
Dalam gendongan suaminya ala bridal style, Kailla mengalungkan kedua tangan dengan erat di leher Pram. Setapak demi setapak, menapaki anak tangga yang membawa keduanya mendekat menuju kamar tidur mereka di lantai dua. Kailla yang usil masih sempat-sempatnya menengok ke bawah, menyeringai ke arah Kinar. Tersenyum penuh kemenangan, bersandar manja di dada bidang sang suami.
Di sisi lain, Pram benar -benar memanfaatkan keadaan. Lelaki itu sepanjang perjalanan menuju ke kamarnya, tak henti mengecup bibir istrinya yang tidak berani protes seperti biasa. Lelaki licik itu benar-benar memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan.
“Buka pintunya, Kai,” pinta Pram, seketika Kailla menarik turun gagang pintu disambut dengan tendangan kaki Pram yang mendorong paksa pintu kamar dengan nuansa biru putih itu.
Perlahan menjatuhkan tubuh istrinya ke atas tempat tidur, Pram berkata.
“Ayo, buka pakaianmu, Nyonya. Biarkan aku memeriksanya,” perintah Pram, dengan seringai liciknya. Dia tahu jelas Kailla sedang berakting. Pura-pura mengeluh kesakitan.
“Aku tidak mau!” tolak Kailla menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Bukannya kamu bilang perutmu kram. Biarkan aku memeriksanya sekarang, Kai,” pinta Pram, sudah meraih ujung gaun istrinya, siap menyingkapnya ke atas,
“Aku sudah tidak sakit lagi, Sayang,” jelas Kailla buru-buru. Menahan tangan suaminya.
Tetapi bukan Pram kalau menurut, lelaki itu seolah tidak peduli, menaikan gaun itu sebatas dada.
“Kenapa harus dibuka?” keluh Kailla, cemberut.
“Supaya bisa leluasa memeriksanya,” sahut Pram, dengan raut usilnya menatap Kailla dengan ****** ***** renda berwarna putih. Kehangatan langsung mengisi hatinya, kala bisa melihat sendiri perut istrinya yang mulai terlihat. Sedikit membulat dan membesar dari biasanya.
“Kai, mereka nakal hari ini?” tanya Pram, ikut duduk di sisi tempat tidur, mengusap bulat kecil dibawah pusat istrinya.
Kailla menggeleng. “Hari ini mereka begitu penurut. Aku malah tidak mual dan muntah sejak pagi,” sahut Kailla.
“Benarkah?” tanya Pram, membungkukan tubuhnya, mengecup perut Kailla.
“Sayang, jangan bertengkar dengan mama. Mama tidak tahu apa-apa. Tante Kinar yang tiba-tiba datang ke rumah, tanpa memberitahu mama. Aku mendengarnya sendiri, bukan mama yang memintanya,” jelas Kailla.
“Benarkah?” tanya Pram heran, masih tidak percaya.
“Iya, tante menanyakan alamat kita dari sopir mama,” jelas Kailla lagi.
Pram masih berusaha mencerna ucapan istrinya, dengan tangan yang masih mengusap anak-anaknya yang berada di perut Kailla.
“Lalu untuk apa dia datang?” tanya Pram.
“Untuk membawakan makanan yang kemarin di tumpahkan Sam,” jelas Kailla.
“Katanya begitu,” lanjut Kailla.
Terlihat lelaki itu membuka jas dan melempar asal ke atas ranjang. Setelahnya Pram memilih ikut berbaring, telentang dengan kedua tangan bertekuk menahan kepalanya.
“Kai, bisakah tidak memakan sembarangan?” tanya Pram.
“Maksudku, jangan makan makanan yang tidak jelas asal usulnya. Aku mungkin berlebihan, tetapi aku takut sekali kalian kenapa-kenapa,” jelas Pram.
“Apa yang kamu pikirkan, Sayang?” tanya Kailla, tanpa permisi sudah berbaring menelungkup di atas tubuh suaminya. Menempelkan diri di dada Pram sembari menikmati aroma suaminya yang sudah bercampur dengan parfum mahalanya.
“Sejak tahu kamu hamil, aku jadi ketakutan sendiri. Aku jadi mudah berprasangka yang buruk. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada kalian bertiga.”
“Aku tidak bisa tenang, setiap kamu keluar dan bertemu dengan orang asing. Tahukah kamu, tidak sedetik pun, dimana aku tidak memikirkan kalian. Aku tidak mau kehilangan lagi,” jelas Pram, dengan mata berkaca-kaca, menahan haru yang tiba-tiba menyeruak.
Kedua tangan yang tadinya menahan kepalanya, sekarang berpindah memeluk istrinya sembari mengecup puncak kepala Kailla dengan penuh perasaan.
“Jangan pernah makan makanan yang dibawa Kinar atau siapapun. Kalau kamu tidak enak menolaknya, kamu bisa menggunakan alasan kehamilanmu. Kalau kamu begitu menginginkan sesuatu, katakan padaku. Aku pasti mengabulkannya,” jelas Pram.
“Kamu mengerti?” tanya Pram.
Kailla mengangguk.
“Kehidupan kita tidak sama dengan kehidupan orang lain. Ada banyak musuh di luar sana yang bahagia dengan penderitaan kita,” jelas Pram lagi.
“Sebisa mungkin di rumah saja. Kecuali ada keperluan yang mendesak sekali,” pinta Pram.
Tampak Pram menghela nafas kasar. “Kamu ingat dengan Andi, yang aku kirim ke penjara. Karena terlibat dengan kecelakaan mamamu dan dalang penculikan sekaligus penyebab keguguranmu empat tahun lalu?” tanya Pram.
Kailla lagi-lagi mengangguk.
“Minggu lalu, dia meninggal di penjara,” cerita Pram.
Kailla terkejut, mengangkat kepala yang sejak tadi menempel di dada suaminya. “Om Andi?” tanya Kailla memastikan.
Pram mengangguk. “Dia masih memiliki anak dan aku khawatir dengan anak-anaknya. Sebisa mungkin harus berhati-hati. Ada anak-anakku bersamamu,” ujar Pram, meraih tengkuk Kailla, mencium bibir menggoda itu sekilas.
“Iya, tetapi sekarang aku lapar lagi, Sayang,” ucap Kailla. Keduanya saling menatap dengan pandangan datar, sampai akhirnya Pram terbahak.
“Bukannya kamu sudah sarapan?” tanya Pram hampir tidak percaya. Kailla baru saja menghabiskan sandwich berukuran raksasa dengan segelas susu dan jus jeruk. Belum sampai satu jam, istrinya mengeluh kelaparan.
“Iya, tetapi anak-anakmu sudah minta makan lagi. Mereka mau nasi goreng buatan daddynya,” rengek Kailla. Kemanjaan yang sempat hilang sebulan ini, sekarang muncul lagi.
Tanpa berpikir dua kali, Pram langsung bangkit dari tidurnya. “Ayo, daddy buatkan,” ucapnya, sembari menarik Kailla untuk ikut bersamanya.
Keduanya sudah terlihat menuruni tangga rumah kembali. Dengan Pram berjalan di depan dan Kailla memeluk pinggang Pram dari belakang, menempelkan diri di punggung suaminya.
“Dia hanya kelaparan, Ma.” Pram yang menjawab saat melewati mini bar, tempat dimana Kinar dan Ibu Citra sedang berbincang. Posisi minibar yang tepat di depan dapur bersih, membuat kedua orang itu bisa melihat jelas kemesraan suami istri yang baru berbaikan kembali setelah perang sebulah lebih.
“Kai, Kinar membawakanmu bubur kacang hijau. Itu baik untuk kehamilanmu,” ucap Ibu Citra.
Kailla terdiam, mengingat kembali ucapan suaminya.
“Istriku sedang ingin nasi goreng buatan suaminya, Ma,” tolak Pram.
“Iya kan, Sayang?” tanya Pram, menoleh ke belakang.
“Hmmm,” gumam Kailla.
Pram bisa merasakan gerakan mengangguk Kailla di punggungnya. Istrinya masih betah membelit pinggangnya, menempel padanya dan tidak mengizinkannya menjauh, meski sudah berada di depan kompor. Ibu Sari dan Ibu yang sedang membereskan dapur, terlihat menyingkir. Memberi kesempatan untuk kedua majikannya.
“Kai, mau sayuran?” tanya Pram. Lelaki itu sedang menggulung lengan kemejanya sebatas siku supaya bisa leluasa bergerak.
“Wortel saja. Aku tidak mau yang lain,” sahut Kailla, ikut membuka beberapa kancing teratas kemeja suaminya dan menelusupkan tangan ke dalam. Mengusap lembut dada bidang Pram yang sedang sibuk menyiapkan bahan.
Kinar yang menatap dari kejauhan hanya bisa menarik nafas, menahan cemburunya. Sepertinya Kailla sengaja mengerjainya. Bahkan anak nakal itu berulang kali meminta Pram mengecup bibirnya, di sela kegiatan memotong wortel.
“Sayang...,” panggil Kailla, menepuk pundak suaminya dari belakang. Belitan pinggang pun seolah enggan terlepas.
Dia sudah berjinjit, meletakan dagunya di bahu sang suami dan menyodorkan bibirnya sembari memejamkan mata.
Cup! Sebuah kecupan singkat dihadiahkan Pram. Ciuman bibir sepasang suami istri itu terjadi berulang kali, bahkan saat Pram sudah memegang wajan dan sodet pun, masih saja Kailla merengek meminta ciuman padanya.
Dan yang membuat Kinar kesal, setiap keduanya selesai berciuman, Kailla pasti tersenyum mengejek padanya. Ingin rasanya merobek bibir Kailla yang sengaja memamerkan kemesraan di depan matanya.
“Kurang ajar! Dia sengaja memanas-manasiku!” gerutu Kinar dalah hati.
Ibu Citra yang duduk di samping Kinar, tidak peduli. Dia menutup mata dengan apa yang dilakukan putra dan menantunya. Dia terlalu bahagia dengan calon cucunya yang sekarang berada di rahim Kailla.
Pram masih sibuk memainkan sodet di atas penggorengan, membolak-balikan nasi di dalamnya supaya tercampur sempurna saat bunyi ponsel terdengar dari saku celananya.
“Biarkan aku saja,” ucap Kailla. Merogoh kantong celana suaminya dan mengeluarkan ponsel. Senyum merekah saat melihat Stella yang menghubungi Pram.
“Hallo, Ste. Ada apa?” sapa Kailla, menerima panggilan itu tanpa meminta izin suaminya.
“Pagi Nyonya. Presdirnya mana?” tanya Stella.
“Dia sedang memasak untukku,” bisik Kailla berbicara pelan.
“Memang ada apa?” tanya Kailla lagi.
“Ada beberapa pekerjaan yang harus selesai hari ini. Presdir jam berapa tiba di kantor?” tanya Stella.
Kailla tidak menjawab, tetapi langsung menempelkan gawai itu ke telinga suaminya. Membiarkan Pram menjawab sendiri semua pertanyaan Stella.
Percakapan atasan dan sekretarisnya itu tid berlangsung lama. Bibir Kailla tersenyum saat mendengar kalimat terakhir Pram, yang membahas masalah tasnya. Begitu sambungan ponsel itu terputus, jiwa penasaran Kailla terpancing.
“Tasku sudah dikirim?” tanya Kailla, menyimpan kembali ponsel Pram ke kantong celana.
“Sebentar lagi sampai di depan pintu, Stella sudah meminta sopir kantor mengantarnya pagi-pagi sekali,” sahut Pram tersenyum.
“Aku tinggal sebentar, Sayang,” pamit Kailla. Rona bahagia terlihat jelas di wajahnya.
Belitan di pinggang Pram terlepas seketika, Kailla langsung menghambur ke depan. Menunggu tas hadiah suaminya tiba. Dan benar saja, tidak sampai sepuluh menit, dia sudah kembali memanggil Ibu Ida dan Ibu Sari membantunya.
Pram tidak hanya membelikannya satu, tetapi ada beberapa. Dia sendiri belum mengecek apa isi di dalam shopping bag yang sekarang ditenteng masuk kedua asisten rumah tangganya.
Ibu Citra yang heran dengan tingkah menantunya, ikut mengamati. Matanya membulat sempurna saat melihat Ibu Sari dan Ibu Citra membawa tas belanjaan dengan berbagai merk ternama tercetak di bagian luar shopping bag.
“Astaga! Itu semua untuk Kailla,” bisiknya pelan, nyaris tidak percaya saat kedua asisten itu membawa naik semuanya menuju kamar putranya.
“Letakan di sana saja, Bu!” perintah Kailla menunjuk ke arah tempat tidur, dengan sumringah menyambut hadiahnya.
***
To be continued
Love you all
Terima kasih.
.