pram melangkah sesuai instruksi. Lelaki itu sedang membersihkan pakaiannya yang terkena muntahan istrinya di halaman belakang rumah.



“Sam, selama aku di kantor, tolong jaga Kailla dengan baik,” perintah Pram. Lelaki itu hanya mengenakan kaos dalam putih, membersihkan kemejanya dibawah kucuran air kran. Tangannya mengucek kemeja, bibirnya memberi perintah.



“Iya Pak,” sahut Sam, berdiri di belakang Pram. Menonton apa yang dilakukan majikannya.


“Usahakan jangan meninggalkannya sendirian. Setiap menemaninya keluar selalu berdua dengan Bayu atau Ricko. Aku mengkhawatirkannya. Aku tidak mau gagal menjaganya seperti empat tahun lalu,” lanjut Pram, mengibaskan kemejanya yang basah.



“Baik Pak.”


“Tolong turuti semua permintaannya selagi tidak membahayakannya dan bayi-bayi kami. Biarkan dia nyaman dengan kehamilannya. Aku tidak mau dia menangis dan tertekan lagi,” jelas Pram.


“By the way, terimakasih sudah menjaganya untukku, selama aku pergi,”


“Oh ya Sam, sepertinya Kailla tidak bisa mencium aroma amis ikan. Untuk sementara minta Ibu Ida dan Ibu Sari tidak memasak menu berbahan dasar ikan lagi di rumah. Keluarkan semua stok ikan dari kulkas. Berikan saja pada yang mau atau kamu bisa membawanya pada orang tuamu.”


“Kalau kalian mau, silahkan makan di luar. Mulai sekarang, jangan memasak ikan. Di dalam rumah ataupun di rumah tinggal kalian. Tolong sampaikan kepada semua asisten yang tinggal disini,” lanjut Pram.


Lelaki itu sudah duduk dengan kaki bertekuk dengan tangan menggengam di atas pangkuan. Pandangan menerawang, otaknya sedang berpikir apa yang harus dilakukannya selama 9 bulan ke depan untuk menghadapi kehamilan Kailla.


Ketampanannya begitu terpancar dengan tampilan sederhana. Kaos singlet putih dengan rambut basah membuat Pram terlihat seksi di usia kepala empat, menuju setengah abad. Terlihat Pram menghela nafas, berusaha mengeluarkan beban yang ada di hatinya.



“Sam, perasaanku tidak enak. Seperti ada hal buruk yang akan menimpa Kailla, tetapi aku tidak tahu apa. Mudah-mudahan hanya traumaku saja karena kegugurannya dulu.”


“Aku akan menjaga Non Kailla dengan baik, Pak,” janji Sam.



“Iya, kalau Kailla mau keluar, turuti saja. Selalu laporkan padaku, semua yang Kailla lakukan,” pinta Pram, mengusap rambut basahnya.


Sam terlihat ragu-ragu. Dengan wajah tengilnya, asisten itu berbisik. “Pak, eh..kalau Non Kailla ingin memeluk lelaki lain yang jauh lebih muda dan tampan dari bapak dengan alasan mengidam, aku harus bagaimana?” tanya Sam usil, menahan tawa saat Pram mengangkat kepalanya dan menatapnya sinis.


“Aku akan membunuhmu kalau sampai itu terjadi!” gerutu Pram.


***


Siang itu, mobil Pram terlihat masuk ke halaman rumah Ibu Citra. Sudah lama dia tidak mampir ke rumah mamanya. Hampir sebulan lebih tidak berkunjung, hanya berkomunikasi dan bertanya kabar melalui ponsel. Bahkan Pram belum mengabari mamanya mengenai kehamilan Kailla.


“Mana mama?” tanya Pram pada Kinar sambil memasukan kunci mobil sportnya ke dalam saku celana. Lelaki itu melangkah masuk ke dalam rumah tanpa permisi begitu Kinar membuka pintu.


“Sedang makan siang, Mas,” sahut Kinar, tersenyum. Mempersilahkan Pram ikut bergabung.


Pram melenggang masuk, menyapa mamanya sambil memeluk tubuh Ibu Citra yang terlihat jauh lebih sehat dibanding sebulan yang lalu.


“Ma, apa kabar?” tanya Pram, setelah melepas pelukannya.


Plakk!


Pukulan kencang mendarat di bahu Pram lengkap dengan dengusan kesal yang keluar dari bibir Ibu Citra. Kinar yang sudah duduk kembali, hanya menatap kekraban ibu dan anak itu sambil diam-diam mengagumi ketampanan Pram.


“Tetap tampan seperti biasa, meskipun sedikit kurus,” batin Kinar, menatap dengan mata berbinar-binar.


“Aku sibuk, Ma. Belakangan ini aku banyak pekerjaan. Dan aku juga baru pulang dari Austria,” jelas Pram.


“Ini saja aku hanya mampir sebentar. Setelah jam makan siang selesai, aku harus kembali ke kantor, masih ada rapat,” lanjut Pram.


“Astaga. Kamu tidak memberitahu mama. Kailla ikut ke Austria?” tanya Ibu Citra. Terbayang sudah wajah menantunya yang sedang memborong tas branded tanpa mengajaknya. Dia merasa dicurangi anak dan menantunya saat ini.


Pram tidak menjawab, hanya tersenyum seolah mengiyakan.


“Ah.. Kailla kelewatan sekali. Tidak sekalipun dia menghubungiku,” gerutu Ibu Citra kesal.


“Di Austria untuk bekerja, bukan bersenang-senang. Mama harus tetap sehat, nanti kalau aku punya waktu senggang, kami akan mengajakmu keliling dunia,” bujuk Pram.


“Maafkan Kailla, belakangan dia memang tidak bisa sering menghubungi mama. Kalau mama mau, mama bisa menghubunginya. Kailla pasti senang sekali.”


Ibu Citra mengangguk dan tersenyum. “Katakan pada Kailla, mama mau mengajaknya berbelanja tas,” ucap Ibu Citra, melirik ke arah Kinar yang diam-diam menyimak obrolan.


Ibu Citra tidak mungkin mengajak Kinar untuk hobi terpendamnya ini. Kinar tidak paham barang-barang branded, gadis itu lebih mengerti tentang bumbu dapur. Berbeda dengan menantunya Kailla.


“Mama jangan membuat Kailla kelelahan. Istriku itu sedang hamil bayi kembar kami,” cerita Pram tersenyum, menatap Kinar dan mamanya dengan binar-binar bahagia.


***


To be continued


Love you all


Terimakasih