
Pram berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan wajah panik mengarah ke ketakutan. Pikirannya kosong sejak mengetahui mamanya tidak sadarkan diri, terjatuh di kamar mandi,
Rasa sakit kepala dan mualnya menguap entah kemana, lenyap tidak berbekas kala memikirkan keadaan sang mama yang masih belum jelas. Bahkan dia meninggalkan istrinya yang tertegun di kamar tidur masih dalam keadaan polos, hanya meninggalkan kecupan singkat dan ringan di bibir istrinya.
Padahal hari ini adalah hari terpenting di dalam Kailla, setelah perjuangan panjang selaman empat tahun. Namun, Pram tidak bisa berbuat banyak. Wisuda Kailla penting, tetapi nyawa renta mamanya juga jauh lebih penting. Dia hanya bisa meminta pada yang Kuasa, tidak membuatnya berada dalam posisi sulit, harus mengecewakan salah satunya.
Tubuhnya hampir merosot saat tiba di depan ruang IGD kala melihat Kinar yang berlinang air mata, menggigit jari-jari tangannya menutupi ketakutannya.
“Apa yang terjadi?” tanya Pram, mengusap pintu kaca ruman IGD, menempelkan wajahnya berharap bisa sedikit mengintip aktivitas di dalamnya.
“Mama terjatuh di kamar mandi, sepertinya tergelincir. Aku tidak tahu jelas, Mas. Aku sedang membuat sarapan di dapur,” cerita Kinar.
“Bagaimana keadaan mama?” tanya Pram lagi.
Kinar menggeleng. “Mama tidak sadarkan diri. Aku sedang menunggu informasi dari dokter. Tadi salah seorang dokter mencari Mas, sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikannya.
Mendengar informasi yang disampaikan Kinar, tubuh kekar Pram melemas. Bersandar, memejamkan mata sembari bersandar di dinding. Mengirim doa tidak pernah putus supaya tidak terjadi apa-apa pada mamanya.
Tidak lama, seorang dokter keluar dari ruang IGD, mencari keberadaan Pram.
“Pasien kritis. Harus dipindakan ke ICU secepatnya.”
“Bapak jangan kemana-mana, kami membutuhkan persetujuan Bapak kalau sewaktu-waktu harus melakukan tindakan,”
Berita yang disampaikan dokter membuat dunia Pram runtuh seketika. Dia melupakan Kailla yang sedang menunggunya.
***
Kailla yang sudah siap bersama Sam, terlihat turun dari mobilnya. Senyum masih terlihat di wajahnya saat menapaki tangga yang mengantarnya masuk ke dalam gedung tempat acara wisudanya.
Masih dengan semangat dan kebahagian penuh, menanti suaminya yang akan menyusul setelah memastikan kondisi mama mertuanya.
Sejam sebelum acara dimulai, wajah cantiknya masih bisa tersenyum. Sesekali menggoda Sam dan temannya yang lain. Namun, detik-detik berikutnya terasa semakin berat dilewatinya. Apalagi, saat dia melihat keluarga teman-temannya yang mulai memenuhi gedung tempat acara.
Bahkan dia bisa melihat dari kejauhan, kedua orang tua Sam, yang terlihat bahagia memeluk putranya. Wajah renta yang penuh kegembiraan dan kebanggaan saat melihat putra mereka mengenakan pakaian hitam yang penuh arti, perjuangan, keringat dan air mata.
Kailla teringat dengan daddy. Kalau lelaki itu masih sehat, pasti daddynya akan melakukan hal yang sama. Memeluknya dengan penuh kebanggaan seperti wajah-wajah para orang tua temannya yang sudah berbondong-bondong masuk ke dalam gedung.
Dengan tangan menggeser layar ponsel, mencari nomor kontak suaminya. Menempelkan gawai itu di telinganya, berharap ada kabar gembira dari Pram. Semenit berlalu, lima menit m sepuh menit, setengah jam berlalu. Dia menghabiskan waktu dalam kesia-siaan. Bukan hanya sosok Pram yang tidak muncul dari balik gerbang tinggi, pintu masuk gedung. Bahkan suara suaminya pun tidak bisa didengarnya saat ini.
Waktu yang terus berjalan, Kailla akhirnya menolak masuk, masih berharap dengan keyakinan penuh kalau Pram akan datang menyaksikannya mendapatkan gelar sarjana. Tertinggal dia seorang di luar gedung, menatap ke arah gerbang, hampir putus asa.
Dia masih menunggu dalam harapan yang semakin menipis, seiring waktu semakin mendekati acara. Kepalanya hampir lelah saat harus meninggikan lehernya terus menerus, memandang ke arah jalan raya.
Harapan yang semakin kecil itu pun akhirnya sirna, saat riuh di dalam gedung yang memaksanya masuk tanpa didampingi siapapun. Tidak ada siapa-siapa. Dia berjalan masuk sendirian. Tidak ada ayah ataupun ibu, tidak ada saudara atau keluarganya. Hanya diiringi dua tetes air mata, itupun dengan susah payah ditahannya supaya tidak terjatuh dengan lancangnya.
***
Pram lagi-lagi harus berhadapan dengan ruangan ICU. Duduk menunggu tanpa kejelasan, juga tanpa bisa berbuat apa-apa. Terlihat Kinar dengan wajah sembabnya duduk menemani di samping Pram. Wanita itu akhirnya tertidur, bersandar di pundak kekar Pram yang hampir hilang akal memikirkan sang mama, tidak kunjung bangun dari tidurnya.
Waktu menunjukan pukul tiga sore, saat Pram tersadar telah membuat istrinya menunggu sendirian.
“Shittt!” pekiknya kesal. Langsung bangkit dari duduknya, berlari menuju mobil. Membuat Kinar yang masih terlelap, terjatuh dan kepalanya membentur kursi stainless dengan kencang.
Pram berlari dengan nafas tersengal menuju mobilnya. Berganti setelan yang sengaja dibawanya dari rumah. Saat mengeluarkan ponsel dari kantong celananya, hatinya teriris melihat puluhan panggilan tidak terjawab dari Kailla pada ponsel yang sengaja disenyapkannya.
Tidak sampai disitu, hatinya semakin tertusuk saat melihat panggilan yang dilakukan Kailla sudah terlewat beberapa jam yang lalu.
“Bay, antarkan aku ke tempat ini!” perintah Pram melempar ponselnya ke arah Bayu, meminta asistennya melihat sendiri alamat yang dimaksud.
“Baik, Bos,” sahut Bayu.
Tangan Pram masih sibuk membuat simpulan dasi di kemeja polosnya. Terlalu lama tidak memasang dasi, membuat jemarinya kaku. Sejak menikah, Kailla melakukan untuknya. Dengan susah payah, akhirnya Pram berhasil menyelesaikannya juga.
“Bay, tolong hubungi David. Minta dia mengantikanku sementara, menunggui mamaku,” perintah Pram. Dia sendiri terlihat sibuk menghubungi Kailla sejak tadi. Namun, keadaan berbalik padanya. Saat ini Kailla yang tidak menerima panggilannya. Selalu berakhir dengan gadis bersuara merdu, sang operator.
Baru saja dia melempar kasar ponselnya dikursi, tiba-tiba layar ponsel berkedip dan berdering hebat. Senyum tadinya merekah, seketika menguncup kembali saat bukan nama Kailla tertera di layar, akan tetapi nama Sam, sang asisten kesayangan Kailla, asisten kepercayaan Pram.
“Pak, bagaimana sih! Bukannya menemani Non Kailla,” omel Sam, terdengar kesal. Pram baru saja menggeser tombol hijau, bahkan belum sempat menyapa. Namun suara cempreng Sam sudah terdengar, dengan berani mengomelinya dari seberang telepon.
“Kurang ajar kamu, Sam! Kamu berani mengomeliku!” gerutu Pram, tidak terima.
“Sejak tadi pagi, Non Kailla itu menunggu kedatangan Pak Pram. Dan sekarang menangis, duduk di depan gedung, tidak mau pulang,” adu Sam.
“Acaranya sudah selesai?” tanya Pram.
“Sudah dari tadi selesainya Pak. Sudah pada bubar,” jelas Sam lagi.
“Aku tidak bisa membujuknya, sebaiknya Pak Pram segera ke sini. Non Kailla menangis tanpa henti sejak tadi. Wajahnya sudah pucat, aku takut terjadi sesuatu,” lanjut Sam.
“Jaga Kailla, jangan sampai dia kenapa-kenapa. Kalau tidak, aku akan mencabut nyawamu!” ancam Pram.
Baru saja lelaki itu hendak mematikan ponselnya, tiba-tiba Sam bersuara lagi.
“Buruan Pak. Sepertinya ada aroma Singa Asia sedang mendekati macam betina yang sedang menangis,” lanjut Sam, mengadu pada Pram seperti biasanya.
***
To be continued
Love You all
Terima kasih.