
Pram memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Panik, kesal, emosi pada diri sendiri. Kalut membuatnya lupa kalau hari ini, Kailla akan mengunjungi daddy. Namun, dia tidak menyangka, dirinya akan seapes ini. Tujuannya ingin membuat mertuanya bangun dari koma panjang harus berakhir dengan istrinya yang salah paham.
Bayangan ucapan dokter yang menyodorkan selembar kertas untuk ditandatanganinya menjadi pemicu semua ini terjadi. Empat tahun dia menyembunyikan kenyataan ini dari Kailla, memberi harapan semu untuk istrinya, menggelontorkan uang yang tidak sedikit agar Riadi tetap bisa bernafas, meskipun harapan hidup tidak lebih dari 10%.
Dengan kata lain, tidak ada harapan lagi untuk mertuanya bisa bangun dan hidup seperti sediakala, hanya butuh keajaiban tangan Tuhan.
Sekian persen organ dalam tubuh Riadi itu sudah tidak berfungsi, Andaikan Tuhan berbaik hati pun, begitu sadar dan bangun dari tidur panjang, Riadi tidak jauh beda dengan orang mati. Dan untuk alasan yang terbaik bagi semuanya, pihak rumah sakit memberi opsi ini pada pihak keluarga. Yang terbaik untuk pasien, keluarga dan tentu rumah sakit juga. Meskipun pihak rumah sakit juga mendapatkan keuntungan selama empat tahun Riadi menghuni salah satu kamar mereka.
Selama empat tahun ini Pram menunggu tangan Tuhan bekerja, berharap Yang di Atas iba dengan tangisan dan jeritan yang terselip di dalam doa istrinya yang belum mau berpisah dari sang daddy.
Namun, hari ini dia disodorkan kenyataan itu kembali, kertas untuk ditandatangani. Persetujuan untuk melepas semua alat-alat medis di tubuh renta tak berdaya Riadi Dirgantara, mertuanya sendiri. Apa yang harus dilakukannya? Dia tidak bisa apa-apa, tetapi dia tidak ingin menjadi perpanjangan tangan malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa mertuanya.
Tadinya Pram berpikir, dengan memancing emosi Riadi, mengungkit dendam masa lalu, membahas deretan dosa mertuanya, sekaligus memancing lelaki tua itu dengan keselamatan putri kesayangaannya, Riadi akan bereaksi. Namun bukan hal yang diharapkannya. Usahanya sia-sia, bahkan menambah masalah untuknya.
Tidak menyangka Kailla akan datang di waktu yang salah. Istrinya tidak mengamuk seperti biasa, tidak meminta konfirmasi padanya mengenai sumpah serapah yang didengarnya. Sebaliknya Kailla langsung memilih pergi dengan pendapatnya sendiri.
Banyak upaya yang dilakukannya, banyak pertimbangan yang dipikirkannya. Tadinya sempat terpikir membeli semua alat medis dan membawa Riadi pulang ke rumah, tetapi itu bukan opsi terbaik. Karena bukan hanya alat medis, Riadi juga butuh tim dokter yang standby 24 jam siap di sampingnya dan perawat yang menjaga. Makanya sampai hari ini, Pram masih bersikukuh mempertahankan Riadi di rumah sakit.
Membahas semua bebannya pada Kailla, tentu dia sangat ingin melakukannya. Namun, disaat belum hamil pun, Kailla akan menangis dan bersedih. Apalagi di saat ini, disaat istrinya hamil bayi mereka. Bagaimana dia bisa menceritakan semuanya pada Kailla, tentang apa yang diungkapkan dokter padanya.
Lelaki itu masih memacu mobil dengan kecepatan penuh, menyapu jalanan ibukota dengan harapan bertemu dengan istrinya. Para asisten sudah diberi tugas mencari Kailla di tempat-tempat yang mungkin dikunjungi, teman-temannya. Bahkan mengobrak-abrik rumah lama mereka dan apartemen.
Puluhan sambungan teleponnya yang ditolak Kailla sekarang berganti nomor ponsel istrinya sudah tidak aktif, tidak bisa dihubungi sama sekali. Dia tidak bisa melacak keberadaan istrinya lagi dari ponselnya.
“Bay, kerahkan semua orangmu untuk berjaga di bandara, terminal, stasiun dan tempat-tempat yang memungkinkan Kailla keluar darinJakarta. Blokir jalan keluar istriku, supaya tidak bisa meninggalkan Jakarta!” perintah Pram pada asisten kesayangan yang paling bisa diandalkan melalui earphone yang terselip di telinganya.
“Sam dan Ricko sudah mencari ke tempat-tempat yang memungkinkan Kailla datangi. Tolong kirim orang berjaga di tempat Ditya dan Dion! Sekaligus mengikuti pergerakan kedua orang ini. Aku tidak mau kedua orang ini terlibat. Semakin ada yang membantu Kailla, semakin aku sulit menemukannya,” jelas Pram.
“Cari tahu taksi yang dinaiki Kailla, kemana dia membawa istriku!” perintah Pram bertubi-tubi.
“Cek semua cctv di manapun itu, di tempat yang memungkinkan istriku datangi. Lakukan apapun. Kalau perlu tambahan orang, kamu bisa merekrut seberapa pun untuk membatasi ruang lingkup Kailla supaya tidak bisa pergi kemana-mana!” perintah Pram bertubi-tubi tanpa memberi waktu untuk Bayu berpikir.
“Setelah melewati batas waktunya dan Kailla belum ditemukan, laporkan ke polisi!” titah Pram lagi.
“Dan satu lagi, minta beberapa orang berjaga di rumah sakit, makam mamanya, rumah mamaku, semua rumah dan apartemenku. Cek cctv di rumah dan apartemen!” lanjut Pram lagi.
“Aku tidak akan memblokir kartu-kartu di tangan Kailla, itu akan memudahkan kita melacak keberadaannya saat dia menggunakannya.”
Jeda sebentar. Pram terdiam sambil berpikir setelah memberi perintah pada asitennya.
“Bos apakah harus seperti ini?” tanya Bayu mengerutkan dahinya.
Semua intruksi yang diberikan Pram padanya cukup membuat Kailla bersembunyi seumur hidup. Karena Pram benar-benar memintanya ,menebar orang dimana-mana.
“Istriku hamil dan dia sedang dalam bahaya. Aku tidak mau memberi celah pada siapa pun untuk bisa menyakitinya,” jelas Pram meremas rambutnya sendiri.
“Oh ya Bay, cek semua hotel yang ada di Jakarta, aku tidak peduli hotel bintang lima atau penginapan biasa.Semuanya!” perintah Pram lagi, masih saja berpikir.
“Istriku tidak mungkin bisa bekerja, dia tidak menbawa apapun di tangannya. Hanya tanda pengenal dan uang lima juta yang ditariknya di ATM rumah sakit,” jelas Pram.
“Cek semua counter hp, dimana pun aku tidak mau tahu. Bisa saja dia menjual ponselnya untuk biaya hidupnya. Dia sudah tidak bisa mengandalkan kartu-kartunya!” titah Pram kembali.
Pikiran lelaki itu kalut, bagaimana pun dia harus menemukan Kailla secepatnya. Untuk sementara Kailla belum ditemukan, dia akan membuat istrinya itu bersembunyi dengan menebar banyak orang, sehingga Kailla akan berpikir dua kali melangkah keluar dari tempat persembunyiannya.
***
Sepanjang hari hingga malam tiba, Pram masih mencari keberadaan Kailla. Wajahnya kusut, pikirannya kacau. Sudah hampir seluruh tempat didatanginya, tetapi masih belum menemukan istrinya.
“Bos,” sapa Bayu, turun dari mobilnya dengan wajah lelah dan berantakan. Keduanya memilih bertemu di tepi jalan setelah gagal dengan pencarian ha. Terlihat di belakang Bayu mengekor dua orang berbadan tegap dengan tato memenuhi kulit tubuhnya.
“Bos, ini orangku. Dia sudah menebar ratusan anak buahnya untuk mencari keberadaan Non Kailla. Kami juga sudah mengirim foto-foto Non Kailla untuk memudahkan pencarian,” ucap Bayu.
Pram hanya tersenyum kaku. Tidak banyak bicara.
“Bos, laporan dari orangku, kemungkinan besar istri Bos masih di Jakarta. Aku yakin nyonya tidak akan bisa lolos keluar. Aku sudah mengirimkan banyak orang untuk membuatnya terpojok,” cerita si laki-laki asing yang bahkan Pram tidak ingin mengenalnya lebih dekat.
Pram menghela nafasnya. Lelah dan ketakutan itu tercetak jelas di wajah tampannya. “Aku sudah meminta bantuan rekanku di kepolisian. Tetap lanjutkan pencarian. Kalau butuh tambahan orang atau dana, katakan saja. Yang terpenting untukku, istriku kembali,” jelas Pram, akhirnya.
“Stella juga sudah ikut bantu menghubungi teman temannya Kailla sewaktu kuliah dengan bantuan Bella dan Dona.”
“Sam dan Ricko sudah melacak keberadaan Kailla melalui teman teman kampusnya dulu, tetapi hasilnya nihil,” ucap Pram lemas.
“Bay, perluas daerah pencarian sampai ke Bandung, meskipun aku tidak yakin dia mampu keluar sampai kesana,” perintah Pram, masuk kembali ke dalam mobilnya, tanpa permisi pada ketiga orang yang masih berdiri di depannya.
Mencengkeram keras kemudi dengan kedua tangannya, Pram merebahkan kepala di setir. Bingung harus melakukan apa. Tidak tahu harus mengadu ke siapa. Menatap jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan hampir jam sebelas malam.
Dengan tenaga dan semangat yang tersisa, Pram melajukan mobilnya ke rumah Ibu Citra. Dia tidak bisa pulang ke rumahnya, bayangan Kailla masih terlihat jelas disana.
***
To be continued
Love You all
Terima kasih.