
Brakkkkkkk!!
Pram menggebrak meja karena kesal. Baru saja dia akan mencekal Ditya, tetapi tiba-tiba Matt muncul dari pintu. Menahan tangan Pram untuk melindungi atasannya.
Bersamaan dengan itu, Bayu dan Donny pun merangsek masuk. Berusaha menjaga majikannya juga. Kalau tidak waspada, semuanya akan berantakan.
“Jauhi istriku! Lelaki terhormat tidak akan merampas milik orang lain!” ucap Pram dengan tegas.
“Jaga baik-baik istrimu! Kalau bukan aku, akan ada lelaki lain yang mungkin mencurinya darimu!” ucap Ditya terkekeh.
“Brengs”ek! Kekurangan wanita kah? Sampai harus mengganggu milik orang lain?” ucap Pram kembali. Menghempas kasar tangan Matt. Dalam sekejap, si asisten itu sudah menjadi bulan-bulan Doni dan Bayu. Membuay Pram leluasa mengeksekusi Ditya tertawa.
Bukk!!! Sebuah kepalan mendarat tepat di rahang kiri Ditya.
Lelaki sempat mundur beberapa langkah, tetapi kembali din tersenyum. “Aku tidak akan membalasnya. Aku permisi Pak Pram,” ucapnya santai. Mengusap lembut wajah kirinya sebelum keluar dari ruangan.
“Matt, ayo kita pulang sekarang!” perintahnya dari luar ruangan. Tanpa membawa kembali kantong belanjaan yang dikembalikan Pram padanya.
Berlari mengejar majikannya, masih terdengar Matt bertanya, “ kenapa tidak melawan?”
“Aku sedang tidak dalam posisi menguntungkan,” sahut Ditya bergegas pergi sembari mengenakan kacamata hitamnya.
Pram masih membeku di tempat. Pertama kalinya dia bingung harus bagaaimana ketika berhadapan dengan seseorang. Jelas sekali Ditya bukanlah lawan yang mudah di gertak begitu saja.
“Pak Pram,” panggil Donny.
“Kita ke kantor! Bay, perketat pengawalan untuk Kailla!” perintah Pram.
Hanya itu saja, kalimat yang meluncur keluar dari bibir Pram, selebihnya dia memilih diam.
“Bos,” seru Bayu, menatap kantong belanjaan yang ditinggalkan Ditya di atas meja.
“Biarkan saja. Nilai barang itu puluhan mungkin mencapai seratusan juta. Pihak restoran pasti akan mengirimkannya kembali pada Ditya,” sahut Pram dengan santai.
***
Kailla baru saja keluar dari sebuah outlet di Pl’aza Indonesia. Mengekor di belakangnya Sam yang menenteng banyak barang bawaan. Setelah sekian lama puasa berbelanja, dia bisa menghambur-hamburkan uang suaminya lagi.
Dengan alasan mencari syal untuk mertuanya, Kailla bisa terbebas dengan aturan suaminya sementara.
“Sam, langsung pulang saja,” ucapnya pada sang asisten. Masih dengan berdiri di depan lift, menunggu pintu terbuka yang akan mengantar mereka ke parkiran basement.
Tiba-tiba, seseorang ikut berdiri tepat di samping Kailla. Ikut menatap ke arah lift yang sama. Berdiri begitu rapat, entah sengaja atau tidak, menyenggol lengan Kailla.
“Kamu..?” Kailla terkejut. Memandang ke arah lelaki tampan titisan dewa yunani yang sudah berdiri di sebelahnya.
“Hmmmm,” gumam Ditya, tanpa menoleh sama sekali. Sesekali merapikan letak kacamata hitamnya.
“Kamu mengikutiku?” tanya Kailla heran. Bagaiamana bisa bertemu Ditya di tempat ini. Kalau sampai Pram mengetahuinya, hilanglah sudah kebebasannya selama ini. Suaminya pasti akan memperketat pengawalan untuknha, bahkan akan mengurungnya di kamar tidur mereka.
“Aku tinggal disini, Nona.” Terdengar juga suara berat Ditya, telunjuknya mengarah ke atas.
Ting! Pintu lift itu terbuka.
Kailla membeku. Ditya yang sudah masuk terlebih dulu, meraih lengan Kailla tanpa permisi untuk ikut masuk bersamanya.
“Maaf.” Ditya melepaskan tangan Kailla.
Tertinggal Sam yang baru saja akan mengekor masuk dengan setumpuk belanjaannya, tetapi didorong keluar oleh Ditya yang segera menutup pintu lift.
“Apa maumu?” tanya Kailla, suaranya terdengar bergetar. Agak khawatir, karena hanya ada mereka berdua di dalam lift.
Kailla dia, tidak menjawab sama sekali.
“Aku baru saja pulang dari bertemu dengan suamimu,” cerita Ditya, membuka kacamata hitamnya dan menunjukan bekas pukulan Pram yang memerah. Walaupun tidak begitu kentara, tapi masih bisa terlihat.
Kailla tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengiyakan. Dia penasaran sebenarnya apa yang diinginkan lelaki ini darinya.
“Baiklah. Tapi aku tidak bisa terlalu lama,” ucap Kailla, sebenarnya ragu. Tapi dia juga perlu tahu akan niat lelaki yang mendekati dan menghadiahkannya banyak barang sejak beberapa hari yang lalu.
***
Keduanya sudah berada di salah satu restoran yang terdapat di dalam mall tersebut. Sengaja mencari yang sedikit sepi pengunjung, supaya tidak ada yang mengganggu pembicaraan mereka.
“Ada apa?” tanya Kailla setelah menjatuhkan tubuhnya di kursi restoran.
“Tidak ada. Hanya ingin mengajakmu makan siang saja,” ucap Ditya dengan santainya.
“Kenalkan aku Ditya Halim Hadinata. Kita belum berkenalan dengan benar kemarin,” ucap Ditya menyodorkan tangannya.
“Kailla.” Untuk kali ini Kailla menerima uluran tangan si titisa dewa yunani.
Perbincangan singkat antara keduanya, tidak ada hal penting. Ditya hanya mengenalkan dirinya, pekerjaannya, tempat tinggalnya. Lelaki itu pun tidak banyak bertanya tentang Kailla. Hanya sesekali mencuri pandang pada wajah cantik yang mencuri hatinya di kesempatan pertama.
Pelayan baru saja meletakan dua porsi steak di hadapan keduanya. Ditya langsung menarik salah satu piring dan memotongnya dengan rapi, sesekali menatap wanita di hadapannya yang masih berkutat dengan ponsel ditangannya.
Kailla sedang menghubungi Sam, meminta asistennya itu menemuinya si restoran. Tampak Kailla celingak celinguk mencari keberadaan Sam yang katanya sedang dalam perjalanan menuju ke tempatnya.
“Makanlah!”
Ditya menyodorkan sepiring steak yang siap disantap pada Kailla.
Deg—
Kailla tertegun menatap lelaki yang mempersembahkan senyuman tanpa banyak bicara. Untuk pertama kalinya ada orang lain yang memperlakukannya seperti ini selain Pram. Biasanya suaminya lah yang akan memotong untuknya setiap kali.
“Terimakasih.”
Keduanya menyantap makanan tanpa banyak bicara. Hanya sesekali bertemu tatap dan saling melempar senyuman.
Setelah menghabiskan makanannya, terlihat Ditya mengeluarkan kembali kotak cincin dari saku celananya. Cincin yang sama, yang beberapa jam sebelumnya sempat dikembalikan Pram untuknya.
“Aku tidak bisa menerimanya kembali.” Ditya berkata, kembali menyodorkan kotak itu mendekati wanita pemilik senyum terindahnya.
“Bukankah itu milikmu? Suamiku tidak mengizinkan aku menerimanya,” jelas Kailla.
“Iya, tapi sejak kemarin itu bukan milikku lagi. Aku tidak bisa menerimanya kembali. Kamu bisa membuangnya atau memberinya pada orang lain,” ucap Ditya.
Kailla terkejut.
“Aku membelinya untukmu. Maaf, aku tidak tahunkalau kamu sudah bersuami. Tapi itu memang diperuntukan untukmu,” jelas Ditya kembali. Sudut matanya, menangkap sosok asisten Kailla yang sedang mencari keberadaan majikannya.
Terlihat Ditya berdiri. “Kai, sepertinya asistenmu sudah datang. Aku harus pergi sekarang,” pamitnya. Tidak memberi kesempatan Kailla untuk menolak cincin pemberiannya, meninggalkannya begitu saja di atas meja.
“Aku sudah memesan seporsi lagi untuk asistenmu. Habiskan makan siangmu. Terimakasih untuk waktunya,” ucap Ditya, bergegas pergi meninggalkan Kailla sendirian.
***
Pram sedang sibuk memeriksa berkas di ruang kerjanya, saat sebuah pesan masuk di ponselnya. Mengerutkan dahinya, bingung dengan pengirim yang tidak terdaftar di kontaknya. Sebuah foto, pesan itu berisi sebuah foto yang membuat matanya terbelalak.
To be continued
Love You All
Terima kasih.